Apresiasi Seni Tari

sumber gambar : indonesia-kaya.com

sumber gambar : indonesia-kaya.com

Suatu saat saya berkesempatan untuk melihat pagelaran seni tari yang dikemas dalam “Geliat Nusantara : dalam koreografi 3”. Acara ini digeber oleh mahasiswa Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tontonan rutin saban tahun, setiap jelang akhir tahun pelajaran. Meskipun tidak tiap tahun saya melihat kreasi seni tari, namun tetap mengikuti perkembangannya. Yang saya maksud perkembangan, hanyalah sebatas penyelenggaraannya saja. Sebab saya buta terhadap sebangsa tari, joget, ajojing atau sebangsanya. Hanya orang-orang yang ahli saja yang dapat menilai keindahan sebuah seni tari.

Jika mengapresiasikan, siapapun boleh. Pertunjukan tari ini merupakan tugas akhir. Karena penyelenggaraan seni tari ini memerlukan budget yang besar, maka diberi keleluasaan untuk membentuk grup yang terdiri dua mahasiswa. Mereka bukan hanya menyiapkan kreatifitas tari, tapi yang mesti harus dipersiapkan : kostum, latihan, uang transport asisten tari, pemusik, sound system, sewa gedung dll. Kali ini saya menyaksikan pagelaran tari ini dengan membawa sejumlah siswa yang tergabung dalam ekstra kurikuler seni tari. Harapannya agar siswa mengetahui perkembangan seni tari, kegiatan pendukung tari, seperti seperangkat music, manajemen pengelolaan pertunjukan.

» Read more

Van Dorp (2)

(Kupu-kupu di dalam buku)

Sebagai rekanan dalam tulisan Van Dorp 1, saya kutipkan sebuah tulisan Taufiq Ismail dalam bentuk puisi. Beliau masih optimis menatap generasi dimasa depan, yang akan selalu membaca. Ia berangan-angan menjadikan perpustakaan bukan saja sebagai rujukan utama ilmu pengetahuan, tapi tempat yang sejuk dan teduh bagi manusia Indonesia, yang memberikan pencerahan pada akal dan sukma, menuju peradaban yang mendapat naungan Tuhan Yang Rahim dan Rahman.

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,

Diruang tunggu praktek dokter anak, dibalai desa,

Kulihat orang-orang disekitarku duduk membaca buku,

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,

Di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku

Dan cahaya lampunya benderang,

Kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua

Sibuk membaca dan menuliskan catatan,

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika bertandang disebuah toko,

Warna-warni produk yang yang dipajang terbentang,

Orang-orang memborong itu barang

Dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika singgah di sebuah rumah,

Kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya

Dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu putrinya, kemudian katanya,

“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,

yang tahu tentang kupu-kupu”

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,

di perpustakaanperguruan, kota dan desa buku dibaca,

di tempat penjualan buku laris dibeli,

dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

tidak berselimut debu

karena memang dibaca

 

Taufiq Ismail, 1996

Van Dorp

sumber gambar : yogifajri.blogspot.com

sumber gambar : yogifajri.blogspot.com

Gedungnya baru dan mengesankan, serta buku-buku yang dijualnya ketika masih dipimpin pemilik lama, sangat mengesankan. Demikian tutur Alwi Shahab, dengan nada semi gundah. Van Dorp adalah sebuah toko buku sekaligus perpustakaan yang dimiliki oleh seorang belanda, berdiri kokoh seperti mall dan mengundang pengunjung terletak di Noordwijk (sekarang jalan Juanda). Predikat yang disandang adalah took buku terbaik di kota pada dataran jamannya.

Sekarang, Anda tak kan pernah akan melihat sosoknya. Ia telah berganti kulit menjadi Sarinah Internasional. Ada persamaan memang. Sama hingar-bingar, lalu-lalang orang bersliweran, menenteng tas bawaan. Hanya perbedaannya, bila masa Van Dorp, buku dan alat tulis yang dibawa. Saat sekarang, orang lebih berhasrat mengkonsumsi kebutuhan sehari-hari, kemeja, gaun, kosmetik, hingga VCD, DVD, gadget dan lain-lain.

» Read more

Memilih Kawan

Sahabat, rekan, kawan adalah mitra dalam berprestasi bila dioptimalkan dengan cermat. Memang tidak mudah mencari teman. Kalau hanya untuk berkelakar banyak rekan berserakan. Namun sahabat yang mampu dan tahu kondisi kita bukan perkara mudah. Kawan adalah mitra dalam perjuangan. Kawan adalah tempat mengadu tumpahan suka duka.

Tidak heran maka sejak kecil kita dikenalkan dengan betmain dengan teman. Tak lain hanya untuk sosialisasi dengan lingkungan. Bila anak bermain dengan teman merasa cocok, sejatinya ia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mampu menyerap karakter orang lain. Oleh karenanya bersosial dengan orang lain harus dikenalkan sejak dini. Karena sesungguhnya berkawan itu pada dasarnya menggapai prestasi.

» Read more

Melawan Teknologi dengan Budaya

sumber gambar : komarudinmz.blogspot

sumber gambar : komarudinmz.blogspot

Dalam duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.

Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.

» Read more

Surat Buat Andy F Noya

sumber gambar : kartun.inilah.com

sumber gambar : kartun.inilah.com

Saya sebenarnya sangat jarang menulis surat. Saat masih sekolah, saya hampir tidak pernah membuat surat ijin maupun surat tidak masuk karena sakit. Dalam pelajaran Bahasa Indonesiapun saya jarang menerima materi pelajaran tentang membuat surat. Pernah sekali atau dua kali membuat surat untuk mengungkap isi hati saya kepada orang lain. Karena isinya tidak jelas, suratpun tak terbalas. Sehingga praktis, sampai sekarang saya sangat jarang membuat surat. Kalau di kantor memang sering membuat surat. Demikian pula sewaktu saya dipercaya menjadi sebuah organisasi masyarakat. Namun, itu semua adalah surat dinas. Surat dinas itu seperti template. Cuma diganti waktu dan tempat saja.

Kali ini, saya akan mencoba membuat surat permohonan yang saya tujukan kepada Bapak Andy F Noya, pengasuh acara Kick Andy yang tersohor itu.

» Read more

Hidup Hemat

sumber gambar : bmtnurulislam.com

sumber gambar : bmtnurulislam.com

Tidak mudah mengendalikan harta yang kita miliki. Saat berlimpah, nafsu ingin semua dimiliki menjadi ranah yang dominan. Karena pada dasarnya manusia itu rakus. Lebih rakus dari seekor semut yang membawa makanan melebihi dari tubuhnya sendiri. Hidup mewah mendekati hedonisme justru menjadi kebanggaan. Saat memiliki manusia lebih kikir dari seekor binatang yang paling kikir. Entah apa nama binatang itu.

Karenanya manusia diberi otak dan hati agar dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Otak untuk menalar, untuk apa harus memiliki barang. Bergunakah untuk pribadi? Adakah sisi kepemilikan barang itu jika dinikmati orang lain? Dan yang penting kemampuan membelinya.

» Read more

1 2 3 4 5 7