Melukis itu Mencerdaskan

Saat saya masih kecil, yang namanya orang cerdas itu pinter dalam pengetahuan. Kalau rujukan di sekolah, anak yang cerdas adalah mereka yang mendapatkan nilai yang baik setiap ulangan. Minimal 8, lebih sering dapat 10. Hanya segelintir anak yang menikmati golongan kelas cerdas. Selebihnya hanya penggembira. Pura-pura ikut kompetisi. Namun sejatinya sudah dalam kondisi menyerah dan hanya membuat senang orang tua. Ada juga kelompok pecundang, yang hampir selalu membuat ulah dalam kelas. Itu ukuran kecerdasan waktu itu.

Lambat laun ternyata profesi seseorang diluar kecerdasan diatas diakui oleh orang lain. Orang yang trampil memainkan instrument dalam bermusik semakin mendapat perhatian orang lain. Bahkan dengan bermusik ternyata seseorang mampu menghidupi keluarga. Anak yang pandai bergaul dengan temannya, sehingga mampu mengerahkan dalam setiap aktifitas dianggap cerdas dalam bermasyarakat. Dikemudian hari, anak ini bahkan menduduki di sebuah lembaga Negara, dan mampu mengelola masyarakat dengan baik. Tidak jarang kita temui seorang anak yang mampu memperagakan kuas untuk melukis diatas kanvas. Anak ini juga mampu memvisualkan keanekaragaman yang terjadi dalam masyarakat. Orang akan mampu membaca kehidupan masyarakat hanya dengan melihat lukisan.

» Read more

Struktur Al-Qur’an

koleksi pribadi

Al-Qur’an sebagai kitab suci kaum muslimin tentu menjadi pegangan dalam segala aktifitas. Semua yang dilakukan oleh orang Islam harus merujuk kepadaNya. Maka, mestinya kitab ini mudah dipahami. Gampang untuk melaksanakan semua yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Oleh karenanya ulama-ulama telah membimbing cara memahami Al-Qur’an dengan membuat struktur atau sistem. Struktur ini terdiri dari :
A. Surah
Al-Qur’an terdiri dari 114 surah. Masing-masing memiliki sebuah nama yang mencetminkan isi atau kandungannya. Namun ada juga surah-surah yang memiliki lebih dari satau nama, yaitu :
1. Al-Fatihah dinamakan juga ummul Qura’an san as-Sab’ul Matsani.
2. at-Taubah atau Bara’ah
3. al-Isra’ dinamakan juga Bani Israil
4. Fatir disebut juga al-Mala’ikah
5. Gafir atau al-Mu’min
6. Fussilat disebut juga Ha Mim Sajdah
7. al-Ihaan atau ad-Dahr
8. al-Muthaffifin dinamakan juga at-Thaif
9. al-Lahab atau al-Masad.

» Read more

Media Sebagai Kontrol Akrobat Politik

Minggu pagi yang cerah, sambil bersendawa di pinggir sawah, saya tak sengaja meng-klik mata najwa di youtube. Secara acak kupilih salah satu segmen “Pemimpin Koboi”. 3 panelisnya : Dahlan Iskan, Mahfudz MD dan Ahok. Dihadiri ratusan mahasiswa Malang dan sekitarnya.

Salah satu pernyataan Mahfudz yang membuat saya tergelitik tentang adanya media sebagai salah satu alat kontrol kehidupan. Karena menurut pandangan beliau, setelah eksekutif dan legislatif yang sudah tidak mampu memberi kenyamanan masyarakat, siapa lagi kalau bukan media? Ini terbukti dengan peristiwa cicak-buaya jilid 2 dan kehebohan rencana pembangunan DPR.

Beruntung saya punya Buku Pintar Kompas 2011. Salah satu isinya, membahas secara kronologis peristiwa rencana pembangunan gedung DPR. Gedung itu sedia kalanya dianggar Rp. 1,3 T (tahun 2008). Dalam perjalanan direvisi menjadi Rp. 777 M, setelah sebelumnya naik dari Rp. 1,3 T ke Rp. 1,8 T (revisi tahun 2010).

» Read more

Piagam Madinah dan Kepemimpinan

Konsep penulisan Piagam Madinah lasung dari Nabi Muhammad saw. Piagam Madinah merupakan perjanjian antar masyarakat yang hidup di Madinah (dahulu bernama Yatsrib). Pertikaian antar sukulah yang menyebabkan perjanjian ini lahir. Utamanya Bani ‘Aus dan Bani Khazraj.

Dalam catatan sejarah, ada 4 kelompok besar masyarakat yang menghuni Madinah saat itu, yaitu :

  1. Kaum Muhajirin : kelompok masyarakat Mekkah yang hijrah ke Madinah
  2. Suku Anshar : penduduk pribumi
  3. Yahudi
  4. Masyarakat yang setia mewarisi tradisi nenek moyang

Menurut sosiolog, Piagam Madinah ini lahir prematur. Perjanjian tertulis antar masyarakat yang mendahului kondisi sosial kemasyarakatan menurut ukuran sosiologi. Jikalau Islam tidak datang, apapun sebutan masyarakat saat itu, maka masyarakat di Madinah adalah masyarakat dengan kemampuan tata kelola sosial yang tinggi. Mendahului dari kehidupan masyarakat yang semestinya.

» Read more

Megawati kalah Tiga Kali

Andai Jokowi telah dilantik secara resmi menjadi Presiden RI yang ke-7, menurut analisaku secara politik, berarti Megawati kalah 3 kali. Pertama beliau kalah dari SBY di tahun 2004 yang waktu itu diusung Partai Demokrat yang termasuk partai gurem. Tapi denga cerdik menggandeng Golkar untuk memimpin republik ini. Padahal PDI P sebagai partai pemenang pemilu.
Fenomena yang muncul di tahun tersebut karena buah kelihaian poros tengah. Disisi lain SBY menurut sebagian warga, orang yang disingkirkan. Sehingga rakyat muncul belas kasian. Ingat ucapan Taufik Kiemas almarhum yang mengatakan Jendral seperti anak kecil.
Tahun 2009 merupakan buah yang ditanam Partai Demokrat. Sebelum badai menerjang partai, boleh dikatakan Demokrat sebagai salah satu partai idaman masyarat. Sekali lagi Megawati kalah telak.
Tahun 2014, sebenarnya tahun yang digadang-gadang bagi pendemen Megawati untuk meraih Presiden. Apadaya, sebagian masyarakat sudah terlanjur cinta dengan Jokowi. Terjadi pertarungan yang dahsyat di lingkar partai, antara tetap memepertahankan Megawati atau memunculkan Jokowi. Ternyata elit partai lebih memililih budaya populer dan menyampingkan ideologi. Apa penyebabnya PDI P memutuskan untuk mengorbitkan Jokowi.
Ideologi
Ideologi PDIP tidak segarang dulu. Budaya praktis telah merambah partai yang dikenal amat ketat dengan jargon nasionalis. Pendukung setia Megawati dipecundangi dengan elit partai yang lebih mementingkan budaya tawar. Satu hal yang mungkin tidak bisa dihindari. PDIP mania hanya bisa mengamini titah ketua umum, meskipun telah disudutkan pada sisi tanpa banyak altetnatif.
Rebutan di Ring satu
Budaya praktis yang telah menjinakkan konservatif adalah buah karya dari elit partai yang tidak mau melepas kekuasaan baik di parlemen maupun pemetintahan. Banyak kader partai yang enggan untuk melepas kursi meskipun dengan menggandaikan loyalitas terhadap ketua umum. Generasi muda di partai, saat ini tidak merasakan pahit getirnya melawan orde baru.
Partai itu Hotel. Kekuasaan itu Rumah
Harus diakui bahwa keluar masuk dalam sebuah partai itu biasa. Kutu loncat istilahnya. Manakala kekuasaan sangat tipis untuk didapatkan, dengan enteng untuk melepaskannya. Yang disayangkan di PDIP, mengapa orang masuk ke partai begitu mudah. Tidak sejalan dengan ideologi yang digenggam. Inilah mungkin kelemahan dari PDIP. Banyak kasus kepala daerah yang berasal dari PDIP, tapi dalam perjalanan orang tersebut bukan yang membesarkan partai. Penjaga gawang partai di semua level kebobolan. Bila tidak akan perbaikan, maka kader partai hanya bangga menjadi karyawan hotel.

Al Farabi

Abu Nasr al Farabi, demikian nama lengkapnya. Lahir pada tahun 870 M atau 258 H. Beliau termasuk filosof muslim yang hidup pada abad 10. Lahir di Wasij, sebuah dusun dekat Farab, di Transoxiana, termasuk Negara Turki. Menurut murid-muridnya, al Farabi termasuk aneh. Karena umumnya filosof jaman dahulu, menuliskan biografinya sendiri atau murid pengagumnya. Beliau tidak mau mengisahkan kehidupan pribadi untuk konsumsi publik, baik sebagai salah satu sumber sejarah maupun kekayaan khasanah muslim.
Dalam pencarian menimba ilmu, ia lebih senang menetap di Baghdad sebagai pusat belajar yang terkemuka. Disana ia berjumpa dengan sarjana dari berbagai bidang, diantaranya filosof dan penerjemah. Tertarik pada bidang logika, maka ia langsung belajar dari ahli logika yang terkenal yaitu Abu Bisyr Matta ibn Yusnus. Dalam perjalanan mempelajari logika ternyata ia mampu mengungguli gurunya. Di kalangan filosof, terutama Ibn Khaldun, al-Farabi dijuluki dengan “guru kedua’. Guru pertama disematkan pada Aristoteles.
Guru pertama dipandang mampu meluruskan dan mengumpulkan kajian-kajian dalam logika dan permasalahannya. Guru kedua dipandang karena mengarang buku, mengumpulkan, dan menyempurnakan terjemahan karya Aristoteles.
Di Baghdad al Farabi tinggal selama duapuluh tahun. Kemudian beliau tertarik untuk bergabung dengan kaum intelektual di pusat kebudayaan Aleppo. Tempat ini terkenal dengan istananya Saif al Daulah. Rindang, nyaman dan serba berkecukupan. Namun demikian, beliau tidak silau dengan lingkungan istana yang kemilau. Ia bekerja dengan menulis artikel dan buku-bukunya dibawah gemericik air sungai dan di bawah dedaunan yang rindang.
Suasana pusat kebudayaan yang menjunjung tinggi perbedaan pendapat tanpa mengambil keuntungan pribadi. Meski ada simpati yang kuat dan cenderung kearaban dari istana, namun tidak terjadi kelompok-kelompok tertentu. Orang-orang Persia, Turki dan Arab saling berdiskusi dan berdebat. Mereka berasal dari kalangan sarjana, para penyair, ahli bahasa, filosof, dan cerdik pandai lainnya.
Karya-karyanya.
Menurut penulis biografi seperti al Qifti atau Abu Usaibi’ah, al Farabi telah menulis artikel sejumlah 70 an buah. Di masanya, jumlah tersebut tergolong kecil dari segi kwantitas. Bagaimanapun juga al Farabi telah memperoleh gelar guru kedua dalam bidang filsafat. Pencapaian yang luar biasa dedikasinya dalam mengembangkan ilmu filsafat.
Karya al Farabi dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu logika dan filsafat. Logika menyangkut bagian-bagian dari organon-nya Aristoteles. Menurutnya, logika mempunyai kedudukan yang mudah dimengerti, sebagimana hubungan antara tata bahasa dengan kata-kata, dan ilmu mantra dengan syair.
Logika juga membantu kita membedakan yang benar dan yang salah dan memperoleh cara yang benar dalam berfikir atau dalam menunjukkan orang lain kepada cara ini. Ia juga menunjukkan dari mana kita mulai berfikir dan bagaimana mengarahkan pikiran itu kepada kesimpulan-kesimpulan akhir.
Karya kedua filsafat. Al Farabi berpendapat bahwa pada hakikatnya filsafat merupakan satu kesatuan. Karena itu, para filosof besar harus menyetujui bahwa satu-satunya tujuan adalah mencari kebenaran. Al Farabi berpendapat bahwa hanya ada satu aliran filsafat, yaitu aliran kebenaran.
Menurut al Farabi, tujuan akhir dari hal-hal di atasadalah mengetahui pencipta Sang Khalik, mengetahui bahwa Dia-lah satu-satunya yang tidak bergerak. Dia-lah sebab pertama bagi adanya segala hal. Dia-lah yang mengatur alam semesta ini dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya.
Sumber bacaan :
Para Filosof Muslim. Editor : M.M. Syarif, MA
Seratus Tokoh dalam Sejarah Islam. Husayn Ahmad Amin

Manfaatkan Teknologi Informasi untuk Korespondensi

Sebuah kalimat tiba-tiba muncul dari lapak facebook seorang sahabat. Kalimatnya sederhana, namun konskwensinya amat berat. Saya disuruh membantu bagian tabligh. Hanya sepenggal itu kalimatnya. Rangkian kata yang biasanya dia tulis memang lebih banyak bersifat ajakan untuk kebaikan.

Saya tahu persis kalau masuk dalam jajaran tabligh, berarti dia sudah mewakafkan ilmu, kesempatan dan kekuatan untuk berdakwah. Karena tabligh masih dianggap sebagai ujung tombak dakwah Muhammadiyah. Tidak setiap hari tulisan dia muncul. Setiap tayang tidak mesti saya kasih komentar. Entah kenapa hari itu saya langsung memberi masukan untuk dia yang sekarang waktunya lebih banyak untuk berkhidmat. Sebagai orang yang sedikit tahu tentang TI, sayapun memberi saran agar memanfaatkan TI dengan sebaik-baiknya.

Secara pribadi dia selalu menggunakan media sosial untuk mengembangkan buah pikirannya untuk bertabligh. Itu sangat besar manfaatnya bagi teman-teman. Tidak sedikit, nukilan ayat ataupun hadits ia goreskan di media sosial. Tidak sedikit pula saya bisa merasakan, betapa besar faedahnya. Namun sebagai sebuah kelembagaan sekelas bagian tabligh ‘Aisyiyah buka persoalan yang mudah. Pertama, organisasi pasti melibatkan orang lain. Tidak mudah menelorkan sebuah ide seketika bisa diterima oleh orang lain. Kedua, organisasi memiliki etika dan tata tertib. Birokrasi inilah yang mengatur tata kehidupan berorganisasi. Siapa yang mampu menaklukkan birokrasi, dialah yang cepat sampai tujuan. Ketiga, ‘Aisyiah adalah perkumpulan ibu-ibu.

Hampir semua aktifis di ‘Aisyiyah adalah ibu rumah tangga. Berorganisasi masih menjadi pilihan yang kedua ataupun bisa yang ketiga. Wajib bersyukur bahwa kemajuan Teknologi Informasi dapat sedikit membantu meringankan gerak langkah bagian tabligh ‘Aisyiyah. Komunikasi lebih cepat dan efisien. Teknologi ini sudah menjadi milik bersama. Siapapun bisa mengecap kecanggihan komunikasi, tak terkecuali ibu-ibu. Bahkan komunikasi telah sampai tahap genggam. Artinya, informasi apapun bisa diketahui lewat genggaman tangan.

Berkaca dari perkembangan informasi dan komunikasi, alangkah eloknya bila bagian tabligh ‘Aisyiyah dapat menggunakannya. Teknologi ini harus menjadi bagian yang tak terpisahkan semangat menyiarkan, semangat mendawahkan. Surat-surat yang bersifat maklumat, edaran, himbauan bisa diunggah lewat media elektronik seperti e-mail, facebook, atau media sosial lainnya. Karena  ini ditujukan kepada semua anggota ‘Aisyiyah. Semua bisa mengakses. Namun secara organisatoris tetaplah diujudkan dalam dokumen cetak. Karena sebagai bukti otentik.

Aktifitas yang bersifat tuntunan, tata cara, ajaran, lebih baik dikemas dalam bentuk video. Selanjutnya dapat di up load lewat media seperti you tube atau media penyimpan lain. Cara seperti ini sangat efektif untuk sampai ke tangan anggota. Metode ini juga sekaligus memangkas birokrasi, yang biasanya hanya sampai di tingkat daeraj atau cabang. Dengan tayangan yang berbasis video ini dapat meminimalisir multi tafsir. Karena karakteristiknya sangat khas dan jelas.

Dengan memggunakan media internet, model dakwah menjadi lebih ringan dari segi finasial dan transfer data. Meskipun bila ditinjau dari materi dan beban moral mungkin akan lebih berat. Namun paling tidak korespondensinya bisa berjalan cepat dan langsung.

1 7 8 9 10