Menunggu Realita Nawa Cita (2)

Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah terpilih secara resmi menjadi Presdien dan Wakil Presiden RI. Mereka berdua, dalam masa kampanyenya merancang sembilan agenda prioritas, yang lebih dikenal dengan Nawa Cita. Program ini menawarkan prioritas perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan. Tentu saat ini tidak salah bila 9 program itu kita tagih dengan cara mencicil. Program apa yang telah dilaksanakan.
Bidang kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial lewat wahana pendidikan menempati prioritas ke-9, yaitu : Memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.
Program ke-9 ini dapat dijabarkan menjadi tiga bagian yaitu :
Memperkuat pendidikan ke-bhinekaa-an dan menciptakan ruang-ruang dialog antar warga.
Kata kunci program ini adalah ke-bhineka-an dan dialog antar warga. Ke-bhineka-an dapat disederhanakan menjadi keanekaragaman namun terangkum menjadi satu kesatuan. Bahasa, budaya, ragam hayati, lingkungan, di seluruh daerah di Indonesia adalah berbeda. Itu pasti. Namun dengan keanekaragaman itulah harus diciptakan sebuah ruang atau sarana untuk saling memahami. Bukan menonjolkan satu etnis tertentu. Pendidikan adalah wahana yang sangat cocok untuk dialog agar saling memahami dan menghormati. Karena dalam pendidikan hampir ditemui keadaan yang setara. Umur sederajad, kesipan mental setara, penerimaan pengetahuan yang baru hampir bersamaan. Sehingga dari ranah pendidikan sangat memungkinkan membuat wacana tentang kesepahaman dalam hidup bersama.
Mengembangkan insentif khusus untuk memperkenalkan dan mengangkat budaya lokal. Insentif, menurut Pangabean adalah kompensasi yang mengaitkan gaji dengan produktivitas . Insentif dapat berupa penghargaan. Intensif adalah pahala dalam bentuk kelebihan karena seseorang melakukan sesuatu. Dalam pendidikan, intensif tidak harus berupa uang. Intensif bisa berupa pemberian nilai, yang nantinya akan digunakan sebagai amunisi untuk naik pangkat atau golongan. Penghargaan ini diberikan karena kelebihan seseorang dalam menguasai sebuah bidang atau profesi.
Meningkatkan proses pertukaran budaya untuk membangun kemajemukan sebagai kekuatan budaya. Tidak ada orang yang bisa mendefinisikan dengan tepat arti budaya. Budaya itu adalah nafas. Setiap saat bisa melakukan sesuatu, dari yang hanya selalu tetap atau selalu berubah. Budaya harus didialogkan dengan budaya lain, agar saling kenal. Dengan demikian budaya harus dipublikasikan kepada orang lain, agar mereka mengenal kita. Dari sini akan tumbuh sikap saling menghormati.
Program Prioritas
118 Desa Adat, 282 Komunitas Budaya dan 3 Cagar Budaya direvitalisasi
2.500 Cagar Budaya dilestarikan/diregistrasi
30 Museum dibangun
6 Taman Budaya direvitalisasi
10 Rumah Budaya dibangun/disrintis di luar negeri
Pembuatan film dokumenter untuk pendidikan karakter

Menunggu Realita Nawa Cita (1)

Pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla telah terpilih secara resmi menjadi Presdien dan Wakil Presiden RI. Mereka berdua, dalam masa kampanyenya merancang sembilan agenda prioritas, yang lebih dikenal dengan Nawa Cita. Program ini menawarkan prioritas perubahan menuju Indonesia yang berdaulat secara politik, serta mandiri dalam bidang ekonomi dan kepribadian dalam kebudayaan. Tentu saat ini tidak salah bila 9 program itu kita tagih dengan cara mencicil. Program apa yang telah dilaksanakan.
Bidang pendidikan, seperti dalam agendanya menempati prioritas ke-5, yaitu : Meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan dengan program “Indonesia Pintar”; serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan program “Indonesia Kerja” dan “Indonesia Sejahtera” dengan mendorong land reform dan program kepemilikan tanah seluas 9 hektar, program rumah kampung deret atau rumah susun murah yang disubsidi serta jaminan sosial untuk rakyat di tahun 2019.
Dari program kerja yang ditawarkan dalam segmen pendidikan, saya memperoleh bocoran hasil presentasi Dirjen Pendidikan Dasar dan Direktur Pembinaan SMP Kemdikbud RI, Didik Suhardi, Ph. D. Karena luasnya cakupan presentasi itu, saya nukilkan saja beberapa bagian yang terkait dengan revolusi karakter bangsa.
Ada 3 bagian pokok dalam membangun karakter bangsa lewat pendidikan, yaitu :
Membangun pendidikan kewarganegaraan. PKn, atau Pendidikan Kewarganegaraan boleh dibilang belum menunjukkan perubahan yang konstruktif. Materi dan muatan yang terknadung dalam pelajaran PKn masih mirip dengan PMP (Pendidikan Moral Pancasila), produk orde baru. Sekuel PMP bahkan pernah menghebohkan dengan sebuah kalimat kecil yang mengatakan bahwa semua agama itu sama. Seketika masyarakat heboh, terutama yang beragama Islam. Demikian pula materi yang terkandung dalam kurikulum, masih mengandalkan teksbook, meminimalisir amalan.
Menghilangkan model penyeragaman dalam sistem pendidikan nasional. Model ini hendak dibongkar melalui kurikulum 2013. Dengan sejuta harapan, kurikulum 13 (kurtilas) meluncur tanpa masa percobaan yang memadai. Akibatnya banyak sekolah yang kelimpungan. Belum siap secara SDM maupun sarana yang dikehendaki kurtilas. Prahara 13 sempat mereda ketika Mendikbud memerintahkan agar kurtilas hanya diberikan kepada sekolah yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. Sebenarnya kurtilas itu mendukung tentang hak dan karakter seorang siswa, tanpa mengurangi arti pemberian materi pendidikan secara utuh. Karena kurtilas mengedepankan karakter seseorang dalam menemukan, memproses sampai pada mempublikasikan.
Jaminan hidup yang memadai bagi guru terutama bagi guru yang ditugaskan di daerah terpencil. Lagu lama yang tak pernah usai diselesaikan. Pendidikan pinggiran atau daerah terpencil belum pernah diselesaikan secara tuntas. Sehingga yang muncil hanya wacana. Belaka.
Disamping 3 prioritas program di atas, ada beberapa prioritas yang hendak diselesaikan oleh pemerintah seperti :
1. Kurikulum disempurnakan
2. Ujian Nasional diperbaiki
3. 206.200 guru non PNS diberi tunjangan profesi
4. 62.500 guru di daerah perbatasan/pedalaman diberi tujunag khusus
5. 94.500 guru non PNS diberi tunjuangan fungsional.

Manajemen Kurikulum (2)

Tujuan pendidikan nasional seeperti yang termaktub dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kepribadian, kecerdasan akhlak, serta ketrampilan untuk masyarakat, bangsa dan Negara.
Prinsip-prinsip penyelenggaraan pendidikan meliputi :
1. Demokratis dan berkeadilan, tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia
2. Satu kesatuan yang sistemik dengan sistem yang terbuka dalam rangka pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sepanjang hayat
3. Memberikan keteladanan dalam mengembangkan kreatifitas peserta didik
4. Mengembangkan budaya membaca, menulis dan berhitung
5. Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
Secara hirarkis tujuan pendidikan ada empat macam :
1. Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional merupakan tujuan yang tertinggi di suatu Negara. Tujuan ini sangat umum dan kualitatif serta sangat ideal. Tujuan ini harus memperhatikan falsafah Negara (Pancasila), TAP MPR dalam GBHN.
2. Tujuan institusional
Tujuan institusional adalah tujuan yang ingin dicapai oleh suatu unit atau lembaga tertentu. Tujuan ini mencerminkan dan menggambarkan tujuan pendidikan nasional yang akan dicapai melalui suatu lembaga pendidikan tertentu
3. Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler adalah tujuan yang ingin dicapai setelah siswa mempelajari bidang studi atau mata pelajaran atau sejumlah isi pengajaran. Tujuan ini tentu saja harus menggambarkan tujuan istitusional.
4. Tujuan instruksional
Tujuan istruksional adalah tujuan yang ingin dicapai siswa dalam mempelajari suatu pokok bahasan tertentu. Tujuan ini harus dirumuskan dalam setiap terjadinya proses belajar mengajar.
Isi atau bahan ajar
Setelah tujuan pendidikan dirumuskan langkah selanjutnya adalah mengembangkan bahan kurikulum. Pengembangan bahan-bahan kurikulum harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
Relevan dengan lingkungan siswa, perkembangan iptek, dunia kerja, kehidupan masa kini dan yang akan datang
Efektif, sejauh mana tujuan dapat dicapai dengan bahan tersebut
Efisien, di mana tujuan dapat dicapai dengan bahan seminimal mungkin
Kontinuitas, dalam arti berkesinambungan dengan bahan sebelumnya.
Fleksibilitas, dalam penyampaian bahan dapat dilakukan secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi.
Strategi Belajar Mengajar
Strategi belajar mengajar merupakan kelanjutan dari penyusunan sekuensi bahan ajar. Setiap bahan pengajaran menuntut strategi tertentu. Bahan pelajaran serlebih dahulu dianalisa, dengan metode yang sesuai. Pada kurikulum 2013, seorang guru dituntut untuk merancang proses belajar mengajar sejak dari rencana pelajaran sampai dengan evaluasi. Sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Masing-masing materi pelajaran memiliki keunikan tersendiri, menggunakan metode tertentu.
Pandangan tradisional, startegi atau metode mengajar dianggap terpisah dari proses pengembangan kurikulum. Sekarang, seleksi strategi belajar mengajar menjadi bagian dari proses pengembangan kurikulum. Empat macam strategi belajar yang sering dilakukan dalam kegiatan belajar, yaitu : ekspositori, discovery atau inquiri, pendekatan konsep dan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Di suatu kesempatan akan kami jabarkan strategi belajar tersebut.
Evaluasi Pengajaran
Setelah perumusan tujuan pendidikan, proses berikutnya menentukan bahan ajar dan startegi belajar mengajar perlu dilakukan evaluasi. Tahap evaluasi adalah proses terakhir namun memiliki kandungan nilai yang sangat penting. Sebab dari kegiatan awal akan diketahui keunggulan dan kelemahannya. Evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan untuk menilai sejauh mana proses belajar mengajar telah sesuai dengan yang diharapkan. Evaluasi juga digunakan untuk umpan balik dan bermanfaat untuk bahan penyempurnaan. Proses mengevaluasi harus dilakukan secara terus menerus sejak dari rancangan sampai implementasinya.

Manajemen Kurikulum (1)

Manajemen kurikulum merupakan bagian dari manajemen pendidikan. Sebab, sangat mustahil manakala membicarakan kurikulum tanpa menyertakan pendidikan. Kalau harus diperas menjadi beberapa lingkup, memang manajemen kurikulum lebih kecil dan spesifik. Namun demikian bukan berarti bahwa yang lebih kecil untuk diabaikan. Bahkan dari beberapa segi, manajemen kurikulum memang sangat menentukan kebijakan pendidikan. Karena ruh kurikulum sejatinya bisa menjelma menjadi inti dari pendidikan.
Terdapat beberapa versi mengenai definisi manajemen yang diajukan oleh beberapa ahli. Perbedaan tersebut muncul karena factor sudut pandang dan latar belakang keilmuan yang dimiliki oleh ahli-ahli tersebut. Namun substansinya tetap sama, yaitu bahwa manajemen berintikan : mengelola, mengurus, mengatur, mengendalikan, menangani menjalankan, melaksanakan. Sehingga secara sederhana, manajemen pendidikan adalah bagaimana mengatur atau mengelola bidang pendidikan.
Secara keilmuan, manajemen pendidikan terdiri dari dua unsur, yaitu material dan formal. Bidang material bahan yang menjadi tujuan yaitu pengetahuan. Sedang obyek formal meliputi pengaturan dalam pelaksanaan pendidikan.
Penyusunan kurikulum harus memperhatikan perubahan lingkungan pendidikan (baik internal maupun eksternal) yang demikian pesatnya. Sementara hasil kurikulum tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Keberhasilan kurikulum baru bisa diketahui setelah hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan lingkungan. Dilema yang banyak dijumpai, adalah penyusunan kurikulum yang selalu berubah, sementara hasil belum bisa diketahui dengan pasti. Sehingga saat menuai hasil, terkadang kurikulum tidak sesuai lagi dengan saat ini. Oleh karena itu, dalam menysun kurikulum harus berlandaskan visi dan misi pendidikan.
Visi adalah jalan pikiran yang melampaui jalan pikiran. Cita-cita yang hendak diraih bisa dikatagorikan ideal. Sehingga cara meraihnya juga melebihi batas dari kemampuan. Menciptakan visi hendaknya yang belum pernah ada sebelumnya. Lembaga pendidikan yang akan melaksanakan visinya, maka lembaga pendidikan tersebut perlu menggambarkan kondisi yang akan diwujudkan di masa depan. Dari kondisi yang akan diwujudkan inilah sebenarnya kurikulum itu dirumuskan atau disusun.
Visi pendidikan nasional adalah “Terwujudnya pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah” Visi pendidikan yang dirumuskan oleh Depdiknas untuk tahun 2025 : “Insan Indonesia cerdas dan kompetitif”.
Misi adalah jalan pilihan suatu organisasi untuk menyediakan produk atau jasa bagi konsumennya. Perumusan misi bisa diibaratkan menyusun peta dalam suatu perjalanan tertentu. Rencana yang telah dirancang harus mengacu pada tujuan yang jelas melalui bagian demi bagian agar misi dapat dilaksanakan secara spesifik. Bila lembaga pendidikan telah melaksanakan misi sesuai dengan kebutuhan, maka dianggap bahwa lembaga pendidikan tersebut telah melaksanakan misi dengan baik.
Secara ringkas, misi pendidikan Indonesia dapat dirumuskan :
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan pendidikan
.
2. Membantu dan menfasilitasi pengembangan potensi anak secara utuh
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang bermoral
.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan.
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan

Melawan Teknologi dengan Budaya

Duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.
Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.
Samsung yang jadi andalan Korea Selatan (Korsel) mampu bersaing dengan produk Jepang yang sudah lama berkibar. Apalagi Sony termehek-mehek dalam indutri film, telah menyedot yen yang menjadi undi-pundi perusahaan induk Sony di Jepang.
Samsung memang bukan hanya bergerak dalam industry rumah tangga. Bahkan teknologi Informasi, telah mampu ditunggangi dalam pacuan persiangan industry computer. Namun apakah benar elektronika telah benar-benar gulung tikar di Jepang? Tentu tidak. Di wilayah elektronika boleh mengalami penurunan. Namun tidak untuk daerah industri otomotif.
Jepang mungkin tidak khawatir dengan mencuatnya industri korea. Namun yang perlu diwaspadai adalah tumbuhnya budaya korea yang sedang digandrungi oleh kalangan muda terutama dikawasan asean. K-pop atau Korean Pop adalah sejenis musik yang sangat popular berasal dari Korsel. Karena di kalangan remajalah yang membeli barang-barang dari hasil roses penciptaan budaya. Siapa lagi kalau bukan Korsel. Disini Jepang agak terseok-seok.
Sudah banyak artis yang berasal dari Negara gingseng ini menembus blatika music dunia. saja Super Junior, yang setiap kali tampil mampu mengundang histeris gadis remaja. SNSD yang kepanjangan dari So Nyeo Shi Dae, kumpulan cewek seksi yang meliuk-liuk sambil bernyanyi mampu menginspirasi Negara tetangga membentuk girl band, termasuk Indonesia. Suju dan SNSD merupakan salah dua yang jadi ikon dan sekaligus andalan korea untuk memperkenalkan generasi muda mereka.
Masih ingat tarian kuda jingkrang? Saya bantu lagi ingatannya, masih ingat Gangnam Style? Yaaa…. Betul. Tarian rap kuda-kuda dipopulerkan oleh artis korea selatan bernama Park Jae Sang alias Psy. Tarian ini amat sederhana, sehingga siapapun mampu memainkannya. Musik apapun bisa masuk untuk dimainkan. Dari anak kecil hingga orang dewasa. Caranya amat mudah dan saat menarikan terlihat ceria.
Inilah yang dikhawatirkan negeri sakura. Ternyata memang benar bahwa hukum perang “tak mengenal belas kasihan”. Yang ada cuma bagaimana memenangkan pertarungan. Tentara tidak harus dilawan dengan tentara. Teknologi tak harus dihadapkan dengan teknologi. Ekonomi bisa saja dikompetisikan dengan budaya, meskipun ujung-ujungnya tetap ekonomi. Kreatifitas dalam mengelola sumber alam dan sumber manusia dipercaya akan mampu menjadi pondasi yang kuat untuk ketahanan Negara.
Share

Merananya Perpustakaanku

Saya kira tidak hanya diperpustakaan sekolahku saja. Hampir merata disetiap sekolah memiliki perpustakaan yang terbengkelai. Perpustakaan tak lebih dari tempat untuk menyimpan buku. Ada yang lebih sinis dengan mengatakan bahwa perpustakaan adalah gudang buku. Buku apapun yang tidak terpakai disimpan di perpustakaan.

Hampir dipastikan, dalam setiap merancang ruang-ruang dalam sekolah, lebih mengutamakan ruang kepala sekolah, guru, kelas, laboratorium dan BP. Ruang Perpustakaan merupakan pilihan terakhir. Akibatnya ukuran ruang perpustakaan hanyalah sisa dari pilihan-pilihan utama. Tidak heran ruang perpustakaan menempati di sudut-sudut lokasi sekolah.

Dalam hal perawatanpun, perpustakaan hampir selalu menjadi prioritas yang nomor dua. Pihak pengelola sekolah lebih senang memperbaharui mebeler, mengganti komputer terbaru meskipun komputer lama masih bisa dipakai, tukar tambah barang-barang elektronik lainnya. Anggaran perpustakaan selalu  dialokasikan dana sisa.

Selama keluarga besar sekolah belum memiliki minat membaca, jangan diharapkan perpustakaan akan menjadi pilihan utama dalam rancangan anggaran sekolah. Selama kepala sekolah dan guru masih menancapkan budaya lisan maka jangan barharap perpustakaan

Untuk menyokong wibawa perpustakaan ada beberapa aktifitas yang dapat dilakukan :

1. Serius mengalokasikan dana untuk memperlebar ruang, memperbaharui koleksi buku, membuat nyaman ruangan. Koleksi buku jangan mengharapkan datang dari bantuan. Koleksi buku harus dipilih dengan kwalitas yang memadai. Apabila calon alumni diwajibkan untuk menyumbang buku, disarankan dalam bentuk uang saja. Karena sumbangan buku kadang tidak sesuai dengan visi dan misi sekolah.

2. Guru mempelopori bedah buku secara periodik. Luangkan waktu 60 – 90 menit per bulan untuk mengkaji buku. Dua minggu sekali lebih baik. Presentasi boleh dilakukan oleh 2 orang. Buku yang telah dibaca supaya ditulis dalam bentuk ringkasan.  Dengan demikian secara tidak langsung guru juga menulis. Membaca buku sekaligus menulis.

3. Penugasan siswa hendaknya diarahkan untuk menggunakan buku di perpustakaan. Mendorong siswa agar masuk ke perpustakaan, sebagai salah satu cara agar siswa gemar membaca. Dalam periode tertentu, datangkan nara sumber dari luar. Saat ini banyak sekali komunitas yang komitmen dengan baca dan tulis.  4.  Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki, maka perpustakaan menjadi solusinya. Sekolah memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

4.Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa meluangkan waktu untuk membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki untuk memperoleh buku yang bermutu, program membaca dan menulis yang berbasis perpustakaan menjadi solusinya. Satu buku bisa dibaca oleh beberapa orang. Sekolah juga memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

Sekolah harus Memiliki Jiwa Dagang

market-3

Mencermati penuturan Prof. Dr. Ing. Imam Robandi dalam forum (kaget) kepala sekolah di Kota Yogyakarta, menarik untuk disimak. Saya sebutkan kaget karena memang tidak direncanakan secara matang. Satu dan lain hal kesibukan beliau, maka saat lawatan ke Yogyakarta tak disia-siakan  oleh kepala sekolah Muhammadiyah se Yogyakarta.

Salah satu yang saya cermati adalah, sekolah mesti memiliki naluri berdagang. Kata dagang lebih tepat dikatakan jualan, sangat tidak lazim bila yang melakukan lembaga pendidikan. Pendidikan, bagi sebagian orang masih merujuk pada institusi sebagai wahana transfer nilai dan ilmu. Sangat jauh bila bersentuhan dengan penjualan. Namun kata pak Robandi, kalau sekolah ingin eksis dilingkungan masyarakat salah satu yang harus dilakukan dengan berjulan.

Ada beberapa produk yang bisa dilakukan dalam melakukan penjualan.

1. Kartu Nama. Hari gini mungkin ada orang akan tertawa bila dimintai kartu nama. Kartu nama tidak identik dengan jaman digital. Kartu nama mungkin masih pas bila disertakan dengan kado atau amplop untuk menyumbang.

Ternyata anggapan itu keliru. Disaat gadget merambah disetiap sudut kehidupan, kartu nama masih memegang penting sebagai sarana informasi. Dalam sebuah kartu nama terdapat informasi nama, alamat rumah, alamat kantor, mail, dan blog. Sebuah papan nama yang hanya berukuran 90 mm x 55 mm, namun bisa memuat semua informasi pribadi.

2. Majalah. Meskipun media on-line kemajuannya sangat cepat dan cara memperoleh informasi hanya dengan sekali sentuh, tapi majalah tetap ada di sudut hati tersendiri. Majalah tidak bisa hilang begitu saja. Karena majalah sebagai dokumen tertulis yang bisa dijadikan untuk referensi dalam menulis karya ilmiah misalnya.

Majalah sekolah, disamping sebagai media promosi, majalah juga sebagai wahana untuk mengukur tingkat akdemis. Baik itu siswa, guru ataupun orang yang terlibat secara langsung dengan sekolah yang bersangkutan.

3. Papan Promosi. Belanja iklan pada perusahaan-perusahaan besar dapat mencapai  30% dari total biaya produksi. Artinya, bila sebuah produk diluncurkan dengan memakan biaya 1 milyar, maka biaya promosinya bisa mencapai angka Rp. 300 juta. Karena promosi merupakan salah satu faktor penunjang tingkat penjualan.

Tidak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan. Jual muka lewat media spanduk, baliho yang diletakkan pada tempat-tempat yang strategis, sangat berpengaruh terhadap input calon siswa baru. Dari pada berselancar lewat web, lebih baik melihat papan nama yang tersebar di pinggir jalan sambil berkendaraan. Bila tertarik, Ia akan mencatat nomor telepon atau web yang bisa dikunjungi.

4. Kalender. Setiap menjelang tahun baru, saya hampir selalu menerima tidak kurang dari 5 buah kalender. Dari berbagai lembaga, baik perusahaan maupun dari lembaga sosial. Intinya satu. Promosi.

Sekolah memiliki tempat yang strategis sebagai promosi face to face. Mengapa demikian? Karena setiap siswa hampir pasti akan diberi sebuah kalender yang lengkap dengan sarana dan macam kegiatan dalam satu tahun. Diharapkan siswa akan memasang kalender di rumah masing-masing. Bila dalam satu rumah ada 5 orang, berarti ada 4 orang akan melihat kalender sekolah. Kalau di sekolah ada 400 siswa berarti ada 2000 pasang mata akan menatap kalender sekolah. Belum lagi bila ada sanak saudara atau tamu yang berkunjung ke rumah.

1 4 5 6 7