Pengayaan Kelas 7

Berikut adalah pengayaan materi kelas 7 :

Kebaikan dan Kebahagiaan

Jum’at Berkah

Siapa yang tidak ingin berbuat kebaikan? Kata orang tua, kebaikan akan Kembali pada dirinya sendiri. Ibarat orang bercermin. Apa yang ditampakkan, apa yang dilihat. Tidak mungkin, yang ditampakkan buah apel, yang terlihat buah papaya.

Siapa yang tidak suka kebahagiaan? Kata orang, itulah yang dicari semua orang. Melihat orang Bahagia, sepertinya lebas dari beban apapun yang melekat pada dirinya. Orang yang berbahagia, melihat dunia ini seperti mengalir begitu saja. Menggelinding tanpa ada hambatan apapun.

Sebagai manusia yang dikaruniai akal dan rasa tentu mendambakan keduanya. Cuma nafsu yang bisa mengingkari kebaikan untuk mendapatkan kebahagiaan yang semu.

Ibnu Miskawaih, seorang cendekiawan Muslim yang komitmen terhadap filsafat akhlak, membedakan antara kebaikan dan kebahagiaan. Kebaikan (al-khair) menjadi tujuan bersama, kebaikan umum bagi seluruh manusia. Contoh membangun jembatan. Orang membangun jembatan agar orang lain dapat melewati dengan mudah dari satu tempat ke tempat lain. Maka yang didapatkan adalah kebaikan Bersama.

Kebahagiaan (al-sa’adah) lebih mengarah kepada orang perorang. Tidak bersifat umum, namun tergantung masing-masing orang. Misalnya pada saat Idul Fitri tiba. Setiap orang merasakan kebahagiaan dengan datangnya Idul Fitri. Namun yang dirasakan oleh setiap Muslim pasti berbeda.

Orang yang berakal tidak mungkin akan bergerak dan bekerja tanpa tujuan. Mereka sangat memperhitungkan setiap langkah, agar tujuan yang didambakan tidak sia-sia. Mungkin saja tujuannya adalah memperoleh materi. Bahagia secara materi tidak mutlak dibutuhkan. Karena sesungguhnya tujuan yang akan diraih adalah tujuan yang bebas dari berbagai ikatan kondisional.

Konsep kebahagiaan menurut Aristoteles adalah manusia tidak memerlukan apa-apa lagi. Ia mengakui bahwa tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan. Sangat tidak masuk akal andaikatan bila manusia telah mencapai kebahagiaan, namun masih mencari hal lain dalam hidupnya. Dalam takaran kuantitas, bila sudah Bahagia, maka tidak perlu ditambah.

Para nabi diutus Tuhan tiada lain hanyalah untuk menyampaikan ajaran Syariat yang memerintahkan untuk memperoleh kebaikan dan menjauhi keburukan, agar manusia mendapatkan kebahagiaan. Orang yang mencapai kebahagiaan, jiwanya akan tenang, merasa selalu berdampingan dengan malaikat. Baginya, tidak menjadi masalah andai dunia datang kepadanya atau meninggalkannya. Dia tak akan merasa sedih berpisah dengan orang yang dicintainya.

Titah Toto Tasmara

Siapa yang tidak kenal Toto Tasmara (alm.) Beliau adalah orang hebat, khususnya dalam dunia perusahaan. Di masa orde baru, apa yang tidak mungkin? Semuanya bisa mungkin terjadi, terutama keamanan, hukum dan ekonomi. Berbagai kasus ketiga bidang tersebut hingga kini tak terjamah. Seperti menyimpan barang dipeti kemudian dikubur dalam tanah, lahan tanah tersebut dijaga ketat.

Dinasti cendana dalam menguasai ekonomi tak terbantahkan. Menggurita dan monopoli. Salah satu belalai adalah PT Humpuss. Toto Tasmara, yang saat itu menjabat Corporate Secretary PT Humpuss di tahun 1992 – 1996, rela keluar dan mengabdi di jalur Dakwah.

Beliau mengabdi menjadi konsultan Sumber Daya Manusia (SDM) di Labmend (Laboratory for Management and Mental Development) yang bergerak dalam bidang pelatihan manajemen spiritual.

Disamping mendedikasikan diri untuk berdakwah, Toto yang kelahiran 10 November 1948 di Banjar Ciamis, telah beberapa kali menulis buku. Diantaranya buku “Membudayakan Etos Kerja Islami”, cetakan Gema Islami.

Saya pinjam buku ini dari seorang sahabat, setelah berburu di semua sudut toko kujelajahi tapi tak kutemukan. Akhirnya foto copi menjadi jalan terakhir.

Ada sebuah halaman yang memuat kata mutiara. Tulisannya:

Bila Anda mengubah pikiran Anda

Anda mengubah keyakinan diri Anda

Bila Anda mengubah Pikiran diri Anda

Anda mengubah harapan-harapan Anda

Bila Anda mengubah pikiran-pikiran Anda

Anda mengubah sikap Anda

Bila Anda mengubah sikap Anda

Anda akan mengubah tingkah laku Anda

Bila Anda mengubah tingkah laku Anda

Anda mengubah kinerja Anda

Bila Anda mengubah kinerja Anda

Anda telah mengubah nasib Anda

Bila Anda mengubah nasib Anda

Anda telah mengubah hidup Anda

Pencerminan (Refleksi)

Transformasi sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pada saat kita menggeser benda dari satu tempat ke tempat lain, atau pada saat kita bercermin. Transformasi juga bisa muncul dari proses atau pola benda-benda di sekitar kita, misalnya proses perputaran jarum jam serta pola sayap sebelah kiri dan kanan pada kupu-kupu.

Transformasi geometri merupakan perubahan suatu bidang geometri yang meliputi posisi, besar dan bentuknya sendiri. Jika hasil transformasi kongruen dengan bangunan yang ditranformasikan, maka disebut transformasi isometri. Transformasi isometri sendiri memiliki dua jenisya itu transformasi isometri langsung dan transformasi isometri berhadapan. Transformasi isometri langsung termasuk translasi dan rotasi, sedangkan transformasi isometri berhadapan termasuk refleksi.

Pencerminan (Refleksi)

Refleksi merupakan transformasi geometri berupa pergeseran atau pemindahan semua titik pada bidang geometri kearah sebuah garis atau cermin dengan jarak sama dengan dua kali jarak titik kecermin. Ada dua sifat penting dalam refleksi:

  • Jarak titik kecermin sama dengan jarak bayangan titik ke cermin.
  • Geometri yang direfleksikan berhadapan dengan petanya.

Contoh :

Refleksi atau pencerminan merupakan salah satu jenis transformasi yang memindahkan setiap titik pada suatu bidang (atau bangun geometri) dengan menggunakan sifat benda dan bayangannya pada cermin datar. Perhatikan gambar di bawah. Apakah kamu ingat saat bercermin?

Pada saat mendekati cermin, tampak bayanganmu juga akan mendekati cermin. Ketika kamu bergerak menjauhi cermin, bayanganmu juga akan menjauhi cermin.

Lihat video berikut : video1, video2, video3

Naluri

Jum’at Berkah

Dalam kamus, naluri diartikan dorongan hati atau nafsu yang dibawa sejak lahir. Pembawaan alami yang tidak disadari mendorong untuk berbuat sesuatu atau insting. Dalam Ilmu psikologi, naluri diberi makna perbuatan atau reaksi yang sangat majemuk dan tidak dipelajari. Dipakai untuk mempertahankan hidup. Naluri ini ada pada setiap makhluk hidup.

Bagaimana dengan nalar yang diagungkan oleh manusia? Bernalar itu sama seperti berfikir logis. Ia menggunakan akalnya untuk menghubungkan antar fakta yang ada. Dalam keadaan tertentu manusia sering menggunakan akal dan naluri pada waktu yang bersamaan.

Ketika hendak bepergian pada waktu musim hujan, seseorang memutuskan untuk membawa atau tidak membawa payung. Kalau udara cerah, Ia tidak akan membawa payung. Namun secara naluriah, meskipun tidak mendung, seseorang dapat saja membawa payung untuk bersandar rasa aman.

Setiap makhluk diberi naluri sesuai dengan porsinya masing-masing. Cuma manusia yang diberi berbagai macam naluri dan akal untuk bernalar oleh sang Khaliq. Salah satu naluri yang sering dipakai, dan kadang lepas kontrol adalah marah. Marah kadang malah menjadi konsumsi sehari-hari. Tiada hari tanpa marah.

Orang yang tidak memiliki naluri atau nalurinya lemah, orang itu tidak memiliki gairah. Tidak punya greget. Menurut ulama, naluri yang demikian itu tercela. “Barang siapa yang dirangsang untuk marah tapi ia tidak marah, dia itu adalah keledai” Kata Imam Syafii.

Tipe lainnya adalah “yang melewati batas”. Tipe ini adalah yang keluar dari garis bimbingan akal sehat dan agama. Sehingga tertutup hati nurani, pandangan dan pikiran. Manusia jenis ini ada hubungannya langsung dengan kebiasaan bergaul dengan lingkungan yang memperturutkan naluri amarah.

Rasulullah SAW adalah orang yang ahli pembentuk karakter. Beliau sangat piawai dalam mengendalikan naluri amarah seseorang. Menjadikan seseorang yang semula beringas, menjadi pribadi yang anggun, berakhlakul karimah. Apabila akan mengukur Nurani seseorang, bercerminlah pada nurani Rasulullah SAW.

Inilah naluri yang terpuji. Karakter yang memang harus dibentuk oleh setiap manusia. Ariestotelas mengatakan “lapang hati itu tengah-tengah antara cepat marah dan dungu. Sifat pemarah harus dipaksa atau ditekan agar bisa dikendalikan. Sifat yang tidak bergairah harus dibangkitkan agar menjadi orang yang sigap dan tanggap terhadap keadaan.

Birokrasi pada Masa Pandemi

Pandemi covid-19 memang tidak semua meluluhkan sendi kehidupan ini. Bahkan dibeberapa sudut menimbulkan kreatifitas. Seperti sebuah balon karet. Bila satu sisi ditekan, maka bagian lain akan mengembang. Itulah yang dirasakan saat ini. Manusia tidak pernah diam. Akal selalu bergerak.

Corona yang menghantam kehidupan ini dirasakan benar oleh orang yang bekerja. Mereka yang keseharian bekerja dengan masalah administrasi atau literasi merasakan benar. Suasana pergerakan semakin dipersempit, maka akal akan berkelana mencari solusi agar berkarya tetap produktif. Target yang dicanangkan diusahakan agar tercapai. Bila tak mencapai sasaran, minimal mendekati sasaran.

Teruskan membaca

Donvito “Beethoven” Ghani

Siapa yang tak kenal Ludwig van Beethoven. Komponis musik klasik asal Jerman. Oleh penggemarnya dijuluki musikus jenius, terutama karya simfoni kelima dan kesembilan. Beethoven, dan juga komponis lain seperti Vivaldi, Mozart, JS Bach dan lain-lain, adalah orang yang telah berjasa mewarnai wajah musik klasik. Mereka ibaratnya telah menggelar karpet merah untuk seni musik yang kini semakin marak.

Seperti hanya music Jazz, musik klasik memiliki penggemar terbatas. Selera mereka lain dari yang lain. Apresiasi harmoni para pecinta music Jazz dan Klasik seperti di ruang tersendiri. Tak jarang banyak yang menanyakan, mengapa mencintai music klasik? Jawaban mereka pasti di seputar “senang saja”. Namun kalau ditelisik lebih dalam lagi, mereka menggemari music jenis ini karena apresiasi yang tinggi terhadap karya-karya komponis masa lalu.

Teruskan membaca