Pemekaran Ekstra Kurikuler

Kegiatan ekstra kurikuler merupakan pendamping dari kurikuler. Kurikuler adalah sarana untuk pelaksanaan kurikulum yang lebih dominan dalam ranah intelektual atau teori. Namun tidak semua anak menguasai teori yang diajarkan oleh seorang guru. Ada beberapa siswa yang lebih lihai dalam ketrampilan. Untuk menjembatani diperlukan itikad yang tulus disertai dengan perencanaan yang matang. Karena semua potensi anak harus diwadahi untuk mendukung perkembangan anak agar optimal.
Tugas sekolah mengoptimalkan potensi anak baik yang bersifat konseptor maupun sampai tingkat ketrampilan. Penerapan kurikuler dan ekstra kurikuler mestinya seimbang. Tidak boleh dibuat berat sebelah. Sekolah yang mementingkan kegiatan penalaran ilmiah saja tidak cukup arif. Demikian pula kalau sekolah lebih cenderung hanya mengupayakan ketrampilan. Keduanya harus sejalan seiring.
Realitas yang terjadi, sekolah lebih banyak menangani kegiatan kurikuler yang sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Bangsa yang cerdas dimaknai pandai teori yang diajarkan di sekolah. Untuk menjadi adil, sekolah hanya mampu menambah jam pelajaran setelah jam pembelajaran usai. Beruntunglah bahwa kurikulum telah menampung kegiatan ekstra kurikuler yang ditempatkan lebih terhormat. Artinya bahwa ekstra kurikuler memiliki bobot yang sebanding dengan kurikuler.
Memang membicarakan ekstra kurikuler tak pernah tuntas, meski dipandang dari sudut proporsional waktu. Bila prestasi tak moncer, waktu dan sarana selalu menjadi alasan. Padahal ketrampilan sangat berbeda jauh dari penalaran ilmiah. Ketrampilan sangat membutuhkan kontinuitas. Siswa yang mampu mencapai puncak prestasi, selalu berawal dari kegiatan yang rutin.
Sekolah terkadang juga kurang peka terhadap perkembangan lingkungan. Ada kegiatan ekstra kurikuler yang sudah ketinggalan jaman, masih dipertahankan menjadi salah satu pilihan anak. Sementara banyak kegiatan yang digandrungi anak muda, malah luput dari perhatian sekolah. Antara minat dan penyediaan kegiatan di sekolah tidak nyambung. Sekolah kuran respon dengan peminatan.
Beberapa tahun terakhir, ternyata aktifitas anak-anak semakin beragam. Melukis, membuat poster atau sejenisnya mungkin sudah naik tingkat bila dibandingkan dengan puluhan tahun yang lalu. Ketrampilan komputasi, semakin marak peminatnya. Berbagai ajang kompetisi juga sudah dipertandingkan. Saya akui bahwa sekolah yang telah siap dengan sarana komputasi lebih besar harapan untuk memperoleh predikat juara.
Pengaruh youtube sangat signifikan terhadap kreatifitas perkembangan audio visual. Dokumen yang bersifat video bisa di share di youtube atau sejenisnya. Semangat orang untuk berbagi atau mungkin bisa dikatakan pamer, antusiasnya luar biasa. Berbagai ajang kompetisi sangat terbantu dengan media sosial berbasis video.
Imbas dari media sosial inilah, banyak bermunculan kompetisi antar siswa dalam pembuatan film pendek. Sebagaimana lukisan, menulis cerpen, membuat komik, pembuatan film pendek memiliki arti yang sangat penting bagi kreatifitas siswa dalam pengenalan lingkungan. Kepedulian siswa dalam menganalisa perubahan sosial dapat terdokumen lewat video. Sekolah semestinya peduli terhadap siswa yang mampu mengembangkan ketrampilannya yang diujudkan dalam bentuk ekstra kurikuler.

Blue Print Perekonomian Indonesia

Pemilihan Presiden tahun 2014 diyakini sebagai pilpres yang paling brutal dari segi saling serang menyerang. Andai saja ada 3 calon atau lebih mungkin tidak separah yang baru saja kita laksanakan bersama. Karena siapa lawan siapa kawan tampak jelas pemisahnya. Huhungan pertemanan yang telah dirajut begitu lama, sekarang luruh dan berantakan hanya karena perbedaan pilihan. Meskipun sebenarnya pemilih tidak merasakan secara langsung efek dari pilpres. Dulu petani sekarang tetap petani. Dulu karyawan belum ada jaminan akan naik menjadi pimpinan. Sama saja.
Persoalan bagi yang mampu berfikir cerdas, apa benar dengan pergantian presiden lantas akan berubah seketika? Apa setelah pemilihan usai, lantas kesejahteraan dari segi finansial akan tercukupi? Api jauh dari panggang. Tingkat kehidupan ekonomi dalam keluarga tidak cukup signifikan dapat meningkat bila terjadi pergantian presiden.
Ada yang ironis di kalangan kita. Bila berbicara masalah ekonomi, maka telunjuk tangan kita akan mengarah ke menteri keuangan, menko ekuin, perdagangan, menko kesra. Kita lupa bahwa perekonomian yang sedang kita nikmati ini telah tercetak dari perencanaan tahun sebelumnya. Perekonomian yang dibangun telah dipersiapkan secara matang oleh tim ekonomi negara. Laju ekonomi tidak berdiri sendiri di tahun berjalan. Tingkat pertumbuhan dapat dibaca melalui grafik. Bahkan untuk 3 tahun kedepan kesejahteraan masyarakat dapat diteropong sedari sekarang.
Adalah MP3EI atau Masterplan for Acceleration and expansion of Indonesia’s Development. Mengkaji rencana induk ambisius dari pemerintah Indonesia untuk mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat. Mengapa ada kata ambisius? Karena dibanding dengan negara sesama asia tenggara, negara Indonesia masih belum duduk sejajar semisal dengan Malaysia. Sehingga wajar bila diibaratkan arena balapan, maka perlu mesin pendorong agar cepat sampai ke tempat tujuan. Masterplan ini dibuat semata-mata hanya supaya Indonesia dapat mencapai kesejahteraan lebih awal. Bukan karena parpol A. Karena itu tim ino terdiri dari orang profesional tanpa memandang latar belakang.
Indonesia sangat membutuhkan gambaran ekonomi yang akan menimbulkan kesejahteraan untuk masa depan. Dibutuhkan prediksi yang akurat agar kebutuhan untuk mencapai tujuan bisa terealisir, atau kalau meleset tidak terlalu banyak. Tim ini terdiri dari berbagai ragam tingkat disiplin, karena tim akan melakukan analisis berdasatkan potensi demografidan kekayaan sumber daya.
Kalau masyarakat hanya kenal menteri keuangan, menko ekuin maupun kesra, tak perlu disalahkan. Karena yang dipublikasikan memang hanya itu. Adapun tim MP3EI tidak dikenal. Jangankan programnya. Apalagi timnya. Padahal kinerja mereka sangat dibutuhkan dan diketahui oleh masyarakat. Rencana 2 tahun kedepan harusnya diketahui publik. Agat masyarakatpun mampu menyesuaikan diri. Presidenpun harus menyesuaikan diri dengan hasil kajian MP3EI. Presiden sebagai kepala pemerintahan akan lebih baik mengurui kehidupan bermasyarakat dan berpolitik. Pesta demokrasi boleh berjalan sesuai dengan waktunya. Kegiatan ekonomi biarlah berjalan sesuai dengan dengam rencana.

Pola Bilangan dan Ritme Kehidupan

Pembaca pasti tahu barisan ke-10 dari pola bilangan berikut : 2, 5, 8 … Mengapa? Karena barisan bilangan tersebut memiliki pola, yaitu selalu ditambah 3. Demikian pula pada model barisan berikut : 216, 108, 64 … kita akan mengetahui dengan tepat bilangan pada baris ke-8 yaitu 2.
Demikian model atau pola barisan matematika yang sering pula disebut dengan deret.
Barisan angka-angka tersebut bila kita analogika  dengan ritme kehidupan memiliki kesamaan. Sejak masih kanak-kanak hingga usia dewasa. Step demi step bisa ditebak. Pada usia sekian akan mengalami kejadian seperti apa. Pada umur tertentu seseorang akan mengalami apa. Karena pada dasarnya ritme hidup manusia bisa diduga.
Hidup ini sesungguhnya berjalan linier. Waktu demi waktu akan ada peristiwa tertentu dan mirip. Sedari pagi, siang hingga petang, kejadiannya lari dari itu ke itu. Seperti lingkaran. Kalau titik tengah dianggap sebagai pangkal, maka ketika berjalan dan berlari tak akan jauh dari pangkal. Ujungnya tidak akan menjauh atau mendekat. Dari sudut nol akan kembali lagi pada sudut 360 derajad.
Orang bilang tidak bisa merubah mind set. Nyaman di zona tertentu. Takut leluar dari garis lingkaran. Keteraturan adalah prinsip hidupnya. Ibarat seutas tali, kendalinya tak pernah mengalami perpanjangan. Pemekaran berarti seperti petaka. Dalam hidup tak mau diatur-atur oleh orang lain.
Berbeda dengan orang yang memiliki tali seperti karet. Tarik-ulur seperti permainan. Keluar dari zona lingkaran ibarat sebuah wisata. Selalu mencoba hal baru. Jalur nyaman tak lagi empuk untuk diduduki. Ia selalu mencari lahan baru agar tempat tinggal bisa leluasa. Berwisata ditempat baru selalu menjadi obsesinya. Ia mampu berfikir tidak linier. Kata Edwar De Bono mampu berfikir lateral. Membangun model baru. Mencoba sistem baru.
Orang yang demikian dalam deret matematika sering diibaratkan barisan tidak lazim. Misalnya deret yang memiliki beda bilangan pecahan. Meskipun bedanya selalu tetap tapi cukup rumit perhitungannya. Atau barisannya negatif. Misalnya : -25, -23, -19, -17, -13 ….. di barisan ini meskipun alurnya tetap tapi bedanya mengalami perubahan pada step tertentu.

Merasakan Kehadiran Organisasi Guru

Tanggal 25 November merupakan hari guru. Besok, kelahiran organisasi guru diperingati oleh segenap pimpinan dan anggotanya. Di Yogyakarta sendiri, dalam kalender pendidikan, tanggal 25 november diberi tanda, sebagai hari libur untuk semua jenjang sekolah. Untuk memperingati hari guru, ada baiknya saya mengenalkan organisasi guru menurut data yang saya ketahui.

Saat ini ada 4 buah organisasi guru, baik yang diakui oleh pemerintah maupun yang tidak diakui. Mereka diakui karena memiliki ijin pendirian. Keempat organisasi guru itu memiliki visi yang sama yaitu memperjuangkan nasib guru. Jadi, hingga kini, nasib guru diperhatikan oleh organisasi guru. Kalau Anda sebagai guru, merasa belum diperhatikan, berarti oraganisasi itu belum membumi, atau Anda sendiri yang memang belum bergabung. Mereka juga sepakat memperjuangkan peningkatan kualitas guru.

Organisasi adalah sebagai alat perjuangan untuk mencapai visi dan misi atau lebih tepatnya adalah mencapai cita-cita. Bila cita-citanya belum tercapai, maka berorganisasi itu masih perlu, bahkan harus lebih ditumbuh kembangkan lagi. Berorganisasi dilindungi oleh undang-undang.

Melalui beroraganisasi, guru akan terus mempertahankan eksistensinya. Bagi guru yang senang berorganisasi dan memiliki itikad baik untuk memperjuangkan visi dan misinya, tidak salah untuk memasuki salah satu organisasi guru dibawah ini :

  1. PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)

PGRI adalah organisasi tertua yang mewadahi profesi guru di Indonesia. Berdiri pada tanggal 25 November 1945. Organisasi ini telah merasakan saat berdirinya republik ini, turut serta dalam perjuangan mempertahankan Negara dari rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI), merasakan masa orde lama, sampai ikut membesarkan pemerintah orde baru. Sekarang, disebut-sebut juga sebagai pundi-pundi suara untuk memepertahankan pemerintahan hasil reformasi.

PGRI ini mengusung visi : ” Terwujudnya organisasi mandiri dan dinamis yang dicintai anggotanya, disegani mitra, dan diakui perannya oleh masyarakat”. Hanya saja sampai saat ini, PGRI masih belum bisa melepas dari genggaman pemerintah. Keduanya bersimbiose mutualisme. Saling menguntungkan. Namun  demikian, kegiatan yang disemarakkan oleh PGRI telah banyak dinikmati oleh kalangan guru.

  1. IGI (Ikatan Guru Indonesia )

Ikatan Guru Indonesia (IGI)  juga organisasi resmi. IGI adalah organisasi profesi guru yang diakui oleh pemerintah. Mempunyai  kelengkapan organisasi seperti : AD/ART, program kerja, pengurus dll. IGI memiliki visi “memperjuangkan mutu, profesionalisme, dan kesejahteraan guru Indonesia, serta turut secara aktif mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses lahirnya IGI bukan untuk menandingi keberadaan PGRI.

Dibandingkan dengan PGRI, umur IGI masih sangat muda. Namun kehadirannya sudah tampak dirasakan oleh sebagian guru. Lewat beberapa seminar, loka karya, pelatihan, kursus dll. Banyaknya anggota masih kalah jauh dengan PGRI yang sudah malang melintang melintas zaman.

  1. FGII (Federasi Guru Independen Indonesia)

FGII adalah organisasi profesi guru dan/atau serikat pekerja profesi guru yang bersifat terbuka, independen, dan non Partai Politik. Data yang saya peroleh, oraganisasi ini dipimpin oleh Suparman. Tujuannya adalah terwujudnya guru profesional yang mampu mendorong sistem pendidikan demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

FGII ini sebenarnya gabungan dari beberapa organisasi guru. Pada tanggal 17 Januari 2002 FGII ini lahir, tepatnya di Tugu Proklamasi Jakarta.

  1. FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia)

FSGI lahir sebagai akibat dari persoalan pendidikan di Indonesia yang jalan di tempat. Ade Irawan dari Koalisi Pendidik Indonesia Corrption Watch (ICW) sebagai penggagas lahirnya organisasi ini. Lahir pada tanggal 23 Januari 2011 dan dipimpin oleh Retno Listyarti. Memang masih sangat muda. Kebijakan yang sangat keras menohok pemerintah adalah tentang ujian nasional dan BOS.

Membaca, Menulis dan Berhitung

Ketika Uni Sovyet (Rusia) berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik, Amerika Serikat meradang. Kecemasan yang menghantui Amerika. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena setelah diteliti ditemukan bahwa proses transformasi ilmu di sekolah-sekolah mengalami kegagalan. Oleh karena itu mereka mulai kembali mereksonstruksi pendidkan dengan program bernama go back to basic. (prof. Suyanto dan Drs. Djihad Hisyam, M.Pd. dalam bukunya Refkeksi Dan Reformasi Pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III).

Program dan doktrin pendidikan itu berisi muatan yang sederhana, yaitu reading, writing and arithmetik. Mengapa yang dikedepankan justru reading dan writing, bukan arithmetika sebagai ilmu dasar dalam pengembangan teknologi? Mereka menganggap bahwa kunci untuk menguasai iptek adalah kemampuan berkomunikasi. Dengan penguasaan komunikasi diharapkan kebijakan nasional langsung dapat diketahui oleh masyarakat.

Komunikasi ternyata memegang peranan yang sangat fundamental dalam membangun kerangka kebudayaan bangsa dan mewujudkan perkembangan teknologi. Dengan menguasai kemampuan berkomunikasi, maka dapat mengungkap rahasia-rahasia alam di sekitarnya. Tanpa kemampuan berkomunikasi dengan baik, jangankan mengungkap rahasia alam, memahamipun tidak pernah bisa. Sehingga setiap siswa harus memiliki kompetensi dalam berkomunikasi. Kemampuan menawarkan ide lewat komunikasi, dalam kurikulum 13 (kurtilas) menjadi salah satu tonggak keberhasilan proses belajar mengajar.

Seberapa besar kemampuan komunikasi dikalangan kita? Atau bisa juga diajukan pertanyaan benarkah kita sudah berkomunikasi dengan baik dan teratur?

Bahasa lisan misalnya. Banyak kita jumpai dalam bercakap-cakap kurang benar, sehingga harus mengulang dua atau tiga kali kalimat yang telah kita ucapkan. Hal ini menimbulkan banyak energy dan waktu terbuang. Terkadang, dalam berkomunikasi  kita juga harus memakai alat bantu dengan bahasa isyarat untuk meyakinkan ucapan. Itu baru bahasa percakapan.

Marilah kita tengok bahasa yang disampaikan dalam forum resmi. Didalam lingkungan terbatas, atau komunitas formal, hanya orang-orang yang sudah banyak membaca saja yang dapat menguasai komunikasi. Karena dengan membaca (apalagi menulis), ia memiliki banyak perbendaharaan kata dan referensi yang bisa diungkapkan.

Bagaimana kalau kemampuan menulis? Pembaca lebih mengetahui.

Dari keadaan yang demikian, usaha apa yang perlu kita gapai agar mendapatkan generasi yang mampu membaca, menulis dan trampil berhitung? Ada dua wacana yang mesti ditempuh.

Pertama : Negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mewajibkan semua warga negara untuk membaca. Untuk aset masa depan, sekolah mesti digarap dengan sungguh-sungguh. Perpustakaan difungsikan sebagaimana mestinya. Perpustakaan bukan gudang buku, perpustakaan juga bukan sebagai alat untuk memperoleh akreditasi yang baik.

Kepala Sekolah mewajibkan kepada guru untuk membaca dan merangkum. Hasil rangkuman dipresentasikan didepan guru lain dalam sebuah pertemuan rutin. Bila guru telah melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, siswa secara otomatis akan mengikuti, tanpa harus diperintah.

Kedua : Orang tua, wajib menyisihkan sekian persen uang belanja untuk pembelian buku  bacaan keluarga. Mengapa wisata bersama keluarga atau long weekend dapat terlaksana tanpa hambatan yang berarti, namun membeli buku tidak mampu? Mengapa sangup mengganti handphone yang jauh lebih bagus, sedangkan mengoleksi buku tidak mampu?

Membaca buku harus dilandasi dengan kemauan yang kuat. Koleksi buku adalah sebuah aset untuk masa depan. Menciptakan keluarga yang memiliki wawasan luas harus menjadi idaman. Dengan memiliki keluarga yang mempunyai nafsu untuk selalu membaca dan sekaligus bisa menulis, maka membangun budaya gemar membaca dan menulis semakin nampak di depan mata.

Optimalisasi Kecerdasan Spiritual

Aristoteles sebagai seorang filosof dan psikolog boleh berbangga telah menemukan metode untuk mengukur kecerdasan manusia, yaitu dengan mengukur Intellegence Quotient (IQ). Dalam perjalanan IQ ini dikritik, karena menafikan sisi kemanusiaan. Hanya otak yang penuh kalkulasi yang bisa diandalkan.

Beruntung Daniel Goleman menemukan sisi lain tentang keberadaan manusia yaitu Emotional Quotient (EQ). EQ merupakan prasarat dasar untuk penggunaan IQ. Pada akhir abad keduapuluh, ada interseksi antara psikologi, neurologi, ilmu antropologi dan kognitif untuk menunjukkan sisi yang ketiga yaitu Spiritua Quotient (SQ). Ulasan di bawah ini hanya akan membahas bagaimana mengoptimalkan SQ.

Berdo’a. Berdo’a bukan berarti lemah. Do’a justru akan mendorong meningkatkan motivasi dalam memacu usaha seseorang. Berdo’a juga sebagai salah satu yang membuat kita sadar akan keberadaan sang Khalik.  Dialah yang mencipta, dan Dialah kita akan kembali.

Ritual. Ritual adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena hanya Dialah satu-satunya tumpuan hidup. Pelaksanaan ritual tentu berbeda cara antara satu dengan lainnya. Tapi inti dari ritual adalah dalam rangka mohon pertolongan agar mengenyam kehidupan ini semakin termotivasi.

Merrenung. Merenung Dalam melakukan do’a tentu ada caranya. Ada medianya. Pola yang sama dengan berdo’a atau melakukan ritual tidaklah cukup. Orang membutuhkan kondisi yang rileks tanpa beban apapun agar tercapai apa yang menjadi idamannya. Oleh karenanya situasi tenang, rileks yaitu dengan merenung.

Membaca. Membaca Untuk menambah wawasan perlu membaca buku. Untuk berkhidmat agar mampu membedakan benar dan salah dengan membaca buku. Untuk menjadi trampil untuk kemaslahatan di dunia ini perlu membaca buku. Jadikan buku sebagai sahabat yang paling setia dalam suka maupun duka.

Menulis. Menulis Tahapan berikutnya dengan menulis. Sebab dengan menulis berarti separo kehidupan telah tercapai. Pena menjadi sahabat yang setia dalam keadaan apapun. Goresan pena akan membuat beberapa titik untuk melukis peradaban dunia. Bersendawa Mengobrol dengan orang lain mungkin tak akan pernah mengenal titik. Yang ditemui Cuma koma. Sebab masih ada kalimat yang harus ditulis berikuitnya.

Ngobrol. Mengajak teman dalam ngobrol berarti separo keperjaan telah usai, dengan catatan kita juga harus pandai memilih teman ngobrol Membantu orang lain Hidup tidak sendirian. Perlu sandaran orang lain agar tegak dalam menghadapi berbagai rintangan. Tolong menolong adalah kata kunci demi tegaknya masyarakat yang berbudaya. Budaya dapat menuntun kehidupan menjadi lebih baik.

Pendidikan dan Kebudayaan

Dimasa rezim dari pada Soeharto, keberadaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan lama bercokol. Menteri boleh berganti tapi nama departemen tetap sama. Departemen yang mengurusi orang Indonesia supaya menjadi orang yang pinter dan berbudi. Tapi mestinya tidak usah pakai dan. Cukup pakai atau. Kalau memakai dan berarti orang yang berpendidikan dan berkebudayaan munculnya mestinya sama. Yang terjadi banyak yang pinter tapi sedikit yang berbudi. Sehingga cocoknya menjadi Departemen Pendidikan atau Kebudayaan.

Reformasi bergulir dengan segala korbannya, nama departemen ini bercerai dengan alasan karena pendidikan dan kebudayaan memiliki bidang garap yang berbeda. Pendidikan harus dikelola sendiri, kebudayaan harus digarap tersendiri. Otomatis menteripun juga berbeda. Satu menteri mendalami sekolah, sejak TK sampai S-3. Menteri kebudayaan memberdayakan seni dan budaya.

Setelah masing-masing bubar jalan, mengerjakan urusan masing-masing, ternyata mengalami kebingungan sendiri. Kebudayaan semakin merana dan tak tentu arahnya, sementara di pihak pendidikan semakin kacau, terutama setelah kekuatan ekonomi mulai masuk. Walhasil nama departemenpun rujuk lagi.

Arief Rahman Hakim, seorang pakar pendidikan  mengatakan : “ Sebaiknya jangan dipisahkan. Program Pendidikan membuat Kebudayaan yang baik, dan Kebudayaan melahirkan Pendidikan yang Mulia”. Lebih jauh, beliau meminta agar  Tujuan Pendidikan untuk membentuk masyarakat yang berbudaya dan beradab. Jika sudah berbudaya maka secara otomatis akan mendorong terbentuknya masyarakat yang berkecukupan.  Pendidikan dan Kebudayaan ibarat seperti pohon ilmu yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Yang harus dipertegas adalah konsep dan filosofinya.

Bila merujuk pada definisi kebudayaan, banyak sekali yang menelurkan konsep kebudayaan. Maestro kebudayaan, Koentjaraningrat misalnya mengatakan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat. Sedangkan Ki Hajar Dewantara bertutur bahwa kebudayaan adalah buah budi manusia. Yaitu hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, zaman dan alam. Keduanya merupakan bukti bahwa kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Itulah konsep kebudayaan menurut ahli kebudayaan. Sulit kan mencernanya? Sama.

Dari berbagai pendapat tokoh diatas, maka bisa ditarik benang putih bahwa pendidikan dan kebudayaan itu adalah : 1. Nafas Kita. Pendidikan adalah belajar. Belajar memerlukan waktu 24 jam. Setiap detik harus merupakan pembelajaran. Konsep ini telah berhasil dilaksanakan oleh pondok pesantren dan individual. Rumah tangga yang berhasil adalah mereka menerapkan pola belajar 24 jam. Belajar di sekolah mungkin hanya sebagai referensi, selanjutnya di kembangkan di rumah. 2. Masyarakat yang menilai. Budi pekerti atau yang sekarang sedang ngetop adalah pendidikan karakter (Walaupun sebenarnya saya kurang setuju menyamakan budi pekerti dengan karakter). Budi pekerti sebaiknya diserahkan kepada masyarakat. Masyarakat yang mengelola sekaligus menilai. Sebab budi pekerti memang masih tergantung dengan situasi dan kondisi setempat. Tapi secara umum bahwa satu daerah dengan daerah yang lain memiliki ruh yang sama yaitu akhlak yang luhur.

Akhlak mengajarkan manusia menjadi manusia yang sesungguhnya. Budi pekerti meletakkan posisi manusia. Dengan orang yang lebih tua harus bersikap tertentu, dengan umur yang sejajar dan umur yang lebih muda menempatkan diri dengan kedudukan tertentu. Tradisi yang adi luhung juga mendidika agar cinta terhadap alam dan makhluk yang lain.

1 4 5 6 7 8