4 Krisis yang Saling Berdekatan (2)

Sebagai negara pengguna minyak yang cukup besar, Indonesia harus berjibaku dengan finansial yang dimiliki. Tahun 2018 adalah tahun politik. Segala sendi kehidupan dapat dipolitikkan, termasuk minyak, yang masuk dalam kantong BUMN.

Kini, krisis minyak masih terus berlanjut. Timur tengah sebagai pemasok minyak di dunia sedang mengalami krisis minyak. Arab Saudi dan Rusia perang harga yang mengancam akan membanjiri pasokan pasar minyak global.  Moskow telah menolak untuk mendukung Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam melakukan pengurangan minyak yang lebih dalam untuk mengatasi penurunan permintaan.

Kedua, Perang dagang Amerika Serikat dan China. Sejak tahun 2018, kedua negara sudah saling beradu ekonomi. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Kalau Amerika Serikat (AS) menuduh China karena mencuri kekayaan intelektual. Itu hanya dalih saja. Para ekonom sepertinya telah sepakat bahwa AS takut tergerus dominasi atas monopoli dunia. Wibawa AS sebagai negara adi daya pelan-pelan luntur di muka seterunya akibat dari laju perokonomian China yang semakin kokoh.

Akibat dari perang dagang ini pun dirasakan oleh banyak pihak, tak terkecuali Amerika Serikat sendiri. Salah satunya adalah pengangguran yang semakin besar karena lesunya sektor ketenagakerjaan, manufaktur, transportasi, distribusi. Ditambah lagi dengan investasi global yang tidak menunjukkan peningkatan berarti.

Sampai kapan perang dagang ini terus berlangsung? Tidak ada yang bisa memastikan. Faktor superioritas kedua negara tersebut ikut menentukan membara atau makin surutnya perekonomian keduanya.

Dampaknya bagi Indonesia adalah keberadaan sebagai negara berkembang. Amerika Serikat  telah mencoret nama Indonesia sebagai negara berkembang. Banyak pengamat bahwa meniadakan Indonesia sebagai negera berkembang hanya alasan politis. Terlempar dari status negara berkembang ataupun tidak, tetaplah mengalami krisis (terutama ekonomi). Sebab saat ini ada kekuatan baru sebagai sebagai kompetitor, yakni China.

Ketiga, Peristiwa pendemi Corona atau Covid19 adalah musibah. Bahkan Presiden Jokowi sendiri telah mengeluarkan surat, bahwa pendemi Covid19 merupakan bencana nasional. Dengan diterbitkannya surat tersebut, maka pemerintah bisa melakukan apapun untuk menangkal bencana. Termasuk di dalamnya merivisi RAPBS.

Beberapa aspek dalam bernegara mengalami perubahan yang cukup mendasar. Sendi-sendi bermasyarakat cukup mengejutkan. Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa, bahwa kegiatan ritual yang semula dilakukan di tempat ibadah, dialihkan ke rumah. Pro dan kontra terus melaju, mengiringi jatuhnya korban Corona.

Ujian Nasional yang akan dilaksanakan sebagai ujian terakhir, berakhir dibatalkan. Sri Mulyani pun, sebagai Menteri Keuangan berani memprediksikan bahwa perkembangan keuangan secara nasional akan mencapai titik 3,8 persen atau bahkan minus 4 persen. Sehingga dampak terhadap kehidupan di masyarakat cukup berat. Para pakar memprediksikan, bahwa krisis akibat Corona akan pulih lagi paling cepat satu semester, terhitung sejak wabah Covid19 benar-benar lenyap.

Keempat. Fluktuasi nilai tukar rupiah. Rentetan peristiwa yang belum lama dirasakan, mulai dari akrobatik harga minyak, perseteruan AS dan China, serta pendemi Corona, mengakibatkan perekonomian limbung. Nilai tukar rupiah jatuh. Bahkan sempat pernah berada di titik nadir, melebihi dari krisis moneter 1998. Neraca eksport import tidak seimbang. System perekonomian yang telah bertransaksi dengan mata uang negara asing menjadi kacau.

Pada dasarnya, fluktuasi nilai mata uang adalah naik-turunnya harga suatu mata uang dibanding mata uang lainnya. Perubahan harga tersebut disebabkan oleh permintaan dan penawaran di pasar untuk mata uang tersebut dibanding mata uang lainnya. Semakin banyak permintaan terhadap rupiah, maka nilai tukar akan menguat. Sebaliknya, apabila semakin banyak permintaan terhadap dollar AS, maka nilai tukar rupiah akan melemah.

Daya saing Indonesia terhadap Negara lain masih lemah. Sumber Daya Manusia pun belum mampu beradu. Produk-produk yang dihasilkan oleh juga belum mampu bersaing. Akibatnya kegiatan Import lebih banyak disbanding dengan eksport. Saat ini tidak mungkin lagi mengandalkan sumber daya alam, yang setiap hari terus dikikis. Mana mungkin rupiah dicari?

Leave a Reply

Your email address will not be published.