Sedekah

Mengelola harta bukanlah barang yang mudah. Karena pada dasarnya uang yang kita miliki ada hak orang lain, selama kebutuhan pokok telah terpenuhi. Harta, sebagaimana sabda Rasul merupakan bagian dari kesenangan di dunia. Harta bisa menjunjung tingkat derajat keimanan seseorang. Harta juga menistakan manusia hingga jurang yang paling dalam. Dalam Islam memiliki harta yang berlimpah tidak dilarang. Namun harta itu harus menjadi variabel status yang disematkan kepada manusia yaitu keimanan.

» Read more

Marwah

“Sehingga nantinya MUI (Majelis Ulama Indonesia) punya marwah, wibawa, kehormatan, dan harga diri”, demikian kalimat yang dilontarkan wakil ketua KPK Bushro Muqoddas menanggapi peristiwa sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI. Adalah Amidhan Shaberah sebagai wakil ketua MUI yang menangami masalah sertifikat halal.

Tulisan berikut bukan mengakaji label halal-haram. Tapi ada satu kata yang menarik perhatian saya yaitu kata “marwah”. Kata marwah dalam al-Qur’an disebutkan sekali yaitu dalam surat Al-Baqarah : 153. Marwah tidak berdiri sendiri, tapi digandeng dengan kata sebelumnya, yakni shafa. Shafa marwah adalah salah satu ritual dari ibadah Haji, yang disebut sa’i.

Syaikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa sa’i memiliki kandungan agar orang untuk berbuat sabar guna menerima segala penyempurnaan nikmat Allah, dan supaya tahan menderita dari berbagai macam cobaan.  Disamping itu, sa’i juga memiliki pengharapan, bahwa akan datang masanya berkeliling diantara bukit Shafa dan Marwah.

» Read more

Tidak Sekedar Mengajar

Pendidikan yang hebat bukan sekedar menjadikan anak pintar, tetapi juga mampu menjadikan anak yang mandiri, bergaul dengan sejajar, dan bersikap bijak dalam menghadapi masalah.

Pintar saja tidak cukup. Bila yang dicari secara intelektual saja, anak-anak kita di masa yang akan datang bisa jadi akan kecewa dengan banyak persoalan. Dalam kehidupan, persoalan yang sering kali dihadapi bukan hanya pada soal matematis mekanistik, tetapi juga harus ada nilai emosi dan estetik.

Begitu banyak persoalan hidup yang akadang harus dihadapi bukan dengan kecerdasan intelektual. Orang boleh saja memiliki nilai 9 di rapornya, tetapi tidak selamanya cerdas menghadapi persoalan dalam hidupnya.

Oleh karena itu, bila tujuan pendidikan hanya mencetak sosok manusia pintar, tujuan pendidikan terlalu dangkal dan sempit. Mencari formula pendidikan adalah upaya serius yang harus terus terus dilakukan dan tidak boleh berhenti. Mencari format pendidikan selalu menjadi kreativitas yang harus dikembangkan dengan baik. Upaya terus-menerus untuk belajar dalam mencari cara terbaik dalam proses belajar adalah pembelajaran itu sendiri.

ditulis oleh : Prof. DR. Komarudin Hidayat dalam 250 Wisdoms membuka mata, menangkap makna

Adab-adab Buang Hajat

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Saudara dan Saudariku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

1. Disunnahkan bagi orang yang hendak memasuki al-khalaa’ (kamar kecil/WC) agar membaca:

بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.”

Do’a ini berdasarkan hadits ‘Ali Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

سِتْرٌ مَا بَيْنَ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُوْلَ: بِسْمِ اللهِ.

“Penghalang antara jin dan aurat anak Adam jika salah seorang dari kalian memasuki al khalaa’ adalah ia mengucapkan, “Bismillah”.”[Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 3611)]

Juga hadits Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلاَءَ قَالَ: اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.

“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak masuk ke kamar kecil, beliau mengucapkan, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan”. [Muttafaq ‘alaihi: Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/242 no. 142)]

» Read more

Pilihan Hidup

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah bersabda:

اِنَّ اْلاِسْلاَمَ بَدَأَ غَرِيْبًا وَ سَيَعُوْدُ غَرِيْبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوْبَى لِلْغُرَبَاءِ. قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَ مَا اْلغُرَبَاءُ؟ قَالَ: اَلَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ عِنْدَ فَسَادِ النَّاسِ. و فى رواية، فَقَالَ: اَلَّذِيْنَ يُحْيُوْنَ مَا اَمَاتَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِى.

“Pada mulanya Islam itu asing dan akan kembali asing sebagaimana pada mulanya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing“. Beliau ditanya, “Ya Rasulullah, siapakah orang-orang yang asing itu ?” Beliau bersabda, “Mereka yang melakukan perbaikan dikala rusaknya manusia”. Dalam riwayat lain beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang menghidupkan apa-apa yang telah dimatikan manusia daripada sunnahku”.

Begitulah sahabat…
Menjadi muslim yang baik itu pada mulanya adalah pilihan yang mengasingkan…

Menapaki jalan hidayah sejengkal demi sejengkal, pada mulanya adalah pilihan yang mengasingkan…

Menghapus satu demi satu kesalahan dengan taubat dan penghambaan yang jujur, pada mulanya adalah pilihan yang mengasingkan…

Berdakwah mengajak pada sunnah ditengah fanatisme madzhab, pada mulanya adalah pilihan yang mengasingkan…

Menaikkan celana hingga mata kaki serta membiarkan janggut tumbuh, pada mulanya adalah pilihan yang mengasingkan…

Menjomblo demi menjaga kehormatan diri disaat yang lain gonta-ganti pacar pada mulanya adalah pilihan yg mengasingkan…

Menetapi Manhaj para salafusshalih dengan sungguh-sungguh, pada mulanya adalah pilihan yang mengasingkan…

Iya… Semua itu adalah pilihan yang mengasingkan…

Paling tidak pada awalnya. Lalu untuk waktu yang sedikit lama.
Namun pada akhirnya, akan ada hari ketika Allah memberi kemenangan…

Dihari itu… kita akan bersuka cita saat semua manusia berbondong2 bernaung di bawah payung As-Sunnah, bersama bertasbih memuji-Nya diatas bahtera tauhid.

Bila hari itu tiba, kesepian dan keterasingan yang kita rasakan saat ini kelak hanya menjadi sebuah cerita yang akan kita di awali dengan kata “Dulu..” untuk anak-anak kita. “Nak dulu abi begini, dulu abi begitu”

Sahabat…
Saya tidak bicara soal keterasingan yang biasa, Karena dipuncak keterasingan ini ada janji dari Rasul mulia…

”Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu”

ACT El-Gharantaly, حفظه الله

Washilah

Alhamdulillah… Tak terasa kita telah memasuki bulan Sya’ban, bulan persiapan menuju Ramadhan.

Abu Bakar Al-Balkhi mengatakan:

شَهْرُ رَجَب شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ سُقْيِ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ حَصَادِ الزَّرْعِ.

“Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam dan Sya’ban adalah bulan untuk menyirami tanaman, sementara bulan Ramadhan adalah bulan untuk memetik hasil panen.”

(Lathaif Al-Maarif)

Diantara amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Sya’ban adalah memperbanyak puasa sebagaimana yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummul Mukmini Aisyah radhiallahu ‘anha mengabarkan:

كَانَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ, فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ.

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berbuka, dan berbuka sampai-sampai kami mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan puasa selama sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak pernah melihat beliau banyak melakukan puasa melebihi puasanya di bulan Sya’ban.”

(HR. Bukhari Muslim)

Seperti halnya sholat yang memiliki rowatib (qabliyah dan ba’diyah), maka Ramadhan juga demikian. Dimana puasa pada bulan Sya’ban menjadi qabliyahnya sementara puasa enam hari di bulan Syawwal menjadi ba’diyahnya. Dengan melakukan rowatib ini diharapkan dapat menutupi kekurangan yang ada pada bulan Ramadhan nanti.

Selamat menunaikan puasa Sya’ban

Catatan:

1.Puasa Sya’ban bisa dilakukan kapan saja (mutlak) selama bulan Sya’ban, terkecuali pada hari yang diragukan, yaitu satu atau dua hari menjelang Ramadhan.

2. Bagi yang ingin berpuasa pada hari Jum’at atau Sabtu, sebaiknya dibarengi dengan puasa sehari sebelum atau sesudahnya.

Wallahu a’lam
_________

Madinah 1 Sya’ban 1437 H
ACT El-Gharantaly

Anak dan Jaminan Rizki

ANAK DAN JAMINAN RIZKI

Allah SWT berfirman :

(وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ )
[Surat Al-Anaam 151]

dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (TQS.Al-An’am 151)

(وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ )
[Surat Al-Isra 31]

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. (TQS Al-Isra 31)

Dua ayat diatas, yang terdapat pada surat berbeda dalam Al-Qur’an, merupakan ayat yang mengabarkan bahwa kecukupan rizki kita dan anak-anak kita dijamin oleh Allah SWT.

Sekaligus mengisyaratkan pentingnya menjaga dan melestarikan keturunan manusia, juga larangan membunuhnya.

Menarik untuk direnungkan dibalik perbedaan susunan redaksi yang terdapat pada kedua ayat diatas.

نحن نرزقكم وإياهم
[Surat Al-An’aam 151]

Kamilah yang memberi rizki kepadamu dan kepada mereka (TQS. Al-An’am 151)

نحن نرزقهم وإياكم
[Surat Al-Isra 31]

Kamilah yang memberi rizki kepada mereka dan kepadamu (TQS.Al-Isra 31)

Berkenaan dengan perbedaan ini, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan

(ولا تقتلوا أولادكم خشية إملاق) أي لا تقتلوهم خوفا من الفقر في الآجل ولهذا قال هناك (نحن نرزقهم وإياكم) فبدأ برزقهم للإهتمام بهم أي لا تخافوا من فقركم بسبب رزقهم فهو علي الله

Makna surat Al-Isra 31 ialah janganlah membunuh anak-anak kalian disebabkan kalian takut miskin di kemudian hari. Dalam ayat ini, jaminan rizki untuk anak mereka Allah dahulukan penyebutannya, karena itulah yang menjadi pokok permasalahannya.

Dengan ungkapan lain, janganlah kalian takut jatuh miskin karena memberi makan mereka. Sesungguhnya rizki mereka dijamin oleh Allah SWT.

Adapun makna surat Al-An’am 151, masih menurut Ibnu Katsir, ialah kemiskinannya itu sedang dialami. Sehingga jaminan rizki untuk orang tuanya disebut terlebih dahulu.

Dengan kata lain, makna surat Al-An’am 151 ini, janganlah kalian membunuh anak-anak kalian disebabkan kemiskinanmu sekarang telah membuat kalian takut dalam memberi makan anak keturunanmu. Sesungguhnya Allah yang menjamin rizkimu dan rizki anak-anakmu.

Rahasia lain di balik perbedaan dua ayat ini, sebagaimana diungkapkan Dr. Ahmad Ahmad Badawi dalam Min Balaghatil Qur’an, surat Al-An’aam 151 ditujukan untuk orang tua yang miskin, supaya tidak takut dalam memberi makan anak-anaknya. Karena Allah SWT menjamin rizki bagi keduanya.

Adapun surat Al-Isra 31, ditujukan bagi orang tua kaya dan serba berkecukupan. Supaya mereka tidak takut jatuh miskin lantaran memberi makan anak-anaknya.

Demikianlah dua ayat ini menegaskan jaminan rizki bagi kita dan anak-anak kita. Tidak sepatutnya orang tua, baik saat kondisi miskin apalagi sedang berkecukupan, membunuh anak yang dilahirkannya karena kekhawatiran dalam memberi makan mereka.

Perihal haramnya membunuh anak juga ditegaskan hadits Rasulullah SAW berikut ini

حَدَّثَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ وَأَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ
( رواه البخاري )
Imam Bukhori meriwayatkan dari Utsman bin Abi Syaibah meriwayatkan dari Jarir dari Manshur dari Abi Wail dari ‘Amru bin Syurohbil dari ‘Abdullah ( bin Mas’ud ) telah mengatakan bahwa ia bertanya kepada Nabi saw : Dosa apa yang besar disisi Allah ? Jawab Nabi : ialah engkau jadikan adanya sekutu / tandingan bagi Allah padahal Dia-lah yang telah menciptakanmu. Kata Ibnu Mas’ud : Inikah yang paling besar, kemudian apa lagi Ya Rasulullah ? Jawab Rasulullah yaitu engkau membunuh anakmu sendiri karena takut ia akan makan bersama engkau. Kemudian apa lagi kata Ibnu Mas’ud ? jawab Rasulullah yaitu engkau berzina dengan istri tetanggamu.” ( HR. Bukhori) Allahua’lam bishowab.

1 2 3 4