Apa yang ada di Gawai

Gadget atau gawai adalah sebuah istilah yang artinya seperangkat elektronika kecil yang memiliki kemampuan khusus. Ciri khususnya adalah selalu baru. Artinya dari detik ke detik selalu terjadi perkembangan. Munculnya teknologi baru inilah, yang membius masyarakat untuk memiliki, karena berfungsi membantu aktifitas.

Kebiasaan yang menguras fisik, sudah ditinggalkan. Bermain kelereng, bermaian-layang-layang, gobak sodor, atau petak umpet di kampung. Olah fisik sirna seketika, kalah dengan segenggam alat yang bernama gadget. Akibatnya badan menjadi mekar, tak seimbang dengan pertumbuhan.

Ada 7 alasan mengapa orang tertarik gawai.

Pertama, adalah untuk hiburan. Meskipun hanya Whatsapp (WA), tapi dari sinilah orang merasa terhibur. Informasi datangnya seketika. Apa yang kit acari tinggal klik. Tidak harus menunggu esok hari. WA menjadi istri atau suami kedua, atau bahkan pertama. Mengabaikan pasangan hidup sesungguhnya.

Teruskan membaca

Memperdaya Kemalasan

Jum’at Berkah

Apabila seorang hamba bangun malam, kemudian berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila dia berwudhu, terlepaslah satu ikatan lagi. Jika dia shalat, maka akan terlepas seluruh ikatan. Maka pagi harinya jiwanya akan semangat dan bagus. Jika tidak bangun (malam), jadilah jiwanya jelek dan malas.” (HR. Bukhari).

Rasa malas dapat mendatangi siapa saja. Malas adalah sifat yang harus diperangi. Sikap ini bertentangan dengan itikad keimanan. Hari ini harus lebih baik dari kemarin. Untuk mendapatkan yang lebih baik, perlu usaha yang sungguh-sungguh. Bukan hanya niat belaka. 

Era gadget, disatu sisi sangat bermanfaat, bila pemakai menggunakan dengan cara bijaksana. Disisi lain, akan menciptakan dampak negative terhadap kehidupan manusia dan lingkungannya. Dalam memperoleh sesuatu, manusia digiring dalam situasi yang sangat mudah, bisa juga instan. Ditopang dengan teknologi modern, pekerjaan bukan hanya semakin mudah, namun juga cepat dan akurat. Aktifitas fisiknya semakin berkurang.

Tanpa diduga, tanpa disadari, secara perlahan manusia terbuai dengan sifat kemalasan. Semua pekerjaan telah ditangani oleh teknologi. Sehingga hanya otak dan tangan saja yang nyaris bekerja. Kaki dan badan menjadi semakin tidak bergerak. Padahal raga mestinya bergerak, agar otot tetap bekerja. Syaraf-saraf yang ada di tubuh menjadi bergerak. Inilah ironinya bila kemajuan teknologi tanpa mempertimbangkan kebijakan.

Dalam kesempatan lain Rasulullah bersabda “Jauhilah malas dan tidak semangat, sebab kedua sifat tersebut akan menghalangimu untuk memperoleh manfaat dari dunia dan akhirat.” Pesan ini sangat tepat untuk segala waktu dan kesempatan. Pesan ini juga ditujukan untuk semua manusia. Bukan hanya orang Islam.

Sifat malas bukan hanya berhubungan langsung dengan agama, tetapi dapat menimbulkan menyepelekan waktu. Waktu yang demikian berharga disia-siakan. Otak yang seharusnya digunakan, karena malas maka rasa keingintahuan dan kekuatan menjadi lenyap.

Untuk mengusir kemalasan, sebaiknya kita bercermin pada perilaku Rasulullah saw. Menyeimbangkan antara kegiatan fisik dengan dzikir. Keseimbangan antara jasmani dan rokhani.

Akupun Cemburu

Gempita silaturrahmi lebaran gaungnya masih lama terdengar. Pudarnya melebihi dari bulan syawal. Kalau bulan syawal 30 hari, silaturahmi dalam rangka lebaran bias berbulan-bulan. Di kantor, lembaga, atau di sudut kampung, masih terlihat menggeliat aktifitasnya. Tidak hanya di perkantoran, rumah tangga pun masih banyak dijumpai.  Tidak heran sang tuan rumah terlihat kebingungan manakala tamu datang, tapi persediaan makanan telah sirna..

Mengejar silaturrahmi sama saja dengan mengejar pahala yang berhadiah masuk surga. Karena yang akan digapai adalah surga, tentu dalam meraih tidak semudah dengan apa yang dibayangkan. Godaan pasti ada. Kalau dulu, orang bersilaturami masih susah, karena transportasinya masih susah. Namun, kesempatan masih sangat terbuka lebar, karena belum banyak agenda acara yang harus dilaksanakan. Sekarang, transportasi dan teknologi informasi sangat gampang didapatkan (meski macet), tetapi kesempatan sulit diraih. Sehingga menengok saudara di kampung halaman tidak merata. Rata-rata dikejar dead line waktu masuk kerja.

Teruskan membaca

Sedekah Kepada Sahabat

Jum’at Berkah

Kamu sekalian sekali-kali tidak sampai pada kebajikan yang sempurna sebelum kamu sekalian mendermakan sebagian harta yang kamu cintai. (QS Ali Imran:92).”

Cobalah ingatan kita mundur sejenak. Pusatkan perhatianmu pada teman karibmu. Pernahkan waktu SD, SMP atau bahkan SMA, kamu berkelahi? Setelahnya, pernahkah waktu itu saling memaafkan? Ingatkah sebagian uang sakumu, kau belikan jajanan, dan temanmu kau berikan sebagian? Pernahkan kau berlaku curang sama temanmu dalam bermain?

Coba kau tebak. Dimana dia sekarang. Bahagiakah dia? Apakah yang kau ukur hanya sekedar hartanya? Atau pertanyaan yang menohok. Masih hidupkah dia? Andai dia masih hidup, terbersitkah meluangkan waktu untuk silaturahmi? Atau apabila dia sudah meninggal, sempatkah kau mensholatkan?

Demikian banyak peristiwa-peristiwa yang seharusnya kita saksikan. Sangat disayangkan pengalaman ini terlewatkan. Step demi step dalam kehidupan ini telah kita lalui, penuh makna atau hampa tak berbekas.

Ayat di atas menyadarkan kepada kita akan arti “teman”. Ia bukan saja sebuah sosok badaniah. Dia lah yang telah mendukung kita menjadi seperti ini. Dia pula yang menjelma menjadi cermin. Sampai seberapa perjalanan kita sebagai hamba Allah.
Sebuah hadits Nabi mudah-mudahan memantik dan menyedarkan kepada kita. “Sedekah kepada orang miskin hanya akan mendapatkan pahala sedekah saja. Sedangkan sedekah kepada kepada kerabat mengandung dua keutamaan. Yaitu sedekah dan menyambung tali kekerabatan” (HR At-Turmudzi, Abu Dawud, An-Nasa’I dan Ibnu majah)

Bersedekah itu dapat diberikan kepada siapa saja dan dapat dikelola menjadi potensi ekonomi masyarakat. Pemberi sedekah memberikan saran agar sedekah dioptimalkan, agar berdaya guna. Tapi, Rasulullah SAW menyarankan agar menyedekahkan kepada kerabatanya. Itu harus menjadi skala prioritas, sebelum bersedekah ke orang lain. Sebab, roh dari sedekah adalah untuk mempererat jalinan antar manusia yang dimulai dari hubungan kekerabatan, antar tetangga, kemudian pembinaan masyarakat secara lebih luas.
Kita yakin, bahwa sahabat kita yang dulu pernah berbuat curang sudah dimaafkan. Kita juga yakin bahwa saudara kita telah membuat sengsara, juga sudah dimaklumi. Yang masih memiliki kelebihan harta, ilmu, tenaga, curahkan untuk kerabat kita yang membutuhkan. “Sebaik-baik sedekah adalah kamu memberikan kepada kerabat yang membencimu” (HR Al-Hakim)

Menengok Suriah

“Suriah jangan disamakan dengan Libya. Libya berbeda dengan Suriah” ketus Bashar, Presiden Suriah, dalam sebuah wawancara dengan media asing. Para pembesar dilingkup kepresidenanpun sama saja. Mereka mengatakan bahwa jika rezim Bashar al-Assad tumbang, seluruh kawasan Timur Tengah akan ambruk pula. Benarkah?

Beberapa hari yang lalu Liga Arab telah mengucilkan Negara Suriah. Bahkan, bila Negara itu tidak memperbaiki diri, dan masih menelantarkan warga sipil, tidak menutup kemungkinan bahwa Suriah akan dikeluarkan dari keluarga Liga Arab.

Bashar al-Assad

Teruskan membaca

Kaum Madyan

Jum’at Berkah

“Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan, dengan menakut-nakuti”

(Al A’raf 7: 86)

Ayat ini mengisahkan tentang Kaum Madyan, yang hidup pada masa Nabi Syuaib AS (Beliau diperkirakan hidup pada tahun 1600 – 1490 SM dan diangkat menjadi nabi pada tahun 1550 SM).

Madyan atau Madian terambil dari kata Midian bin Ibrahim, dari istrinya yang bernama Qanthura (Ketura). Versi Islam, Qanthura melahirkan enam anak yaitu : Madyan, Zamran, Saraj, Yaqsyan, Nasyaq, dan yang keenam belum sempat diberi nama. Adapun versi Yahudi dan Kristen, yang dicatat dalam Kitab Kejadian pasal 25, anak Qanthura terdiri dari : Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak dan Suah.

Madyan membentuk kabilah yang terdiri dari keturunan anak cucu, sehingga terbentuk kaum Madyan. Tempat tinggal mereka di dekat pantai Laut Merah, di Tenggara Gunung Sinai. Kawasan ini terletak di daerah Yordania yang berbatasan dengan Palestina. Madyan bersama dengan suku Aikah menyembah hutan.

Mengapa Allah mengutus Nabi Syuaib? Apa yang terjadi dengan mereka? Apakah seperti yang terjadi pada umat terdahulu? yaitu,  mendustakan perintah Allah dan mengingkari tuntunan nabiNya? Padahal mereka merupakan keturunan Nabi.  

Tidak ada jaminan bahwa keturunan seorang Nabi pasti menjadi orang beriman. Dalam sejarah tercatat bahwa putra seorang utusan Allah, justru menjadi penentang utama. Demikian halnya dengan umat Madyan. Perilaku mereka adalah melakukan kecurangan dalam perdagangan. Mereka sering mengurangi timbangan atau takaran. Mengabarkan kabar bohong untuk kualitas suatu barang.

Disamping curang dalam perniagaan, mereka memiliki hobi duduk-duduk di pinggir jalan. Mengganggu dan menakut-nakuti orang lewat. Kesukaannya adalah menaruh duri di jalan agar orang yang akan beribadah menjadi jera bila melewati jalan itu.

Dibalik karakter seperti itu, ternyata mereka adalah sekelompok orang yang pandai. Mereka menggali dan memahat gunung-gunung seperti yang dilakukan oleh kaum Tsamud (umatnya Nabi Saleh AS). Ilmu ukir untuk memahat bebatuan di pegunungan tergolong tinggi. Rumah-rumah gunung milik kaum Nabi Saleh itu hingga kini masih bisa disaksikan dan terdapat di Madain Saleh, sekitar 440 kilometer dari Madinah.

Nabi Syuaib juga memiliki tempat tinggal yang sama dengan yang dimiliki kaumnya. Gua-gua Syuaib ini terkenal hingga saat ini dan dinamakan dengan Maghayir Syuaib (gua-gua Syuaib). Gua-gua Syuaib ini terdapat di Bada’ yang terletak sekitar 225 kilometer di sebelah barat daya Tabuk. Kawasan ini merupakan Oase (wahana) kuno di Jazirah Arabia.

Allah telah menyelamatkan peninggalan kaum-kaum terdahulu agar menjadi pelajaran bagi kaum sesudahnya.

Selipkan Tertawa dalam Setiap Berkarya

Hari jum’at minggu lalu saya melayat istri dari mantan kepala sekolahku. Kebetulan anak beliau juga sama-sama seangkatan meski beda kelas. Praktis ada dua orang yang kenal baik dengan saya, kepala sekolah dan anaknya.

Saya termasuk yang kagum dengan beliau. Meniti karier di dunia pendidikan sukses. Berkiprah di ranah politik sukses. Mengabdi dalam organisasi masyarakatpun juga bagus. Sehingga tidak salah apabila saya mengidolakan beliau. Sampai sekarang saya belum sempat bertukar pikiran dengan beliau tentang kiat memperoleh kesuksesan dalam ladang yang berbeda-beda.

Bertemu dengan kawan lama memang mengasyikkan. Selalu ada piringan hitam yang bisa diputar untuk mengingat kembali pada masa masih pelajar. Kebetulan sewaktu saya mengobrol dengan rekan saya itu, ada seorang yang dulunya menjadi adik kelas bergabung dengan kami. Meskipun junior saya, tapi persahabatan kami cukup kental, karena dulu sama-sama di organisasi pelajar. Sehingga kekerabatan tak terbatas pada hubungan kakak-adik, namun menuju jalinan lebih emosional. Suka duka menggerakkan organisasi inilah simpul perkawanan lebih kental.

Teruskan membaca