Calon Desainer

sumber gambar : efhlt.blogspot.com

sumber gambar : efhlt.blogspot.com

Saya baru sadar. Beberapa hari yang lalu, saya ketemu teman. Obrolan kali ini tentang anaknya, sebut saja Bagus. Sudah sekitar 2 tahun ini Bagus berada di Pondok Pesantren. Oleh ayahnya, Bagus digadang-gadang kelak menjadi seorang ulama. Cita-cita yang luhur, setidaknya di mata ayahnya, yang tak lain teman saya.

Sebenarnya sudah dua kali Bagus hidup di Pondok Pesantren. Pertama sewaktu masih SMP dia mondok di dekat rumah, daerah Klaten Jawa Tengah. Saat ini, Bagus mondok di Pondok Pesantren di daerah Yogyakarta. Bila benar, apa yang keluar dari mulut ayahnya, sebenarnya Bagus tidak krasan untuk hidup di Pondok.

» Read more

Desainer yang Usil

sumber gambar : pengrajinlogo.blogspot.com

sumber gambar : pengrajinlogo.blogspot.com

Dua hari lalu, kerabat saya Ella uring-uringan seharian. Apa pasal? Menurut dia, pada kanal head lines kompasiana versi terakhir tidak bisa di-klik. Padahal ia sangat membutuhkan informasi yang tercantum dalam head lines. Saking kesalnya, ia menyumpah-nyumpah via facebook.

Saya yakin, kompasioner adalah masyarakat pembaca. Mereka mungkin tidak butuh tampilan yang rumit. Prinsipnya user friendly. Brlayar kesana kemari, asal mudah di klik. Komposisi warna juga tak begitu dipermasalahkan. Bahkan, gambar juga bukan pertimbangan yang utama bagi kompasioner mengunjungi sebuah tulisan. Walaupun dalam hal tertentu gambar juga bisa mendukung isi sebuah tulisan. Menampilkan gambar dalam sebuah tulisan bukan perkara mudah. Bila tidak pas penempatannya, justru malah memudarkan isi tulisan itu sendiri. Pagi pembaca, yang penting tulisan tidak terlalu kecil. Nyaman dibaca.

» Read more

Apresiasi Seni Tari

sumber gambar : indonesia-kaya.com

sumber gambar : indonesia-kaya.com

Suatu saat saya berkesempatan untuk melihat pagelaran seni tari yang dikemas dalam “Geliat Nusantara : dalam koreografi 3”. Acara ini digeber oleh mahasiswa Seni Tari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Tontonan rutin saban tahun, setiap jelang akhir tahun pelajaran. Meskipun tidak tiap tahun saya melihat kreasi seni tari, namun tetap mengikuti perkembangannya. Yang saya maksud perkembangan, hanyalah sebatas penyelenggaraannya saja. Sebab saya buta terhadap sebangsa tari, joget, ajojing atau sebangsanya. Hanya orang-orang yang ahli saja yang dapat menilai keindahan sebuah seni tari.

Jika mengapresiasikan, siapapun boleh. Pertunjukan tari ini merupakan tugas akhir. Karena penyelenggaraan seni tari ini memerlukan budget yang besar, maka diberi keleluasaan untuk membentuk grup yang terdiri dua mahasiswa. Mereka bukan hanya menyiapkan kreatifitas tari, tapi yang mesti harus dipersiapkan : kostum, latihan, uang transport asisten tari, pemusik, sound system, sewa gedung dll. Kali ini saya menyaksikan pagelaran tari ini dengan membawa sejumlah siswa yang tergabung dalam ekstra kurikuler seni tari. Harapannya agar siswa mengetahui perkembangan seni tari, kegiatan pendukung tari, seperti seperangkat music, manajemen pengelolaan pertunjukan.

» Read more

Van Dorp (2)

(Kupu-kupu di dalam buku)

Sebagai rekanan dalam tulisan Van Dorp 1, saya kutipkan sebuah tulisan Taufiq Ismail dalam bentuk puisi. Beliau masih optimis menatap generasi dimasa depan, yang akan selalu membaca. Ia berangan-angan menjadikan perpustakaan bukan saja sebagai rujukan utama ilmu pengetahuan, tapi tempat yang sejuk dan teduh bagi manusia Indonesia, yang memberikan pencerahan pada akal dan sukma, menuju peradaban yang mendapat naungan Tuhan Yang Rahim dan Rahman.

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,

Diruang tunggu praktek dokter anak, dibalai desa,

Kulihat orang-orang disekitarku duduk membaca buku,

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,

Di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku

Dan cahaya lampunya benderang,

Kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua

Sibuk membaca dan menuliskan catatan,

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika bertandang disebuah toko,

Warna-warni produk yang yang dipajang terbentang,

Orang-orang memborong itu barang

Dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Ketika singgah di sebuah rumah,

Kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya

Dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu putrinya, kemudian katanya,

“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,

yang tahu tentang kupu-kupu”

Dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,

di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,

di perpustakaanperguruan, kota dan desa buku dibaca,

di tempat penjualan buku laris dibeli,

dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu

tidak berselimut debu

karena memang dibaca

 

Taufiq Ismail, 1996

Van Dorp

sumber gambar : yogifajri.blogspot.com

sumber gambar : yogifajri.blogspot.com

Gedungnya baru dan mengesankan, serta buku-buku yang dijualnya ketika masih dipimpin pemilik lama, sangat mengesankan. Demikian tutur Alwi Shahab, dengan nada semi gundah. Van Dorp adalah sebuah toko buku sekaligus perpustakaan yang dimiliki oleh seorang belanda, berdiri kokoh seperti mall dan mengundang pengunjung terletak di Noordwijk (sekarang jalan Juanda). Predikat yang disandang adalah took buku terbaik di kota pada dataran jamannya.

Sekarang, Anda tak kan pernah akan melihat sosoknya. Ia telah berganti kulit menjadi Sarinah Internasional. Ada persamaan memang. Sama hingar-bingar, lalu-lalang orang bersliweran, menenteng tas bawaan. Hanya perbedaannya, bila masa Van Dorp, buku dan alat tulis yang dibawa. Saat sekarang, orang lebih berhasrat mengkonsumsi kebutuhan sehari-hari, kemeja, gaun, kosmetik, hingga VCD, DVD, gadget dan lain-lain.

» Read more

Memilih Kawan

Sahabat, rekan, kawan adalah mitra dalam berprestasi bila dioptimalkan dengan cermat. Memang tidak mudah mencari teman. Kalau hanya untuk berkelakar banyak rekan berserakan. Namun sahabat yang mampu dan tahu kondisi kita bukan perkara mudah. Kawan adalah mitra dalam perjuangan. Kawan adalah tempat mengadu tumpahan suka duka.

Tidak heran maka sejak kecil kita dikenalkan dengan betmain dengan teman. Tak lain hanya untuk sosialisasi dengan lingkungan. Bila anak bermain dengan teman merasa cocok, sejatinya ia memiliki jiwa sosial yang tinggi. Mampu menyerap karakter orang lain. Oleh karenanya bersosial dengan orang lain harus dikenalkan sejak dini. Karena sesungguhnya berkawan itu pada dasarnya menggapai prestasi.

» Read more

Melawan Teknologi dengan Budaya

sumber gambar : komarudinmz.blogspot

sumber gambar : komarudinmz.blogspot

Dalam duel yang benar, mestinya satu lawan satu. Enam lawan enam, sebelas lawan sebelas. Itu baru imbang. Adil. Dalam perang tidak ada aturan yang menyebutkan harus seimbang (jumlah) dari dua kubu yang bertikai. Kalau jaman dahulu, semakin banyak pasukan yang dimiliki, semakin besar kemungkinan untuk meraih kemenangan. Namun strategi ini tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir. Jumlah pasukan lebih sedikit namun tangguh dan memakai stategi lebih banyak memperoleh kemenangan.

Tradisi perang ternyata tidak hanya milik dunia kemiliteran. Politik, ekonomi, budaya dan teknologi juga mengenal istilah perang. Bahkan lebih dahsyat. Bukan otot yang bermain tapi otak. Intrik politik sudah jamak kita ketahui kala memperebutkan kekuasaan. Perang budaya harus dilakukan karena ingin mendapatkan pengaruh. Apalagi ekonomi, yang sumber energi dan alam semakin menyempit.

» Read more

1 2 3 4 5 7