Menunggu Realita Nawa Cita (2)

Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah terpilih secara resmi menjadi Presdien dan Wakil Presiden RI. Mereka berdua, dalam masa kampanyenya merancang sembilan agenda prioritas, yang lebih dikenal dengan Nawa Cita. Program ini menawarkan prioritas perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan. Tentu saat ini tidak salah bila 9 program itu kita tagih dengan cara mencicil. Program apa yang telah dilaksanakan.
Bidang kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial lewat wahana pendidikan menempati prioritas ke-9, yaitu : Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.
Program ke-9 ini dapat dijabarkan menjadi tiga bagian yaitu :
Memperkuat pendidikan ke-bhinekaa-an dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.
Kata kunci program ini adalah ke-bhineka-an dan dialog antar warga. Ke-bhineka-an dapat disederhanakan menjadi keanekaragaman namun terangkum menjadi satu kesatuan. Bahasa, budaya, ragam hayati, lingkungan, di seluruh daerah di Indonesia adalah berbeda. Itu pasti. Namun dengan keanekaragaman itulah harus diciptakan sebuah ruang atau sarana untuk saling memahami. Bukan menonjolkan satu etnis tertentu. Pendidikan adalah wahana yang sangat cocok untuk dialog agar saling memahami dan menghormati. Karena dalam pendidikan hampir ditemui keadaan yang setara. Umur sederajad, kesipan mental setara, penerimaan pengetahuan yang baru hampir bersamaan. Sehingga dari ranah pendidikan sangat memungkinkan membuat wacana tentang kesepahaman dalam hidup bersama.
Mengembangkan insentif khusus untuk memperkenalkan dan mengangkat budaya lokal. Insentif, menurut Pangabean adalah kompensasi yang mengaitkan gaji dengan produktivitas . Insentif dapat berupa penghargaan. Intensif adalah pahala dalam bentuk kelebihan karena seseorang melakukan sesuatu. Dalam pendidikan, intensif tidak harus berupa uang. Intensif bisa berupa pemberian nilai, yang nantinya akan digunakan sebagai amunisi untuk naik pangkat atau golongan. Penghargaan ini diberikan karena kelebihan seseorang dalam menguasai sebuah bidang atau profesi.
Meningkatkan proses pertukaran budaya untuk membangun kemajemukan sebagai kekuatan budaya. Tidak ada orang yang bisa mendefinisikan dengan tepat arti budaya. Budaya itu adalah nafas. Setiap saat bisa melakukan sesuatu, dari yang hanya selalu tetap atau selalu berubah. Budaya harus didialogkan dengan budaya lain, agar saling kenal. Dengan demikian budaya harus dipublikasikan kepada orang lain, agar mereka mengenal kita. Dari sini akan tumbuh sikap saling menghormati.
Program Prioritas
118 Desa Adat, 282 Komunitas Budaya dan 3 Cagar Budaya direvitalisasi
2.500 Cagar Budaya dilestarikan/diregistrasi
30 Museum dibangun
6 Taman Budaya direvitalisasi
10 Rumah Budaya dibangun/disrintis di luar negeri
Pembuatan film dokumenter untuk pendidikan karakter

Menunggu Realita Nawa Cita (1)

Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah terpilih secara resmi menjadi Presdien dan Wakil Presiden RI. Mereka berdua, dalam masa kampanyenya merancang sembilan agenda prioritas, yang lebih dikenal dengan Nawa Cita. Program ini menawarkan prioritas perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan. Tentu saat ini tidak salah bila 9 program itu kita tagih dengan cara mencicil. Program apa yang telah dilaksanakan.
Bidang pendidikan, seperti dalam agendanya menempati prioritas ke-5, yaitu : Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
Dari program kerja yang ditawarkan dalam segmen pendidikan, saya memperoleh bocoran hasil presentasi Dirjen Pendidikan Dasar dan Direktur Pembinaan SMP Kemdikbud RI, Didik Suhardi, Ph. D. Karena luasnya cakupan presentasi itu, saya nukilkan saja beberapa bagian yang terkait dengan revolusi karakter bangsa.
Ada 3 bagian pokok dalam membangun karakter bangsa lewat pendidikan, yaitu :
Membangun pendidikan kewarganegaraan. PKn, atau Pendidikan Kewarganegaraan boleh dibilang belum menunjukkan perubahan yang konstruktif. Materi dan muatan yang terknadung dalam pelajaran PKn masih mirip dengan PMP (Pendidikan Moral Pancasila), produk orde baru. Sekuel PMP bahkan pernah menghebohkan dengan sebuah kalimat kecil yang mengatakan bahwa semua agama itu sama. Seketika masyarakat heboh, terutama yang beragama Islam. Demikian pula materi yang terkandung dalam kurikulum, masih mengandalkan teksbook, meminimalisir amalan.
Menghilangkan model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional. Model ini hendak dibongkar melalui kurikulum 2013. Dengan sejuta harapan, kurikulum 13 (kurtilas) meluncur tanpa masa percobaan yang memadai. Akibatnya banyak sekolah yang kelimpungan. Belum siap secara SDM maupun sarana yang dikehendaki kurtilas. Prahara 13 sempat mereda ketika Mendikbud memerintahkan agar kurtilas hanya diberikan kepada sekolah yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. Sebenarnya kurtilas itu mendukung tentang hak dan karakter seorang siswa, tanpa mengurangi arti pemberian materi pendidikan secara utuh. Karena kurtilas mengedepankan karakter seseorang dalam menemukan, memproses sampai pada mempublikasikan.
Jaminan hidup yang memadai bagi guru terutama bagi guru yang ditugaskan di daerah terpencil. Lagu lama yang tak pernah usai diselesaikan. Pendidikan pinggiran atau daerah terpencil belum pernah diselesaikan secara tuntas. Sehingga yang muncil hanya wacana. Belaka.
Disamping 3 prioritas program di atas, ada beberapa prioritas yang hendak diselesaikan oleh pemerintah seperti :
1. Kurikulum disempurnakan
2. Ujian Nasional diperbaiki
3. 206.200 guru non PNS diberi tunjangan profesi
4. 62.500 guru di daerah perbatasan/pedalaman diberi tujunag khusus
5. 94.500 guru non PNS diberi tunjuangan fungsional.

Sehelai Puzzle LB Moerdani

Jangan diharapkan preman yang hidup di tahun 1980 an memiliki napas yang panjang. Mereka ngos-ngosan menghindar timah panas yang diobral oleh penembak misterius ( petrus ). Dengan dalih mengamankan transportasi bis antar kota atau antar pulau, petrus punya hak meng-dor orang yang disinyalir sebagai pembajak bus.
Petrus ternyata mengembangkan lahan. Tidak hanya menundukkan pembajak bis, namun mencari dan memburu orang yang terendus sebagai gabungan anak liar atau gali. Gali memang sempat ngetop kala itu sebagai wadah gabungan anak muda yang suka bikin onar dalam masyarakat. Waktu yang tepat membidik dan melenyapkan gali dikala pagi hari. Sebelum masyarakat memulai aktifitasnya. Sebagaimana yang pernah penulis rasakan.
Muhammad Hasbi sebagai perintah eksekutor. Sebagai komandan Garnisun Yogyakarta, menyatakan perang terbuka terhadap gali. ia mendapat mandat dari Siswadi, bukan dari LB Moerdani yang menjabat sebagai Panglima ABRI. Hanya dua kata yang Hasbi dengarkan saat Moerdani mengevaluasi program perang terhadap gali. ” Bagus. Lanjutkan “.
Itulah sedikit perintah sang jendral kala beliau memangku jabatan tertinggi di militer. Bila kita buka dokumen sepak terjang beliau, mungkin ratusan jumlahnya. Dan itulah nasib perjalanan sang jendral saat menapaki karpet orde baru. Tak beda jauh dengan jendral lainnya. Rapot akan terkuak saat yang bersangkutan telah dipanggil Tuhan.
Sedikit demi sedikit tinta sejarah mengalir menembus tembok yang selama ini menjadi rahasia negara. Bau anyir darah korban keganasan tentara tiba-tiba mengebul. Salah satu yang menjadi korban adalah umat Islam. Apakah ini rekayasa Beny Moerdani? Ataukah sang jendral penguasa orde baru? Siapapun mereka, cuma anak cucu bangsa yang pandai menelaah sejarah.
Saat Moerdani mulai pudar, saat itu pula ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) muncul. ICMI timbul bukanlah melalaui jalan yang rata. Nurcholis Madjid sebagai konseptor khittah ICMI menuturkan bahwa kemunculan ICMI sedikit terganggu dengam masih bercokolnya LB Moerdani. Kala itu, Moerdani masih memiliki hubungan yang erat dengan Soeharto. Persiangan antara Moerdani dan BJ Habibie menandai gerak embrio ICMI sedikit terhambat.
Suatu ketika, Habibie berkunjung ke Jepang. Beliau ke negeri sakura sebenarnya atas undangan pemerintah setempat untuk menjajagi kemungkinan kerja sama teknologi. Duta Besar Jepang, kebetulan masih orangnya Moerdani. Waktu telah diatur oleh pemerintah Jepang, agar pembicaraan sampai detail diperlukan paling tidak 90 menit. Dibalik skenario itu, ternyata Duta Besar telah membuat kesepakatan atas perintah Moerdani agar pertemuandilangsungkantak lebih dari 15 menit.
Sampai akhirnya petugas pemerintah setempat curiga terhadap kaki Duta Besar menggesek-gesek kaki Habibie agar segera menyudahi pertemuan tersebut. Setelah keluar ruangan, pemerintah setempat memohon kepada Habibie agar segera masuk kembali untuk meneruskan perundingan. Peristiwa ini menandakan bahwa Moerdani memang kuat dalam pemerintahan kala itu. Hubungan antara Soeharto dan Moerdani memang sangat erat, karena Moerdani menjadi salah satu pengawal kepercayaannya.
Peristiwa demi peristiwa mengiringi duet mereka berdua. Beberapa tugas negara Moerdani laksanakan dengan penuh tanggung jawab, dan berhasil dengan baik. Namun tidak ada pasang naik saja. Ada kalanya terjadi pasang surut sebagaimana ombak menjilat pantai tanpa henti. Moerdani diisukan akan mengkudeta Presiden Soeharto. Isu ini diterima oleh Soeharto. Tanpa ampun, Moerdani dicopot jabatannya sebelum tuntas. Namun suatu saat Soeharto menyesal, kala Moerdani pernah menasehati agar anaknya Soeharto harus dikendalikan dalam berbisnis. Nasehat itu tidak digubris. Hingga Moerdani menjelang ajal kata itu ia ucapkan dengambahasa jawa. “Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasehatmu, orakoyo ngene. (Kamu memang yang benar Ben. Seandainya aku menuruti nasehatmu, tak akan seperti ini).
Referensi :
1. Tempo edisi khusus 6-12 oktober 2014.
2. Cak Nur sang guru bangsa, ditulis oleh Muhammad Wahyuni Nafis.

Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yanh digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

Manajemen Kurikulum (2)

Tujuan pendidikan nasional seeperti yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan akhlak, serta ketrampilan untuk masyarakat, bangsa dan Negara.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan meliputi :
1. Demokratis dan berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
2. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem yang terbuka dalam rangka pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat
3. Memberikan keteladanan dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik
4. Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung
5. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
Secara hirarkis tujuan pendidikan ada empat macam :
1. Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang tertinggi di suatu Negara. Tujuan ini sangat umum dan kualitatif serta sangat ideal. Tujuan ini harus memperhatikan falsafah Negara (Pancasila), TAP MPR dalam GBHN.
2. Tujuan institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu unit atau lembaga tertentu. Tujuan ini mencerminkan dan menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui suatu lembaga pendidikan tertentu
3. Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai setelah siswa mempelajari bidang studi atau mata pelajaran atau sejumlah isi pengajaran. Tujuan ini tentu saja harus menggambarkan tujuan istitusional.
4. Tujuan instruksional
Tujuan istruksional adalah tujuan yang ingin dicapai siswa dalam mempelajari suatu pokok bahasan tertentu. Tujuan ini harus dirumuskan dalam setiap terjadinya proses belajar mengajar.
Isi atau bahan ajar
Setelah tujuan pendidikan dirumuskan langkah selanjutnya adalah mengembangkan bahan kurikulum. Pengembangan bahan-bahan kurikulum harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Relevan dengan lingkungan siswa, perkembangan iptek, dunia kerja, kehidupan masa kini dan yang akan datang
Efektif, sejauh mana tujuan dapat dicapai dengan bahan tersebut
Efisien, di mana tujuan dapat dicapai dengan bahan seminimal mungkin
Kontinuitas, dalam arti berkesinambungan dengan bahan sebelumnya.
Fleksibilitas, dalam penyampaian bahan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi.
Strategi Belajar Mengajar
Strategi belajar mengajar merupakan kelanjutan dari penyusunan sekuensi bahan ajar. Setiap bahan pengajaran menuntut strategi tertentu. Bahan pelajaran serlebih dahulu dianalisa, dengan metode yang sesuai. Pada kurikulum 2013, seorang guru dituntut untuk merancang proses belajar mengajar sejak dari rencana pelajaran sampai dengan evaluasi. Sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Masing-masing materi pelajaran memiliki keunikan tersendiri, menggunakan metode tertentu.
Pandangan tradisional, startegi atau metode mengajar dianggap terpisah dari proses pengembangan kurikulum. Sekarang, seleksi strategi belajar mengajar menjadi bagian dari proses pengembangan kurikulum. Empat macam strategi belajar yang sering dilakukan dalam kegiatan belajar, yaitu : ekspositori, discovery atau inquiri, pendekatan konsep dan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Di suatu kesempatan akan kami jabarkan strategi belajar tersebut.
Evaluasi Pengajaran
Setelah perumusan tujuan pendidikan, proses berikutnya menentukan bahan ajar dan startegi belajar mengajar perlu dilakukan evaluasi. Tahap evaluasi adalah proses terakhir namun memiliki kandungan nilai yang sangat penting. Sebab dari kegiatan awal akan diketahui keunggulan dan kelemahannya. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana proses belajar mengajar telah sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi juga digunakan untuk umpan balik dan bermanfaat untuk bahan penyempurnaan. Proses mengevaluasi harus dilakukan secara terus menerus sejak dari rancangan sampai implementasinya.

Manajemen Kurikulum (1)

Manajemen kurikulum merupakan bagian dari manajemen pendidikan. Sebab, sangat mustahil manakala membicarakan kurikulum tanpa menyertakan pendidikan. Kalau harus diperas menjadi beberapa lingkup, memang manajemen kurikulum lebih kecil dan spesifik. Namun demikian bukan berarti bahwa yang lebih kecil untuk diabaikan. Bahkan dari beberapa segi, manajemen kurikulum memang sangat menentukan kebijakan pendidikan. Karena ruh kurikulum sejatinya bisa menjelma menjadi inti dari pendidikan.
Terdapat beberapa versi mengenai definisi manajemen yang diajukan oleh beberapa ahli. Perbedaan tersebut muncul karena factor sudut pandang dan latar belakang keilmuan yang dimiliki oleh ahli-ahli tersebut. Namun substansinya tetap sama, yaitu bahwa manajemen berintikan : mengelola, mengurus, mengatur, mengendalikan, menangani menjalankan, melaksanakan. Sehingga secara sederhana, manajemen pendidikan adalah bagaimana mengatur atau mengelola bidang pendidikan.
Secara keilmuan, manajemen pendidikan terdiri dari dua unsur, yaitu material dan formal. Bidang material bahan yang menjadi tujuan yaitu pengetahuan. Sedang obyek formal meliputi pengaturan dalam pelaksanaan pendidikan.
Penyusunan kurikulum harus memperhatikan perubahan lingkungan pendidikan (baik internal maupun eksternal) yang demikian pesatnya. Sementara hasil kurikulum tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Keberhasilan kurikulum baru bisa diketahui setelah hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan lingkungan. Dilema yang banyak dijumpai, adalah penyusunan kurikulum yang selalu berubah, sementara hasil belum bisa diketahui dengan pasti. Sehingga saat menuai hasil, terkadang kurikulum tidak sesuai lagi dengan saat ini. Oleh karena itu, dalam menysun kurikulum harus berlandaskan visi dan misi pendidikan.
Visi adalah jalan pikiran yang melampaui jalan pikiran. Cita-cita yang hendak diraih bisa dikatagorikan ideal. Sehingga cara meraihnya juga melebihi batas dari kemampuan. Menciptakan visi hendaknya yang belum pernah ada sebelumnya. Lembaga pendidikan yang akan melaksanakan visinya, maka lembaga pendidikan tersebut perlu menggambarkan kondisi yang akan diwujudkan di masa depan. Dari kondisi yang akan diwujudkan inilah sebenarnya kurikulum itu dirumuskan atau disusun.
Visi pendidikan nasional adalah “Terwujudnya pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah” Visi pendidikan yang dirumuskan oleh Depdiknas untuk tahun 2025 : “Insan Indonesia cerdas dan kompetitif”.
Misi adalah jalan pilihan suatu organisasi untuk menyediakan produk atau jasa bagi konsumennya. Perumusan misi bisa diibaratkan menyusun peta dalam suatu perjalanan tertentu. Rencana yang telah dirancang harus mengacu pada tujuan yang jelas melalui bagian demi bagian agar misi dapat dilaksanakan secara spesifik. Bila lembaga pendidikan telah melaksanakan misi sesuai dengan kebutuhan, maka dianggap bahwa lembaga pendidikan tersebut telah melaksanakan misi dengan baik.
Secara ringkas, misi pendidikan Indonesia dapat dirumuskan :
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan pendidikan
.
2. Membantu dan menfasilitasi pengembangan potensi anak secara utuh
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang bermoral
.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan.
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan

Melawan Teknologi dengan Budaya

Duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.
Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.
Samsung yang jadi andalan Korea Selatan (Korsel) mampu bersaing dengan produk Jepang yang sudah lama berkibar. Apalagi Sony termehek-mehek dalam indutri film, telah menyedot yen yang menjadi undi-pundi perusahaan induk Sony di Jepang.
Samsung memang bukan hanya bergerak dalam industry rumah tangga. Bahkan teknologi Informasi, telah mampu ditunggangi dalam pacuan persiangan industry computer. Namun apakah benar elektronika telah benar-benar gulung tikar di Jepang? Tentu tidak. Di wilayah elektronika boleh mengalami penurunan. Namun tidak untuk daerah industri otomotif.
Jepang mungkin tidak khawatir dengan mencuatnya industri korea. Namun yang perlu diwaspadai adalah tumbuhnya budaya korea yang sedang digandrungi oleh kalangan muda terutama dikawasan asean. K-pop atau Korean Pop adalah sejenis musik yang sangat popular berasal dari Korsel. Karena di kalangan remajalah yang membeli barang-barang dari hasil roses penciptaan budaya. Siapa lagi kalau bukan Korsel. Disini Jepang agak terseok-seok.
Sudah banyak artis yang berasal dari Negara gingseng ini menembus blatika music dunia. saja Super Junior, yang setiap kali tampil mampu mengundang histeris gadis remaja. SNSD yang kepanjangan dari So Nyeo Shi Dae, kumpulan cewek seksi yang meliuk-liuk sambil bernyanyi mampu menginspirasi Negara tetangga membentuk girl band, termasuk Indonesia. Suju dan SNSD merupakan salah dua yang jadi ikon dan sekaligus andalan korea untuk memperkenalkan generasi muda mereka.
Masih ingat tarian kuda jingkrang? Saya bantu lagi ingatannya, masih ingat Gangnam Style? Yaaa…. Betul. Tarian rap kuda-kuda dipopulerkan oleh artis korea selatan bernama Park Jae Sang alias Psy. Tarian ini amat sederhana, sehingga siapapun mampu memainkannya. Musik apapun bisa masuk untuk dimainkan. Dari anak kecil hingga orang dewasa. Caranya amat mudah dan saat menarikan terlihat ceria.
Inilah yang dikhawatirkan negeri sakura. Ternyata memang benar bahwa hukum perang “tak mengenal belas kasihan”. Yang ada cuma bagaimana memenangkan pertarungan. Tentara tidak harus dilawan dengan tentara. Teknologi tak harus dihadapkan dengan teknologi. Ekonomi bisa saja dikompetisikan dengan budaya, meskipun ujung-ujungnya tetap ekonomi. Kreatifitas dalam mengelola sumber alam dan sumber manusia dipercaya akan mampu menjadi pondasi yang kuat untuk ketahanan Negara.
Share

1 27 28 29 30 31 32