Memberi, tidak Membuat Kita Rugi

Ulurkan tanganmu untuk meringankan teman. Tebarkan senyummu untuk menghibur kawan karena tangan maupun bibirmu tidak akan lepas dan berkurang dari dirimu hanya karena membantu yang lain. Semoga jiwamu kian mencerahkan.

Apakah memberi itu rugi? Apakah ketika akan memberi sesuatu kepada orang lain, lalu sesuatu yang ada pada diri kita ini ikut berkurang? kalau kita mengukurnya dengan materi dan hitungan matematis, mungkin saja kita akan mengatakan bila kita memberi pada orang lain, maka apa yang kita miliki jadi berkurang.

Apa yang akan terjadi ketika kita memberi senyum tulus kepada orang lain? Apakah senyum yang kita tunjukkan dengan bermodalkan bibir ini apakah akan membuat bibir kita terbuang dan berpindah orang lain? Tentu saja tidak. Tetapi dalam kaitan memberi dengan senyuman, sesungguhnya tidak sekedar swnyuman saja yang kita kerahkan. Satu hal yang lebih utama dalam melemparkan senyuman adalah kejujuran, ketulusan, dan rasa kasih.

Kalau tidak ada ketulusan, hal ini hanya menjadi lips belaka. Bibir kita mungkin akan tersenyum manis, semanis senyuman pramugari atau model, tetapi hati kita dipenuhi dendam dan kedengkian. Bukan senyum semacam ini yang dikatagorikan sunah oleh Rasulullah. Pada hakikatnya, senyum adalah menghamparkan dan mengamini kebenaran (shidq). Dan kebenaran adalah akar dari kata sedekah (shadaqah).

Komaruddin Hidayat dalam 250 Wisdoms.

Aqidah dan Akhlak

sumber gambar : muslim.or.id

sumber gambar : muslim.or.id

Aqidah

Aqidah adalah bentuk masdar dari kata “aqada, ya’qidu, ‘aqdan, ‘aqidatan” yang berarti simpulan, ikatan, perjanjian dan kokoh. Sedangkan secara teknis aqidah berarti iman, kepercayaan dan keyakinan. Dan tumbuhnya kepercayaan tentunya di dalam hati, sehingga yang dimaksud aqidah adalah kepercayaan yang menghujam atau simpul di dalam hati.

Ciri-ciri aqidah adalah :

» Read more

Al-‘Aziz

Nama tersebut termasuk Al-Asma`ul Husna, sebagaimana terdapat dalam nash Al-Quran dan Hadits. Di dalam Al-Quran di antaranya di Surat Al-Baqarah ayat 129:

إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Al-‘Aziz. Maha perkasa. Makna nama Allah Al-‘Aziz adalah yang memiliki sifat ‘izzah. Al-‘Izzah menurut para ulama memiliki tiga makna.

Pertama, yang berasal dari kata ‘azza ya’izzu artinya pertahanan diri dari musuh yang hendak menyakiti-Nya sehingga tidak mungkin tipu dayanya akan sampai kepada-Nya.

Kedua, yang berasal dari kata ‘azza ya’uzzu aryinya mengalahkan dan memaksa. Sehingga maknanya adalah Allah Maha Perkasa, memaksa dan mengalahkan pata musuh-musuhNya, sedangkan musuhNya tidak mampu mengalahkan dan memaksaNya. Makna inilah yang paling banyak penggunaannya.

Ketiga, dari kata ‘azza ya’uzzu artinya kuat. Muhammad bin Shalih Al Utsaimin mengatakan, sifat ‘izzah menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah, dan bahwa tiada yang menyerupainya dalam hal kuat atau mulia kedudukan-Nya.

» Read more

Terkenang Mantan Pacar

Tanya : sebelum menikah dengan suami saya, dulu saya memiliki hubungan pacaran dengan seorang teman lama. Kami tidak meneruskan hubungan kami karena beberapa keyakinan. Saya sudah menikah selama 5 tahun dan masih sering memikirkan mantan saya itu. Terkadang saya merasa bersalah, tetapi saya tidak bisa membohongi perasaan saya. Apakah hukumnya bagi perempuan yang tidak bisa sepenuhnya memberikan hatinya pada suaminya yang sah? Apakah ini berarti petunjuk Allah, bahwa saya itu adalah jodoh saya? dua orang penanya yang sama.

Jawab : Allah tidak menuntut tanggung jawab seseorang menyangkut apa yang tidak dilakukannya. Namun demikian, kendati hati berada di “Tangan Tuhan” sehingga seseorang tidak dituntutmenyangkut detak detik yang di luar kemampuan manusia, tetapi dalam saat yang sama, manusia -sedikit atau banyak- dapat mengendalikan dorongan hatinya agar tidak larut menurutkannya. Hati bisa mendapat bisikan dari setan. Di sini manusia harus mengupayakan untuk mengenyahkannya. Al-Qur’an mengingatkan bahwa :

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa dorongan melakukan keburukan dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka sadar”. (QS Al A’raf 7 : 201)

Kalau memang Anda tidak bisa mengendalikan hati hati Anda dan mengenyahkan bisikan setean – setelah berusaha sekuat kemampuan- maka saya mengharap kiranya Allah mengampuni Anda, tetapi kalau sejak semula dalam kemampuan Anda, lalu Anda memperturutkan sehingga menjadi berat Anda kendalikan, maka saya khawatir itu akan dinilai dosa.

Saya yakin sekali bahwa sikap Anda masih mengingat mantan pacar itu bukan berarti petunjuk Allah bahwa mantan itu adalah jodoh Anda. Allah tidak mungkin memberi petunjuk kepada hamba-Nya menyangkut sesuatu yang buruk, dalam hal ini menjodohkan seorang Muslimah dengan non-Muslim. Saya khawatir itu adalah bisikan setan ke dalam hati Anda untuk menjadikan Anda larut dalam perasaan Anda. Demikian, wa Allah A’lam.

Disadur dari buku tanya-jawab Quraish Shihab.

Merenda Pakaian Tuhan

Tiga fungsi utama pakaian adalah melindungi tubuh agar sehat, menutupi kekurangan agar tidak terlihat orang lain, dan memperindah penampilan agar terlihat nyaman memesona. Begitlah Al-Qur’an mengibaratkan pasangan suami istri dengan pakaian. Sufajkan pakaian kita berfungsi sebagaimana harusnya?

Betapa indah ketika al Qur’an menggunakan perlambang pada soal pasangan suami-istri. Al Qur’an menyebut pasangan suami-istri laksana pakaian. “…..mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun pakaian bagi mereka….” Secara sederhana, ayat ini dapat dipahami bahwa sang suami menjadi pakaian bagi sang istri, begitu juga sebaliknya. Tentu saja penggunaan simbol ini bukan tanpa tanpa maksud.

» Read more

Wakaf

  1. Pengertian Wakaf

Wakaf menurut bahasa berarti “menahan” sedangkan menurut istilah wakaf yaitu memberikan suatu benda atau harta yang dapat diambil manfaatnya untuk digunakan bagi kepentingan masyarakat menuju keridhaan Allah SWT.

  1. Hukum Wakaf

Hukum wakaf adalah sunat, hal ini didasarkan pada Al-Qur’an.

Firman Allah SWT. :

وَافْعَلُواالخْيَرْ َلَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan berbuatlah kebajikan agar kamu beruntung”(QS. Al Hajj/22: 77).

        Firman Allah SWT.:

لَنْ تَنَالُوالْبِرَّحَتىَّ تُنْفِقُوامِمَّا تُحِبُّونَ

“Tidak akan tercapai olehmu suatu kebaikan sebelum kamu sanggup membelanjakan sebagian harta yang kamu sayangi”(QS. Ali Imran/3: 92)

  1. Rukun Wakaf
  1. Orang yang memberikan wakaf (Wakif).
  2. Orang yang menerima wakaf (Maukuf lahu).
  3. Barang yang yang diwakafkan (Maukuf).
  4. Ikrar penyerahan (akad).
  1. Syarat-syarat Wakaf
  1. Orang yang memberikan wakaf berhak atas perbuatan itu dan atas dasar kehendaknya sendiri.
  2. Orang yang menerima wakaf jelas, baik berupa organisasi atau perorangan.
  3. Barang yang diwakafkan berwujud nyata pada saat diserahkan.
  4. Jelas ikrarnya dan penyerahannya, lebih baik tertulis dalam akte notaris sehingga jelas dan tidak akan menimbulkan masalah dari pihak keluarga yang memberikan wakaf.
  1. Macam-macam Wakaf

Wakaf dibagi menjadi dua macam, yaitu :

  1. Wakaf Ahly (wakaf khusus), yaitu wakaf yang khusus diperuntukkan bagi orang-orang tertentu, seorang atau lebih, baik ada ikatan keluarga atau tidak. Misalnya wakaf yang diberikan kepada seorang tokoh masyarakat atau orang yang dihormati.
  2. Wakaf Khairy (wakaf untuk umum), yaitu wakaf yang diperuntukkan bagi kepentingan umum. Misalnya wakaf untuk Masjid, Pondok Pesantren dan Madrasah.
  1. Perubahan Benda Wakaf

Menurut Imam Syafi’i menjual dan mengganti barang wakaf dalam kondisi apapun hukumnya tidak boleh, bahkan terhadap wakaf khusus (waqaf Ahly) sekalipun, seperti wakaf bagi keturunannya sendiri, sekalipun terdapat seribu satu macam alasan untuk itu.Sementara Imam Maliki dan Imam Hanafi membolehkan mengganti semua bentuk barang wakaf, kecuali masjid. Penggantian semua bentuk barang wakaf ini berlaku, baik wakaf khusus atau umum (waqaf Khairy), dengan ketentuan :

  1. Apabila pewakaf mensyaratkan (dapat dijual atau digantikan dengan yang lain), ketika berlangsungnya pewakafan.
  2. Barang wakaf sudah berubah menjadi barang yang tidak berguna.
  3. Apabila penggantinya merupakan barang yang lebih bermanfaat dan lebih menguntungkan.
  4. Agar lebih berdaya guna harta yang diwakafkan.
  1. Hikmah Wakaf

Hikmah disyari’atkannya wakaf, antara lain sebagai berikut :

  1. Menanamkan sifat zuhud dan melatih menolong kepentingan orang lain.
  2. Menghidupkan lembaga-lembaga sosial maupun keagamaan demi syi’ar Islam dan keunggulan kaum muslimin.
  3. Memotivasi umat Islam untuk berlomba-lomba dalam beramal karena pahala wakaf akan terus mengalir sekalipun pemberi wakaf telah meninggal dunia.
  4. Menyadarkan umat bahwa harta yang dimiliki itu ada fungsi sosial yang harus dikeluarkan.

Nishfu Sya’ban

Berbagai cara masyarakat menyambut bulan suci Ramadhan. Masing-masing daerah memiliki tradisi dan cara tersendiri. Di pesisir utara, khususnya Semarang dan seputar ada perayaan Dug Deran. Di daerah Solo, Klaten dan lingkungannya ada tradisi Nyadran. Pun dengan daerah lain. Intinya tetap sama yakni menyambut tamu agung mesti melakukan persiapan fisik dan mental.

Nisfu Sya’ban adalah salah satu di antara sekian banyak kebiasaan menyambut Ramadhan. Pengertian sya’ban sendiri ada beberapa versi. Ada yang menyebut bahwa sya’ban artinya berpencar (yatasya’abuun). Karena pada jaman dulu masyarakat berpencar mencari sumber air. Ada yang memaknai tasya’ub karena kebiasaan berpencar di gua-gua. Ada pula yang mengartikan sya’aba yang berarti di antara dua bulan mulia yaitu bulan Rajab dan Ramadhan.

Yahya bin Mua’adz menafsirkan kata sya’ban dengan memerinci huruf demi huruf yang masing-masing :

Syiin menunjukkan bahwa di bulan tersebut orang-orang mu’min akan diberi syarof dan syafaat (kehormatan dan pertolongan) oleh Allah swt.

Huruf ‘ain pertanda akan diberi ‘izzah dan karamah (keperkasaan dan kemuliaan)

Huruf baa’ menunjukkan akan diberi birr (kebajikan)

Huruf alif pertanda akan deberi ulfah (kelemah-lembutan)

Huruf nun pertanda diberi nuur (cahaya)

Apa keistimewaan dan korelasinya bulan : Rajab, Sya’ban dan Ramadhan?

Ketiga bulan tersebut memiliki makna yang amat penting. Bulan Rajab saat manusia memohon ampun atas segala dosanya, bulan Sya’ban merupakan bulan rahabilitasi qalbu dari segala cacat, sedangkan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat, diampuni segala macam dosa dan dibebaskannya manusia dari api neraka.

Ada apa sebenarnya pada nishfu (pertengahan) sya’ban?

Rasulullah s.a.w memberikan tauladan bahwa pada pertengangan bulan sya’ban disarankan untuk melaksanakan shalat malam dan berpuasa di siang hari. Kedua kebiasaan yang dilakukan Rasullah s.aw. tersebut terbukti manjur untuk segala urusan di dunia. Karena sifat-sifat Allah akan diberitahu sejak dari tenggelamnya matahari hingga waktu jelang fajar. Hanya orang tertentu yang bisa menangkap pesan itu.

Masih di hadits yang sama, Rasulullah juga menyampaikan “siapa saja yang meminta ampun, niscaya Allah akan memberi permintaannya, siapa saja yang minta rizki maka akan Allah berikan rizki itu.

1 2 3 4