Al Farabi

Abu Nasr al Farabi, demikian nama lengkapnya. Lahir pada tahun 870 M atau 258 H. Beliau termasuk filosof muslim yang hidup pada abad 10. Lahir di Wasij, sebuah dusun dekat Farab, di Transoxiana, termasuk Negara Turki. Menurut murid-muridnya, al Farabi termasuk aneh. Karena umumnya filosof jaman dahulu, menuliskan biografinya sendiri atau murid pengagumnya. Beliau tidak mau mengisahkan kehidupan pribadi untuk konsumsi publik, baik sebagai salah satu sumber sejarah maupun kekayaan khasanah muslim.
Dalam pencarian menimba ilmu, ia lebih senang menetap di Baghdad sebagai pusat belajar yang terkemuka. Disana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya filosof dan penerjemah. Tertarik pada bidang logika, maka ia langsung belajar dari ahli logika yang terkenal yaitu Abu Bisyr Matta ibn Yusnus. Dalam perjalanan mempelajari logika ternyata ia mampu mengungguli gurunya. Di kalangan filosof, terutama Ibn Khaldun, al-Farabi dijuluki dengan “guru kedua’. Guru pertama disematkan pada Aristoteles.
Guru pertama dipandang mampu meluruskan dan mengumpulkan kajian-kajian dalam logika dan permasalahannya. Guru kedua dipandang karena mengarang buku, mengumpulkan, dan menyempurnakan terjemahan karya Aristoteles.
Di Baghdad al Farabi tinggal selama duapuluh tahun. Kemudian beliau tertarik untuk bergabung dengan kaum intelektual di pusat kebudayaan Aleppo. Tempat ini terkenal dengan istananya Saif al Daulah. Rindang, nyaman dan serba berkecukupan. Namun demikian, beliau tidak silau dengan lingkungan istana yang kemilau. Ia bekerja dengan menulis artikel dan buku-bukunya dibawah gemericik air sungai dan di bawah dedaunan yang rindang.
Suasana pusat kebudayaan yang menjunjung tinggi perbedaan pendapat tanpa mengambil keuntungan pribadi. Meski ada simpati yang kuat dan cenderung kearaban dari istana, namun tidak terjadi kelompok-kelompok tertentu. Orang-orang Persia, Turki dan Arab saling berdiskusi dan berdebat. Mereka berasal dari kalangan sarjana, para penyair, ahli bahasa, filosof, dan cerdik pandai lainnya.
Karya-karyanya.
Menurut penulis biografi seperti al Qifti atau Abu Usaibi’ah, al Farabi telah menulis artikel sejumlah 70 an buah. Di masanya, jumlah tersebut tergolong kecil dari segi kwantitas. Bagaimanapun juga al Farabi telah memperoleh gelar guru kedua dalam bidang filsafat. Pencapaian yang luar biasa dedikasinya dalam mengembangkan ilmu filsafat.
Karya al Farabi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu logika dan filsafat. Logika menyangkut bagian-bagian dari organon-nya Aristoteles. Menurutnya, logika mempunyai kedudukan yang mudah dimengerti, sebagimana hubungan antara tata bahasa dengan kata-kata, dan ilmu mantra dengan syair.
Logika juga membantu kita membedakan yang benar dan yang salah dan memperoleh cara yang benar dalam berfikir atau dalam menunjukkan orang lain kepada cara ini. Ia juga menunjukkan dari mana kita mulai berfikir dan bagaimana mengarahkan pikiran itu kepada kesimpulan-kesimpulan akhir.
Karya kedua filsafat. Al Farabi berpendapat bahwa pada hakikatnya filsafat merupakan satu kesatuan. Karena itu, para filosof besar harus menyetujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran. Al Farabi berpendapat bahwa hanya ada satu aliran filsafat, yaitu aliran kebenaran.
Menurut al Farabi, tujuan akhir dari hal-hal di atasadalah mengetahui pencipta Sang Khalik, mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya yang tidak bergerak. Dia-lah sebab pertama bagi adanya segala hal. Dia-lah yang mengatur alam semesta ini dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.
Sumber bacaan :
Para Filosof Muslim. Editor : M.M. Syarif, MA
Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Husayn Ahmad Amin

Manfaatkan Teknologi Informasi untuk Korespondensi

Sebuah kalimat tiba-tiba muncul dari lapak facebook seorang sahabat. Kalimatnya sederhana, namun konskwensinya amat berat. Saya disuruh membantu bagian tabligh. Hanya sepenggal itu kalimatnya. Rangkian kata yang biasanya dia tulis memang lebih banyak bersifat ajakan untuk kebaikan.

Saya tahu persis kalau masuk dalam jajaran tabligh, berarti dia sudah mewakafkan ilmu, kesempatan dan kekuatan untuk berdakwah. Karena tabligh masih dianggap sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Tidak setiap hari tulisan dia muncul. Setiap tayang tidak mesti saya kasih komentar. Entah kenapa hari itu saya langsung memberi masukan untuk dia yang sekarang waktunya lebih banyak untuk berkhidmat. Sebagai orang yang sedikit tahu tentang TI, sayapun memberi saran agar memanfaatkan TI dengan sebaik-baiknya.

Secara pribadi dia selalu menggunakan media sosial untuk mengembangkan buah pikirannya untuk bertabligh. Itu sangat besar manfaatnya bagi teman-teman. Tidak sedikit, nukilan ayat ataupun hadits ia goreskan di media sosial. Tidak sedikit pula saya bisa merasakan, betapa besar faedahnya. Namun sebagai sebuah kelembagaan sekelas bagian tabligh ‘Aisyiyah buka persoalan yang mudah. Pertama, organisasi pasti melibatkan orang lain. Tidak mudah menelorkan sebuah ide seketika bisa diterima oleh orang lain. Kedua, organisasi memiliki etika dan tata tertib. Birokrasi inilah yang mengatur tata kehidupan berorganisasi. Siapa yang mampu menaklukkan birokrasi, dialah yang cepat sampai tujuan. Ketiga, ‘Aisyiah adalah perkumpulan ibu-ibu.

Hampir semua aktifis di ‘Aisyiyah adalah ibu rumah tangga. Berorganisasi masih menjadi pilihan yang kedua ataupun bisa yang ketiga. Wajib bersyukur bahwa kemajuan Teknologi Informasi dapat sedikit membantu meringankan gerak langkah bagian tabligh ‘Aisyiyah. Komunikasi lebih cepat dan efisien. Teknologi ini sudah menjadi milik bersama. Siapapun bisa mengecap kecanggihan komunikasi, tak terkecuali ibu-ibu. Bahkan komunikasi telah sampai tahap genggam. Artinya, informasi apapun bisa diketahui lewat genggaman tangan.

Berkaca dari perkembangan informasi dan komunikasi, alangkah eloknya bila bagian tabligh ‘Aisyiyah dapat menggunakannya. Teknologi ini harus menjadi bagian yang tak terpisahkan semangat menyiarkan, semangat mendawahkan. Surat-surat yang bersifat maklumat, edaran, himbauan bisa diunggah lewat media elektronik seperti e-mail, facebook, atau media sosial lainnya. Karena  ini ditujukan kepada semua anggota ‘Aisyiyah. Semua bisa mengakses. Namun secara organisatoris tetaplah diujudkan dalam dokumen cetak. Karena sebagai bukti otentik.

Aktifitas yang bersifat tuntunan, tata cara, ajaran, lebih baik dikemas dalam bentuk video. Selanjutnya dapat di up load lewat media seperti you tube atau media penyimpan lain. Cara seperti ini sangat efektif untuk sampai ke tangan anggota. Metode ini juga sekaligus memangkas birokrasi, yang biasanya hanya sampai di tingkat daeraj atau cabang. Dengan tayangan yang berbasis video ini dapat meminimalisir multi tafsir. Karena karakteristiknya sangat khas dan jelas.

Dengan memggunakan media internet, model dakwah menjadi lebih ringan dari segi finasial dan transfer data. Meskipun bila ditinjau dari materi dan beban moral mungkin akan lebih berat. Namun paling tidak korespondensinya bisa berjalan cepat dan langsung.

Sehelai Puzzle LB Moerdani

Jangan diharapkan preman yang hidup di tahun 1980 an memiliki napas yang panjang. Mereka ngos-ngosan menghindar timah panas yang diobral oleh penembak misterius ( petrus ). Dengan dalih mengamankan transportasi bis antar kota atau antar pulau, petrus punya hak meng-dor orang yang disinyalir sebagai pembajak bus.
Petrus ternyata mengembangkan lahan. Tidak hanya menundukkan pembajak bis, namun mencari dan memburu orang yang terendus sebagai gabungan anak liar atau gali. Gali memang sempat ngetop kala itu sebagai wadah gabungan anak muda yang suka bikin onar dalam masyarakat. Waktu yang tepat membidik dan melenyapkan gali dikala pagi hari. Sebelum masyarakat memulai aktifitasnya. Sebagaimana yang pernah penulis rasakan.
Muhammad Hasbi sebagai perintah eksekutor. Sebagai komandan Garnisun Yogyakarta, menyatakan perang terbuka terhadap gali. ia mendapat mandat dari Siswadi, bukan dari LB Moerdani yang menjabat sebagai Panglima ABRI. Hanya dua kata yang Hasbi dengarkan saat Moerdani mengevaluasi program perang terhadap gali. ” Bagus. Lanjutkan “.
Itulah sedikit perintah sang jendral kala beliau memangku jabatan tertinggi di militer. Bila kita buka dokumen sepak terjang beliau, mungkin ratusan jumlahnya. Dan itulah nasib perjalanan sang jendral saat menapaki karpet orde baru. Tak beda jauh dengan jendral lainnya. Rapot akan terkuak saat yang bersangkutan telah dipanggil Tuhan.
Sedikit demi sedikit tinta sejarah mengalir menembus tembok yang selama ini menjadi rahasia negara. Bau anyir darah korban keganasan tentara tiba-tiba mengebul. Salah satu yang menjadi korban adalah umat Islam. Apakah ini rekayasa Beny Moerdani? Ataukah sang jendral penguasa orde baru? Siapapun mereka, cuma anak cucu bangsa yang pandai menelaah sejarah.
Saat Moerdani mulai pudar, saat itu pula ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) muncul. ICMI timbul bukanlah melalaui jalan yang rata. Nurcholis Madjid sebagai konseptor khittah ICMI menuturkan bahwa kemunculan ICMI sedikit terganggu dengam masih bercokolnya LB Moerdani. Kala itu, Moerdani masih memiliki hubungan yang erat dengan Soeharto. Persiangan antara Moerdani dan BJ Habibie menandai gerak embrio ICMI sedikit terhambat.
Suatu ketika, Habibie berkunjung ke Jepang. Beliau ke negeri sakura sebenarnya atas undangan pemerintah setempat untuk menjajagi kemungkinan kerja sama teknologi. Duta Besar Jepang, kebetulan masih orangnya Moerdani. Waktu telah diatur oleh pemerintah Jepang, agar pembicaraan sampai detail diperlukan paling tidak 90 menit. Dibalik skenario itu, ternyata Duta Besar telah membuat kesepakatan atas perintah Moerdani agar pertemuandilangsungkantak lebih dari 15 menit.
Sampai akhirnya petugas pemerintah setempat curiga terhadap kaki Duta Besar menggesek-gesek kaki Habibie agar segera menyudahi pertemuan tersebut. Setelah keluar ruangan, pemerintah setempat memohon kepada Habibie agar segera masuk kembali untuk meneruskan perundingan. Peristiwa ini menandakan bahwa Moerdani memang kuat dalam pemerintahan kala itu. Hubungan antara Soeharto dan Moerdani memang sangat erat, karena Moerdani menjadi salah satu pengawal kepercayaannya.
Peristiwa demi peristiwa mengiringi duet mereka berdua. Beberapa tugas negara Moerdani laksanakan dengan penuh tanggung jawab, dan berhasil dengan baik. Namun tidak ada pasang naik saja. Ada kalanya terjadi pasang surut sebagaimana ombak menjilat pantai tanpa henti. Moerdani diisukan akan mengkudeta Presiden Soeharto. Isu ini diterima oleh Soeharto. Tanpa ampun, Moerdani dicopot jabatannya sebelum tuntas. Namun suatu saat Soeharto menyesal, kala Moerdani pernah menasehati agar anaknya Soeharto harus dikendalikan dalam berbisnis. Nasehat itu tidak digubris. Hingga Moerdani menjelang ajal kata itu ia ucapkan dengambahasa jawa. “Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasehatmu, orakoyo ngene. (Kamu memang yang benar Ben. Seandainya aku menuruti nasehatmu, tak akan seperti ini).
Referensi :
1. Tempo edisi khusus 6-12 oktober 2014.
2. Cak Nur sang guru bangsa, ditulis oleh Muhammad Wahyuni Nafis.

Sore di Santosa

Berliku-liku mengikuti alur MRT (mass rapid transit) di Singapura. Harus pandai membaca denah. Jarang sekali orang bertanya kepada orang lain saat kebingungan mencari arah tujuan. Jangankan bertanya. Orang sudah asyik dengan dunianya sendiri. Tak banyak cakap antar orang  meski berdampingan. Ditunjang dengan teknologi gadget. Lengkap sudah kesendirian.
Jadi mesti cermat membaca denah. Harus jeli terhadap setiap informasi yang ditempel hampir semua dinding. Baca dengan takzim arus lalu lintas.  Namun agar tidak sesat bermukalah yang bebal supaya tak terjerumus di belantara metropolitan.
Sebagaimana turis udik, yang pertama dituju pasti singa muntah atau Marlion Park. Wisatawan belum sah jikalau belum selfi dengan berlatar belakang  singa. Kawasan yang wajib dikunjungi diseputaran Fullerion road atau lebih gampangnya Marina Bay.
Setelah puas betendam diri dibawah terikan  matahari, tiba saatnya menuju kawasan Sentosa. Kali ini moda yang digunakan bis kota. Menyusuri jalanan yang kuanggap sepi untuk ukuran sebuah kota metropolitan. Kawasannya bersih. Pengguna jalan rayanya sesuai dengan porsi masing-masing dengan menempatkan pejalan kaki bak raja. Sesekali kupandang bahwa Singapura memang selalu berubah tapi tidak memperkosa lingkungan hidup. Justru alam dimuliakan. Pohon dibikin serindang mungkin. Rumput menghampar menghijaukan bumi. Sampah tak dibiarkan tergolek bukan pada tempatnya.
Santosa ibarat kota dalam kota. Mempercantik diri bersolek bak bidadari yang menunggu pinangan pangeran. Arena betmain namun tak sekedar main-main. Didalamnya ada konsep keterpaduan antara alam dan lingkungan. Arena bermain tapi sekaligus belajar. Sehingga ada keteraturan dengan tidak saling sikut, injak. Harmoni yang didendangkan membuat kerasan hidup di dalamnya.
Kalau arena hiburan bolehkah Trans Studio Bandung atau Makassar bisa bersaing. Sehingga saya tidak begitu kaget dengan aneka ragam permainan dan souvenir yang mahal. Disatu sisi Trans Studio boleh bangga karena kulinernya lebih komplit. Kalau lainnya saya boleh bilang sama saja. Karena filosofi modern bisa betangkat bersama-sama bila ada investor. Tinggal bagaimana cara mengemas sehingga orang lain merasa tertarik dan terhibur, sebagaimana anjungan di sebuah pantai. Tidak sekedar modern, tapi kreatifitas manusia unggul. Sebuah pertujukan sinar laser yang dikemas dalam bentuk seni, betkolaborasi dengan kecanggihan seni animasi. Bagaimana sebuah seni pertujukan layaknya bioskop tapi medianya adalah air. Air bisa dibuat apa saja karena telah dipadukan dengan sinar laser.
Santosa belum akan betakhir dalam mewujudkan diri. Ia terus bergulir. Ia terus berbenah diri sebagai sebuah konsep kota dalam kota tapi lebih menonjolkan dalam wisata.

Menuju Changi

Semalam hujan cukup lebat. Sedari siang yang panas hingga sore membuat gerah disekujur tubuh. Keringat melumuri setiap jengkal pori. Hingga lengket yang tersisa. Namun malam berbaik hati. Sepenggal waktu teruntai dalam kegelapan. Hujan deras segera mengguyur jogja. Seketika kesejukan mencerca dalam desah nafas. Mengantar tidur yang nyanyak. Menyusun energi untuk jelang esok hari.
Malam itu kusudahi pengepakan keperluan pribadi. Retsliting masih terbuka. Menunggu satu dua barang yang sengaja kumasukkan di bagian akhir. Rasa kantuk tak tertahankan. Sebuah bongkahan bantal akhirnya menemani mimpi dalam tidurku.
Sound system masjid selalu setia membangunkan warga kampung. Siapa tahu ada orang yang akan bertemu denganNya. Panjatkan doa agar hari ini diberi kelancaran dalam setiap usaha. Mengais ilmu dan rizki lewat pintu barakah. Meski rasa kantuk masih tersimpan dalam pelupuk mata, tak mengurangi niatku untuk selalu meramaikan aktifitas. Bersama-sama mengagungkan asmaNya. Alhamdulillah.
Koper segera kututup rapat. Langkah demi langkah kuawali menuju bandara Adi Soetjipto. Bandara yang senantiasa menemani siapa saja yang ingin datang dan pergi. Uang pergi selalu kangen untuk kembali. Yang datang tak tertahankan untuk dipeluk jogja. Jogja yang terbuat dari kangen, rindu dan pulang.
Pagi ini langkahku akan menjejakkan ke Singapura. Bersama-sama dengan anak didik dan rekan untuk bersilaturahmi dengan saudara senasib, dunia pendidikan. Kita akan bertukar pengalaman. Saling menerima dan memberi. Tapi kusadari bahwa dari kedua pilihan itu, aku merasa haus untuk menerima. Harus kuluangkan mangkok otakku untuk menampungnya.
Singapura. Negeri impian. Bukan entah apa yang dirindui, tapi entah apalagi yang akan diraup saat ini. Kemodernan apalagi yang akan dusuguhkan negeri singa. Daya tariknya begitu lekat. Magnet apa lagi yang hendak ditampilkan, hingga membuat terpesona. Barangkali singapura terbuat dari magnet.
Kota besar, dimanapun sama saja. Paling lama 6 bulan hampir pasti ada perubahan. Membuat orang pangling. Jakarta, Singapura, Kuala Lumpur selalu mirip dengan dinamika di segala bidang. Tak hanya wajah, namun temperamen penghuninya juga sama saja. Selalu berubah.
Begiti jemari kaki menginjak di Cangi, sudah ada getaran yang dirasakan beberapa tahun yang lalu. Changi berbeda dengan Cengkareng. Pun demikian dengan Bandara Sultan Abdul Aziz, Bandara Suvarnabhumi di Bangkok. Mungkin belajar dari pengalaman hilangnya pesawat Malaysian Air Line. Di Changi sangat ketat terhadap setiap penumpang. Namun demikian jangan ditanya terhadap komitmen ketepatan waktu, kenyamanan, pelayanan. Harus diakui Changi patut berbangga.

Lagu Cinta Terbaik

Saat saya masih kecil, saya paling suka mendengarkan acara tangga lagu di sebuah radio. Saya ingat betul lagu “Lagu Untuk Sebuah Nama” yang dinyanyikan oleh Ebiet G Ade demikian lama bertengger dipuncak. Saya tak ingat benar berapa minggu lagi itu sebagai pemuncak. Kalau tidak salah sampai 14 minggu – 3 bulan. Saingan terdekat adalah lagunya “Jangan Sakiti Hatinya” yang dipopulerkan Iis Sugianto.

Lagu lama, seputar tahun 70 – 80 an, hingga sekarang masih menjadi favorit bagi penggemar. Lirik lagunya sederhana, irama lagunya juga sederhana, tapi penyanyinya punya karakter yang kuat. Penyanyi yang masuk ke dapur rekaman, memang telah diseleksi dengan ketat. Musisi tak akan membiarkan seorang calon penyanyi yang berangkat dari suara biasa-biasa saja. Boleh dikatakan bahwa penyanyi masuk dalam lorong bakat alam, bergulat di ranah alam.

Lagu Untuk Sebuah Nama yang menjadi sound track film “Arjuna Mencari Cinta”, yang diperankan oleh Herman Felani sempat memicu perdebatan. Penggemar wayang tak rela bila Arjuna (tokoh pewayangan) dijadikan sebuah judul film yang diembel-embeli dengan mencari cinta. Seakan-akan bahwa Arjuna itu adalah Don Juan.

Beberapa tahun terakhir ini saya baru mengerti bahwa Lagu Untuk Sebuah Nama adalah lagu yang realistis. Inilah lagu cinta yang terbaik menurut versi saya. Ini bukanlah pengalaman pribadi, tapi saya lagu yang saya pahami lewat liriknya. Bahwa cinta tak harus bertemu, sekalipun hanya lewat bayangannya.

http://www.youtube.com/watch?v=GRuMZcLQWO8.html

Lagu Untuk Sebuah Nama

Mengapa jiwaku mesti bergetar 
 Sedang musikpun manis kudengar 
 Mungkin karena kulihat lagi 
 Lentik bulu matamu 
 Bibirmu dan rambutmu yang kau biarkan 
 Jatuh berderai di keningmu 
 Makin mengajakku terpana 
 Kau goreskan gita cinta 
 
 Mengapa aku mesti duduk disini 
 Sedang kau tepat didepanku 
 Mestinya kau berdiri berjalan kedepanmu 
 Kusapa dan kunikmati wajahmu 
 Atau kuisyaratkan cinta 
 Tapi semua tak kulakukan 
 Kata orang cinta mesti berkorban 
 
 Mengapa dadaku mesti bergoncang 
 Bila kusebutkan namamu 
 Sedang kau diciptakan bukanlah untukku 
 Itu pasti tapi aku tak mau perduli 
 Sebab cinta bukan mesti bersatu 
 Biar kucumbui bayanganmu 
 Dan kusandarkan harapanku 

Media Tanpa Tuan

Tulisan diatas saya kutip dari buku “Cerita Di Balik Dapur Tempo- 40 tahun (1971 – 2011). Sebuah tulisan diakhir sebuah paragraf. Tapi maknanya begitu mendalam. Penuduh maupun tertuduh semua diberi kesempatan untuk mengatakan sesuai dengan fakta yang dialaminya. Pembaca diberi keleluasaan untuk menjadi hakim. Pembaca yang bijak ia tidak serta merta menerima berita yang dibaca. Ia akan melakukan cross cek dengan sumber lain.

Tempo, mengklaim dirinya sebagai media tak bertuan. Sampai sekarang, seperti yang sekarang kita lihat, tempo tetap konsisten. Independen. Justru tanpa tuanlah, Tempo dengan leluasa menulis apa adanya. Baik perorangan maupun kelembagaan, baik swasta maupun pemerintah, Tempo memiliki kewajiban memberitahukan kepada orang lain lewat jurnalistik. Apalagi, Tempo telah mengalami hidup dalam masa orde baru. Masa dimana kekuasaan amat absolut. Ujudnya tidak terlihat mata tapi mematikan.

Kata independen, menurut saya, lebih banyak digunakan pada nuansa politik. Atau bidang apa saja namun dipolitikan. Politik bisa menjalar sampai seluruh sendi kehidupan, termasuk bermain dalam wilayah yang paling asasi sekalipun, yaitu agama. Karena politik adalah seksi, begitu menggoda.

Jadi adakah media, baik elektronik maupun bukan, yang dapat berdiri tanpa kekuatan kepentingan kelompok dan golongan tertentu? Jawabnya tentu saja saya kembalikan kepada pembaca. Sebab bisa jadi, pembaca memiliki media, dan itu resmi, yang beredar dalam komunitas tertentu.

Ada harapan media elektronik khususnya radio, yang secara rutin mewartakan berita aktual seputar politik dan ekonomi lengkap dengan analisanya yang benar-benar ditengah, tanpa memihak. Mereka berani mengambil nara sumber yang kredibel, yang bisa dipertanggung jawabkan. Mumpuni, berbicara diatas fakta dan data. Namun keberadaan radio masih terbatas dalam radius gelombang. Masih kedaerahan.

Semula detik.com bisa juga kita anggap sebuah impian. Tapi sekarang detik sudah bertuan. Bahkan media internet ini telah dikawinkan dengan televisi. Jadilah wajah yang glamour. Disana sini telah dipoles seperti siap bertarung dalam ajang festival. Detik masih berbaju berita dengan mengandalkan kecepatan, namun minim analisa.

Metro TV adalah salah satu asa, yang digadang-gadang untuk menjadi salah satu sumber yang bisa dipercaya, dalam membagi informasi. Namun akhirnya gugur juga, setelah pemiliknya memproklamirkan partai politik “Nasdem”. Dulu, Nasional Demokratik berikhtiar hanya sebagai organisasi sosial. Namun setelah bergoyang dengan si seksi, jatuhlah dalam pelukan partai.

Bagaimana cara bersikap, andaikata kita menemui sebuah berita yang datang dari berbagai jenis media yang mengusung misinya masing-masing? Perbanyak membaca pembanding. Sekalipun berita dan muatannya sama, namun bila diimbangi dengan membaca dari sumber lain, minimal banyak referensi yang masuk ke otak kita. Bila informasi sudah masuk tinggal  giliran otak yang bekerja, sampai menuju kesimpulan.

Lakukan silang pendapat. Aroma dan rasa minuman dalam kemasan botol, memiliki takaran yang hampir sama. Volume, komposisi pemanis, dan ragam rempah-rempah yang menyertainya. Bila dihidangkan kepada 5 orang, dapat dipastikan bahwa minuman itu mempunyai 5 rasa. Karena setiap orang memiliki kadar rasa yang berbeda-beda.

Analoginya sama dengan berita. Rencana kenaikan harga BBM yang tertunda, punya interpretasi yang berbeda. Tergantung dari penerima berita dan tafsirannya. Dari obrolan itulah kita bisa mengambil hikmah sampai menuju kesimpulan.

Konsultasikan dengan buku bacaan. Sewaktu sekolah atau kuliah pasti kita punya buku bacaan atau paling tidak catatan. Buku dan catatan itu adalah sebuah ilmu yang dibangun dari beberapa informasi/pengalaman yang secara terus menerus dan cenderung tetap. Proses seleksi alam, mengatakan bahwa yang terkuat adalah yang paling unggul. Teori ini dapat kita gunakan dalam segala cuaca. Manusia bila ingin eksis, maka harus mengalahkan segala rintangan.

Berita, bila ingin selalu dibaca oleh orang lain maka harus melewati seleksi alam. Pada masa sekarang, seleksi alam bisa dikatagorikan sebagai manajemen. Semakin baik manajemennya, maka semakin baik pula pengelolaan berita. Baik dalam arti kualitas berita. Berita itu ditopang oleh sumber daya manusia, sumber financial, jaringan dll.

1 6 7 8 9