Jangan Meremehkan Melukis

Pada saat saya menyampaikan materi melukis, saya memang mengharuskan kepada siswa untuk membawa perlengkapan melukis. Jangka, penggaris, busur dll. Bukan materi kesenian, namun lebih tepatnya adalah bagian dari pelajaran geometri. Pelajaran yang disukai anak-anak, karena tidak perlu berdekatan dengan rumus hitungan, tidak perlu berpusing-pusing dengan hitungan, tambah, kurang, kali, bagi apalagi kalau ketemu pecahan. Ampun…..

Melukis disini bukan sembarang ekspresi seni, namun ketelitian dalam menggunakan alat. Sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku, dan tentu saja berkaitan langsung dengan mengukur.

Sebagaimana kalau kita bekerja, semakin lengkap alat yang tersedia, semakin lancar dalam menyelesaiakan tugas. Demikian juga dengan melukis. Semakin lengkap alat yang digunakan maka semakin valid ukuran gambar.

Menggambar garis bagi pada sudut tertentu akan lebih enak bila telah tersedia busur. Namun manakala busur sedang tidak ada, maka jangka menjadi solusinya.

Materi yang saya sajikan hanya menggunakan jangka dan penggaris. Busur saya fungsikan sebagai alat uji.

Alat memang tidak perlu mahal. Beberapa siswa membawa alat untuk melukis termasuk mahal, tapi tidak praktis penggunaannya. Justru yang saya sarankan adalah alat yang bisa digunakan dengan leluasa dan validitas ukurannya tinggi.

Jangka

Jangka memiliki bagian yaitu kepala, baut dan telapak jangka. Agar jangka bias digunakan dengan nyaman, maka ada criteria yang harus diperhatikan. Kepala jangka tidak licin agar nyaman bila diputar. Jangan memutar menggunakan kaki jangka. Bila kaki jangka yang dipegang, maka tubuh akan ikut berputar sejauh lingkaran yang dilukis. Bisa-bisa menggangu rekan yang duduk disamping.

Baut diusahakan tidak terlalu keras atau lunak. Ini untuk menghindari terpeleset bila kaki jangka harus dilebarkan atau disempitkan. Kalau terlalu lunak, akan berpengaruh terhadap lukisan lingkaran atau lukisan busur lingkaran. Yang dimaksud dengan telapak jangka adalah ujung jarum dan ujung pensil. Jangka yang baik bila ujung jarum dan ujung pensil ditegakkan, maka kaki jangka akan membentuk sama kaki. Atau lebih mudahnya membentuk segitiga sama kaki. Kaki tidak lebih tinggi atau rendah satu sama lain.

Busur.

Walaupun sebagai alat uji, namun busur akan menentukan besarnya sudut, Berbeda setengah sudut saja akan berpengaruh terhadap bentuk gambar. Busur yang baik adalah memiliki garis horizontal (sebagai tanda garis lurus 180 derajad) dan garis vertical (sebagai tanda tegak lurus 90 derajad). Garis tersebut bertemu disebuah titik. Nah…. titik itulah sebagai pangkal untuk meletakkan titik sudut.

Jangan salah baca. Busur yang sering kita jumpai ada dua macam angka mulai dari 0 sampai 180. Satu tertera di dalam dan satunya lagi di luar. Masing-masing memiliki fungsi yang sama namun berbeda dalam memberi tanda. Caranya dalam setiap mengukur sudut mulailah dari angka 0. Angka nol bisa yang ada didalam maupun diluar. Hati-hati dalam menentukan besarnya sudut.

Ingin Pintar

Sejak nol tahun hingga menjelang pernikahan, peranan orangtua sangat dominan. Disamping mencukupi kebutuhan pertumbuhan jasmani, orangtua juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa anak. Orangtua akan selalu mendampingi keinginan anak, memberi motivasi dalam mencapai citi-cita anak. Tak sedikit ongkos yang harus dikeluarkan untuk membiayai segala keperluan anak.

Guru yang sebenarnya adalah orangtua. Dia menjadi panutan, pendamping dan sekaligus motivator bagi anak-anaknya. Orangtua menjadi tempat bertanya dalam segala hal kehidupan,  ia juga sebagai tempat bersandar manakala anak-anak menemui kegalauan. Orangtua juga menjadi inspirator, terkait dengan masa depan, Yang ada dalam benak seorang anak dalam merengkuh kehidupan, orangtua menjadi salah satu referensi  utama.

Tidak sedikit, orangtua yang memberi wejangan kepada kita tentang kehidupan kelak dikemudian hari. Kita takzim mendengarkan tutur kata beliau. Untaian kata-katanya seolah menjadi bara untuk mengobarkan semangat. Ia hanya mengatakan “besok kalau sudah jadi orang, jadilah orang yang berguna bagi orang lain” hanya itu saja. sederhana sekali. Namun maknanya sangat mendalam.

Berguna bagi orang lain” ternyata dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas serta ketrampilan yang mumpuni. Untuk memberi kebutuhan papan bagi orang lain, dituntut menjadi seorang yang ahli membuat bangunan rumah. Menghadapi krisis pangan yang terjadi di masyarakat, kita diberi beban untuk mengembangkan rekayasa genetika pangan.

Karena demikian sentralnya peran yang disandang oleh orangtua, maka tugas pendidik yang utama adalah orangtua. Bila peran ini diganti oleh orang lain maka akan merusak tatanan kehidupan sosial. Ada ketidakseimbangan antara kebutuhan psikologis seseorang dengan kehidupan bermasyarakat. Cermin tatanan keluarga akan memantulkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Membentuk keluarga yang diidamkan menjadi dambaan manusia. Keluarga yang tenteram tidak datang seketika, Perjalanan kehidupan tidak dengan jalan yang lurus. Godaan yang ditemui datang silih berganti. Sangat disayangkan apabila nilai-nilai yang telah dipahami dan dianut oleh keluarga akan ditukar dengan nilai-nilai yang dibawa oleh orang lain, yang tidak memiliki sendi-sendi kemanusiaan. Semakin tercerabutlah fungsi keluarga yang hakiki. Keharmonisan akan luntur, kesejukan akan lebur.

Perkembangan ilmu dan ketrampilan, tiap saat mengalami perubahan. Bahkan bisa jadi melampaui batasan waktu.  Perkembangan ini akan sangat berpengaruh dalam budaya yang telah disepakati dalam masyarakat. Orang dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan perkembangan iptek.

Untuk mendapatkan ketrampilan, seseorang harus belajar dengan orang lain yang lebih mumpuni dalam bidangnya. Oleh karena itu, masyarakat kemudian membuat sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk menguasai dan mengembangkan ilmu dan ketrampilan. Dari segi teknis semacam ini, orangtua dapat menyerahkan anak kepada orang lain, agar supaya memiliki ilmu dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Guru Dambaan Siswa

Siapa yang tak ingin dicintai orang lain? Disayangi orang lain adalah dambaan setiap orang. Menandakan bahwa sahabatnya banyak. Hubungan silaturahmi yang selalu dipupuk, akan melahirkan cinta kasih dengan sesame.

Idaman seorang guru adalah, apabila transfer ilmu berhasil dengan sukses. Tanpa tekanan. Tanpa ancaman. Siswa dapat menerima secara utuh pengetahuan yang diberikan oleh guru. Bahkan bisa mempraktekkan dan mengembangkan ilmu.

Namun apakah semua guru mampu melakukan seperti itu? Apakah siswa juga bisa menerima dengan baik?

Prasyarat terjadinya alih informasi ada dua yaitu : pemberi dan penerima. Pemberi, memberikan informasi kepada penerima lewat media. Transformasi pengetahuan dapat berjalan dengan baik, manakala antara pemberi dan penerima telah siap dengan segala kondisi sesuai fungsi masing-masing. Guru siap dengan materi dan metodenya, siswa siap melihat dan mendengarkan.

Ada syarat non teknis yang perlu diketahui oleh guru, agar siswa tertarik dengan kepribadian yang dimiliki oleh seorang guru. Faktor non teknis ini acap kali kadang menjadi penentu seorang siswa memperhatikan mata pelajaran dengan seksama atau justru akan mengganggu jalannya pelajaran. 1. Menyapa. Siswa yang disapa secara pribadi, akan menimbulkan rasa empati. Artinya, keberadaan siswa di kelas diakui dan diperhatikan. Guru menyapa siswa, mungkin tak ada kaitannya dengan keluarga. Namun menanyakan kabar Bapak, Ibu, atau saudaranya, sangat cukup membuat siswa  diperhatikan.

Ajakan bergurau akan membuat kondisi kelas selalu dinamis. Sesekali nembak siswa, tapi jangan sampai hati terluka. Membandingkan keadaan antar keluarga juga bisa dilakukan, sebatas informative dan sedikit candaan.  2. Berpakian yang bersih dan rapi. Jenis pakaian dan cara berpakaian seorang guru sangat diperhatikan oleh siswa. Mungkin guru tidak terlalu peduli dengan pakian yang dikenakan. Selain jenis pakaian seragam yang tidak terlalu nyaman, terkadang pakaian disetrika dengan sembarangan. Sehingga muncul dua garis. Dipandang sangat tidak elok.

Bila cara berpakian seorang guru sembarangan, seperti tidak rapi, kombinasi warna yang norak, apalagi berbau, yang pertama kali terjadi adalah siswa tidak respek. Bagaimana mungkin akan terjadi transfer ilmu, manakala penerima (siswa) tidak peduli dengan kondisi pemberi (guru). 3. Wajah Berseri. Senyum dengan orang lain akan mendapat pahala. Senyum akan memberi kesan seorang peramah. Seorang peramah memiliki banyak sahabat. Seorang peramah enak diajak bicara dan senang mendengarkan orang lain.

Senyum harus dimiliki seorang guru, meskipun hatinya sedang gundah. Langkah pertama memasuki ruang kelas, mesti diikuti dengan wajah yang ceria. Sebagaimana seorang penyiar. Dalam kondisi sedang duka sekalipun, penyiar selalu menyapa pendengar dengan ramah dan selalu mengundang senyum. 4. Menyuruh Siswa. Dulu, siswa berebut membawakan tas seorang guru, sesaat setelah turun dari sepeda. Sekarangpun siswa paling senang disuruh guru mengambilkan barang tertentu yang tertinggal di ruang guru, atau mengambilkan alat tulis di ruang administrasi. Namun, siswa paling tidak suka disuruh mengambilkan barang yang tidak ada kaitannya dengan mata pelajaran.

Mengatur Ritme Emosi Anak

Beberapa tahun lalu, saat awal masuk tahun pelajaran baru, ada seorang anak yang sebenarnya masih tergolong kecil menangis tidak ingin masuk sekolah. Didepan pintu masuk sekolah, anak itu meraung-raung meskipun sudah dituntun ibunya untuk segera memasuki sekolah yang baru. Akhirnya kami ikut turun tangan menenangkan anak bahwa di sekolah banyak siswa yang baru. Satu dengan yang lainnya masih belum saling kenal. Jadi tidak ada alasan tidak punya teman.

Rupanya anak kecil tadi belum siap untuk beradaptasi dalam lingkungan yang baru. Dibenaknya masih ingin suasana sekolah seperti masih di SD. Masih ingin berteman dengan kawan-kawan SD, bahkan ingin sekolahnya masih seperti di SD. Tidak sedikit mental anak yang ingin memasuki jenjang yang lebih tinggi, memiliki emosi seperti ini. Orang tuapun kadang-kadang merasa was-was.

Pendidikan di Indonesia memang memakai sistim bertingkat. Setelah TK kemudian SD, dilanjutkan SMP dan seterusnya. Setiap jenjang memungkinkan seorang anak berpindah dari sekolah satu ke sekolah lainnya. Sekalipun ada juga model sekolah yang sifatnya langsung. Misalnya, dari kelas VII sampai kelas XII. Ini biasanya dimiliki oleh sekolah denga model penggabungan antara sekolah dengan pondok.

Akibatnya sistim yang diterapkan oleh pemerintah yang demikian itu, seorang anak harus selalu siap untuk beradaptasi ke dalam lingkungan yang baru setiap menapaki jenjang yang lebih tinggi. Keuntungannya adalah siswa akan memiliki kawan baru. Siswa akan mempunyai suasana dan lingkungan baru. Mestinya anak merasa senang akibat dari model pendidikan di Negara kita.

Dari suasana yang demikian itu, maka salah satu fungsi seorang guru adalah sebagai penyeimbang emosi siswa. Kebijakan sekolah agar setiap periode tertentu merotasi siswa dalam pengelompokan kelas sudah baik. Pertimbangannya beraneka ragam, mulai dari berdasarkan prestasi, keseimbangan gender, berdasarkan tingkah laku anak dan lain-lain. Bila sebuah kelas telah ditetapkan anggotanya dengan pertimbangan komposisi di atas, berikutnya adalah peran guru dalam mengemas suasana kelas.

Komposisi kelas yang telah diatur berdasarkan prestasi akademik, maka seorang guru siap-siap untuk meredam gejolak emosi anak manakala menghadapi kelas khusus (akademiknya rendah). Bila guru sudah tidak dapat mengatur ritme suasana kelas, sudah tidak memiliki wibawa, yang terjadi adalah adanya pertengkaran antara siswa dengan guru, suasana kelas yang selalu ramai, tak jarang terjadi pertengkaran yang berujung pertikaian. Inilah kelas yang selalu menjadi polemik. Kelas yang selalu mewarnai setiap rapat dewan guru. Apapun alasannya, bila sejak awal pembagian kelas sudah ditetapkan seperti itu, resiko harus ditanggung semua guru.

Membangun kewibawaan seorang guru tidak datang tiba-tiba. Kewibawaan seseorang telah melalui proses yang panjang dan berinteraksi dengan banyak orang. Maka sebenarnya agak memalukan bila seorang guru tidak memiliki peran yang aktif dalam masyarakat. Kalau seorang guru hanya sebagai anggota dalam sebuah komunitas, berarti mata kuliah yang berhubungan dengan kemasyarakatan gagal diserap.

Bagaimana mungkin dapat mengendalikan suasana kelas, bila gurunya sendiri tidak terlibat aktif dalam masyarakat. Bagaimana mungkin dapat mengendalikan emosi anak, namun gurunya sendiri belum bisa mampu meredam emosi. Sebab emosi seseorang berasal dari masyarakat.

Menuju Changi

Semalam hujan cukup lebat. Sedari siang yang panas hingga sore membuat gerah disekujur tubuh. Keringat melumuri setiap jengkal pori. Hingga lengket yang tersisa. Namun malam berbaik hati. Sepenggal waktu teruntai dalam kegelapan. Hujan deras segera mengguyur jogja. Seketika kesejukan mencerca dalam desah nafas. Mengantar tidur yang nyanyak. Menyusun energi untuk jelang esok hari.
Malam itu kusudahi pengepakan keperluan pribadi. Retsliting masih terbuka. Menunggu satu dua barang yang sengaja kumasukkan di bagian akhir. Rasa kantuk tak tertahankan. Sebuah bongkahan bantal akhirnya menemani mimpi dalam tidurku.
Sound system masjid selalu setia membangunkan warga kampung. Siapa tahu ada orang yang akan bertemu denganNya. Panjatkan doa agar hari ini diberi kelancaran dalam setiap usaha. Mengais ilmu dan rizki lewat pintu barakah. Meski rasa kantuk masih tersimpan dalam pelupuk mata, tak mengurangi niatku untuk selalu meramaikan aktifitas. Bersama-sama mengagungkan asmaNya. Alhamdulillah.
Koper segera kututup rapat. Langkah demi langkah kuawali menuju bandara Adi Soetjipto. Bandara yang senantiasa menemani siapa saja yang ingin datang dan pergi. Uang pergi selalu kangen untuk kembali. Yang datang tak tertahankan untuk dipeluk jogja. Jogja yang terbuat dari kangen, rindu dan pulang.
Pagi ini langkahku akan menjejakkan ke Singapura. Bersama-sama dengan anak didik dan rekan untuk bersilaturahmi dengan saudara senasib, dunia pendidikan. Kita akan bertukar pengalaman. Saling menerima dan memberi. Tapi kusadari bahwa dari kedua pilihan itu, aku merasa haus untuk menerima. Harus kuluangkan mangkok otakku untuk menampungnya.
Singapura. Negeri impian. Bukan entah apa yang dirindui, tapi entah apalagi yang akan diraup saat ini. Kemodernan apalagi yang akan dusuguhkan negeri singa. Daya tariknya begitu lekat. Magnet apa lagi yang hendak ditampilkan, hingga membuat terpesona. Barangkali singapura terbuat dari magnet.
Kota besar, dimanapun sama saja. Paling lama 6 bulan hampir pasti ada perubahan. Membuat orang pangling. Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur selalu mirip dengan dinamika di segala bidang. Tak hanya wajah, namun temperamen penghuninya juga sama saja. Selalu berubah.
Begiti jemari kaki menginjak di Cangi, sudah ada getaran yang dirasakan beberapa tahun yang lalu. Changi berbeda dengan Cengkareng. Pun demikian dengan Bandara Sultan Abdul Aziz, Bandara Suvarnabhumi di Bangkok. Mungkin belajar dari pengalaman hilangnya pesawat Malaysian Air Line. Di Changi sangat ketat terhadap setiap penumpang. Namun demikian jangan ditanya terhadap komitmen ketepatan waktu, kenyamanan, pelayanan. Harus diakui Changi patut berbangga.

Merananya Perpustakaanku

Saya kira tidak hanya diperpustakaan sekolahku saja. Hampir merata disetiap sekolah memiliki perpustakaan yang terbengkelai. Perpustakaan tak lebih dari tempat untuk menyimpan buku. Ada yang lebih sinis dengan mengatakan bahwa perpustakaan adalah gudang buku. Buku apapun yang tidak terpakai disimpan di perpustakaan.

Hampir dipastikan, dalam setiap merancang ruang-ruang dalam sekolah, lebih mengutamakan ruang kepala sekolah, guru, kelas, laboratorium dan BP. Ruang Perpustakaan merupakan pilihan terakhir. Akibatnya ukuran ruang perpustakaan hanyalah sisa dari pilihan-pilihan utama. Tidak heran ruang perpustakaan menempati di sudut-sudut lokasi sekolah.

Dalam hal perawatanpun, perpustakaan hampir selalu menjadi prioritas yang nomor dua. Pihak pengelola sekolah lebih senang memperbaharui mebeler, mengganti komputer terbaru meskipun komputer lama masih bisa dipakai, tukar tambah barang-barang elektronik lainnya. Anggaran perpustakaan selalu  dialokasikan dana sisa.

Selama keluarga besar sekolah belum memiliki minat membaca, jangan diharapkan perpustakaan akan menjadi pilihan utama dalam rancangan anggaran sekolah. Selama kepala sekolah dan guru masih menancapkan budaya lisan maka jangan barharap perpustakaan

Untuk menyokong wibawa perpustakaan ada beberapa aktifitas yang dapat dilakukan :

1. Serius mengalokasikan dana untuk memperlebar ruang, memperbaharui koleksi buku, membuat nyaman ruangan. Koleksi buku jangan mengharapkan datang dari bantuan. Koleksi buku harus dipilih dengan kwalitas yang memadai. Apabila calon alumni diwajibkan untuk menyumbang buku, disarankan dalam bentuk uang saja. Karena sumbangan buku kadang tidak sesuai dengan visi dan misi sekolah.

2. Guru mempelopori bedah buku secara periodik. Luangkan waktu 60 – 90 menit per bulan untuk mengkaji buku. Dua minggu sekali lebih baik. Presentasi boleh dilakukan oleh 2 orang. Buku yang telah dibaca supaya ditulis dalam bentuk ringkasan.  Dengan demikian secara tidak langsung guru juga menulis. Membaca buku sekaligus menulis.

3. Penugasan siswa hendaknya diarahkan untuk menggunakan buku di perpustakaan. Mendorong siswa agar masuk ke perpustakaan, sebagai salah satu cara agar siswa gemar membaca. Dalam periode tertentu, datangkan nara sumber dari luar. Saat ini banyak sekali komunitas yang komitmen dengan baca dan tulis.  4.  Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki, maka perpustakaan menjadi solusinya. Sekolah memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

4.Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa meluangkan waktu untuk membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki untuk memperoleh buku yang bermutu, program membaca dan menulis yang berbasis perpustakaan menjadi solusinya. Satu buku bisa dibaca oleh beberapa orang. Sekolah juga memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

Ulumul Qur’an

Minggu lalu, saya mengantar anak ke toko buku sosial agensi yang berada disebelah timur Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta. Memang selama ini anak dan istri lebih senang membeli buku di sosial agensi. Karena koleksi bukunya cocok dengan yang diharapkan. Saya sendiri senang ke gramedia, atau kalau ada pameran buku.

Setelah buku terpilih dan membayar dengan harga yang tertera, kami lantas meninggalkan toko buku. Tepat di pintu keluar, saya melihat salah satu karyawan sedang membaca jurnal. Bukunya lebar. Bentuk dan kemasannya mirip dengan jurnal Ulumul Qur’an. Karena penasaran, sayapun bertanya langsung kepada karyawan tadi. Benar saja, buku jurnal Ulumul Qur’an.

Sewaktu masih mahasiswa, saya selalu membeli Ulumul Qur’an, kalau pas ada uang. Sampai sekarang jurnal itu telah saya jilid rapi tapi tidak urut. Tergantung edisi yang terbeli. Saat itu memang tidak banyak rekan-rekan tertarik dengan Ulumul Qur’an. Hanya satu alasan teman-teman tidak membelinya, yang sampai sekarang masih terekam. Bahasanya sulit dicerna.

Dibanding dengan jurnal yang sekelas, seperti “Hikmah” misalnya, Ulumul Qur’an jauh lebih mudah dipahami. Hikmah memang lebih banyak mengkaji pemikiran yang berkembang di Iran. Filsafat dan pemikiran Islam yang berkembang di Iran dikupas. Sudah barang tentu aliran syiah, lebih banyak porsinya. Pemikiran Islam versi Murtadha Muthahari lebih mendominasi, dibanding dengan Ali Syariati atau Mulla Sadra.

Saya termasuk orang yang cuek. Dikatakan Syiah saya anggap angin lalu saja. Dalam pikiran saya cuma satu. “Belajar memahami pikiran orang lain”. Memang ada teman yang lebih mendalami tentang syiah sampai pada amalannya. Itu hak temanku. Namun rata-rata, yang saya amati, lebih banyak teman-teman yang hanya sebatas pada wawasan.

Kembali ke Ulumul Qur’an. Pertama kali terbit, sekitar bulan April 1989, Ulumul Qur’an mencuri perhatian. Terutama di kalangan kampus. Ulumul Qur’an terbit, dikarenakan untuk menangkap dan mewadahi kecenderungan wacana perkembangan pemikiran Islam, terutama di Indonesia pada waktu itu, antara lain : gagasan reaktualisasi pemikiran Islam dari Munawir Sjadzali, islamisasi pengetahuan dari Ismail R al-Faruqi, pembaharuan pemikiran Islam dari Fazlur Rahman, dan kajian Islam tentang kecenderungan masa depan dari Ziauddin Sardar.

Tulisan yang selalu saya baca pertama kali adalah Ensiklopedi Al-Qur’an yang ditulis sendiri oleh pendirinya, M. Dawam Raharjo. Saat ini beliau sudah berumur 70 tahun. Namun semangat untuk membangkitkan lagi jurnal ini masih masih ada.

Beliau orang LSM yang dengan konsisten mengangkat derajad orang pinggiran. Hanya satu yang beliau perjuangkan, “keadilan”. LSM yang digeluti dalam bidang ekonomi, sehingga melahirkan jurnal yang cukup prestisius, yaitu “prisma”. Sampai sekarang tidak pernah berubah. Kalau dulu terjun langsung ke masyarakat, sekarang lebih banyak memperjuangkan pemikiran lewat tulisan.

Ensiklopedi bukan tafsir Al-Qur’an. Dawan Raharjo sendiri bukanlah seorang mufassir (ahli tafsir Al-Qur’an). Ensiklopedi Al-Qur’an sebagai salah satu rubrik yang selalu hadir, memberikan warna tersendiri, setelah tafsir al-Qur’an sejenis Al-Maraghi, Ibnu Katsir dianggap usang. Ensiklopedia mengangkat tema yang muncul sehari-hari, seperti Fitrah, Amanah, Ulil Amri. Meski bukan tafsir, yang saya rasakan, setelah membaca ensiklopedia muncul gairah untuk membuka buku lain untuk konfirmasi dan membandingkan. Belakangan, muncul tafsir yang ditulis oleh M. Quraish Shihab. Semakin beragam dan semarak khasanah pemikiran Islam.

Rubrik lain yang cukup menarik adalah mengangkat kebudayaan. Selama ini budaya islam diidentikkan dengan hal-hal yang bersifat tradisional dan kuno. Tidak lagi sesuai dengan jamannya. Seni dan budaya pernah mendapat predikat terpuruk di kalangan umat Islam sendiri. Maka, dengan mengangkat tema budaya, dimaksudkan untuk menyulam kembali serpihan-serpihan Islam di Indonesia yang sebenarnya cukup anggun.

Masih banyak tema lain yang menawarkan obat dahaga bagi pembaca yang suka dengan pemikiran dan perkembangan Islam, khususnya di Indonesia.

1 22 23 24 25 26