Tunduk dan Patuh

Jum’at Berkah

“Tidakkah kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat untuk seluruh alam” Al-Anbiya’ 21: 107

Salah satu sisi tentang Agama Islam yang ditegaskan dalam al-Qur’an adalah bahwa agama itu berlaku untuk seluruh alam. Islam dalam arti yang hakiki adalah tunduk dan pasrah kepada Allah. Seluruh alam ini harus tunduk pada Sang Pencipta.

Untuk menuntut manusia agar tidak tersesat pada ketentuan sang khalik, diutuslah pada Nabi dan Rasul-Nya. Mereka datang silih berganti untuk mengatur kehidupan manusia dan alam. Meskipun yang diutus berbeda, namun pada prinsipnya adalah sama. Mereka membawa pesan yang sama, yaitu islam, ajaran untuk patuh dan taat kepada Allah.

Apa pesan yang hendak disampaikan kepada manusia lewat Nabi dan Rasulnya? Pertama adalah memberi petunjuk untuk mengetahui sang pencipta. Manusia yang lahir dalam keadaan fitrah, lambat laun imannya bisa terkontaminasi karena berbagai macam godaan. Tugas Rasul dan nabi mengenalkan Allah sebagai sang pencipta, agar manusia senantiasa mengingat, tunduk dan patuh pada ketentuan Allah.

Tugas yang kedua memberi tahu kepada umatnya tentang hal-hal yang ghaib. Tidak semua masalah di dunia ini dapat diselesaikan dengan cara nalar atau logika. Ada pula masalah dapat diselesaikan dengan metode iman. Oleh karenannya, Rasul memberi tahu dan sekaligus memberi contoh hal-hal yang bersifat ghaib.

Ketiga mengajak manusia menuju kebenaran yang sesungguhnya. Ilmu dan pengetahuan sifatnya terbatas. Manusia tidak mampu mengetahui semua yang terjadi, dan yang akan terjadi. Oleh karena itu, Allah Swt mengutus rasulNya dengan membawa ajaran yang berasal dari Allah Swt yang sesuai untuk segala tempat dan waktu, sehingga manusia bisa terbimbing menuju kebenaran yang sesungguhnya.

Sebagai manusia yang beriman maka yang keluar dari hati dan lisannya adalah “sami’na wa atha’na” (kami mendengar dan kami taat). Imam Ibnu Katsir menandaskan bahwa “kami mendengar firman-Mu wahai Tuhan kami, kami memahami, mendirikannya dan menyesuaikan perbuatan kami dengan ketetapan firman-Mu”

Manusia yang demikian itu adalah mereka yang mendapatkan jalan hidup damai (salam) dengan sesamanya dan seluruh alam semesta ini. Tujuannya untuk memperoleh keselamatan (salamah, salamatun) bukan hanya untuk kehidupan di dunia ini, tapi juga untuk kehidupan di akhirat kelak. Maka, barangsiapa yang menempuh jalan hidup selain tunduk dan patuh kepada Allah, orang itu akan hidup melawan kehendak Allah.

Rahasia Umur

Pagi tadi, selepas subuh saya sempat jalan-jalan sekedar untuk meregangkan otot dan menikmati segarnya udara pagi. Saat kembali dari sebuah titik tujuan, saya mendengar suara pengumuman bersaut-sautan dari corong masjid. Hampir setiap kampung di lingkungan saya tinggal memiliki masjid.

Sound system masjid di kampung memang serba guna. Selain untuk adzan, sound dimanfaatkan untuk pengumuman bagi warga seputar. Dari semua pengumuman, yang paling sering adalah informasi tentang lelayu. Berita meninggalnya salah satu warga.

Teruskan membaca

Setan Takut Orang Berilmu

Jum’at Berkah

“Katakanlah, Apakah sama antara orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu)?

(QS Az-Zumar 39: 28)

Orang yang mengatahui dan mengerti, mengerjakan sesuatu itu dengan baik dan benar. Sedangkan orang yang tidak mengetahui, kalau mengerjakan sesuatu asal-asalan, tanpa dasar. Harapan yang diinginkan tidak tercapai. Apakah keduanya sama? Tentu tidak. Tidak mungkin sama.

Bagaimana cara melihat perbedaan orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Padahal mereka secara bersama-sama telah menunaikan pekerjaan? Tentu saja adalah hasilnya. Orang yang berilmu akan mendapatkan hidayah. Karena mereka melaksanakan pekerjaan penuh dengan perhitungkan. Mulai dari perencanaan sampai pada kemanfaatannya.

Al kisah, pada suatu waktu, Rasulullah berangkat ke Masjid. Setibanya beliau tiba di pintu masjid, terlihatlah setan berada di dekat pintu. Lalu beliau berkata kepadanya, “Hai setan, mengapa engkau berada di tempat seperti ini? Apa yang engkau inginkan?

Ia menjawab, “Sebenarnya aku hendak masuk ke masjid untuk menggoda orang yang sedang shalat. Namun niatku terhalang gara-gara lelaki yang sedang tertidur di dekat orang yang sedang shalat itu. Aku takut kepadanya”

Beliau bertanya, “Mengapa engkau tidak takut terhadap orang yang sedang shalat itu, tetapi justru takut peda lelaki yang sedang tidur di dekatnya?”

Setan menjawab, “Orang yang sedang shalat itu adalah orang yang bodoh, sangat mudah bagiku untuk menggodanya. Sedangkan orang yang tertidur itu adalah adalah orang yang alim. Jika aku menggoda orang yang shalat itu, aku takut orang alim akan terbangun dan memperbaiki shalat orang yang bodoh tersebut. Jika demikian terjadi, maka sia-sialah sudah usahaku untuk menipu daya”

Orang berilmu lebih banyak melihat sesuatu dari sisi positif. Dalam pandangannya tidak ada satu pun peristiwa di dunia ini yang sia-sia. Semuanya pasti ada manfaatnya. Sedangkan cara pandang orang bodoh yang sering melihat sesuatu dari sisi negatif. Setiap peristiwa terkadang disikapinya dengan keluh kesah, caci maki, dan putus asa.

Sungai mengalir yang tak terurus di sisi suatu perkampungan akan dipandang sangat menjijikkan, bahkan sebagai tempat pembuangan sampah, bagi orang yang tak memiliki ilmu. Mereka ini merespon sungai sebagai obyek kemarahan. Bahkan, sering melontarkan kesalahan kepada orang lain.

Sebaliknya, bagi orang yang berilmu, sungai itu ibarat sebuah lahan untuk berkreasi. Bagaimana agar sungai itu mengalir air yang bersih. Air yang bisa dimanfaatkan untuk sumber kehidupan bagi masyarakat seputar. Sungai ditata yang bersih, rapi untuk menciptakan lingkungan hidup yang sehat.

Janji Allah terbukti bahwa orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya. 

Incest

Menyelami khasanah budaya nusantara sangat mengasyikkan. Anda akan bertatapan dengan karakter manusia yang beraneka ragam. Keragaman tingkah laku ini patut kita banggakan. Sebuah negeri yang sekarang sedang sakit, namun ternyata masih saja ada kelompok dalam masyarakat yang masih mampu menggunakan kearifan lokal untuk tidak larut dalam hiruk pikuk  peristiwa politik dan ekonomi. Budaya lokal yang masih diemban demi menjaga amanat.

Terinspirasi oleh sebuah novel “Incest (Kisah Kelam Kembar Buncing)”, karya I Wayan Artika, Kembar Buncing dibeberkan dalam bentuk cerita bersambung. Harian Bali Post, yang mempublikasikan cerbung, sempat memberhentikan alur ceritanya akibat tekanan masyarakat. Penulis sendiripun, menurut penuturannya diusir dari desa. Karena membuka aib, yang oleh masyarakat masih dipersepsikan “rahasia”.

Teruskan membaca

Madura: Negeri Orang Berkarakter.

Secara demografis, penduduk Madura mempunyai ekosistem tegalan. Cara pengolahan tegalan  tidak terlalu sulit. Tegalan tidak memerlukan air yang berlimpah. Tegalan bisa berdiri sendiri, walaupun ditengah area hutan. Berbeda dengan bertanam padi. Airnya harus mencukupi, perawatannya lebih insentif. Bertanam padi sangat tergantung dengan lingkungan. Air, sawah tetangga, pengelola/petani, teknologi pertanian, dan lain-lain. Demikian tulisan Kuntowijoyo (alm) dalam makalahnya :  Memahami Madura, sebuah pendekatan Sosial, Historis, Ekologi dan Kependudukan.

Kekerabatan yang dibangun lebih didasarkan pada keterikatan keluarga. Dalam membentuk sebuah kampong, masyarakat tidak membutuhkan anggota keluarga yang banyak. 6 – 8 keluarga dapat mengikat diri menjadi kampung. Kepemimpinan kelompok masyarakat cenderung lebih berminat ke figur seorang Kyai. Tidak heran kalau di Madura, masyarakat lebih menghormati Ulama dari pada pegawai pemerintah. Sama halnya dengan di Bali, yang lebih lekat dengan sesepuh adat.

Teruskan membaca

Membina Hubungan dengan Orang Lain

Jum’at Berkah

Alkisah, ada seorang yang akan bertobat, tapi dalam perjalanan hidupnya belum pernah melakukan kebaikan. Hari itu, Ia bertekad akan berobat. Pergilah dia ke seorang bijaksana. Kata orang bijaksana, bahwa dia tidak ada sedikitpun peluang untuk bertobat. Mendengar jawaban seperti itu, dia lalu membunuh orang bijaksana itu. Bertambahlah tabungan kejelekannya. Namun dia tak putus asa untuk menemukan kegalauan hatinya.

Dalam perjalanannya, bertemulah dia dengan seorang alim. Semua maksud dan tujuannya dia tumpahkan kepada orang alim. Kata orang alim, bahwa yang memberi tobat hanyalah Allah, dengan syarat bertobat yang sungguh-sungguh. Nasehatnya lagi, dia disarankan untuk meninggalkan kampung halamannya. Berkelana menuju tempat yang disarankan oleh orang alim.

Dalam perjalanan menuju suatu tempat, Allah berkehendak lain. Allah mengutus malaikat supaya mencabut nyawa orang itu. Ketika diukur bobot kebaikan dan keburukannya, Allah menetapkan bahwa bobot kebaikannya ternyata lebih berat. Mailakat protes. Kemudian Allah menjelaskan bahwa perjalanan dia menuju kampung kebaikan lebih dekat, dibanding dengan lingkungannya terdahulu.

Demikianlah bila Allah telah berkehendak.

Apa makna dari kisah di atas? Pertama, Sifat Rahman dan Rahim Allah ternyata lebih besar dari apa yang dipikirkan oleh manusia. Allah jualah yang menetapkan semua keputusan yang dialami oleh makhluk-Nya. Oleh karena itu, bersandarlah kepada kehendak Allah, bukan yang lain.

Kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya begitu terhampar luas baik yang ada di langit, di bumi, kepada manusia, binatang juga tumbuhan. Namun sayangnya, manusia kerap kali abai terhadap kasih sayang Allah meski setiap detik kita merasakan kebesaran-Nya.

Kedua, Hidup adalah pilihan. Allah telah memberi petunjuk supaya manusia dapat mencapai kebahagian melalui Nabi dan Rasul-Nya. Akhirnya tepat pada keputusan manusia sendiri. Kebaikan atau keburukan.

Sebagai makhluk yang diberi nalar, secara logika manusia pasti memilih jalan kebaikan. Oleh karenanya dimanapun berada, manusia hendaknya selalu menabur kebaikan dan kebahagiaan kepada orang lain. Menciptakan rumah tangga sakinah mawadah  wa rahmah. Membina lingkungan menjadi masyarakat yang damai, aman dan sejahtera merupakan jelmaan dari sifat Rahman dan Rahim.

Sabar Menerima Berita

Jum’at Berkah

“kafa bil mar’i kadziban.” (al-Hadits)

Berita hoax yang sedang marak, menghiasi dalam perilaku komunikasi di kalangan umat Islam memang sungguh meresahkan. Pembuat berita begitu entengnya untuk membelokkan kebenaran informasi, tanpa melihat efek yang ditimbulkan. Penerima berita pun begitu mudah terhasut isi informasi dan ditelan mentah-mentah, tanpa adanya penyaringan berita atau informasi pembanding.

Ayat yang pertama kali diturunkan adalah Iqra’. Perintah membaca. Namun pemahaman umat Islam pada ayat tersebut, masih berkisar membaca dalam arti membaca Al-Qur’an secara tekstual. Padahal makna yang sebenarnya menurut ahli tafsir adalah membaca dalam arti yang sangat luas. Andai kaum muslimin dapat menangkap arti sesungguhnya Iqra’, tidak akan terjadi saling menyalahkan, saling memfitnah.

Kaum muslimin, adalah umat yang senantiasa untuk tidak mudah terprovokasi dan tidak gampang memvonis orang hanya bersandarkan kepada berita satu sumber. Semuanya informasi harus ditelan secara jernih dan teliti. Andaikan berita tentang aibnya seseorang, maka tetap saja tak selayaknya sesama muslim saling menceritakan dan menyebarkan keburukan saudaranya. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam telah memberikan predikat “pendusta” kepada orang yang menceritakan setiap berita yang dia dengar, “kafa bil mar’i kadziban.”

Suatu ketika Madinah diguncang berita heboh. Saat ini boleh disebut viral. Sebuah berita besar yang sebenarnya merupakan fitnah yang mendera keluarga Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Berita miring itu pun akhirnya menjadi buah bibir. Demikian hebat makar para munafiqin untuk menghancurkan Islam. Namun Allah Maha Kuasa. Dibukalah berita bohong itu, sehingga kedok-kedok mereka terbongkar. Maka kaum muslimin pun tahu, bahwa apa yang selama ini tersebar di masyarakat Madinah tentang keluarga Nabi Shalallaahu alaihi wasalam tak lebih hanya sebagai isapan jempol, semuanya dusta.

Kisah di atas memberikan pelajaran bagi kita, tentang bagaimana mudahnya manusia mempercayai berita negatif yang menyangkut seseorang. Adalah merupakan watak masyarakat awam, bahwa mereka amat mudah terprovokasi oleh orang lain. Sehingga amat banyak manusia yang memanfaatkan titik kelemahan masyarakat ini sebagai sarana untuk mencapai ambisi dan tujuan pribadinya.

Menjadi seorang muslim yang sabar dalam menerima berita adalah solusinya. Caranya dengan giat melakukan literasi sepanjang masa. Memanfaatkan waktu secara terus menerus dengan berliterasi. Literasi dalam arti yang luas. Literasi dengan membaca dan menulis akan menambah wawasan, dan tak akan mudah menerima informasi tanpa dasar.