Ketrampilan Berfikir Tingkat Tinggi

Pengembangan kurikulum semakin bercabang-cabang, seiring dengan kondisi kekinian. Kurikulum 2013 atau kurtilas yang menitik beratkan pada aktifitas siswa, peran guru dalam proses pembelajaran semakin diminimalkan. Pembelajaran harus dimulai, berproses sampai pada menarik kesimpulan dilakukan oleh siswa.

Berkurangnya peran guru dalam pembelajaran memiliki memiliki konskwensi logis bahwa guru tetap harus meningkatkan kompetensinya. Penyebabnya tak lain adalah peran Teknologi Informasi yang semakin canggih. Teknologi Informasi telah mengubah setiap sudut kehidupan.

Dari Teknologi Informasi itulah, kita semakin bisa membaca tingkat pendidikan pada masing-masing negara. Matematika yang selama ini terpuruk, menjadi semakin tenggelam. Standarnya bisa dilihat laporan Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS).

Satu jalan yang pasti adalah bagaimana meningkatkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi, didalam menciptakan manusia Indonesia yang produktif, kreatif, dan inovatif. Dengan mewujudkan pembelajaran yang mengarah pada kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Tanpa ada upaya yang serius pada sistim pengajarannya, mustahil bisa tercapai. Salah satu upaya untuk mendorong keunggulan dengan dilaksanakannya pelatihan guru secara rutin.

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menangkap bola dalam situasi demikian dengan mengadakan pelatihan bekerja sama dengan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika (P4TK Matematika). Pelatihan ini bertujuan agar peserta dapat membangkitkan siswa untuk berfikir tingkat tinggi.

Pelatihan yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 dan SMP Negeri 6 Yogyakarta dan akan berlangsung pada tanggal 23 – 30 November 2020. Tujuan dari pelatihan ini adalah agar peserta dapat memahami karakteristik pembelajaran dan penilaian yang berorientasi pada ketrampilan berfikir tinggi.

Disamping itu, peserta dapat menyusun strategi atau skenario pada pembelajaran matematika. Diharapkan peserta juga dapat menerapkan penilaian setelah menyelesaikan pelatihan di sekolah masing-masing.

Anak Dilahirkan untuk Dirinya Sendiri

Jum’at Berkah

Rasul SAW pernah mengingatkan, ”Kotoran yang menempel di bajuku akan hilang seketika bila dicuci, tapi sakit hati si anak itu karena bentakanmu, tidak akan mudah hilang.”

“Tidak menghakimi” adalah salah satu tindakan orang tua terhadap anak. Anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan fitrahnya. Mereka mengalami pertumbuhan sesuai dengan waktunya. Tidak diperkenankan mendidik anak disamakan dengan saat orang tua dididik oleh orang tua mereka.

Penilaian dan harapan yang dilakukan orangtua yang dapat mempengaruhi persepsi negatif bila orang tua selalu curiga terhadap perilaku anak. Justri yang harus dikembangkan adalah membimbing dan menilai anak sesuai dengan karakternya. Orang tua, terutama seorang ibu pasti hafal benar terhadap karakter anak. Sejak bayi, seorang ibu diharapkan memperhatikan kejiwaan anak, agar kelak anak bisa diarahkan dan dibimbing sesuai dengan minat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa orangtua yang berprofesi sebagai dokter selalu menekankan anaknya untuk menjadi dokter, terlepas dari suka atau tidak suka anak tersebut. Orangtua yang ahli berhitung akan menentukan kehebatan anaknya dari kemampuannya berhitung. Demikian pula andai ada orang tua yang berdedikasi di bidang olah raga. Harapan terbesarnya, agar anak akan mengikuti jejaknya.

Alangkah sedihnya! Mengasuh dan membimbing dengan pola yang demikian itu. Buat apa anak kita sekolahkan dengan berbagai macam pelajaran, berbagai macam ketrampilan, dan juga bersosialisasi dengan teman sederajat, kalua akhirnya orang tua yang akan menentukan nasibnya. Tentu saja dalam hal ini bukan berarti sebagai orangtua kita pasrah dan melepas tanggung jawab untuk perkembangan jiwa anak. Bimbingan (terutama dalam hal beragama) orang tua harus terlibat di dalamnya. Pendidikan akhlak yang terbaik adalah dalam keluarga.

Orangtua harus secara sadar melihat anak mereka berkembang sebagaimana adanya. Orangtua harus benar-benar mampu menerima anak dengan atributnya sendiri dengan baik. Menerima bahwa mereka bukanlah duplikat kita semasa kecil.Menerima bahwa anak-anak masa kini berbeda dengan anak-anak masa lalu ketika orangtua masih berstatus anak-anak.

Saat ini, dunia memang tanpa batas. Kejadiaan saat ini di luar rumah, bisa diketahui saat ini juga oleh seorang anak. Dunia tanpa sekat ini, menandakan bahwa orang tua harus bijak mengambil sikap, andaikata anak menerima informasi dari luar. Jangan terlalu protok, sebaliknya juga jangan terlalu longgar. Informasi yang tidak jelas asal usulnya dan juga tidak jelas muatan nilainya, hanya akan memberi saham kepada anak untuk berbuat semaunya sendiri. Maka sebaik-baik orang tua, adalah yang dekat dengan anaknya, dan mampu membuka komunikasi secara terbuka tentang nilai kehidupan.

Penyakit Kejiwaan atau Penyakit Sosial

Ada orang bilang kalau “urat malu” pejabat atau yang sedang menjabat apapun sudah putus. Atau bahasa kunonya sudah tidak punya malu. Beberapa malah bangga bisa masuk berita. Ibarat orang entertainment, ratingnya naik.

Berita, apapun wartanya adalah informasi. Pembuat berita menyampaikan segala sesuatu kejadian untuk disampaikan kepada orang lain. Tanpa mengurangi muatan etika, bahwa informasi apapun berhak untuk diwartakan. Peristiwa bencana, pembunuhan, korupsi, kolusi dll, yang memiliki sifat merugikan selayaknya untuk dikonsumsikan kepada orang lain. Orang yang menerima berita berhak pula untuk menilai peristiwa itu.

Teruskan membaca

Menikmati Hidup

Jum’at Berkah

“… dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” QS Yusuf: 87

Apapun kegiatanmu, dimanapun berada, kapanmu aktifitasmu, semuanya adalah kewajiban. Bekerja adalah kewajiban. Belajar merupakan keharusan. Sekolah juga kewajiban bagi siswa. Istirahat, berolah raga, melihat pertunjukan, apakah suatu kewajiban? Tentu iya. Istirahat adalah kewajiban manakala badan sudah merasa Lelah. Tidak mungkin bekerja secara terus menerus. Ada hak otak dan otot untuk relaksasi. Olahraga adalah sarana yang tepat membakar kalori, meregangkan otot, mengurangi pertumbuhan kolesterol.

Melakukan pekerjaan yang tidak dibarengi dengan suasana yang nyaman, akan menghasilkan karya yang kurang baik. Pekerjaan yang tidak dihiasi dengan enjoy, akan menghasilkan kemubadziran. Membuat semangkok mie goreng yang akan dihidangkan kepada seseorang, tapi hatinya tidak merasa senang, akan membuat masakan terasa hambar.

Dalam bekerja, agar target bisa tercapai sesuai dengan keinginan, membutuhkan niat yang bulat. Perlu kerjasama dengan orang lain, suasana kerja yang nyaman dan kondusif. Semua saling kait-mengkait. Ingat, semua aktifitas harus didasari atas niat. Niat yang baik akan menghasilkan pekerjaan yang baik.

Namun, untuk mendapatkan itu semua tidak gampang. Cita-cita yang sudah dibentuk dari rumah, akan berantakan dalam perjalanan. Tiba-tiba didapatkan listrik mati, komputer mengalami masalah, kendaraan ngadat, Atau bisa juga datang secara tiba-tiba problem non teknis, yang kadang masalah ini justru sering dijumpai. Itulah ritme kehidupan kita. Hidup yang tidak datar-datar saja. Kehidupan pribadi yang mesti kita hadapi dalam setiap medan.

Menghadapi rutinitas masalah saban hari saling bertolak belakang dengan niat awal, memerlukan latihan. Kita harus selalu siap menghadapinya. Dibutuhkan hati yang lapang andai menemui ketidak serasian dengan perkiraan sebelumnya. Semua problem Insya Allah bisa diatasi tanpa mengorbankan orang lain. Semua masalah tidak diselesaikan dalam waktu sesaat. Masalah akan selalu mengikuti kita dimanapun dan kapanpun. Sepanjang hayat. Berbahagialah orang yang telah tertempa dengan berbagai macam problematika, tapi sukses melewatinya. Ia dapat menyelesaikan secara mandiri. Satu kata khasiat yang telah teruji sepanjang masa adalah “bersyukur” atas nikmat Allah yang berikan kepada orang-orang yang beriman.

Rotasi

Rotasi atau perputaran adalah sautu perubahan kedudukan atau posisi objek dengan cara diputar lewat suatu pusat dan sudut tertentu. Besarnya rotasi dalam transformasi geometri sebesar α (alfa) yang telah disepakati untuk arah yang berlawanan dengan arah jalan jarum jam. Apabila arah perputaran rotasi pada sebuah benda searah dengan jarum jam, maka sudut yang dibentuk yaitu -α.

Lihat gambar berikut. Bangun segitiga ABC bila diputar 90 derajat terhadap pusat O(0 , 0), akan menghasilkan bayangan segitiga A’B’C.

Prinsip yang digunakan sama dengan rotasi dalam transformasi geometri, dimana memutar pada sudut serta titik pusat tertentu yang mempunyai jarak sama dengan setiap titik yang diputar.

Adapun rumus yang digunakan dalam rotasi transformasi geometri, antara lain:

Lihat video berikut ini : video 1, video 2, video 3

Attitude

Organisasi dapat melakukan fungsinya sebagai alat untuk membantu mencapai tujuan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan fisik dan soft skill, namun perilaku orang yang akan menggerakkan roda organisasi akan membawa dampak. Sikap yang dimiliki harus mampu membangun tata kelola organisasi, sehingga roda organisasi senantiasa berjalan, dan terhindar dari lobang yang menjerumuskan.

Sikap atau perilaku seseorang bukanlah bawaan. Sikap dapat dipelajari dan dilatih. Tingkah laku yang melekat dalam diri seseorang haruslah perilaku yang berjalan secara terus menerus. Bukan seketika. Oleh karenannya, pembentukan sikap orang yang tergabung dalam sebuah komunitas organisasi harus disesuaikan dengan visi dan misinya. Sehingga muncul istilah budaya organisasi. Budaya ini timbul karena merupakan refleksi dari setiap penghuninya.

Teruskan membaca

Hewan

Jum’at Berkah

“Tidakkah engkau (Muhammad) tahu bahwa Kelada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing-masing sungguh, telah mengetahui berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan” (An-Nur 24: 41)

Perbedaannya sungguh jelas bahwa Allah adalah Khalik (Sang Pencipta) lainnya adalah Makhluk. Khalik berkehendak dan berkuasa, sedangkan makhluk adalah mengabdi dan memuji-Nya.

Makhluk memuji Allah dengan caranya sendiri-sendiri. Manusia, dengan bimbingan Nabi dan Rasulnya mengabdi kepada Allah dengan caranya, sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi dan Rasulnya sesuai dengan jamannya. Hewan dan alam semesta menyembah dan berdoa sesuai dengan takdirnya masing-masing.

Alam semesta tunduk dan patuh atas ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Andai saja mereka mengingkari, maka akan terjadi benturan. Gesekan satu akan menyebabkan pergerakan lain yang lebih besar, dan ujung-ujungnya akan menimbulkan ketidak harmonisan sirkulasi dari ketentuan Allah.

Disekitar kita, hidup berbagai macam hewan penghuni bumi ini. Jenisnya jutaan. Mereka hidup dan berkembang sesuai dengan caranya sendiri. Beradaptasi dengan lingkungan, sehingga hidup hingga sekarang.

Dalam al-Qur’an terdapat lebih dari dua ratus ayat yang berbicara tentang hewan, baik secara umum maupun secara spesifik jenis tertentu. Hewan memang ada yang disebut tidak secara rinci. Ungkapan perilaku dapat saja disimbolkan dengan hewan tertentu. Atau budaya mengumpat, dengan menyebut nama hewan tertentu.

Allah menciptakan hewan terdiri dari beberapa jenis. Ada sebagian hewan yang berjalan dengan perutnya, ada yang berjalan dengan dua kaki, empat kaki bahkan sampai puluhan kaki. Ada pula yang terbang dengan sayap, berenang dengan sayap. Ini membuktikan bahwa kekuasaan Allah tak terhingga. Dari sekian banyak ragam jenis, warna, cara mempertahankan diri, tak lepas dari pengawasan dan pemeliharaan-Nya.

Dalam hal pengabdian, manusia dan hewan dan juga makhluk lainnya memiliki kesetaraan. Jaminan Allah, bahwa semua makhluk adalah ummah (ummat), meskipun mereka memiliki ciri-ciri, kekhususan, dan system kehidupan yang berbeda.

Allah mengutus hewan tertentu seperti hud-hud yang membantu Nabi Sulaiman untuk memberitahu ada sebuah negeri yang bernama Saba’. Allah mengirim burung gagak kepada putra Nabi Adam, untuk mengajari bagaimana menguburkan saudaranya sendiri setelah ia bunuh.

Al-Qur’an menyebutkan burung-burung utusan Allah untuk meluluhlantahkan tentara gajah yang hendak menghancurkan Ka’bah. Ular, yang disebutkan lima kali dalam al-Qur’an tentang kisah Nabi Musa. Sebuah tongkat kayu berubah menjadi ular dan memangsa ular jadian dari sihir-sihir utusan Fir’aun. Bahkan, laba-laba diutus oleh Allah untuk menyelamatkan Nabi Muhammad SAW dari kejaran kaum Quraisy.