Khotbah Jum’at (1)

Hadirin sidang jum’at yang dimuliakan Allah

Pertama-tama marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga pada siang hari ini, kita masih diberi kesempatan untuk mengagungkan asma Allah, mengingat Allah, memenuhi panggilan Allah, dalam majelis yang sangat mulia yaitu melaksanakan ibadah sholat jum’at. Seminggu sekali kita asah kembali kadar keimanan kita, seminggu sekali kita isi ruhani  dengan mendengarkan bimbingan rasul dan jalan yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

Saya berdiri disini selaku khotib, untuk mengingatkan kepada diri kami pribadi dan jama’ah yang berbahagia, untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, yaitu dengan selalu menjalankan perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-larangan Allah.  Sholawat serta salam semoga selalu terlimpahkan kepada kekasih Allah junjungan kita nabi besar Muhammad saw. Kepada sahabat-sahabatnya, keluarga dan juga kaumnya sampai akhir zaman nanti.

» Read more

Hijrah

Bila tak ada aral melintang, tahun ini, kamis 21 September 2017 bertepatan dengan 1 Muharram 1439 hijriyah. Sudah 15 abad lamanya, Islam telah diridloi oleh Allah swt menjadi Agama umat Islam. Selama itu pula, Islam sebagai sebuah peradaban mengalami pasang surut dalam menapaki perjalanan waktu. Suka duka silih berganti hanya untuk mengagungkan asma Allah.
Perhitungan tahun hijriah dimulai sejak hijrah Nabi Muhammad saw dari Mekkah ke Madinah. Kaum Muhajirin berbondong-bondong menuju ke Madinah yang disambut dengan suka cita oleh kaum Anshor. Perjalanan yang tidak mudah. Peristiwa tercerabutnya tanah leluhur yang dibanggakan dan dicintai, tiba-tiba harus rela dilepas. Taruhan nyawa yang demikian dekat dan bisa terjadi di setiap saat. Hanya sebuah keinginan yang mereka harapkan, hidupnya Islam yang bersanding nyaman dengan semua penganut apapun di lingkungannya.
Dalam sirah nabawiyah, tercatat ada 4 peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw yang berpengaruh terhadap perkembangan Islam.

» Read more

Hj. Maria Ulfah, MA

Di pondok pesantren Urwatul Wutqa Klaten, telah berlangsung pembinaan tilawatil qur’an. Kali ini peserta sangat beruntung mengikuti acara yang dihelat Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) kabupaten Klaten, karena dibimbing langsung oleh Hj. Maria Ulfah, seorang qari’ level Internasional. Meskipun tidak bisa melihat wajah beliau secara langsung, namun peserta rela mengikuti dari luar area. Ruangan yang berukuran 100 m persegi praktis tidak bisa menampung semua peserta.

Juara qari’ nasional boleh silih berganti. Baik Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), maupun Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) yang mempertandingkan beberapa cabang. Cabang Qira’ah yang paling popular dan dianggap oleh peserta merupakan kelas yang bergengsi.  Namun Bu Maria (biasa dipanggil demikian) tetap belum tergantikan. Terbukti, hingga kini banyak daerah-daerah yang ingin mengundang beliau hanya untuk membagi ilmu dan suaranya.  Umur yang telah mencapai 56 tahun, tidak menyurutkan motivasi beliau dalam memperkenalkan ayat-ayat al-Qur’an yang dilagukan dengan indah. Stamina beliau masih terhitung prima. Suaranya masih nyaring dan bening. Dari pukul 10.00 pagi hingga 16.00, dengan jeda hanya 1 jam, suara tidak berubah sedikitpun. Cengkok lagu yang dibawakan masih tetap sama.

» Read more

Harga Segelas Air

Banyak di antara kita yang tidak menghargai air. Kita sering kali tidak menggunakannya secara baik. Padahal berwudhu di samudera yang luas sekalipun tidak boleh melebihi kadar yang ditetapkan. Memang, bagi kita bangsa Indonesia, air bagaikan tanpa harga. Tetapi di Timur Tengah harganya cukup mahal, dan tidak jarang melebihi harga bensin.

Tahukah Anda berapa nilai segelas air di sisi Harun Al-Rasyid, penguasa Dinasti Abbasiyah (766-809 M), yang pada masanya dinilai sebagai bagian dari masa keemasan Islam? Atau di sisi Umar bin Khaththab r.a.? Atau bahkan di sisi Tuhan? Di balik kisah berikut ini terkandung pelajaran yang sangat berharga dalam kaitannya dengan penggunaan air.

» Read more

Selalu dalam Keadaan Nol

Memaafkan itu sehat dan menyehatkan

Karena memaafkan dapat mengurangi

beban pikiran dan perasaan.

Berbahagialah mereka yang senang

memaafkan.

Secara matematis, dapat dikatakan orang yang salah bernilai negatif, sedangkan orang yang menjaga kebenaran bernilai positif. Sementara itu, nilai sejati yang dibutuhkan antar sesama dalam pergaulan adalah kesetaraan atau nol. Ketika orang lain berbuat salah pada kita, itu artinya nilai benar dari orang lain berpindah pada diri kita.

Dalam hal ini, logika maaf seolah menyerahkan kembali nilai benar kepada orang lain agar terjadi keseimbangan (tawazun). Kita tidak memerlukan daftar dosa dan kesalahan orang lain. Karena bila kita terus menyimpan dan merawat kesalahan orang lain dalam hati, sama artinya kita memenuhi hati kita dengan hal-hal yang seharusnya tidak kita simpan. Hal ini tidaklah menguntungkan. Karena hati tidak punya banyak ruang untuk menampung kebajikan-kebajikan lain yang senantiasa terus dipancarkan tuhan. Maka diperlukan sikap memberi. Memberiaaf tidak ubahnya seperti barbagi harta dan kemuliaan, bahkan lebih mulia dari sedekah yang arogan.

Keseimbangan dan kesetaraan antar sesama inilah yang menjadikan hidup tanpa beban, bahkan terasa sangat ringan. Kesetaraan ini membuat diri kita bernilai nol. Hati kita menjadi lapang, bersiah, dan siap menerima ragam kemuliaan dari Tuhan. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya perbuatan yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

Bagaimana sikap terhadap orang yang senantiasa bersalah kepada kita? Secara prinsip, hati kita tidak boleh dipe uhi dendam dan amarah. Akan tetapi, tidak lalu kita menjadi permisif dan membiarkan orang tersebut kembalo mengulangi kesalahan yang sama. Dalam hal ini, selain kelembutan diperlukan pula ketegasan dan sikap untuk saling mengingatkan. Mengapa demikian? Agar nilai nol senantiasa terjaga.

Komaruddin Hidayat dalam 250 wisdom

Zurriyah Tayyibah

Zurriyah tayyibah artinya keturunan yang baik. Dalam ilmu kesehatan, gen yang diturunkan adalah gen yang baik-baik. Gen yang kurang baik atau tidak baik sama sekali terlempar dari alur turunan. Itulah keinginan setiap orang tua. Anak yang baik, bukan jaminan dari orang tua yang baik pula. Demikian pula sebaliknya, anak yang tidak baik bukan berarti bawaan dari orang tua yang tidak baik. Untuk menjadi orang yang baik, orang tua lebih banyak fokus dalam pembinaan keluarga, pola pergaulan dengan lingkungan. Gen hanyalah salah satu faktor yang bersifat inderawi.
Kepemimpinan keluarga, dalam khasanah Islam lebih banyak ditujukan figur ayah. Namun sesungguhnya kontribusi seorang ibu dalam kepemimpinan keluarga memiliki andil yang sangat besar. Karena seorang anak secara fitrah lebih dekat dengan ibu. Intensitas waktu dalam keluarga, seorang ibu lebih banyak bersama anak bila dibandingkan dengan ayah. Ibu adalah orang jasanya sangat besar terhadap perkembangan karakter anak. Di masyarakat banyak ditemukan kebiasaan dalam adat istiadat maupun budaya lisan bagaimana seorang anak lebih menyatu dengan Ibu. Tidak berlebihan jika Ibu secara de facto menjadi seorang pemandu dalam keluarga.
Islam adalah agama yang adil. Semua manusia sama dihadapan Allah swt. Hanya orang yang berimanlah sebagai pembeda. Kepemimpinan dalam keluarga telah diatur oleh Nabi Muhammad saw. Nukilan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : seorang Istri adalah pemimpin bagi rumah tangga dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Hadits tersebut secara tegas menyatakan bahwa kaum perempuan adalah pemimpin dalam keluarganya bersama-sama dengan suaminya, kepemimpinan yang kolektif, yang saling melengkapi satu dengan lainnya. Llah sendiri menyatakan bahwa hubungan suami dan istri ibarat pakian yang saling menutupi dan melengkapi. Lihat surat Al Baqarah ayat 187.
Justru dengan memberikan beban yang berat kepada seorang Ibu, Allah memberi ganjaran bahwa seorang anak harus berbakti kepada Ibu 3 kali lebih besar dari seorang ayah. Allah juga memberi kemulian kepada seorang Ibu, agar menurunkan generasi yang zurriyah Tayyibah.

Menjadi Pribadi Bijak

Nilai-nilai kebijakan adalah kebutuhan jiwa yang berjalan seiring kebiasaan. Nilai kebajikan tidak cukup dipelajari lalu diujikan si atas kertas.

Setiap manusia selalu mengidamkan kesempurnaan dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia merupakan pribadi yang selalu membutuhkan pada kesempurnaan. Dan kesempurnaan tertinggi hanya pada Tuhan. Menjadi manusia bijak bukan dilihat berdasarkan banyak tidaknya buku yang kita baca atau seberapa tua usia kita. Kebijakan yang berangkat dari upaya mencari kebenaran sudah sepatutnya dilakukan oleh manusia yang percaya akan Tuhan, maka ia akan punya kesadaran bahwa benar saja tidak cukup. Akan tetapi, lebih jauh lagi, bagi orang bijak, yang lebih utama lagi setelah kebenaran adalah kebijakan.

Kebenaran lebih berada pada wilayah rasionalitas, sementara kebijakan berakar pada kerendah hatian dan kejujuran. Dan ini berangkat dari kesadaran Ilahi. Bila demikian, maka tidak cukup menakar kebijakan hanya pada selembar kertas ketika ujian

Komaruddin Hidayat dalam 250 Wisdom

1 2 3 4