Merasakan Kehadiran Organisasi Guru

Tanggal 25 November merupakan hari guru. Besok, kelahiran organisasi guru diperingati oleh segenap pimpinan dan anggotanya. Di Yogyakarta sendiri, dalam kalender pendidikan, tanggal 25 november diberi tanda, sebagai hari libur untuk semua jenjang sekolah. Untuk memperingati hari guru, ada baiknya saya mengenalkan organisasi guru menurut data yang saya ketahui.

Saat ini ada 4 buah organisasi guru, baik yang diakui oleh pemerintah maupun yang tidak diakui. Mereka diakui karena memiliki ijin pendirian. Keempat organisasi guru itu memiliki visi yang sama yaitu memperjuangkan nasib guru. Jadi, hingga kini, nasib guru diperhatikan oleh organisasi guru. Kalau Anda sebagai guru, merasa belum diperhatikan, berarti oraganisasi itu belum membumi, atau Anda sendiri yang memang belum bergabung. Mereka juga sepakat memperjuangkan peningkatan kualitas guru.

Organisasi adalah sebagai alat perjuangan untuk mencapai visi dan misi atau lebih tepatnya adalah mencapai cita-cita. Bila cita-citanya belum tercapai, maka berorganisasi itu masih perlu, bahkan harus lebih ditumbuh kembangkan lagi. Berorganisasi dilindungi oleh undang-undang.

Melalui beroraganisasi, guru akan terus mempertahankan eksistensinya. Bagi guru yang senang berorganisasi dan memiliki itikad baik untuk memperjuangkan visi dan misinya, tidak salah untuk memasuki salah satu organisasi guru dibawah ini :

  1. PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)

PGRI adalah organisasi tertua yang mewadahi profesi guru di Indonesia. Berdiri pada tanggal 25 November 1945. Organisasi ini telah merasakan saat berdirinya republik ini, turut serta dalam perjuangan mempertahankan Negara dari rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI), merasakan masa orde lama, sampai ikut membesarkan pemerintah orde baru. Sekarang, disebut-sebut juga sebagai pundi-pundi suara untuk memepertahankan pemerintahan hasil reformasi.

PGRI ini mengusung visi : ” Terwujudnya organisasi mandiri dan dinamis yang dicintai anggotanya, disegani mitra, dan diakui perannya oleh masyarakat”. Hanya saja sampai saat ini, PGRI masih belum bisa melepas dari genggaman pemerintah. Keduanya bersimbiose mutualisme. Saling menguntungkan. Namun  demikian, kegiatan yang disemarakkan oleh PGRI telah banyak dinikmati oleh kalangan guru.

  1. IGI (Ikatan Guru Indonesia )

Ikatan Guru Indonesia (IGI)  juga organisasi resmi. IGI adalah organisasi profesi guru yang diakui oleh pemerintah. Mempunyai  kelengkapan organisasi seperti : AD/ART, program kerja, pengurus dll. IGI memiliki visi “memperjuangkan mutu, profesionalisme, dan kesejahteraan guru Indonesia, serta turut secara aktif mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses lahirnya IGI bukan untuk menandingi keberadaan PGRI.

Dibandingkan dengan PGRI, umur IGI masih sangat muda. Namun kehadirannya sudah tampak dirasakan oleh sebagian guru. Lewat beberapa seminar, loka karya, pelatihan, kursus dll. Banyaknya anggota masih kalah jauh dengan PGRI yang sudah malang melintang melintas zaman.

  1. FGII (Federasi Guru Independen Indonesia)

FGII adalah organisasi profesi guru dan/atau serikat pekerja profesi guru yang bersifat terbuka, independen, dan non Partai Politik. Data yang saya peroleh, oraganisasi ini dipimpin oleh Suparman. Tujuannya adalah terwujudnya guru profesional yang mampu mendorong sistem pendidikan demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

FGII ini sebenarnya gabungan dari beberapa organisasi guru. Pada tanggal 17 Januari 2002 FGII ini lahir, tepatnya di Tugu Proklamasi Jakarta.

  1. FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia)

FSGI lahir sebagai akibat dari persoalan pendidikan di Indonesia yang jalan di tempat. Ade Irawan dari Koalisi Pendidik Indonesia Corrption Watch (ICW) sebagai penggagas lahirnya organisasi ini. Lahir pada tanggal 23 Januari 2011 dan dipimpin oleh Retno Listyarti. Memang masih sangat muda. Kebijakan yang sangat keras menohok pemerintah adalah tentang ujian nasional dan BOS.

Membaca, Menulis dan Berhitung

Ketika Uni Sovyet (Rusia) berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik, Amerika Serikat meradang. Kecemasan yang menghantui Amerika. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena setelah diteliti ditemukan bahwa proses transformasi ilmu di sekolah-sekolah mengalami kegagalan. Oleh karena itu mereka mulai kembali mereksonstruksi pendidkan dengan program bernama go back to basic. (prof. Suyanto dan Drs. Djihad Hisyam, M.Pd. dalam bukunya Refkeksi Dan Reformasi Pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III).

Program dan doktrin pendidikan itu berisi muatan yang sederhana, yaitu reading, writing and arithmetik. Mengapa yang dikedepankan justru reading dan writing, bukan arithmetika sebagai ilmu dasar dalam pengembangan teknologi? Mereka menganggap bahwa kunci untuk menguasai iptek adalah kemampuan berkomunikasi. Dengan penguasaan komunikasi diharapkan kebijakan nasional langsung dapat diketahui oleh masyarakat.

Komunikasi ternyata memegang peranan yang sangat fundamental dalam membangun kerangka kebudayaan bangsa dan mewujudkan perkembangan teknologi. Dengan menguasai kemampuan berkomunikasi, maka dapat mengungkap rahasia-rahasia alam di sekitarnya. Tanpa kemampuan berkomunikasi dengan baik, jangankan mengungkap rahasia alam, memahamipun tidak pernah bisa. Sehingga setiap siswa harus memiliki kompetensi dalam berkomunikasi. Kemampuan menawarkan ide lewat komunikasi, dalam kurikulum 13 (kurtilas) menjadi salah satu tonggak keberhasilan proses belajar mengajar.

Seberapa besar kemampuan komunikasi dikalangan kita? Atau bisa juga diajukan pertanyaan benarkah kita sudah berkomunikasi dengan baik dan teratur?

Bahasa lisan misalnya. Banyak kita jumpai dalam bercakap-cakap kurang benar, sehingga harus mengulang dua atau tiga kali kalimat yang telah kita ucapkan. Hal ini menimbulkan banyak energy dan waktu terbuang. Terkadang, dalam berkomunikasi  kita juga harus memakai alat bantu dengan bahasa isyarat untuk meyakinkan ucapan. Itu baru bahasa percakapan.

Marilah kita tengok bahasa yang disampaikan dalam forum resmi. Didalam lingkungan terbatas, atau komunitas formal, hanya orang-orang yang sudah banyak membaca saja yang dapat menguasai komunikasi. Karena dengan membaca (apalagi menulis), ia memiliki banyak perbendaharaan kata dan referensi yang bisa diungkapkan.

Bagaimana kalau kemampuan menulis? Pembaca lebih mengetahui.

Dari keadaan yang demikian, usaha apa yang perlu kita gapai agar mendapatkan generasi yang mampu membaca, menulis dan trampil berhitung? Ada dua wacana yang mesti ditempuh.

Pertama : Negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mewajibkan semua warga negara untuk membaca. Untuk aset masa depan, sekolah mesti digarap dengan sungguh-sungguh. Perpustakaan difungsikan sebagaimana mestinya. Perpustakaan bukan gudang buku, perpustakaan juga bukan sebagai alat untuk memperoleh akreditasi yang baik.

Kepala Sekolah mewajibkan kepada guru untuk membaca dan merangkum. Hasil rangkuman dipresentasikan didepan guru lain dalam sebuah pertemuan rutin. Bila guru telah melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, siswa secara otomatis akan mengikuti, tanpa harus diperintah.

Kedua : Orang tua, wajib menyisihkan sekian persen uang belanja untuk pembelian buku  bacaan keluarga. Mengapa wisata bersama keluarga atau long weekend dapat terlaksana tanpa hambatan yang berarti, namun membeli buku tidak mampu? Mengapa sangup mengganti handphone yang jauh lebih bagus, sedangkan mengoleksi buku tidak mampu?

Membaca buku harus dilandasi dengan kemauan yang kuat. Koleksi buku adalah sebuah aset untuk masa depan. Menciptakan keluarga yang memiliki wawasan luas harus menjadi idaman. Dengan memiliki keluarga yang mempunyai nafsu untuk selalu membaca dan sekaligus bisa menulis, maka membangun budaya gemar membaca dan menulis semakin nampak di depan mata.

Indonesia Digital Learning 2016 (2)

Mengikuti pelatihan pembelajaran berbasis digital yang diselenggarakan oleh Telokmsel sungguh menyenangkan. Selain materi yang tentu up date, ada beberapa teman yang datang dari luar kita. terjauh yang sempat saya pantau, dari barat : Purwokerto dan Purbalingga. Dari timur : Ponorogo dan Nganjuk. Sungguh pengabdian dan dedikasi mereka patut diteladani.

Tidak menyangka kalau pelatihan kali ini diikuti hampir 400 an guru dari setiap lapisan pendidikan. Fasilitas lain yang harus diapresiasi adalah lokasi penyelenggaraan. Hotel Grand Tjokro Yogyakarta memberi pelayanan yang cukup prima. Meskipun koneksi internetnya agak lamban. Maklum karena hampir semua peserta menggunakan akses internet.

Saya tertarik dengan materi yang disampaikan oleh Prof. R. Eko Indrajit. Penguasaan terhadap Internet dalam kaitannya dengan pendidikan, disampaikan dengan sangat baik. Selain wawasannya luas, tapi orangnya lucu menjurus kocak. Sehingga dari pagi hingga sore peserta tidak terkena sindrome ngantuk.

Ada sebuah bagian materi yang bisa saya share kepada pembaca perihal profil pembelajaran generasi masa kini. Cukup gamblang sebenarnya bila kita baca budaya siswa sekarang. Teknologi yang maju demikian pesat namun tidak diimbangin dengan metode pembelajaran yang tepat. Akibatnya bisa ditebak bagaimana suasana dan kondisi dalam ruang kelas. Satu sisi akses internet memberi kemudahan dalam mencari materi belajar. Disisi lain cara penyampian materi pelajaran demikian tertinggal. Adanya gap yang demikian longgar ini akan menimbulkan dampak cukup memprihatinkan dalam dunia pendidikan.

Indikator pembelajaran masa kini dapat ditemukan perilaku sebagai berikut :

  1. Mereka senang dalam posisi mengendalikan
  2. Mereka senang banyak diberikan pilihan
  3. Mereka senang beraktivitas dalam kelompok
  4. Mereka senang berada dalam lingkungan inklusif
  5. Mereka sangat mahir menggunakan teknologi
  6. Mereka memiliki pola pikir yang berbeda
  7. Mereka cenderung senang mengambil resiko
  8. Mereka mudah bosan dalam kondisi yang monoton
  9. Mereka senang berpetualang dalam berbagai hal
  10. Mereka sangat kreatif dan Inivatif
  11. Mereka senang bekerja di lingkungan yang menyenangkan

Itulah ciri-ciri generasi saat ini yang cakap teknologi (catek) bukan gagap teknologi (gaptek). Andaikan sekolah mengambil 2 (dua) saja dari sekian indikator dan mengelola dengan cara-cara kekinian, bukan tidak mungkin generasi yang akan datang memunculkan orang yang mampu meraih prestasi yang gemilang lewat digital learning.

Indonesia Digital Learning 2016

aku-telkom

Hari ini dan besok, 18 – 19 April 2016 saya diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan pembelajaran berbasis internet. Pelatihan ini diharapkan agar guru memberi informasi kepada siswa terutama, dan khalayak ramai untuk tetus belajar lewat internet.
Gadget yang kita pegang setiap saat sangat sayang kalau hanya untuk media sosial. Medsos, yang akhir- akhir ini sangat menyita perhatian bukan dibuang, namun diberdayakan. Harus punya itikad bahwa ada waktu tertentu untuk belajar.
Telkomsel sangat menaruh perhatian pada generasi mendatang. Generasi untuk meneruskan estafeta kepemimpinan, agar republik ini terus tegak berdiri. Dengan program yang terarah, telkomsel berusaha merangkul semua lapisan.
Berbahagialah guru Indonesia. disaat Kemdikbud belum mampu menyelenggarakan pelatihan sejenis, Telkomsel dengan sigap menutupi celah kekurangan guru dalam hal digital learning. Memang ada gab yang dalam antara guru yang telah melek dengan teknologi informasi dan guru yang gagap teknologi. Kedua kubu ini sering menjadi ganjalan pemerintah dalam setiap pengambilan keputusan. Namun pelan tapi pasti, dua kutub ini akan teratasi.
Lewat berbagai macam model teknologi imformasi, saya melihat geliat sesama guru dalam mengatasi persoalan pembelajaran yang berbasis on line. Dua hari ini harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, meskipun sebenarnya saya sendiri sudah mempersiapkan diri untuk membimbing anak lewat program petkemahan. Apalagi antusias para peserta untuk mengikuti pelatihan ini tak datang dari kota jogja saja. Teman disamping saja datang jauh dari Ponorogo hanya ingin agar tidak ketinggalan dalam media pembelajaran berbasis on line.

Optimalisasi Kecerdasan Spiritual

Aristoteles sebagai seorang filosof dan psikolog boleh berbangga telah menemukan metode untuk mengukur kecerdasan manusia, yaitu dengan mengukur Intellegence Quotient (IQ). Dalam perjalanan IQ ini dikritik, karena menafikan sisi kemanusiaan. Hanya otak yang penuh kalkulasi yang bisa diandalkan.

Beruntung Daniel Goleman menemukan sisi lain tentang keberadaan manusia yaitu Emotional Quotient (EQ). EQ merupakan prasarat dasar untuk penggunaan IQ. Pada akhir abad keduapuluh, ada interseksi antara psikologi, neurologi, ilmu antropologi dan kognitif untuk menunjukkan sisi yang ketiga yaitu Spiritua Quotient (SQ). Ulasan di bawah ini hanya akan membahas bagaimana mengoptimalkan SQ.

Berdo’a. Berdo’a bukan berarti lemah. Do’a justru akan mendorong meningkatkan motivasi dalam memacu usaha seseorang. Berdo’a juga sebagai salah satu yang membuat kita sadar akan keberadaan sang Khalik.  Dialah yang mencipta, dan Dialah kita akan kembali.

Ritual. Ritual adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena hanya Dialah satu-satunya tumpuan hidup. Pelaksanaan ritual tentu berbeda cara antara satu dengan lainnya. Tapi inti dari ritual adalah dalam rangka mohon pertolongan agar mengenyam kehidupan ini semakin termotivasi.

Merrenung. Merenung Dalam melakukan do’a tentu ada caranya. Ada medianya. Pola yang sama dengan berdo’a atau melakukan ritual tidaklah cukup. Orang membutuhkan kondisi yang rileks tanpa beban apapun agar tercapai apa yang menjadi idamannya. Oleh karenanya situasi tenang, rileks yaitu dengan merenung.

Membaca. Membaca Untuk menambah wawasan perlu membaca buku. Untuk berkhidmat agar mampu membedakan benar dan salah dengan membaca buku. Untuk menjadi trampil untuk kemaslahatan di dunia ini perlu membaca buku. Jadikan buku sebagai sahabat yang paling setia dalam suka maupun duka.

Menulis. Menulis Tahapan berikutnya dengan menulis. Sebab dengan menulis berarti separo kehidupan telah tercapai. Pena menjadi sahabat yang setia dalam keadaan apapun. Goresan pena akan membuat beberapa titik untuk melukis peradaban dunia. Bersendawa Mengobrol dengan orang lain mungkin tak akan pernah mengenal titik. Yang ditemui Cuma koma. Sebab masih ada kalimat yang harus ditulis berikuitnya.

Ngobrol. Mengajak teman dalam ngobrol berarti separo keperjaan telah usai, dengan catatan kita juga harus pandai memilih teman ngobrol Membantu orang lain Hidup tidak sendirian. Perlu sandaran orang lain agar tegak dalam menghadapi berbagai rintangan. Tolong menolong adalah kata kunci demi tegaknya masyarakat yang berbudaya. Budaya dapat menuntun kehidupan menjadi lebih baik.

Muasal Negara

Mulanya kosong melompong. Tak berpenghuni. Mungkin cuma hewan atau tumbuhan atau makhluk lain yang berkenan hidup di dunia ini. Di jagat bumi ini. Sampai suatu ketika, Nabi Adam dan Hawa yang harus turun ke bumi, melaksanakan perintah Tuhan. Berdua saja. Ditemani tumbuhan dan hewan yang berkeliaran di seputarnya. Sendiri, galau dan sengsara itu pasti.

Setelah sekian lama mengenyam di surga yang serba tersedia dan mewah. Adam dan Hawan menerima hukuman sebagai manusia yang telah beliau langgar saat di surga.Mulailah berpetualang dari tempat satu ke tempat lainnya. Tanpa mengenal lelah sambil tetus mohon ampun kepada Tuhan. Namun Tuhan punya rencana lain yanb tidak diketahui Adam.

Adam dan Hawa mulai mempunyai anak Habil dan Qobil. Iqlima dan Lubuda. Mereka berempat sudah ditentukan jodohnya. Sampai akhirnya Adam dan Hawa memiliki 40 anak. Mereka bergerombol membentuk komunitas. Sampai beranak pinak.

Sebagaimana hukum alam, saat tempat tinggal sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sandang, pakan dan papan mulai menipis, orang pasti mencari lahan baru yang lebih menjanjikan. Mereka membentuk koloni lagi, sehingga manusia membentuk kelompok yang disebut sebagai masyarakat. Karena kelompok satu dengan kelompok lain saling berjauhan, dan terus berkembang maka komunitas menjadi semakin banyak. Masyarakat inilah kemudian menamakan dirinya sebagai masyarakat yang memiliki kedaulatan.

Hukum alam lain mengatakan bahwa manakala masyarakat semakin tumbuh, maka akan tetjadi persaingan dalam menentukan pemimpin. Sebab masyarakat tanpa pemimpin, kehidupannya akan menjadi kacau. Tidak beraturan. Disinilah timbul pemimpin yang baru.Waktu terus berputar. Masyarakat yang memiliki pemimpin, saat itu sering disebut kerajaan. Karena otoritas raja sangat besar, sehingga konsep tumbuhnya masyarakat sangat dengaruhi oleh seorang raja atau ratu.

Dalam perkembangan berikutnya, raja tidak akan mampu kalai melakukan roda pemerintahannya. Maka diangkatlah beberapa pembantu raja yang pekerjaannya sudah spesifik. Bagian pertahanan, bagian pangan, kesejahteraan dan lain-lain.Cikal bakal raja yang dibantu oleh asistennya merupakan embrio dari munculnya sebuah negara. Salah satu sebab timbulnya negara ini karena, raja sudah tidak mampu melakukan fungsinya sebagai kepala pemerintahan.

Sebab lain karena perkembangan demokrasi yang berasaskan pada hak dan kewajiban setiap orang dihadapan masyarakat sama. Tidak ada yang lebih tinggi. Setiap warga memiliki peluang untuk menjadi seorangemimpin.Karena pertumbuhan antar negara berbeda, baik ekonomi, sosial ataupun budayanya, maka terjadilah perbedaan antar negara. Ada yang mengkatagorikan kaya-miskin, timur-barat, utara – selatan, maju – berkembang. Ada pembatas yang pasti mengapa dua buah negara atau lebih bisa dikatagorikan berbeda. Inilah perkembangam kehidupan manusia sejak lahir hingga berakhir di peraduan negara.

Manfaatkan Teknologi Informasi untuk Korespondensi

Sebuah kalimat tiba-tiba muncul dari lapak facebook seorang sahabat. Kalimatnya sederhana, namun konskwensinya amat berat. Saya disuruh membantu bagian tabligh. Hanya sepenggal itu kalimatnya. Rangkian kata yang biasanya dia tulis memang lebih banyak bersifat ajakan untuk kebaikan.

Saya tahu persis kalau masuk dalam jajaran tabligh, berarti dia sudah mewakafkan ilmu, kesempatan dan kekuatan untuk berdakwah. Karena tabligh masih dianggap sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Tidak setiap hari tulisan dia muncul. Setiap tayang tidak mesti saya kasih komentar. Entah kenapa hari itu saya langsung memberi masukan untuk dia yang sekarang waktunya lebih banyak untuk berkhidmat. Sebagai orang yang sedikit tahu tentang TI, sayapun memberi saran agar memanfaatkan TI dengan sebaik-baiknya.

Secara pribadi dia selalu menggunakan media sosial untuk mengembangkan buah pikirannya untuk bertabligh. Itu sangat besar manfaatnya bagi teman-teman. Tidak sedikit, nukilan ayat ataupun hadits ia goreskan di media sosial. Tidak sedikit pula saya bisa merasakan, betapa besar faedahnya. Namun sebagai sebuah kelembagaan sekelas bagian tabligh ‘Aisyiyah buka persoalan yang mudah. Pertama, organisasi pasti melibatkan orang lain. Tidak mudah menelorkan sebuah ide seketika bisa diterima oleh orang lain. Kedua, organisasi memiliki etika dan tata tertib. Birokrasi inilah yang mengatur tata kehidupan berorganisasi. Siapa yang mampu menaklukkan birokrasi, dialah yang cepat sampai tujuan. Ketiga, ‘Aisyiah adalah perkumpulan ibu-ibu.

Hampir semua aktifis di ‘Aisyiyah adalah ibu rumah tangga. Berorganisasi masih menjadi pilihan yang kedua ataupun bisa yang ketiga. Wajib bersyukur bahwa kemajuan Teknologi Informasi dapat sedikit membantu meringankan gerak langkah bagian tabligh ‘Aisyiyah. Komunikasi lebih cepat dan efisien. Teknologi ini sudah menjadi milik bersama. Siapapun bisa mengecap kecanggihan komunikasi, tak terkecuali ibu-ibu. Bahkan komunikasi telah sampai tahap genggam. Artinya, informasi apapun bisa diketahui lewat genggaman tangan.

Berkaca dari perkembangan informasi dan komunikasi, alangkah eloknya bila bagian tabligh ‘Aisyiyah dapat menggunakannya. Teknologi ini harus menjadi bagian yang tak terpisahkan semangat menyiarkan, semangat mendawahkan. Surat-surat yang bersifat maklumat, edaran, himbauan bisa diunggah lewat media elektronik seperti e-mail, facebook, atau media sosial lainnya. Karena  ini ditujukan kepada semua anggota ‘Aisyiyah. Semua bisa mengakses. Namun secara organisatoris tetaplah diujudkan dalam dokumen cetak. Karena sebagai bukti otentik.

Aktifitas yang bersifat tuntunan, tata cara, ajaran, lebih baik dikemas dalam bentuk video. Selanjutnya dapat di up load lewat media seperti you tube atau media penyimpan lain. Cara seperti ini sangat efektif untuk sampai ke tangan anggota. Metode ini juga sekaligus memangkas birokrasi, yang biasanya hanya sampai di tingkat daeraj atau cabang. Dengan tayangan yang berbasis video ini dapat meminimalisir multi tafsir. Karena karakteristiknya sangat khas dan jelas.

Dengan memggunakan media internet, model dakwah menjadi lebih ringan dari segi finasial dan transfer data. Meskipun bila ditinjau dari materi dan beban moral mungkin akan lebih berat. Namun paling tidak korespondensinya bisa berjalan cepat dan langsung.

1 30 31 32 33 34 36