Muasal Negara

Mulanya kosong melompong. Tak berpenghuni. Mungkin cuma hewan atau tumbuhan atau makhluk lain yang berkenan hidup di dunia ini. Di jagat bumi ini. Sampai suatu ketika, Nabi Adam dan Hawa yang harus turun ke bumi, melaksanakan perintah Tuhan. Berdua saja. Ditemani tumbuhan dan hewan yang berkeliaran di seputarnya. Sendiri, galau dan sengsara itu pasti.

Setelah sekian lama mengenyam di surga yang serba tersedia dan mewah. Adam dan Hawan menerima hukuman sebagai manusia yang telah beliau langgar saat di surga.Mulailah berpetualang dari tempat satu ke tempat lainnya. Tanpa mengenal lelah sambil tetus mohon ampun kepada Tuhan. Namun Tuhan punya rencana lain yanb tidak diketahui Adam.

Adam dan Hawa mulai mempunyai anak Habil dan Qobil. Iqlima dan Lubuda. Mereka berempat sudah ditentukan jodohnya. Sampai akhirnya Adam dan Hawa memiliki 40 anak. Mereka bergerombol membentuk komunitas. Sampai beranak pinak.

Sebagaimana hukum alam, saat tempat tinggal sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sandang, pakan dan papan mulai menipis, orang pasti mencari lahan baru yang lebih menjanjikan. Mereka membentuk koloni lagi, sehingga manusia membentuk kelompok yang disebut sebagai masyarakat. Karena kelompok satu dengan kelompok lain saling berjauhan, dan terus berkembang maka komunitas menjadi semakin banyak. Masyarakat inilah kemudian menamakan dirinya sebagai masyarakat yang memiliki kedaulatan.

Hukum alam lain mengatakan bahwa manakala masyarakat semakin tumbuh, maka akan tetjadi persaingan dalam menentukan pemimpin. Sebab masyarakat tanpa pemimpin, kehidupannya akan menjadi kacau. Tidak beraturan. Disinilah timbul pemimpin yang baru.Waktu terus berputar. Masyarakat yang memiliki pemimpin, saat itu sering disebut kerajaan. Karena otoritas raja sangat besar, sehingga konsep tumbuhnya masyarakat sangat dengaruhi oleh seorang raja atau ratu.

Dalam perkembangan berikutnya, raja tidak akan mampu kalai melakukan roda pemerintahannya. Maka diangkatlah beberapa pembantu raja yang pekerjaannya sudah spesifik. Bagian pertahanan, bagian pangan, kesejahteraan dan lain-lain.Cikal bakal raja yang dibantu oleh asistennya merupakan embrio dari munculnya sebuah negara. Salah satu sebab timbulnya negara ini karena, raja sudah tidak mampu melakukan fungsinya sebagai kepala pemerintahan.

Sebab lain karena perkembangan demokrasi yang berasaskan pada hak dan kewajiban setiap orang dihadapan masyarakat sama. Tidak ada yang lebih tinggi. Setiap warga memiliki peluang untuk menjadi seorangemimpin.Karena pertumbuhan antar negara berbeda, baik ekonomi, sosial ataupun budayanya, maka terjadilah perbedaan antar negara. Ada yang mengkatagorikan kaya-miskin, timur-barat, utara – selatan, maju – berkembang. Ada pembatas yang pasti mengapa dua buah negara atau lebih bisa dikatagorikan berbeda. Inilah perkembangam kehidupan manusia sejak lahir hingga berakhir di peraduan negara.

Strategi Belajar Jelang Ujian Nasional

Terlepas dari Ujian Nasional yang masih pro dan kontra, siswa tetap akan menghadapi unas. Sebagai guru dan juga sebagai orangtua tetap akan memberi dorongan kepada anak. Agar kelak memperoleh hasil yang memuaskan. Hasil unas yang baik, seperti memegang tiket untuk memasuki sekolah yang dianggap favorit.

Di Yogyakarta, hasil unas sudah dianggap mewakili prestasi siswa. Tetapi ada beberapa daerah yang tidak percaya dengan hasil unas. Mereka merekrut calon anak didik dengan melaksanakan seleksi sendiri. Hal ini terjadi karena tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah penyelenggara unas masih bias.

Beberapa waktu lalu, saya sempat melakukan survey kecil-kecilan tentang unas. Survey ini saya lakukan dengan obyek anak-anak khususnya kelas IX (3 SMP). Pertanyaanya cukup sederhana dan mendasar.

Pertanyaan pertama : Apakah Anda ingin lulus? Jawabannya 100 % ingin. Berikutnya saya lempar pertanyaan kedua : Apakah Anda sudah melakukan persiapan? 70 % anak menjawab belum. Untuk meyakinkan, saya tutup pertanyaan yang ketiga : Apakah Anda setiap hari belajar? 85 % anak menjawab tidak belajar.

Agar adil, maka dari pihak sekolahpun saya survey tentang persiapan mendampingi siswa dalam proses menempuh unas. Dimulai dari rapat bersama komite dan orangtua, bimbingan belajar (les), sampai doa bersama. Karena penggarapan lebih ke ranah manajemen, maka bisa saya katakan bahwa sekolah telah mempersiapkan dengan baik.

Terkait dengan wacana diatas, tulisan berikut ini hanya menyorot dari segi timing (pembagian waktu). Yaitu sejak siswa kelas IX masuk semester genap. Karena semua materi kelas IX telah diselesaikan pada waktu semester ganjil. Pemadatan pemberian materi dimaksudkan agar ada sisa waktu satu semester untuk mengulang kembali materi kelas sebelumnya. Lihat gambar berikut :

 

Kesalahan yang kami alami adalah pembagian waktu dan usaha yang dilakukan tidak proporsional. Pada gambar 1 menunjukkan bahwa, mulai masuk semester genap proses pembelajaran sudah dibuat kencang. Waktu yang tersedia sebenarnya cukup lama, namun karena dalam perjalanan nafasnya sudah ngos-ngosan, maka yang terjadi justru kontra produktif. Setelah ujian sekolah malah situasi berubah. Imbasnya justru pada saat jelang ujian nasional, tenaganya telah menurun.

Ini terbukti bahwa akhir-akhir ini anak sudah loyo. Manakala anak diberi sejumlah soal, anak sudah tidak bergairah lagi mengerjakan. Ia pasrah, dan akan memaksa guru untuk langsung membahas. Anak sudah tidak memiliki minat untuk berfikir.

Gambar 2, menurut saya adalah yang ideal. Tidak ngebut, tapi relatif konstan naik. Sejak awal siswa diberi dorongan untuk jalan. Di rentang tertentu, jalan cepat. Kemudian berlari-larian, hingga menjelang finis siswa larinya lebih kencang. 2-3 hari menjelang sampai pelaksanaan unas siswa berhenti untuk belajar. Kalau harus membuka-buka catatan, bukalah catatan-catatan ringkasan, atau mengingat lagi trik cara menjawab cepat.

Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yanh digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

Belajar dari Prof. Kusminarto

Ada pencerahan yang dapat memancar dari Dr. Kusminarto. Dosen MIPA UGM ini tampak sederhana dalam berbusana, santun dalam berbicara, namun dalam ilmu yang ditimbun. Beruntung orang yang dekat dengan beliau. Kerindangan ilmu akan menginspirasi dalam gerak langkahmu. Ilmu fisika yang dikuasai dapat diterapkan dalam bidang lainnya. Semula, ilmu fisika itu susah, sulit, ternyata dapat ditaklukkan hingga menjadi sahabat.
Ada 3 contoh penerapan fisika dalam kehidupan sehari-hari. Pertama jalan menikung. Supaya diperhatikan, jalan menikung ini bukan novel karya umar kayam. Tapi jalan yang biasa tiap hari kita lewati. Ada apa dengan jalan menikung? Banuak terjadi kecelakaan lalu lintas di jalan menikung. Apakah kurang trampilnya pengendara? Apa karen mgebut di jalan menikung? Atau disitu kebetulan ada yang menunggu. Makhlauk astral.
Dalam kajian fisika, jalan menikung ada hubungan yang erat dengan gaya sentrifugal. Gaya ini oleh pengendara atau penumpang dirasakan sebagai lemparan atau dorongan ke arah luar lengkungan. Rumusnya sederhana. Semakin cepat kendaraan meluncur pada tikungan, maka semakin besar pula masa yang tercerabut ke luar lengkungan. Agar stabil, maka harus ada keseimbangan antara massa benda, laju dan jejari lingkaran.
Supaya selamat saat mengendarai kendaraan di tikungan, maka ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu : konstruksi jalan harus dibuat miring. Pembuat jalan harus tahu benar formula untuk membuat jalan di tikungan. Bila jalan itu untuk laju kendaraan dengan kecepatan rata-rata 60 km per jam, maka kemiringan jalan harus dibuat kira-kira 29,5 derajad.
Kedua, Stroke. Penyakit yang dihindari oleh setiap manusia, tapi penyebab stroke selalu menjadi kawan karib. Stroke, kata dokter disebabkan oleh pola makan penderita. Karena terkait erat dengan tekanan darah dan kerja jantung. Penyebab stroke karena pembuluh darah otak yang pecah sebagai akibat dari tekaman darah yang tinggi. Biang keladinya adalah penyempitan pada pembuluh darahkarena pengedapan kolesterol di dinding pembuluh darah.
Apa peran fisika dalam kaitannya dengan stroke? Mengapa fisika tiba-tiba muncul dan ingin betbagi peran yang seharusnya ilmu kedokteran sebagai aktor utamanya. Dalam fisika dikenal dengan hukum Poiseulle. Hukum ini bekerja atas dasar hubungan antara debit air, (yaitu volume air mengalir tiap detik), kekentalan caiaran, panjang saluran, radius dan beda tekanan pada ujung-ujung saluran. Cara kerja rumus ini, agar tekanan turun maka pembuluh darah harus dilebarkan, atau darah dicairkan. Semula darahnya pekat, dibuat agar lebih cair. Agar pembuluh darah bebas hambatan dalam mengirim darah, maka pembuluh dijaga supaya tidak ada penebalan dinding pembuluh.
Ketiga Berat Badan. Siapa yang tidak ingin berbadan langsing? Atau ideal? Ada rumus yangbelum terbantahkan. Semakin meningkat pendapatan seseorang, akan berbanding searah dengan peningkatan berat badan. Kelebihan makan, lebih tepatnya kelebihan gizi hampir dirasakan oleh orang yang sudah berkecukupan. Apalagi golongan kelas menengah di Indonesia semakin melimpah. Apa ada suatu keharusan kalau makanan berlimpah diimbangi dengan badan yang subur? Untuk menuju Indonesia sehat tentu saja tidak.
Bergeraklah agar kalori terbakar. Energi yang diperlukan untuk bergerak sebesar 350 kalori sehari. Energi itu cukup untuk membakar tubuh seberat 13 – 18 kg setiap tahunnya. Hukum I Newton mengatakan bahwa pada dasarnya setiap benda memiliki sifat kelembaman, yaitu sifat memepertahankan keadaan geraknya. Untuk bisa bergerak diperlukan usaha atau energi. Semakin berat suatu benda, maka energi yang diperlukan semakin besar. Orang gemuk memerlukan energi yang banyak dibanding dengan orang kurus meskipun hanya untuk berjalan di sebuah lorong.
Menurut teori aktifitas, semakin gemuk semakin malas. Asas ini bermula dari “jika kegemukan itu sebagai penyebab malas beraktifitas bukan sebaliknya”. Tapi teori ini tidak berlaku umum. Banyak orang yang berbadan gemuk tapi aktif bergerak. Sebaliknya tidak sedikit orang kurus malas bekerja. Namun kalau yanh sudah terlanjur gemuk disarankan untuk melakukan diet. Bukan olah raga. Karena diet lebih efektif. Bayangkan, untuk menurunkan berat badan 4,54 kg. Untuk membakar kalori sebesar itu dengan cara bersepeda, ditempuh dalam waktu 35 jam, tanpa henti tanpa istirahat, tanpa minum dan makan.

Tahu (sedikit) Android

Beruntung saya terdampar di pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Berbasis Android. Kegiatan yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja bareng dengan APEC Learning Community Builders berlangsung di Wisma Eden 2 Kaliurang Sleman. Pesertanya tidak jauh berbeda dengan kegiatan yang senada. Disetiap kesempatan Jaringan Informasi Sekolah (JIS) selalu menjadi pelopor dalam setiap pemberdayaan manajemen informasi khususnya dalam bidang pendidikan.
Mengapa tidak sejak dulu, android dapat dijadikan basis untuk media pembelajaran. Padahal android sudah sementara waktu berkibar dalam teknologi informasi (TI). Karena memang kesmpatan baru kali ini. Dapat dipastikan para penggiat TI sibuk dengan pekerjaan di kantornya masing-masing.
Pelatihan kali ini diberi mantra Diseminasi. Mengapa bukan pelatihan yang biasa diapakai? Deseminasi menurut idYahoo adalah suatu kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Definisi ini memang lebih menitik beratkan pada motivasi. Bukan asal tunjuk dari atasan ke bawahan. Diperkirakan, Dinas Pendidikan Propinsi DIY belum berani menyelenggarakan pelatihan secara masal. Perlu ada kelompok tertentu yang harus eksis dalam pembelajaran berbasis android.
Tak pelak, android yang telah menggilas Symbian, saat ini merajalela di jagad maya. Penggunaan android di Indonesia menjadi kampium. Meski ada beberapa orang yang fanatic dengan Symbian. Karena dalam keadaan tertentu Symbian memang lebih tangguh. Namun android sangat bersahabat dengan pencipta aplikasi. Mengetahui dengan tepat pengguna android, aplikasi berbasis android terus menerjang bak badai agar user tidak berpaling dari yang lain. Machintos sekalipun.
Saya memang baru memakai android belum lama. Anehnya lagi, saya cuma pengguna pasif dari aplikasi yang telah tersedia. Belum sedikitpun muncul gagasan untuk membuat aplikasi. Sementara orang lain telah berkarib dengan android. Bahkan, sejak bangun tidur sampai menjelang tidur lagi, orang telah digiring dengan android. Seakan menjadi seorang buta dalam berjalan, tongkatnya ibarat android.
Beberapa waktu yang lalu saya telah up grade blog ini dari wordpress versi 3.xx menjadi versi 4. Versi terakhir yang telah kompatibel dengan android. Hasilnya lumayan. Browshing blog dari manapaun, kapanpun. Demikian pula saat posting. Tidak harus menunggu saat di rumah atau kantor. Keuntungannya, inspirasi tidak hilang. Jikalau memakai PC atau laptop atau netbook, inspirasi banyak yang hilang diterpa angin.
Jaman selalu berubah. Tidak ada yang abadi. Yang abadi hanya perubahan. Hari ini atau esok lusa pasti akan menemui teknologi informasi via android. Sayapun percaya, suatu saat android akan tergantika dengan yang lebih canggih. Jadi, mengapa harus menunggu esok hari, bila sekarang punya kesempatan untuk bisa.

Film Everest Mengajarkan Kehidupan

Beberapa tahun yang lalu saya pernah membaca buku tentang pendakian gunung tertinggi mount everest di Nepal. Buku itu sejenis catatan jalan seorang penulis. Tepatnya wartawan di sebuah surat kabar. Ia bertutur pengalaman mencapai puncak tertinggi di dunia. Karena seorang wartawan, tulisannya enak dibaca. Gaya turturnya runtut. Sayangnya buku itu cuma aku pinjam di sebuah warung peminjaman buku. Saya pernah mencoba dua kali ke warung tersebut, tapi gagal memperoleh buku itu. Saya juga tak lupa, kalau ke toko buku akan mencari buku tersebut. Hasilnya nihil. Andai saja ada pasti sudah kubeli.
Rasa kecewa karena tidak mendapatkan buku tersebut, sedikit terobati saat ada film Vertical Limit diputar di sebuah stasiun televisi. Meskipun tidak sama, tapi setidaknya pelipur rindu terlunasi. Apalagi beberapa minggu keudian, film tersebut ditayangkan lagi meski stasiun berbeda.
Rasa balas dendamku akan semakin terobati setelah kemarin aku melihat film EVEREST di bioskop. Film yang diangkat dari sebuah kisah nyata pada tahun 1996, kala sebuah rombongan beritikad naik ke puncak gunung tertinggi itu. Karena diangkat dari kejadian nyata, namun film toh harus mengangkat sebuah hiburan. Enak ditonton, dan diusahakan agar penonton seraya melakukan pendakian. Akibatnya animasi tak terhindarkan. Untunglah Hollywood jagonya kalau hanya urusan rekayasa.
Walaupun hanya mendapat predikat datar-datar saja dari kritikus film, setidaknya film everest ini mengungkit kembali sebuah kisah nyata. Atau membangunkan kembali film petualangan pendakian terekstrim di dunia. Kita masih ingat film Cliffhanger (1993) dan Vertical Limit (2000). Sebuah petualangan yang dianggap tidak mungkin. Karena ganasnya alam. Cuaca yang tidak bisa diprediksi. Badai bisa datang sewaktu-waktu. Karenanya, orang menyebuykan petualangan jemput kematian, meskipun telah dilakukan pelatihan yang amat ketat. Bila belum memenuhi standar kebugaran, sang pelatih tak akan merekomendasikan untuk naik.
Film Everest, menurut saya mengajarkan tentang kehidupan, kalau harus dikomparasikan dengan kejadian sehari-hari yang hampir setiap saat kita jumpai. Pertama adalah focus. Dikisahkan dalam film itu, Rob Hall diperankan oleh Jason Clarke adalah seorang instruktur pendaki gunung. Rob, mempersiapkan diri sepenuh hati paling tidak 4 bulan. Ia memastikan setiap anggotanya untuk menjaga stamina dan persiapan mental. Rob memang harus memilih salah satu. Mendaki atau menunggu kelahiran anak pertamanya. Jan, sang istri diperankan oleh Keira Knightey sampai harus mewanti wanti agar Rob selalu hati-hati karena ditunggu sang buah hati. Namun sebagai seorang instuktur profesional ia meman harus memandu pendaki lainnya.
Persiapan yang matang adalah ajaran kedua. Petualangan pendakian dengan status hidup-mati perlu dibekali ilmu. Tak sekedar tekad dan tersedianya finansial. Walaupun dalam hidup ini kita menjalani kebiasaan yang terus menerus, persiapan mutla diperlukan. Karena keadaan kemarin breda dengan hari ini, apalagi esok hari.
Back Weathers diperankan oleh Josh Brolin adalah seorang miyarder. Dalam kisah itu, ia gagal mencapai puncak. Bahkan ia terkapar dan membeku bersama pendaki lainnya. Dua hari tak bergerak. Ia pun dinyatakan tewas. Tuhan menghendaki lain. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, ia terhuyung menuruni tebing curam sendirian. Diprediksi tak akan mampu menuju kamp di bawahnya. Namun istrinya menghendaki lain. Karena orang kaya raya, segalanya menjadi mungkin. Dijemputlah back dengan sebuah helikopter.
Ketiga, kerja sama. Ungkapan berat sama dipikul ringan sama dijinjing sangat tepat sebagai gambaran untuk saling tolong menolong. Untuk bisa menjejakkan kaki di puncak everest adalah obsesi semua maniak pendaki gunung. Semua pendaki dari segala penjuru dunia akan merindukan yang amat sangat gunung tertinggi itu. Mereka pasti memilih waktu yang tepat untuk menaklukkan. Bulan Mei adalah waktu favorit. Karena diperkirakan suhu dan cuacanya tidak ekstrim. Namun sekali lagi itu perhitungan manusia. Realisasinya bisa datang tak terduga. Badai salju adalah momok yang paling ditakuti. Karena para pendaki menginginkan waktu yang hampir bersamaan, diperlukan kerja sama antar kelompok.
Rob, sebagai pemeran utama, menawarkan kepada kelompok yang lain agar berjalan bersama dan saling membantu. Dalam benaknya sudah diprediksi, bahwa tidak semua pendaki lulus mencampai finish. Diperlukan bahu-membahu, terutama kebutuhan finansial, yakni oksigen. Seperti yang telah diduga. Ada yang menerima tawaran, ada yang menolak.
Demikian pula dalam kehidupan. Menerima dan menolak itu sudah biasa. Hanya saja kalau argumen yang telah kita tawarkan dengan meminimalisir kerugian, tetap saja ditolak, janganlah putus asa. Sebaliknya, manakala ada orang lain memberi solusi yang lebih baik, tidak ada salahnya kita mengikutinya. Pada akhirnya semuanya berakhir pada tujuan yang dikehendaki.

Culture Shock

Istilah culture shock marak tetjadi pada tahun 90 an. Ditandai dengan booming teknologi komputer dan disusul teknologi informasi. Penemuan internet menambah terperangahnya manusia yang gagal paham komputer. Orang dibuat tercengang.
Betapa mudahnya pekerjaan dibantu dan digantikan dengan sistem komputerisasi. Sistim manual ýang butuh tenaga manusia menjadi lebih tak berarti dengan kehadiran komputer. Hitungannya bukanlah deret hitung melainkan deret ukur. Kemampuannya berlipat ganda. Jangan heran bila banyak orang yang hidup terasing.
Orang yang tidak mau tahu perihal teknologi komunikasi bukan saja dia telah mengasingkan diri dari budaya, tetapi berani bunuh diri dari keterasingan sosial. Karena teknologi adalah anugerah. Sesuatu yang wajib disyukuri, dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Dalam bahasa agama sering disebut barakah. Orang yang tidak menerima barakah, padahal sudah tampak nyata didepan mata diberi predikat kufur.
Culture shock atau gagap budaya kekinian bukanlah berlangsung seketika. Bukan kondisi kaget seketika, namun akan mengalami heran terus menerus. Berkelanjutan setiap saat. Karena modern akan berlangsung setiap saat. Akhirnya hanya akan menjadi penonton. Masih lumayan penonton yang aktif. Gagap budaya seperti penonton yang kalah dan terpinggirkan.
Masih hangat demo sopir taksi konvensional yang tidak menerima kehadiran on line. Pengojek lawas vis  a vis gojek. Itu semua karena berawal dari gagal menerima modernitas informasi. Teknologi ini akan terus berkembang seiring dengan laju perkembangan jaman. Jasi memang benar kata Reinald Kasali, bahwa mau tidak mau harus bersahabat dengan kemajuan jaman.

1 6 7 8 9