Media Sebagai Kontrol Akrobat Politik

Minggu pagi yang cerah, sambil bersendawa di pinggir sawah, saya tak sengaja meng-klik mata najwa di youtube. Secara acak kupilih salah satu segmen “Pemimpin Koboi”. 3 panelisnya : Dahlan Iskan, Mahfudz MD dan Ahok. Dihadiri ratusan mahasiswa Malang dan sekitarnya.

Salah satu pernyataan Mahfudz yang membuat saya tergelitik tentang adanya media sebagai salah satu alat kontrol kehidupan. Karena menurut pandangan beliau, setelah eksekutif dan legislatif yang sudah tidak mampu memberi kenyamanan masyarakat, siapa lagi kalau bukan media? Ini terbukti dengan peristiwa cicak-buaya jilid 2 dan kehebohan rencana pembangunan DPR.

Beruntung saya punya Buku Pintar Kompas 2011. Salah satu isinya, membahas secara kronologis peristiwa rencana pembangunan gedung DPR. Gedung itu sedia kalanya dianggar Rp. 1,3 T (tahun 2008). Dalam perjalanan direvisi menjadi Rp. 777 M, setelah sebelumnya naik dari Rp. 1,3 T ke Rp. 1,8 T (revisi tahun 2010).

» Read more

Piagam Madinah dan Kepemimpinan

Konsep penulisan Piagam Madinah lasung dari Nabi Muhammad saw. Piagam Madinah merupakan perjanjian antar masyarakat yang hidup di Madinah (dahulu bernama Yatsrib). Pertikaian antar sukulah yang menyebabkan perjanjian ini lahir. Utamanya Bani ‘Aus dan Bani Khazraj.

Dalam catatan sejarah, ada 4 kelompok besar masyarakat yang menghuni Madinah saat itu, yaitu :

  1. Kaum Muhajirin : kelompok masyarakat Mekkah yang hijrah ke Madinah
  2. Suku Anshar : penduduk pribumi
  3. Yahudi
  4. Masyarakat yang setia mewarisi tradisi nenek moyang

Menurut sosiolog, Piagam Madinah ini lahir prematur. Perjanjian tertulis antar masyarakat yang mendahului kondisi sosial kemasyarakatan menurut ukuran sosiologi. Jikalau Islam tidak datang, apapun sebutan masyarakat saat itu, maka masyarakat di Madinah adalah masyarakat dengan kemampuan tata kelola sosial yang tinggi. Mendahului dari kehidupan masyarakat yang semestinya.

» Read more

Megawati kalah Tiga Kali

Andai Jokowi telah dilantik secara resmi menjadi Presiden RI yang ke-7, menurut analisaku secara politik, berarti Megawati kalah 3 kali. Pertama beliau kalah dari SBY di tahun 2004 yang waktu itu diusung Partai Demokrat yang termasuk partai gurem. Tapi denga cerdik menggandeng Golkar untuk memimpin republik ini. Padahal PDI P sebagai partai pemenang pemilu.
Fenomena yang muncul di tahun tersebut karena buah kelihaian poros tengah. Disisi lain SBY menurut sebagian warga, orang yang disingkirkan. Sehingga rakyat muncul belas kasian. Ingat ucapan Taufik Kiemas almarhum yang mengatakan Jendral seperti anak kecil.
Tahun 2009 merupakan buah yang ditanam Partai Demokrat. Sebelum badai menerjang partai, boleh dikatakan Demokrat sebagai salah satu partai idaman masyarat. Sekali lagi Megawati kalah telak.
Tahun 2014, sebenarnya tahun yang digadang-gadang bagi pendemen Megawati untuk meraih Presiden. Apadaya, sebagian masyarakat sudah terlanjur cinta dengan Jokowi. Terjadi pertarungan yang dahsyat di lingkar partai, antara tetap memepertahankan Megawati atau memunculkan Jokowi. Ternyata elit partai lebih memililih budaya populer dan menyampingkan ideologi. Apa penyebabnya PDI P memutuskan untuk mengorbitkan Jokowi.
Ideologi
Ideologi PDIP tidak segarang dulu. Budaya praktis telah merambah partai yang dikenal amat ketat dengan jargon nasionalis. Pendukung setia Megawati dipecundangi dengan elit partai yang lebih mementingkan budaya tawar. Satu hal yang mungkin tidak bisa dihindari. PDIP mania hanya bisa mengamini titah ketua umum, meskipun telah disudutkan pada sisi tanpa banyak altetnatif.
Rebutan di Ring satu
Budaya praktis yang telah menjinakkan konservatif adalah buah karya dari elit partai yang tidak mau melepas kekuasaan baik di parlemen maupun pemetintahan. Banyak kader partai yang enggan untuk melepas kursi meskipun dengan menggandaikan loyalitas terhadap ketua umum. Generasi muda di partai, saat ini tidak merasakan pahit getirnya melawan orde baru.
Partai itu Hotel. Kekuasaan itu Rumah
Harus diakui bahwa keluar masuk dalam sebuah partai itu biasa. Kutu loncat istilahnya. Manakala kekuasaan sangat tipis untuk didapatkan, dengan enteng untuk melepaskannya. Yang disayangkan di PDIP, mengapa orang masuk ke partai begitu mudah. Tidak sejalan dengan ideologi yang digenggam. Inilah mungkin kelemahan dari PDIP. Banyak kasus kepala daerah yang berasal dari PDIP, tapi dalam perjalanan orang tersebut bukan yang membesarkan partai. Penjaga gawang partai di semua level kebobolan. Bila tidak akan perbaikan, maka kader partai hanya bangga menjadi karyawan hotel.

Al Farabi

Abu Nasr al Farabi, demikian nama lengkapnya. Lahir pada tahun 870 M atau 258 H. Beliau termasuk filosof muslim yang hidup pada abad 10. Lahir di Wasij, sebuah dusun dekat Farab, di Transoxiana, termasuk Negara Turki. Menurut murid-muridnya, al Farabi termasuk aneh. Karena umumnya filosof jaman dahulu, menuliskan biografinya sendiri atau murid pengagumnya. Beliau tidak mau mengisahkan kehidupan pribadi untuk konsumsi publik, baik sebagai salah satu sumber sejarah maupun kekayaan khasanah muslim.
Dalam pencarian menimba ilmu, ia lebih senang menetap di Baghdad sebagai pusat belajar yang terkemuka. Disana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya filosof dan penerjemah. Tertarik pada bidang logika, maka ia langsung belajar dari ahli logika yang terkenal yaitu Abu Bisyr Matta ibn Yusnus. Dalam perjalanan mempelajari logika ternyata ia mampu mengungguli gurunya. Di kalangan filosof, terutama Ibn Khaldun, al-Farabi dijuluki dengan “guru kedua’. Guru pertama disematkan pada Aristoteles.
Guru pertama dipandang mampu meluruskan dan mengumpulkan kajian-kajian dalam logika dan permasalahannya. Guru kedua dipandang karena mengarang buku, mengumpulkan, dan menyempurnakan terjemahan karya Aristoteles.
Di Baghdad al Farabi tinggal selama duapuluh tahun. Kemudian beliau tertarik untuk bergabung dengan kaum intelektual di pusat kebudayaan Aleppo. Tempat ini terkenal dengan istananya Saif al Daulah. Rindang, nyaman dan serba berkecukupan. Namun demikian, beliau tidak silau dengan lingkungan istana yang kemilau. Ia bekerja dengan menulis artikel dan buku-bukunya dibawah gemericik air sungai dan di bawah dedaunan yang rindang.
Suasana pusat kebudayaan yang menjunjung tinggi perbedaan pendapat tanpa mengambil keuntungan pribadi. Meski ada simpati yang kuat dan cenderung kearaban dari istana, namun tidak terjadi kelompok-kelompok tertentu. Orang-orang Persia, Turki dan Arab saling berdiskusi dan berdebat. Mereka berasal dari kalangan sarjana, para penyair, ahli bahasa, filosof, dan cerdik pandai lainnya.
Karya-karyanya.
Menurut penulis biografi seperti al Qifti atau Abu Usaibi’ah, al Farabi telah menulis artikel sejumlah 70 an buah. Di masanya, jumlah tersebut tergolong kecil dari segi kwantitas. Bagaimanapun juga al Farabi telah memperoleh gelar guru kedua dalam bidang filsafat. Pencapaian yang luar biasa dedikasinya dalam mengembangkan ilmu filsafat.
Karya al Farabi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu logika dan filsafat. Logika menyangkut bagian-bagian dari organon-nya Aristoteles. Menurutnya, logika mempunyai kedudukan yang mudah dimengerti, sebagimana hubungan antara tata bahasa dengan kata-kata, dan ilmu mantra dengan syair.
Logika juga membantu kita membedakan yang benar dan yang salah dan memperoleh cara yang benar dalam berfikir atau dalam menunjukkan orang lain kepada cara ini. Ia juga menunjukkan dari mana kita mulai berfikir dan bagaimana mengarahkan pikiran itu kepada kesimpulan-kesimpulan akhir.
Karya kedua filsafat. Al Farabi berpendapat bahwa pada hakikatnya filsafat merupakan satu kesatuan. Karena itu, para filosof besar harus menyetujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran. Al Farabi berpendapat bahwa hanya ada satu aliran filsafat, yaitu aliran kebenaran.
Menurut al Farabi, tujuan akhir dari hal-hal di atasadalah mengetahui pencipta Sang Khalik, mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya yang tidak bergerak. Dia-lah sebab pertama bagi adanya segala hal. Dia-lah yang mengatur alam semesta ini dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.
Sumber bacaan :
Para Filosof Muslim. Editor : M.M. Syarif, MA
Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Husayn Ahmad Amin

Manfaatkan Teknologi Informasi untuk Korespondensi

Sebuah kalimat tiba-tiba muncul dari lapak facebook seorang sahabat. Kalimatnya sederhana, namun konskwensinya amat berat. Saya disuruh membantu bagian tabligh. Hanya sepenggal itu kalimatnya. Rangkian kata yang biasanya dia tulis memang lebih banyak bersifat ajakan untuk kebaikan.

Saya tahu persis kalau masuk dalam jajaran tabligh, berarti dia sudah mewakafkan ilmu, kesempatan dan kekuatan untuk berdakwah. Karena tabligh masih dianggap sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Tidak setiap hari tulisan dia muncul. Setiap tayang tidak mesti saya kasih komentar. Entah kenapa hari itu saya langsung memberi masukan untuk dia yang sekarang waktunya lebih banyak untuk berkhidmat. Sebagai orang yang sedikit tahu tentang TI, sayapun memberi saran agar memanfaatkan TI dengan sebaik-baiknya.

Secara pribadi dia selalu menggunakan media sosial untuk mengembangkan buah pikirannya untuk bertabligh. Itu sangat besar manfaatnya bagi teman-teman. Tidak sedikit, nukilan ayat ataupun hadits ia goreskan di media sosial. Tidak sedikit pula saya bisa merasakan, betapa besar faedahnya. Namun sebagai sebuah kelembagaan sekelas bagian tabligh ‘Aisyiyah buka persoalan yang mudah. Pertama, organisasi pasti melibatkan orang lain. Tidak mudah menelorkan sebuah ide seketika bisa diterima oleh orang lain. Kedua, organisasi memiliki etika dan tata tertib. Birokrasi inilah yang mengatur tata kehidupan berorganisasi. Siapa yang mampu menaklukkan birokrasi, dialah yang cepat sampai tujuan. Ketiga, ‘Aisyiah adalah perkumpulan ibu-ibu.

Hampir semua aktifis di ‘Aisyiyah adalah ibu rumah tangga. Berorganisasi masih menjadi pilihan yang kedua ataupun bisa yang ketiga. Wajib bersyukur bahwa kemajuan Teknologi Informasi dapat sedikit membantu meringankan gerak langkah bagian tabligh ‘Aisyiyah. Komunikasi lebih cepat dan efisien. Teknologi ini sudah menjadi milik bersama. Siapapun bisa mengecap kecanggihan komunikasi, tak terkecuali ibu-ibu. Bahkan komunikasi telah sampai tahap genggam. Artinya, informasi apapun bisa diketahui lewat genggaman tangan.

Berkaca dari perkembangan informasi dan komunikasi, alangkah eloknya bila bagian tabligh ‘Aisyiyah dapat menggunakannya. Teknologi ini harus menjadi bagian yang tak terpisahkan semangat menyiarkan, semangat mendawahkan. Surat-surat yang bersifat maklumat, edaran, himbauan bisa diunggah lewat media elektronik seperti e-mail, facebook, atau media sosial lainnya. Karena  ini ditujukan kepada semua anggota ‘Aisyiyah. Semua bisa mengakses. Namun secara organisatoris tetaplah diujudkan dalam dokumen cetak. Karena sebagai bukti otentik.

Aktifitas yang bersifat tuntunan, tata cara, ajaran, lebih baik dikemas dalam bentuk video. Selanjutnya dapat di up load lewat media seperti you tube atau media penyimpan lain. Cara seperti ini sangat efektif untuk sampai ke tangan anggota. Metode ini juga sekaligus memangkas birokrasi, yang biasanya hanya sampai di tingkat daeraj atau cabang. Dengan tayangan yang berbasis video ini dapat meminimalisir multi tafsir. Karena karakteristiknya sangat khas dan jelas.

Dengan memggunakan media internet, model dakwah menjadi lebih ringan dari segi finasial dan transfer data. Meskipun bila ditinjau dari materi dan beban moral mungkin akan lebih berat. Namun paling tidak korespondensinya bisa berjalan cepat dan langsung.

Sehelai Puzzle LB Moerdani

Jangan diharapkan preman yang hidup di tahun 1980 an memiliki napas yang panjang. Mereka ngos-ngosan menghindar timah panas yang diobral oleh penembak misterius ( petrus ). Dengan dalih mengamankan transportasi bis antar kota atau antar pulau, petrus punya hak meng-dor orang yang disinyalir sebagai pembajak bus.
Petrus ternyata mengembangkan lahan. Tidak hanya menundukkan pembajak bis, namun mencari dan memburu orang yang terendus sebagai gabungan anak liar atau gali. Gali memang sempat ngetop kala itu sebagai wadah gabungan anak muda yang suka bikin onar dalam masyarakat. Waktu yang tepat membidik dan melenyapkan gali dikala pagi hari. Sebelum masyarakat memulai aktifitasnya. Sebagaimana yang pernah penulis rasakan.
Muhammad Hasbi sebagai perintah eksekutor. Sebagai komandan Garnisun Yogyakarta, menyatakan perang terbuka terhadap gali. ia mendapat mandat dari Siswadi, bukan dari LB Moerdani yang menjabat sebagai Panglima ABRI. Hanya dua kata yang Hasbi dengarkan saat Moerdani mengevaluasi program perang terhadap gali. ” Bagus. Lanjutkan “.
Itulah sedikit perintah sang jendral kala beliau memangku jabatan tertinggi di militer. Bila kita buka dokumen sepak terjang beliau, mungkin ratusan jumlahnya. Dan itulah nasib perjalanan sang jendral saat menapaki karpet orde baru. Tak beda jauh dengan jendral lainnya. Rapot akan terkuak saat yang bersangkutan telah dipanggil Tuhan.
Sedikit demi sedikit tinta sejarah mengalir menembus tembok yang selama ini menjadi rahasia negara. Bau anyir darah korban keganasan tentara tiba-tiba mengebul. Salah satu yang menjadi korban adalah umat Islam. Apakah ini rekayasa Beny Moerdani? Ataukah sang jendral penguasa orde baru? Siapapun mereka, cuma anak cucu bangsa yang pandai menelaah sejarah.
Saat Moerdani mulai pudar, saat itu pula ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) muncul. ICMI timbul bukanlah melalaui jalan yang rata. Nurcholis Madjid sebagai konseptor khittah ICMI menuturkan bahwa kemunculan ICMI sedikit terganggu dengam masih bercokolnya LB Moerdani. Kala itu, Moerdani masih memiliki hubungan yang erat dengan Soeharto. Persiangan antara Moerdani dan BJ Habibie menandai gerak embrio ICMI sedikit terhambat.
Suatu ketika, Habibie berkunjung ke Jepang. Beliau ke negeri sakura sebenarnya atas undangan pemerintah setempat untuk menjajagi kemungkinan kerja sama teknologi. Duta Besar Jepang, kebetulan masih orangnya Moerdani. Waktu telah diatur oleh pemerintah Jepang, agar pembicaraan sampai detail diperlukan paling tidak 90 menit. Dibalik skenario itu, ternyata Duta Besar telah membuat kesepakatan atas perintah Moerdani agar pertemuandilangsungkantak lebih dari 15 menit.
Sampai akhirnya petugas pemerintah setempat curiga terhadap kaki Duta Besar menggesek-gesek kaki Habibie agar segera menyudahi pertemuan tersebut. Setelah keluar ruangan, pemerintah setempat memohon kepada Habibie agar segera masuk kembali untuk meneruskan perundingan. Peristiwa ini menandakan bahwa Moerdani memang kuat dalam pemerintahan kala itu. Hubungan antara Soeharto dan Moerdani memang sangat erat, karena Moerdani menjadi salah satu pengawal kepercayaannya.
Peristiwa demi peristiwa mengiringi duet mereka berdua. Beberapa tugas negara Moerdani laksanakan dengan penuh tanggung jawab, dan berhasil dengan baik. Namun tidak ada pasang naik saja. Ada kalanya terjadi pasang surut sebagaimana ombak menjilat pantai tanpa henti. Moerdani diisukan akan mengkudeta Presiden Soeharto. Isu ini diterima oleh Soeharto. Tanpa ampun, Moerdani dicopot jabatannya sebelum tuntas. Namun suatu saat Soeharto menyesal, kala Moerdani pernah menasehati agar anaknya Soeharto harus dikendalikan dalam berbisnis. Nasehat itu tidak digubris. Hingga Moerdani menjelang ajal kata itu ia ucapkan dengambahasa jawa. “Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasehatmu, orakoyo ngene. (Kamu memang yang benar Ben. Seandainya aku menuruti nasehatmu, tak akan seperti ini).
Referensi :
1. Tempo edisi khusus 6-12 oktober 2014.
2. Cak Nur sang guru bangsa, ditulis oleh Muhammad Wahyuni Nafis.

Sore di Santosa

Berliku-liku mengikuti alur MRT (mass rapid transit) di Singapura. Harus pandai membaca denah. Jarang sekali orang bertanya kepada orang lain saat kebingungan mencari arah tujuan. Jangankan bertanya. Orang sudah asyik dengan dunianya sendiri. Tak banyak cakap antar orang  meski berdampingan. Ditunjang dengan teknologi gadget. Lengkap sudah kesendirian.
Jadi mesti cermat membaca denah. Harus jeli terhadap setiap informasi yang ditempel hampir semua dinding. Baca dengan takzim arus lalu lintas.  Namun agar tidak sesat bermukalah yang bebal supaya tak terjerumus di belantara metropolitan.
Sebagaimana turis udik, yang pertama dituju pasti singa muntah atau Marlion Park. Wisatawan belum sah jikalau belum selfi dengan berlatar belakang  singa. Kawasan yang wajib dikunjungi diseputaran Fullerion road atau lebih gampangnya Marina Bay.
Setelah puas betendam diri dibawah terikan  matahari, tiba saatnya menuju kawasan Sentosa. Kali ini moda yang digunakan bis kota. Menyusuri jalanan yang kuanggap sepi untuk ukuran sebuah kota metropolitan. Kawasannya bersih. Pengguna jalan rayanya sesuai dengan porsi masing-masing dengan menempatkan pejalan kaki bak raja. Sesekali kupandang bahwa Singapura memang selalu berubah tapi tidak memperkosa lingkungan hidup. Justru alam dimuliakan. Pohon dibikin serindang mungkin. Rumput menghampar menghijaukan bumi. Sampah tak dibiarkan tergolek bukan pada tempatnya.
Santosa ibarat kota dalam kota. Mempercantik diri bersolek bak bidadari yang menunggu pinangan pangeran. Arena betmain namun tak sekedar main-main. Didalamnya ada konsep keterpaduan antara alam dan lingkungan. Arena bermain tapi sekaligus belajar. Sehingga ada keteraturan dengan tidak saling sikut, injak. Harmoni yang didendangkan membuat kerasan hidup di dalamnya.
Kalau arena hiburan bolehkah Trans Studio Bandung atau Makassar bisa bersaing. Sehingga saya tidak begitu kaget dengan aneka ragam permainan dan souvenir yang mahal. Disatu sisi Trans Studio boleh bangga karena kulinernya lebih komplit. Kalau lainnya saya boleh bilang sama saja. Karena filosofi modern bisa betangkat bersama-sama bila ada investor. Tinggal bagaimana cara mengemas sehingga orang lain merasa tertarik dan terhibur, sebagaimana anjungan di sebuah pantai. Tidak sekedar modern, tapi kreatifitas manusia unggul. Sebuah pertujukan sinar laser yang dikemas dalam bentuk seni, betkolaborasi dengan kecanggihan seni animasi. Bagaimana sebuah seni pertujukan layaknya bioskop tapi medianya adalah air. Air bisa dibuat apa saja karena telah dipadukan dengan sinar laser.
Santosa belum akan betakhir dalam mewujudkan diri. Ia terus bergulir. Ia terus berbenah diri sebagai sebuah konsep kota dalam kota tapi lebih menonjolkan dalam wisata.

1 7 8 9 10