Manajemen Kurikulum (1)

Manajemen kurikulum merupakan bagian dari manajemen pendidikan. Sebab, sangat mustahil manakala membicarakan kurikulum tanpa menyertakan pendidikan. Kalau harus diperas menjadi beberapa lingkup, memang manajemen kurikulum lebih kecil dan spesifik. Namun demikian bukan berarti bahwa yang lebih kecil untuk diabaikan. Bahkan dari beberapa segi, manajemen kurikulum memang sangat menentukan kebijakan pendidikan. Karena ruh kurikulum sejatinya bisa menjelma menjadi inti dari pendidikan.
Terdapat beberapa versi mengenai definisi manajemen yang diajukan oleh beberapa ahli. Perbedaan tersebut muncul karena factor sudut pandang dan latar belakang keilmuan yang dimiliki oleh ahli-ahli tersebut. Namun substansinya tetap sama, yaitu bahwa manajemen berintikan : mengelola, mengurus, mengatur, mengendalikan, menangani menjalankan, melaksanakan. Sehingga secara sederhana, manajemen pendidikan adalah bagaimana mengatur atau mengelola bidang pendidikan.
Secara keilmuan, manajemen pendidikan terdiri dari dua unsur, yaitu material dan formal. Bidang material bahan yang menjadi tujuan yaitu pengetahuan. Sedang obyek formal meliputi pengaturan dalam pelaksanaan pendidikan.
Penyusunan kurikulum harus memperhatikan perubahan lingkungan pendidikan (baik internal maupun eksternal) yang demikian pesatnya. Sementara hasil kurikulum tidak bisa dilihat dalam waktu singkat. Keberhasilan kurikulum baru bisa diketahui setelah hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan lingkungan. Dilema yang banyak dijumpai, adalah penyusunan kurikulum yang selalu berubah, sementara hasil belum bisa diketahui dengan pasti. Sehingga saat menuai hasil, terkadang kurikulum tidak sesuai lagi dengan saat ini. Oleh karena itu, dalam menysun kurikulum harus berlandaskan visi dan misi pendidikan.
Visi adalah jalan pikiran yang melampaui jalan pikiran. Cita-cita yang hendak diraih bisa dikatagorikan ideal. Sehingga cara meraihnya juga melebihi batas dari kemampuan. Menciptakan visi hendaknya yang belum pernah ada sebelumnya. Lembaga pendidikan yang akan melaksanakan visinya, maka lembaga pendidikan tersebut perlu menggambarkan kondisi yang akan diwujudkan di masa depan. Dari kondisi yang akan diwujudkan inilah sebenarnya kurikulum itu dirumuskan atau disusun.
Visi pendidikan nasional adalah “Terwujudnya pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah” Visi pendidikan yang dirumuskan oleh Depdiknas untuk tahun 2025 : “Insan Indonesia cerdas dan kompetitif”.
Misi adalah jalan pilihan suatu organisasi untuk menyediakan produk atau jasa bagi konsumennya. Perumusan misi bisa diibaratkan menyusun peta dalam suatu perjalanan tertentu. Rencana yang telah dirancang harus mengacu pada tujuan yang jelas melalui bagian demi bagian agar misi dapat dilaksanakan secara spesifik. Bila lembaga pendidikan telah melaksanakan misi sesuai dengan kebutuhan, maka dianggap bahwa lembaga pendidikan tersebut telah melaksanakan misi dengan baik.
Secara ringkas, misi pendidikan Indonesia dapat dirumuskan :
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan pendidikan
.
2. Membantu dan menfasilitasi pengembangan potensi anak secara utuh
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan proses pendidikan untuk membentuk pribadi yang bermoral
.
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan.
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan

Melawan Teknologi dengan Budaya

Duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.
Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.
Samsung yang jadi andalan Korea Selatan (Korsel) mampu bersaing dengan produk Jepang yang sudah lama berkibar. Apalagi Sony termehek-mehek dalam indutri film, telah menyedot yen yang menjadi undi-pundi perusahaan induk Sony di Jepang.
Samsung memang bukan hanya bergerak dalam industry rumah tangga. Bahkan teknologi Informasi, telah mampu ditunggangi dalam pacuan persiangan industry computer. Namun apakah benar elektronika telah benar-benar gulung tikar di Jepang? Tentu tidak. Di wilayah elektronika boleh mengalami penurunan. Namun tidak untuk daerah industri otomotif.
Jepang mungkin tidak khawatir dengan mencuatnya industri korea. Namun yang perlu diwaspadai adalah tumbuhnya budaya korea yang sedang digandrungi oleh kalangan muda terutama dikawasan asean. K-pop atau Korean Pop adalah sejenis musik yang sangat popular berasal dari Korsel. Karena di kalangan remajalah yang membeli barang-barang dari hasil roses penciptaan budaya. Siapa lagi kalau bukan Korsel. Disini Jepang agak terseok-seok.
Sudah banyak artis yang berasal dari Negara gingseng ini menembus blatika music dunia. saja Super Junior, yang setiap kali tampil mampu mengundang histeris gadis remaja. SNSD yang kepanjangan dari So Nyeo Shi Dae, kumpulan cewek seksi yang meliuk-liuk sambil bernyanyi mampu menginspirasi Negara tetangga membentuk girl band, termasuk Indonesia. Suju dan SNSD merupakan salah dua yang jadi ikon dan sekaligus andalan korea untuk memperkenalkan generasi muda mereka.
Masih ingat tarian kuda jingkrang? Saya bantu lagi ingatannya, masih ingat Gangnam Style? Yaaa…. Betul. Tarian rap kuda-kuda dipopulerkan oleh artis korea selatan bernama Park Jae Sang alias Psy. Tarian ini amat sederhana, sehingga siapapun mampu memainkannya. Musik apapun bisa masuk untuk dimainkan. Dari anak kecil hingga orang dewasa. Caranya amat mudah dan saat menarikan terlihat ceria.
Inilah yang dikhawatirkan negeri sakura. Ternyata memang benar bahwa hukum perang “tak mengenal belas kasihan”. Yang ada cuma bagaimana memenangkan pertarungan. Tentara tidak harus dilawan dengan tentara. Teknologi tak harus dihadapkan dengan teknologi. Ekonomi bisa saja dikompetisikan dengan budaya, meskipun ujung-ujungnya tetap ekonomi. Kreatifitas dalam mengelola sumber alam dan sumber manusia dipercaya akan mampu menjadi pondasi yang kuat untuk ketahanan Negara.
Share

Merananya Perpustakaanku

Saya kira tidak hanya diperpustakaan sekolahku saja. Hampir merata disetiap sekolah memiliki perpustakaan yang terbengkelai. Perpustakaan tak lebih dari tempat untuk menyimpan buku. Ada yang lebih sinis dengan mengatakan bahwa perpustakaan adalah gudang buku. Buku apapun yang tidak terpakai disimpan di perpustakaan.

Hampir dipastikan, dalam setiap merancang ruang-ruang dalam sekolah, lebih mengutamakan ruang kepala sekolah, guru, kelas, laboratorium dan BP. Ruang Perpustakaan merupakan pilihan terakhir. Akibatnya ukuran ruang perpustakaan hanyalah sisa dari pilihan-pilihan utama. Tidak heran ruang perpustakaan menempati di sudut-sudut lokasi sekolah.

Dalam hal perawatanpun, perpustakaan hampir selalu menjadi prioritas yang nomor dua. Pihak pengelola sekolah lebih senang memperbaharui mebeler, mengganti komputer terbaru meskipun komputer lama masih bisa dipakai, tukar tambah barang-barang elektronik lainnya. Anggaran perpustakaan selalu  dialokasikan dana sisa.

Selama keluarga besar sekolah belum memiliki minat membaca, jangan diharapkan perpustakaan akan menjadi pilihan utama dalam rancangan anggaran sekolah. Selama kepala sekolah dan guru masih menancapkan budaya lisan maka jangan barharap perpustakaan

Untuk menyokong wibawa perpustakaan ada beberapa aktifitas yang dapat dilakukan :

1. Serius mengalokasikan dana untuk memperlebar ruang, memperbaharui koleksi buku, membuat nyaman ruangan. Koleksi buku jangan mengharapkan datang dari bantuan. Koleksi buku harus dipilih dengan kwalitas yang memadai. Apabila calon alumni diwajibkan untuk menyumbang buku, disarankan dalam bentuk uang saja. Karena sumbangan buku kadang tidak sesuai dengan visi dan misi sekolah.

2. Guru mempelopori bedah buku secara periodik. Luangkan waktu 60 – 90 menit per bulan untuk mengkaji buku. Dua minggu sekali lebih baik. Presentasi boleh dilakukan oleh 2 orang. Buku yang telah dibaca supaya ditulis dalam bentuk ringkasan.  Dengan demikian secara tidak langsung guru juga menulis. Membaca buku sekaligus menulis.

3. Penugasan siswa hendaknya diarahkan untuk menggunakan buku di perpustakaan. Mendorong siswa agar masuk ke perpustakaan, sebagai salah satu cara agar siswa gemar membaca. Dalam periode tertentu, datangkan nara sumber dari luar. Saat ini banyak sekali komunitas yang komitmen dengan baca dan tulis.  4.  Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki, maka perpustakaan menjadi solusinya. Sekolah memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

4.Visi dan misi apapun yang digariskan oleh sekolah, pondasinya tetaplah membaca. Tidak mungkin seorang guru akan diidolakan oleh siswa tanpa meluangkan waktu untuk membaca. Tidak mungkin seorang siswa akan berprestasi tanpa membaca. Mungkin, karena keterbatasan dana yang dimiliki untuk memperoleh buku yang bermutu, program membaca dan menulis yang berbasis perpustakaan menjadi solusinya. Satu buku bisa dibaca oleh beberapa orang. Sekolah juga memberi keleluasaan  kepada pengunjung, untuk selalu nyaman di perpustakaan, sekalipun sampai sore hari.

Sekolah harus Memiliki Jiwa Dagang

market-3

Mencermati penuturan Prof. Dr. Ing. Imam Robandi dalam forum (kaget) kepala sekolah di Kota Yogyakarta, menarik untuk disimak. Saya sebutkan kaget karena memang tidak direncanakan secara matang. Satu dan lain hal kesibukan beliau, maka saat lawatan ke Yogyakarta tak disia-siakan  oleh kepala sekolah Muhammadiyah se Yogyakarta.

Salah satu yang saya cermati adalah, sekolah mesti memiliki naluri berdagang. Kata dagang lebih tepat dikatakan jualan, sangat tidak lazim bila yang melakukan lembaga pendidikan. Pendidikan, bagi sebagian orang masih merujuk pada institusi sebagai wahana transfer nilai dan ilmu. Sangat jauh bila bersentuhan dengan penjualan. Namun kata pak Robandi, kalau sekolah ingin eksis dilingkungan masyarakat salah satu yang harus dilakukan dengan berjulan.

Ada beberapa produk yang bisa dilakukan dalam melakukan penjualan.

1. Kartu Nama. Hari gini mungkin ada orang akan tertawa bila dimintai kartu nama. Kartu nama tidak identik dengan jaman digital. Kartu nama mungkin masih pas bila disertakan dengan kado atau amplop untuk menyumbang.

Ternyata anggapan itu keliru. Disaat gadget merambah disetiap sudut kehidupan, kartu nama masih memegang penting sebagai sarana informasi. Dalam sebuah kartu nama terdapat informasi nama, alamat rumah, alamat kantor, mail, dan blog. Sebuah papan nama yang hanya berukuran 90 mm x 55 mm, namun bisa memuat semua informasi pribadi.

2. Majalah. Meskipun media on-line kemajuannya sangat cepat dan cara memperoleh informasi hanya dengan sekali sentuh, tapi majalah tetap ada di sudut hati tersendiri. Majalah tidak bisa hilang begitu saja. Karena majalah sebagai dokumen tertulis yang bisa dijadikan untuk referensi dalam menulis karya ilmiah misalnya.

Majalah sekolah, disamping sebagai media promosi, majalah juga sebagai wahana untuk mengukur tingkat akdemis. Baik itu siswa, guru ataupun orang yang terlibat secara langsung dengan sekolah yang bersangkutan.

3. Papan Promosi. Belanja iklan pada perusahaan-perusahaan besar dapat mencapai  30% dari total biaya produksi. Artinya, bila sebuah produk diluncurkan dengan memakan biaya 1 milyar, maka biaya promosinya bisa mencapai angka Rp. 300 juta. Karena promosi merupakan salah satu faktor penunjang tingkat penjualan.

Tidak jauh berbeda dengan lembaga pendidikan. Jual muka lewat media spanduk, baliho yang diletakkan pada tempat-tempat yang strategis, sangat berpengaruh terhadap input calon siswa baru. Dari pada berselancar lewat web, lebih baik melihat papan nama yang tersebar di pinggir jalan sambil berkendaraan. Bila tertarik, Ia akan mencatat nomor telepon atau web yang bisa dikunjungi.

4. Kalender. Setiap menjelang tahun baru, saya hampir selalu menerima tidak kurang dari 5 buah kalender. Dari berbagai lembaga, baik perusahaan maupun dari lembaga sosial. Intinya satu. Promosi.

Sekolah memiliki tempat yang strategis sebagai promosi face to face. Mengapa demikian? Karena setiap siswa hampir pasti akan diberi sebuah kalender yang lengkap dengan sarana dan macam kegiatan dalam satu tahun. Diharapkan siswa akan memasang kalender di rumah masing-masing. Bila dalam satu rumah ada 5 orang, berarti ada 4 orang akan melihat kalender sekolah. Kalau di sekolah ada 400 siswa berarti ada 2000 pasang mata akan menatap kalender sekolah. Belum lagi bila ada sanak saudara atau tamu yang berkunjung ke rumah.

Mengangkat Potensi Budaya Daerah

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pahlawannya. Makna menghormati sekarang telah berkembang. Pahlawan bukan saja orang yang pandai memanggul senjata untuk mempertahankan Negara, namun pahlawan bisa juga berarti orang yang mengharumkan Negara di kancah pergaulan tata dunia. Olahragawan, budayawan, tekhnokrat merupakan sebagian orang yang disebut pahlawan.

Hasil budaya Indonesia yang demikian beragam ini, sekarang baru sebagian dalam tahap perjuangan untuk memperoleh pengakuan dunia. Batik adalah salah satunya. Angklung masih berjibaku untuk mendapatkan mendapatkan pengakuan. Unesco saat ini sedang menggodog keberadaan Bahasa Jawa sebagai salah satu warisan dunia. Bahasa Jawa akan bersanding dengan bahasa lain untuk menempatkan diri dan sejajar dengan bahasa lain yang telah diakui masyarakat Internasional.

Batik, Angklung, Bahasa Jawa dan hasil kreasi nenek moyang kita, akan tetap teronggok dan musnah manakala tidak ada yang melestarikan sekaligus mengembangka. Sangat strategis bila pelestarian kebudayaan ini dimulai dari institusi pemerintah. Penyelenggara Negara mempunyai kewajiban untuk merawat tradisi yang sudah ada sejak dulu kala. Harapannya, agar kelak tidak akan bernasib seperti suku inca yang hanya meninggalkan benda belaka. Bahasa, seni kreasi lain hilang.

Yogyakarta sebagai salah satu sentral budaya nusantara, lewat Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menetapkan bahwa tahun pelajaran 2012/2013 seluruh sekolah yang ada di Kota Yogyakarta harus menerapkan kurikulum Daerah. Dimulai dari jenjang taman kanak-kanak hingga usia sekolah menengah. Ada empat mata pelajaran yang akan dimasukkan sebagai muatan lokal, yaitu : Seni Tari Gaya Yogyakarta, Seni Karawitan Gaya Yogyakarta, Seni Batik dan Seni Kerajinan Perak.

Keempat muatan lokal itu akan melihat situasi dan kondisi sekolah. Bagi yang telah mampu, bisa menerapkan keempat seni tradisi itu. Namun tiap sekolah minimal harus memilih satu diantara 4 muatan lokal. Setiap siswa wajib mengikuti satu macam. Lebih jauh Edy Heri Suasana selaku Kepala Dinas, memastikan akan membantu secara finansial untuk mendukung penerapan kurikulum berbasis daerah.

Aturan ini sebenarnya sudah empat tahun yang lalu terbitkan dalam bentuk surat keputusan. Namun baru tahun ini, surat keputusan bisa diujudkan dengan teknis pelaksanaan.

Seperti halnya Bahasa Jawa. Anak yang berasal dari luar jawa biasanya akan mengalami kesulitan untuk mengikuti pelajaran Bahasa Jawa. Tapi bukankah anak yang memilih sekolah di Yogyakarta sudah siap mengambil resiko untuk mengikuti semua pelajaran? Demikian juga daerah yang lain. Daerah lainpun menerapkan kurikulum berbasis daerah. Sangat banyak potensi daerah yang perlu kita angkat budayanya, sehingga generasi sekarang dan akan datang turut serta merasa memiliki.

Convoy Leader

pwt

Convoy, dalam bentuk apapun perlu keharmonisan. Sepeda motor, mobil ataupun kendaraan roda lebih dari 4, jikalau berjalan beriringan perlu keserasian agar tampak indah. Convoy seperti halnya persatuan baris berbaris atau peleton inti. Ada keseragaman langkah, keterpaduan gerak dalam satu komando. Anggota harus tunduk atas aba-aba pimpinan.
Ertiga yang tergabung dalam erci memiliki aturan dalam berconvoy. Tidak seenaknya sendiri. Karena erci taat dan tunduk terhadap rambu-rambu lali lintas. Erci menjunjung tinggi etika dalam berkendaraan. Erci hanya mempertontonkan bahwa berkendaraan di jalan umum harus dinikmati bersama dengan pengguna jalan lain. Oleh karenanya, dalam melakukan arak-arakan kendaraan harus ada yang mengatur. Dikomando dalam satu gerak.
Itulah tugas leader convoy. Tugas yang tidak ringan. Karena ia harus tahu persis kondisi jalan, mengetahui dengan tepat kebiasaan berlalu-lintas. Saat orang lain asyik mendengarkan musik, seorang leader justru konsentrasi penuh dengan alat komunikasi yang sewaktu-waktu dapat memerintahkan kepada asisten ataupun anggotanya. Kesiapan yang dibutuhkan oleh seorang leader minimal :
Pertama jaga kondisi fisik. Convoy leader harus mempersiapkan kondisi fisik manakala akan melakukan convoy. Bisa diibaratkan membutuhkan kondisi prima dua kali lebih besar dari pada anggota atau member. Apalagi saat memimpin barisan yang menyita waktu sampai 5 jam lebih. Convoy leader dan swepper harus selalu terkoneksi setiap saat.
Kedua jaga emosi. Jikalau komandan pasukan inti memiliki emosi yang labil, bisa dipastikan barisan akan kacau. Pemimpin barisan harus mengetahui kondisi anggota. Saat pasukan sudah memudar, pemimpin tidak boleh semena-mena menggunakan formasi langkah tegap. Demikian pula convoy leader. Saat anggota sudah mulai letih, ia harus mampu mengendalikan barisannya. Berhenti sejenak melepas penat namun sekaligus memberi semangat.
Emosi juga kaitannya dengan komunikasi. Leader harus memilih kalimat yang tepat saat berkendaraan. Berilah arahan yang detil sebelum berangkat dengan kondisi jalan dan cuaca. Alay navigasi sangat diperlukan disamping juga kondisi alat komunikasi. Pastikan bahwa alat komunikasi dapat digunakan dengan baik.
Ketiga kemampuan loby. Hubungan personal dengan orang lain harus dijaga dengan baik. Tidak semua orang memiliki kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Namun kemampuan ini bisa dipelajari. Meloby memiliki cara tersendiri dan unik dalam arti setiap orang punya kekhasan dalam berkomunikasi.
Keempat jam terbang. Harus diakui bahwa jam terbang seorang leader memiliki potensi yang amat besar dalam memimpin arak-arakan kendaraan. Hafal terhadap kondisi jalan akan mempermudah jalannya convoy. Di kilometer sekian ada ini, si kilometer sekian ada itu, leader bisa mengatur ritme convoy. Navigasi telah tertanam dalam otak.

1 4 5 6