Selalu dalam Keadaan Nol

Memaafkan itu sehat dan menyehatkan

Karena memaafkan dapat mengurangi

beban pikiran dan perasaan.

Berbahagialah mereka yang senang

memaafkan.

Secara matematis, dapat dikatakan orang yang salah bernilai negatif, sedangkan orang yang menjaga kebenaran bernilai positif. Sementara itu, nilai sejati yang dibutuhkan antar sesama dalam pergaulan adalah kesetaraan atau nol. Ketika orang lain berbuat salah pada kita, itu artinya nilai benar dari orang lain berpindah pada diri kita.

Dalam hal ini, logika maaf seolah menyerahkan kembali nilai benar kepada orang lain agar terjadi keseimbangan (tawazun). Kita tidak memerlukan daftar dosa dan kesalahan orang lain. Karena bila kita terus menyimpan dan merawat kesalahan orang lain dalam hati, sama artinya kita memenuhi hati kita dengan hal-hal yang seharusnya tidak kita simpan. Hal ini tidaklah menguntungkan. Karena hati tidak punya banyak ruang untuk menampung kebajikan-kebajikan lain yang senantiasa terus dipancarkan tuhan. Maka diperlukan sikap memberi. Memberiaaf tidak ubahnya seperti barbagi harta dan kemuliaan, bahkan lebih mulia dari sedekah yang arogan.

Keseimbangan dan kesetaraan antar sesama inilah yang menjadikan hidup tanpa beban, bahkan terasa sangat ringan. Kesetaraan ini membuat diri kita bernilai nol. Hati kita menjadi lapang, bersiah, dan siap menerima ragam kemuliaan dari Tuhan. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya perbuatan yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.

Bagaimana sikap terhadap orang yang senantiasa bersalah kepada kita? Secara prinsip, hati kita tidak boleh dipe uhi dendam dan amarah. Akan tetapi, tidak lalu kita menjadi permisif dan membiarkan orang tersebut kembalo mengulangi kesalahan yang sama. Dalam hal ini, selain kelembutan diperlukan pula ketegasan dan sikap untuk saling mengingatkan. Mengapa demikian? Agar nilai nol senantiasa terjaga.

Komaruddin Hidayat dalam 250 wisdom

Zurriyah Tayyibah

Zurriyah tayyibah artinya keturunan yang baik. Dalam ilmu kesehatan, gen yang diturunkan adalah gen yang baik-baik. Gen yang kurang baik atau tidak baik sama sekali terlempar dari alur turunan. Itulah keinginan setiap orang tua. Anak yang baik, bukan jaminan dari orang tua yang baik pula. Demikian pula sebaliknya, anak yang tidak baik bukan berarti bawaan dari orang tua yang tidak baik. Untuk menjadi orang yang baik, orang tua lebih banyak fokus dalam pembinaan keluarga, pola pergaulan dengan lingkungan. Gen hanyalah salah satu faktor yang bersifat inderawi.
Kepemimpinan keluarga, dalam khasanah Islam lebih banyak ditujukan figur ayah. Namun sesungguhnya kontribusi seorang ibu dalam kepemimpinan keluarga memiliki andil yang sangat besar. Karena seorang anak secara fitrah lebih dekat dengan ibu. Intensitas waktu dalam keluarga, seorang ibu lebih banyak bersama anak bila dibandingkan dengan ayah. Ibu adalah orang jasanya sangat besar terhadap perkembangan karakter anak. Di masyarakat banyak ditemukan kebiasaan dalam adat istiadat maupun budaya lisan bagaimana seorang anak lebih menyatu dengan Ibu. Tidak berlebihan jika Ibu secara de facto menjadi seorang pemandu dalam keluarga.
Islam adalah agama yang adil. Semua manusia sama dihadapan Allah swt. Hanya orang yang berimanlah sebagai pembeda. Kepemimpinan dalam keluarga telah diatur oleh Nabi Muhammad saw. Nukilan sabda beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : seorang Istri adalah pemimpin bagi rumah tangga dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
Hadits tersebut secara tegas menyatakan bahwa kaum perempuan adalah pemimpin dalam keluarganya bersama-sama dengan suaminya, kepemimpinan yang kolektif, yang saling melengkapi satu dengan lainnya. Llah sendiri menyatakan bahwa hubungan suami dan istri ibarat pakian yang saling menutupi dan melengkapi. Lihat surat Al Baqarah ayat 187.
Justru dengan memberikan beban yang berat kepada seorang Ibu, Allah memberi ganjaran bahwa seorang anak harus berbakti kepada Ibu 3 kali lebih besar dari seorang ayah. Allah juga memberi kemulian kepada seorang Ibu, agar menurunkan generasi yang zurriyah Tayyibah.

Menjadi Pribadi Bijak

Nilai-nilai kebijakan adalah kebutuhan jiwa yang berjalan seiring kebiasaan. Nilai kebajikan tidak cukup dipelajari lalu diujikan si atas kertas.

Setiap manusia selalu mengidamkan kesempurnaan dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan bahwa manusia merupakan pribadi yang selalu membutuhkan pada kesempurnaan. Dan kesempurnaan tertinggi hanya pada Tuhan. Menjadi manusia bijak bukan dilihat berdasarkan banyak tidaknya buku yang kita baca atau seberapa tua usia kita. Kebijakan yang berangkat dari upaya mencari kebenaran sudah sepatutnya dilakukan oleh manusia yang percaya akan Tuhan, maka ia akan punya kesadaran bahwa benar saja tidak cukup. Akan tetapi, lebih jauh lagi, bagi orang bijak, yang lebih utama lagi setelah kebenaran adalah kebijakan.

Kebenaran lebih berada pada wilayah rasionalitas, sementara kebijakan berakar pada kerendah hatian dan kejujuran. Dan ini berangkat dari kesadaran Ilahi. Bila demikian, maka tidak cukup menakar kebijakan hanya pada selembar kertas ketika ujian

Komaruddin Hidayat dalam 250 Wisdom

Memberi, tidak Membuat Kita Rugi

Ulurkan tanganmu untuk meringankan teman. Tebarkan senyummu untuk menghibur kawan karena tangan maupun bibirmu tidak akan lepas dan berkurang dari dirimu hanya karena membantu yang lain. Semoga jiwamu kian mencerahkan.

Apakah memberi itu rugi? Apakah ketika akan memberi sesuatu kepada orang lain, lalu sesuatu yang ada pada diri kita ini ikut berkurang? kalau kita mengukurnya dengan materi dan hitungan matematis, mungkin saja kita akan mengatakan bila kita memberi pada orang lain, maka apa yang kita miliki jadi berkurang.

Apa yang akan terjadi ketika kita memberi senyum tulus kepada orang lain? Apakah senyum yang kita tunjukkan dengan bermodalkan bibir ini apakah akan membuat bibir kita terbuang dan berpindah orang lain? Tentu saja tidak. Tetapi dalam kaitan memberi dengan senyuman, sesungguhnya tidak sekedar swnyuman saja yang kita kerahkan. Satu hal yang lebih utama dalam melemparkan senyuman adalah kejujuran, ketulusan, dan rasa kasih.

Kalau tidak ada ketulusan, hal ini hanya menjadi lips belaka. Bibir kita mungkin akan tersenyum manis, semanis senyuman pramugari atau model, tetapi hati kita dipenuhi dendam dan kedengkian. Bukan senyum semacam ini yang dikatagorikan sunah oleh Rasulullah. Pada hakikatnya, senyum adalah menghamparkan dan mengamini kebenaran (shidq). Dan kebenaran adalah akar dari kata sedekah (shadaqah).

Komaruddin Hidayat dalam 250 Wisdoms.

Aqidah dan Akhlak

sumber gambar : muslim.or.id

sumber gambar : muslim.or.id

Aqidah

Aqidah adalah bentuk masdar dari kata “aqada, ya’qidu, ‘aqdan, ‘aqidatan” yang berarti simpulan, ikatan, perjanjian dan kokoh. Sedangkan secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan keyakinan. Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang dimaksud aqidah adalah kepercayaan yang menghujam atau simpul di dalam hati.

Ciri-ciri aqidah adalah :

» Read more

Al-‘Aziz

Nama tersebut termasuk Al-Asma`ul Husna, sebagaimana terdapat dalam nash Al-Quran dan Hadits. Di dalam Al-Quran di antaranya di Surat Al-Baqarah ayat 129:

إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Al-‘Aziz. Maha perkasa. Makna nama Allah Al-‘Aziz adalah yang memiliki sifat ‘izzah. Al-‘Izzah menurut para ulama memiliki tiga makna.

Pertama, yang berasal dari kata ‘azza ya’izzu artinya pertahanan diri dari musuh yang hendak menyakiti-Nya sehingga tidak mungkin tipu dayanya akan sampai kepada-Nya.

Kedua, yang berasal dari kata ‘azza ya’uzzu aryinya mengalahkan dan memaksa. Sehingga maknanya adalah Allah Maha Perkasa, memaksa dan mengalahkan pata musuh-musuhNya, sedangkan musuhNya tidak mampu mengalahkan dan memaksaNya. Makna inilah yang paling banyak penggunaannya.

Ketiga, dari kata ‘azza ya’uzzu artinya kuat. Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, sifat ‘izzah menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah, dan bahwa tiada yang menyerupainya dalam hal kuat atau mulia kedudukan-Nya.

» Read more

Terkenang Mantan Pacar

Tanya : sebelum menikah dengan suami saya, dulu saya memiliki hubungan pacaran dengan seorang teman lama. Kami tidak meneruskan hubungan kami karena beberapa keyakinan. Saya sudah menikah selama 5 tahun dan masih sering memikirkan mantan saya itu. Terkadang saya merasa bersalah, tetapi saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Apakah hukumnya bagi perempuan yang tidak bisa sepenuhnya memberikan hatinya pada suaminya yang sah? Apakah ini berarti petunjuk Allah, bahwa saya itu adalah jodoh saya? dua orang penanya yang sama.

Jawab : Allah tidak menuntut tanggung jawab seseorang menyangkut apa yang tidak dilakukannya. Namun demikian, kendati hati berada di “Tangan Tuhan” sehingga seseorang tidak dituntutmenyangkut detak detik yang di luar kemampuan manusia, tetapi dalam saat yang sama, manusia -sedikit atau banyak- dapat mengendalikan dorongan hatinya agar tidak larut menurutkannya. Hati bisa mendapat bisikan dari setan. Di sini manusia harus mengupayakan untuk mengenyahkannya. Al-Qur’an mengingatkan bahwa :

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa dorongan melakukan keburukan dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka sadar”. (QS Al A’raf 7 : 201)

Kalau memang Anda tidak bisa mengendalikan hati hati Anda dan mengenyahkan bisikan setean – setelah berusaha sekuat kemampuan- maka saya mengharap kiranya Allah mengampuni Anda, tetapi kalau sejak semula dalam kemampuan Anda, lalu Anda memperturutkan sehingga menjadi berat Anda kendalikan, maka saya khawatir itu akan dinilai dosa.

Saya yakin sekali bahwa sikap Anda masih mengingat mantan pacar itu bukan berarti petunjuk Allah bahwa mantan itu adalah jodoh Anda. Allah tidak mungkin memberi petunjuk kepada hamba-Nya menyangkut sesuatu yang buruk, dalam hal ini menjodohkan seorang Muslimah dengan non-Muslim. Saya khawatir itu adalah bisikan setan ke dalam hati Anda untuk menjadikan Anda larut dalam perasaan Anda. Demikian, wa Allah A’lam.

Disadur dari buku tanya-jawab Quraish Shihab.

1 2 3