Pendidikan Agama Bagi Anak

Menata kembali buku yang berserakan bukan berarti cuma membersihkan dari debu yang menempel. Bukan hanya memindah dari almari satu ke lainnya. Menata buku bisa berarti mengulang kembali memori saat buku itu dibeli atau hadiah atau diberi orang lain. Terkadang ada sedikit ketawa geli mana kala menemui sebuah buku yang memiliki sejarah kecil dari mana muasal buku itu menjadi milik kita.
Seperti biasa, di hari libur atau minggu saat yang paling tepat, menurutku untuk membersihkan dan menata ulang buku yajg sudah terlanjur lama tak terjamah. Aku menemukan buku jadul, dicetak tahun 1991. Buku itu ternyata sudah naik cetak yang ketigabelas. Ilmu Jiwa Agama karya Prof.DR. Zakiah Daradjat.
Buku itu, kalau tidak salah menjadi acuan bagi mahasiswa di (dulu) IAIN, terkhusus lagi yang ambil jurusan yang berbau psikologi. Sebuah buku yang mengulas Psikologi Agama khususnya dan Pendidikan Agama pada umumnya. Tetbitan Bulan Bintang, Jakarta mengalami cetak ulang beberapa kali, tapi cover tidak berubah sedikitpun. Entah kalau sekarang bila diterbitkan lagi. Catatanku buku itu covernya masih tetap sama, sedang isinya masih setia menggunakan kertas buram. Sehingga bila berjalan beberapa tahun ke depan akan tampak warna kuning, atau tintanya yang terlihat memudar.
Aku tertarik untuk membaca kembali terutama pada bahasan mendidikan Agama bagi Anak.
Perkembangan agama pada masa anak, terjadi melalui pengalaman hidup sejak kecil. Baik di rumah, di sekolah maupun lingkungannya. Semakin banyak pengalaman yang bersifat agama, akan semakin banyak unsur agama, maka sikap dan tindakan anak akan sesuai dengan agamanya.
Pembentukan kepribadian anak dalam bidang agama dapat dilakukan meliputi bagaimana membentuk mental pribadi, perkembangan agama pada anak, dan pembiasaan pendidikan agama pada masa anak.
Pembinaan pribadi menjadi kewajiban orang tua dan guru bila anak sekolah formal. Idaman orang tuadan guru agar anak memiliki basis kepribadian dengan akhlak yang kuat, terpuji. Karena dengan akhlak yang baik, nilai apapun yang dimasukkan dalam diri anak bukan menjadi hambatan, bahkan menjadi motivasi.
Orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak. Sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung. Rekaman anak terhadap perilaku orang tua sangat akurat dalam meniru perilaku mereka. Demikian juga sikap anak terhadap guru. Sehingga pembinaan yang utama untuk anak adalah contoh real setiap hari. Tindak-tanduk orang tua dan guru akan menjadi panutan bagi anak.
Perkembangan agama pada anak akan sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan pertama antara umur 0 – 12 tahun. Seorang anak yang tidak mendapatkan pendidikan agama dan tidak mempunyai pengalaman keagamaan, maka ia nanti setelah dewasa akan cenderung kepada sikap negatif terhadap agama. Anak akan mengenal Tuhan melalii kedua orang tua dan lingkungan keluarga. Sebelum anak dapat berbicara, ia telah terbiasa mendengar ungkapan-ungkapan tentang Allah.
Membiasakan pendidikan pada anak hendaknya dilakukan sejak dini dan terus menerus. Karena latihan dan pembiasaan tersebut akan membentuk sikap tertentu pada anak. Yang tadinya remang-remang, akan menjadi jelas dan gamblang. Pembiasaan ini bukan hanya untuk melatih tapi pada akhirnya anak tidak tergoyahkan lagi, karena telah masuk menjadi bagian dari pribadinya. Semakin kecil umur si anak, hendaknya semakin banyak latihan dan pembiasaan agamadilakukan pada anak. Dan semakin bertambah umur si anak, hendaknya semakin bertambah pula penjelasan fan pengertian tentang agama itu dibetikan sesuai dengan perkembangam kecerdasan.

Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yang digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

Blue Print Perekonomian Indonesia

Pemilihan Presiden tahun 2014 diyakini sebagai pilpres yang paling brutal dari segi saling serang menyerang. Andai saja ada 3 calon atau lebih mungkin tidak separah yang baru saja kita laksanakan bersama. Karena siapa lawan siapa kawan tampak jelas pemisahnya. Huhungan pertemanan yang telah dirajut begitu lama, sekarang luruh dan berantakan hanya karena perbedaan pilihan. Meskipun sebenarnya pemilih tidak merasakan secara langsung efek dari pilpres. Dulu petani sekarang tetap petani. Dulu karyawan belum ada jaminan akan naik menjadi pimpinan. Sama saja.
Persoalan bagi yang mampu berfikir cerdas, apa benar dengan pergantian presiden lantas akan berubah seketika? Apa setelah pemilihan usai, lantas kesejahteraan dari segi finansial akan tercukupi? Api jauh dari panggang. Tingkat kehidupan ekonomi dalam keluarga tidak cukup signifikan dapat meningkat bila terjadi pergantian presiden.
Ada yang ironis di kalangan kita. Bila berbicara masalah ekonomi, maka telunjuk tangan kita akan mengarah ke menteri keuangan, menko ekuin, perdagangan, menko kesra. Kita lupa bahwa perekonomian yang sedang kita nikmati ini telah tercetak dari perencanaan tahun sebelumnya. Perekonomian yang dibangun telah dipersiapkan secara matang oleh tim ekonomi negara. Laju ekonomi tidak berdiri sendiri di tahun berjalan. Tingkat pertumbuhan dapat dibaca melalui grafik. Bahkan untuk 3 tahun kedepan kesejahteraan masyarakat dapat diteropong sedari sekarang.
Adalah MP3EI atau Masterplan for Acceleration and expansion of Indonesia’s Development. Mengkaji rencana induk ambisius dari pemerintah Indonesia untuk mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat. Mengapa ada kata ambisius? Karena dibanding dengan negara sesama asia tenggara, negara Indonesia masih belum duduk sejajar semisal dengan Malaysia. Sehingga wajar bila diibaratkan arena balapan, maka perlu mesin pendorong agar cepat sampai ke tempat tujuan. Masterplan ini dibuat semata-mata hanya supaya Indonesia dapat mencapai kesejahteraan lebih awal. Bukan karena parpol A. Karena itu tim ino terdiri dari orang profesional tanpa memandang latar belakang.
Indonesia sangat membutuhkan gambaran ekonomi yang akan menimbulkan kesejahteraan untuk masa depan. Dibutuhkan prediksi yang akurat agar kebutuhan untuk mencapai tujuan bisa terealisir, atau kalau meleset tidak terlalu banyak. Tim ini terdiri dari berbagai ragam tingkat disiplin, karena tim akan melakukan analisis berdasatkan potensi demografidan kekayaan sumber daya.
Kalau masyarakat hanya kenal menteri keuangan, menko ekuin maupun kesra, tak perlu disalahkan. Karena yang dipublikasikan memang hanya itu. Adapun tim MP3EI tidak dikenal. Jangankan programnya. Apalagi timnya. Padahal kinerja mereka sangat dibutuhkan dan diketahui oleh masyarakat. Rencana 2 tahun kedepan harusnya diketahui publik. Agat masyarakatpun mampu menyesuaikan diri. Presidenpun harus menyesuaikan diri dengan hasil kajian MP3EI. Presiden sebagai kepala pemerintahan akan lebih baik mengurui kehidupan bermasyarakat dan berpolitik. Pesta demokrasi boleh berjalan sesuai dengan waktunya. Kegiatan ekonomi biarlah berjalan sesuai dengan dengam rencana.

Profesor Goes To School

Hari ini saya cukup bersyukur dapat menghadiri forum ilmiah yang tersaji dalam Profesor Goes to School, bertempat di SMP Negeti 3 Yogyakarta. Kapasitasku sebagai peserta yang diundang oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Prop. DIY. Saya mengapresiasi usaha Dinas Pendidikan untuk menghadirkan nara sumber dati Universitas Gajah Mada yaitu, Prof. DR. Kirbani Sro Brotopuspito dosen Geofisika dan Prof. DR. Rer. Net. Widodo dari MIPA UGM.
Puncak kesyukuran saya taktala berjumpa dengan sesama guru matematika dan juga guru IPA. Satu pertemuan yang jarang terjadi, kecuali bila ada undangan untuk pemberkasan sertifikasi. Forum ilmiah ini sengaja menghadirkan ilmuan dengan tujuan agar perkembangan ilmu murni dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Usaha ini juga diperkuat oleh kelembagaan dewan pendidikan DIY. Diharapkan kajian ilmiah tidak hanya sampai disini. Tentu usaha-usaha yang dilakukan oleh peminat pendidikan masih terus ditunggu gebrakannya dalam rangka mendongkrak mutu pendidikan.
Kesempatan presentasi pertama Prof. Widodo. Seorang dosen yang sekaligus praktisi pendidikan yaitu PPPPTK Matematika. Materi yang beliau sajikan tentang pemodelan. Baginya model diartikan sebagai representasi yang memuat struktur esensial dari suatu obyek dalam dunia nyata. Dalam matematika, model diartikan representasi masalah dalam dunia nyata. Karena banyak sekali kita jumpai simbol-simbol matematika yang justri kita gunakan sehari-hari. Simbol ini merupakan buah kesepakatan secara bersama-sama seperti + , × – dan : . Dari simbol tersebut manusia dapat mencapai puncak kebudayaan. Oleh karenanya matematika sangat membantu dalam setiap masalah yang dijumpai manisia.
Contoh yang disajikan oleh Prof Widodo tentang kredit. Pembaca pasti telah melakukan transaksi kredit. Misalnya kredit sepeda motor. Saat sefanh tawar menawar, petugas akan gesit melayani hitung menghitung yang sebelumnya sudah disetting. Sehingga dia akan menghitung secra trampil dan jitu. Sodorkan uang muka, janjikan berapa kali dibayar, ia akan memainkan tut kalkulator. Tak sampai 20 detik, tersaji angka yang fantastik. Bukan besar kecilnya uang cicilan, tapi coba jumlah secara keseluruhan berapa uang yang harus disetor ke dealer atau bank. Dikesempatan lain mudah-mudahan bisa kami tulis macam-macam bunga yang diterapkan oleh bank dan bagaimana cara mengatasinya.
Maksud yang hendak disampaikan oleh profesor, bahwa banyak sekali aktifitas manusia yang bisa dibuat pemodelan. Dari pemodelan ini guru digiring untuk berfikir logis, bahwa ternyata ada cara-cara lain yang bisa ditempuh agar uang bisa dihemat. Tidak dicekik oleh bunga, dan tidak diajak berantem bank plecit.

Merasakan Kehadiran Organisasi Guru

Tanggal 25 November merupakan hari guru. Besok, kelahiran organisasi guru diperingati oleh segenap pimpinan dan anggotanya. Di Yogyakarta sendiri, dalam kalender pendidikan, tanggal 25 november diberi tanda, sebagai hari libur untuk semua jenjang sekolah. Untuk memperingati hari guru, ada baiknya saya mengenalkan organisasi guru menurut data yang saya ketahui.

Saat ini ada 4 buah organisasi guru, baik yang diakui oleh pemerintah maupun yang tidak diakui. Mereka diakui karena memiliki ijin pendirian. Keempat organisasi guru itu memiliki visi yang sama yaitu memperjuangkan nasib guru. Jadi, hingga kini, nasib guru diperhatikan oleh organisasi guru. Kalau Anda sebagai guru, merasa belum diperhatikan, berarti oraganisasi itu belum membumi, atau Anda sendiri yang memang belum bergabung. Mereka juga sepakat memperjuangkan peningkatan kualitas guru.

Organisasi adalah sebagai alat perjuangan untuk mencapai visi dan misi atau lebih tepatnya adalah mencapai cita-cita. Bila cita-citanya belum tercapai, maka berorganisasi itu masih perlu, bahkan harus lebih ditumbuh kembangkan lagi. Berorganisasi dilindungi oleh undang-undang.

Melalui beroraganisasi, guru akan terus mempertahankan eksistensinya. Bagi guru yang senang berorganisasi dan memiliki itikad baik untuk memperjuangkan visi dan misinya, tidak salah untuk memasuki salah satu organisasi guru dibawah ini :

  1. PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)

PGRI adalah organisasi tertua yang mewadahi profesi guru di Indonesia. Berdiri pada tanggal 25 November 1945. Organisasi ini telah merasakan saat berdirinya republik ini, turut serta dalam perjuangan mempertahankan Negara dari rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI), merasakan masa orde lama, sampai ikut membesarkan pemerintah orde baru. Sekarang, disebut-sebut juga sebagai pundi-pundi suara untuk memepertahankan pemerintahan hasil reformasi.

PGRI ini mengusung visi : ” Terwujudnya organisasi mandiri dan dinamis yang dicintai anggotanya, disegani mitra, dan diakui perannya oleh masyarakat”. Hanya saja sampai saat ini, PGRI masih belum bisa melepas dari genggaman pemerintah. Keduanya bersimbiose mutualisme. Saling menguntungkan. Namun  demikian, kegiatan yang disemarakkan oleh PGRI telah banyak dinikmati oleh kalangan guru.

  1. IGI (Ikatan Guru Indonesia )

Ikatan Guru Indonesia (IGI)  juga organisasi resmi. IGI adalah organisasi profesi guru yang diakui oleh pemerintah. Mempunyai  kelengkapan organisasi seperti : AD/ART, program kerja, pengurus dll. IGI memiliki visi “memperjuangkan mutu, profesionalisme, dan kesejahteraan guru Indonesia, serta turut secara aktif mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses lahirnya IGI bukan untuk menandingi keberadaan PGRI.

Dibandingkan dengan PGRI, umur IGI masih sangat muda. Namun kehadirannya sudah tampak dirasakan oleh sebagian guru. Lewat beberapa seminar, loka karya, pelatihan, kursus dll. Banyaknya anggota masih kalah jauh dengan PGRI yang sudah malang melintang melintas zaman.

  1. FGII (Federasi Guru Independen Indonesia)

FGII adalah organisasi profesi guru dan/atau serikat pekerja profesi guru yang bersifat terbuka, independen, dan non Partai Politik. Data yang saya peroleh, oraganisasi ini dipimpin oleh Suparman. Tujuannya adalah terwujudnya guru profesional yang mampu mendorong sistem pendidikan demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

FGII ini sebenarnya gabungan dari beberapa organisasi guru. Pada tanggal 17 Januari 2002 FGII ini lahir, tepatnya di Tugu Proklamasi Jakarta.

  1. FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia)

FSGI lahir sebagai akibat dari persoalan pendidikan di Indonesia yang jalan di tempat. Ade Irawan dari Koalisi Pendidik Indonesia Corrption Watch (ICW) sebagai penggagas lahirnya organisasi ini. Lahir pada tanggal 23 Januari 2011 dan dipimpin oleh Retno Listyarti. Memang masih sangat muda. Kebijakan yang sangat keras menohok pemerintah adalah tentang ujian nasional dan BOS.

Membaca, Menulis dan Berhitung

Ketika Uni Sovyet (Rusia) berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik, Amerika Serikat meradang. Kecemasan yang menghantui Amerika. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena setelah diteliti ditemukan bahwa proses transformasi ilmu di sekolah-sekolah mengalami kegagalan. Oleh karena itu mereka mulai kembali mereksonstruksi pendidkan dengan program bernama go back to basic. (prof. Suyanto dan Drs. Djihad Hisyam, M.Pd. dalam bukunya Refkeksi Dan Reformasi Pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III).

Program dan doktrin pendidikan itu berisi muatan yang sederhana, yaitu reading, writing and arithmetik. Mengapa yang dikedepankan justru reading dan writing, bukan arithmetika sebagai ilmu dasar dalam pengembangan teknologi? Mereka menganggap bahwa kunci untuk menguasai iptek adalah kemampuan berkomunikasi. Dengan penguasaan komunikasi diharapkan kebijakan nasional langsung dapat diketahui oleh masyarakat.

Komunikasi ternyata memegang peranan yang sangat fundamental dalam membangun kerangka kebudayaan bangsa dan mewujudkan perkembangan teknologi. Dengan menguasai kemampuan berkomunikasi, maka dapat mengungkap rahasia-rahasia alam di sekitarnya. Tanpa kemampuan berkomunikasi dengan baik, jangankan mengungkap rahasia alam, memahamipun tidak pernah bisa. Sehingga setiap siswa harus memiliki kompetensi dalam berkomunikasi. Kemampuan menawarkan ide lewat komunikasi, dalam kurikulum 13 (kurtilas) menjadi salah satu tonggak keberhasilan proses belajar mengajar.

Seberapa besar kemampuan komunikasi dikalangan kita? Atau bisa juga diajukan pertanyaan benarkah kita sudah berkomunikasi dengan baik dan teratur?

Bahasa lisan misalnya. Banyak kita jumpai dalam bercakap-cakap kurang benar, sehingga harus mengulang dua atau tiga kali kalimat yang telah kita ucapkan. Hal ini menimbulkan banyak energy dan waktu terbuang. Terkadang, dalam berkomunikasi  kita juga harus memakai alat bantu dengan bahasa isyarat untuk meyakinkan ucapan. Itu baru bahasa percakapan.

Marilah kita tengok bahasa yang disampaikan dalam forum resmi. Didalam lingkungan terbatas, atau komunitas formal, hanya orang-orang yang sudah banyak membaca saja yang dapat menguasai komunikasi. Karena dengan membaca (apalagi menulis), ia memiliki banyak perbendaharaan kata dan referensi yang bisa diungkapkan.

Bagaimana kalau kemampuan menulis? Pembaca lebih mengetahui.

Dari keadaan yang demikian, usaha apa yang perlu kita gapai agar mendapatkan generasi yang mampu membaca, menulis dan trampil berhitung? Ada dua wacana yang mesti ditempuh.

Pertama : Negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mewajibkan semua warga negara untuk membaca. Untuk aset masa depan, sekolah mesti digarap dengan sungguh-sungguh. Perpustakaan difungsikan sebagaimana mestinya. Perpustakaan bukan gudang buku, perpustakaan juga bukan sebagai alat untuk memperoleh akreditasi yang baik.

Kepala Sekolah mewajibkan kepada guru untuk membaca dan merangkum. Hasil rangkuman dipresentasikan didepan guru lain dalam sebuah pertemuan rutin. Bila guru telah melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, siswa secara otomatis akan mengikuti, tanpa harus diperintah.

Kedua : Orang tua, wajib menyisihkan sekian persen uang belanja untuk pembelian buku  bacaan keluarga. Mengapa wisata bersama keluarga atau long weekend dapat terlaksana tanpa hambatan yang berarti, namun membeli buku tidak mampu? Mengapa sangup mengganti handphone yang jauh lebih bagus, sedangkan mengoleksi buku tidak mampu?

Membaca buku harus dilandasi dengan kemauan yang kuat. Koleksi buku adalah sebuah aset untuk masa depan. Menciptakan keluarga yang memiliki wawasan luas harus menjadi idaman. Dengan memiliki keluarga yang mempunyai nafsu untuk selalu membaca dan sekaligus bisa menulis, maka membangun budaya gemar membaca dan menulis semakin nampak di depan mata.

Indonesia Digital Learning 2016 (2)

Mengikuti pelatihan pembelajaran berbasis digital yang diselenggarakan oleh Telokmsel sungguh menyenangkan. Selain materi yang tentu up date, ada beberapa teman yang datang dari luar kita. terjauh yang sempat saya pantau, dari barat : Purwokerto dan Purbalingga. Dari timur : Ponorogo dan Nganjuk. Sungguh pengabdian dan dedikasi mereka patut diteladani.

Tidak menyangka kalau pelatihan kali ini diikuti hampir 400 an guru dari setiap lapisan pendidikan. Fasilitas lain yang harus diapresiasi adalah lokasi penyelenggaraan. Hotel Grand Tjokro Yogyakarta memberi pelayanan yang cukup prima. Meskipun koneksi internetnya agak lamban. Maklum karena hampir semua peserta menggunakan akses internet.

Saya tertarik dengan materi yang disampaikan oleh Prof. R. Eko Indrajit. Penguasaan terhadap Internet dalam kaitannya dengan pendidikan, disampaikan dengan sangat baik. Selain wawasannya luas, tapi orangnya lucu menjurus kocak. Sehingga dari pagi hingga sore peserta tidak terkena sindrome ngantuk.

Ada sebuah bagian materi yang bisa saya share kepada pembaca perihal profil pembelajaran generasi masa kini. Cukup gamblang sebenarnya bila kita baca budaya siswa sekarang. Teknologi yang maju demikian pesat namun tidak diimbangin dengan metode pembelajaran yang tepat. Akibatnya bisa ditebak bagaimana suasana dan kondisi dalam ruang kelas. Satu sisi akses internet memberi kemudahan dalam mencari materi belajar. Disisi lain cara penyampian materi pelajaran demikian tertinggal. Adanya gap yang demikian longgar ini akan menimbulkan dampak cukup memprihatinkan dalam dunia pendidikan.

Indikator pembelajaran masa kini dapat ditemukan perilaku sebagai berikut :

  1. Mereka senang dalam posisi mengendalikan
  2. Mereka senang banyak diberikan pilihan
  3. Mereka senang beraktivitas dalam kelompok
  4. Mereka senang berada dalam lingkungan inklusif
  5. Mereka sangat mahir menggunakan teknologi
  6. Mereka memiliki pola pikir yang berbeda
  7. Mereka cenderung senang mengambil resiko
  8. Mereka mudah bosan dalam kondisi yang monoton
  9. Mereka senang berpetualang dalam berbagai hal
  10. Mereka sangat kreatif dan Inivatif
  11. Mereka senang bekerja di lingkungan yang menyenangkan

Itulah ciri-ciri generasi saat ini yang cakap teknologi (catek) bukan gagap teknologi (gaptek). Andaikan sekolah mengambil 2 (dua) saja dari sekian indikator dan mengelola dengan cara-cara kekinian, bukan tidak mungkin generasi yang akan datang memunculkan orang yang mampu meraih prestasi yang gemilang lewat digital learning.

1 29 30 31 32 33 36