Blue Print Perekonomian Indonesia

Pemilihan Presiden tahun 2014 diyakini sebagai pilpres yang paling brutal dari segi saling serang menyerang. Andai saja ada 3 calon atau lebih mungkin tidak separah yang baru saja kita laksanakan bersama. Karena siapa lawan siapa kawan tampak jelas pemisahnya. Huhungan pertemanan yang telah dirajut begitu lama, sekarang luruh dan berantakan hanya karena perbedaan pilihan. Meskipun sebenarnya pemilih tidak merasakan secara langsung efek dari pilpres. Dulu petani sekarang tetap petani. Dulu karyawan belum ada jaminan akan naik menjadi pimpinan. Sama saja.
Persoalan bagi yang mampu berfikir cerdas, apa benar dengan pergantian presiden lantas akan berubah seketika? Apa setelah pemilihan usai, lantas kesejahteraan dari segi finansial akan tercukupi? Api jauh dari panggang. Tingkat kehidupan ekonomi dalam keluarga tidak cukup signifikan dapat meningkat bila terjadi pergantian presiden.
Ada yang ironis di kalangan kita. Bila berbicara masalah ekonomi, maka telunjuk tangan kita akan mengarah ke menteri keuangan, menko ekuin, perdagangan, menko kesra. Kita lupa bahwa perekonomian yang sedang kita nikmati ini telah tercetak dari perencanaan tahun sebelumnya. Perekonomian yang dibangun telah dipersiapkan secara matang oleh tim ekonomi negara. Laju ekonomi tidak berdiri sendiri di tahun berjalan. Tingkat pertumbuhan dapat dibaca melalui grafik. Bahkan untuk 3 tahun kedepan kesejahteraan masyarakat dapat diteropong sedari sekarang.
Adalah MP3EI atau Masterplan for Acceleration and expansion of Indonesia’s Development. Mengkaji rencana induk ambisius dari pemerintah Indonesia untuk mempercepat realisasi perluasan pembangunan ekonomi dan pemerataan kemakmuran agar dapat dinikmati secara merata di kalangan masyarakat. Mengapa ada kata ambisius? Karena dibanding dengan negara sesama asia tenggara, negara Indonesia masih belum duduk sejajar semisal dengan Malaysia. Sehingga wajar bila diibaratkan arena balapan, maka perlu mesin pendorong agar cepat sampai ke tempat tujuan. Masterplan ini dibuat semata-mata hanya supaya Indonesia dapat mencapai kesejahteraan lebih awal. Bukan karena parpol A. Karena itu tim ino terdiri dari orang profesional tanpa memandang latar belakang.
Indonesia sangat membutuhkan gambaran ekonomi yang akan menimbulkan kesejahteraan untuk masa depan. Dibutuhkan prediksi yang akurat agar kebutuhan untuk mencapai tujuan bisa terealisir, atau kalau meleset tidak terlalu banyak. Tim ini terdiri dari berbagai ragam tingkat disiplin, karena tim akan melakukan analisis berdasatkan potensi demografidan kekayaan sumber daya.
Kalau masyarakat hanya kenal menteri keuangan, menko ekuin maupun kesra, tak perlu disalahkan. Karena yang dipublikasikan memang hanya itu. Adapun tim MP3EI tidak dikenal. Jangankan programnya. Apalagi timnya. Padahal kinerja mereka sangat dibutuhkan dan diketahui oleh masyarakat. Rencana 2 tahun kedepan harusnya diketahui publik. Agat masyarakatpun mampu menyesuaikan diri. Presidenpun harus menyesuaikan diri dengan hasil kajian MP3EI. Presiden sebagai kepala pemerintahan akan lebih baik mengurui kehidupan bermasyarakat dan berpolitik. Pesta demokrasi boleh berjalan sesuai dengan waktunya. Kegiatan ekonomi biarlah berjalan sesuai dengan dengam rencana.

Profesor Goes To School

Hari ini saya cukup bersyukur dapat menghadiri forum ilmiah yang tersaji dalam Profesor Goes to School, bertempat di SMP Negeti 3 Yogyakarta. Kapasitasku sebagai peserta yang diundang oleh Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Prop. DIY. Saya mengapresiasi usaha Dinas Pendidikan untuk menghadirkan nara sumber dati Universitas Gajah Mada yaitu, Prof. DR. Kirbani Sro Brotopuspito dosen Geofisika dan Prof. DR. Rer. Net. Widodo dari MIPA UGM.
Puncak kesyukuran saya taktala berjumpa dengan sesama guru matematika dan juga guru IPA. Satu pertemuan yang jarang terjadi, kecuali bila ada undangan untuk pemberkasan sertifikasi. Forum ilmiah ini sengaja menghadirkan ilmuan dengan tujuan agar perkembangan ilmu murni dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Usaha ini juga diperkuat oleh kelembagaan dewan pendidikan DIY. Diharapkan kajian ilmiah tidak hanya sampai disini. Tentu usaha-usaha yang dilakukan oleh peminat pendidikan masih terus ditunggu gebrakannya dalam rangka mendongkrak mutu pendidikan.
Kesempatan presentasi pertama Prof. Widodo. Seorang dosen yang sekaligus praktisi pendidikan yaitu PPPPTK Matematika. Materi yang beliau sajikan tentang pemodelan. Baginya model diartikan sebagai representasi yang memuat struktur esensial dari suatu obyek dalam dunia nyata. Dalam matematika, model diartikan representasi masalah dalam dunia nyata. Karena banyak sekali kita jumpai simbol-simbol matematika yang justri kita gunakan sehari-hari. Simbol ini merupakan buah kesepakatan secara bersama-sama seperti + , × – dan : . Dari simbol tersebut manusia dapat mencapai puncak kebudayaan. Oleh karenanya matematika sangat membantu dalam setiap masalah yang dijumpai manisia.
Contoh yang disajikan oleh Prof Widodo tentang kredit. Pembaca pasti telah melakukan transaksi kredit. Misalnya kredit sepeda motor. Saat sefanh tawar menawar, petugas akan gesit melayani hitung menghitung yang sebelumnya sudah disetting. Sehingga dia akan menghitung secra trampil dan jitu. Sodorkan uang muka, janjikan berapa kali dibayar, ia akan memainkan tut kalkulator. Tak sampai 20 detik, tersaji angka yang fantastik. Bukan besar kecilnya uang cicilan, tapi coba jumlah secara keseluruhan berapa uang yang harus disetor ke dealer atau bank. Dikesempatan lain mudah-mudahan bisa kami tulis macam-macam bunga yang diterapkan oleh bank dan bagaimana cara mengatasinya.
Maksud yang hendak disampaikan oleh profesor, bahwa banyak sekali aktifitas manusia yang bisa dibuat pemodelan. Dari pemodelan ini guru digiring untuk berfikir logis, bahwa ternyata ada cara-cara lain yang bisa ditempuh agar uang bisa dihemat. Tidak dicekik oleh bunga, dan tidak diajak berantem bank plecit.

Pola Bilangan dan Ritme Kehidupan

Pembaca pasti tahu barisan ke-10 dari pola bilangan berikut : 2, 5, 8 … Mengapa? Karena barisan bilangan tersebut memiliki pola, yaitu selalu ditambah 3. Demikian pula pada model barisan berikut : 216, 108, 64 … kita akan mengetahui dengan tepat bilangan pada baris ke-8 yaitu 2.
Demikian model atau pola barisan matematika yang sering pula disebut dengan deret.
Barisan angka-angka tersebut bila kita analogika  dengan ritme kehidupan memiliki kesamaan. Sejak masih kanak-kanak hingga usia dewasa. Step demi step bisa ditebak. Pada usia sekian akan mengalami kejadian seperti apa. Pada umur tertentu seseorang akan mengalami apa. Karena pada dasarnya ritme hidup manusia bisa diduga.
Hidup ini sesungguhnya berjalan linier. Waktu demi waktu akan ada peristiwa tertentu dan mirip. Sedari pagi, siang hingga petang, kejadiannya lari dari itu ke itu. Seperti lingkaran. Kalau titik tengah dianggap sebagai pangkal, maka ketika berjalan dan berlari tak akan jauh dari pangkal. Ujungnya tidak akan menjauh atau mendekat. Dari sudut nol akan kembali lagi pada sudut 360 derajad.
Orang bilang tidak bisa merubah mind set. Nyaman di zona tertentu. Takut leluar dari garis lingkaran. Keteraturan adalah prinsip hidupnya. Ibarat seutas tali, kendalinya tak pernah mengalami perpanjangan. Pemekaran berarti seperti petaka. Dalam hidup tak mau diatur-atur oleh orang lain.
Berbeda dengan orang yang memiliki tali seperti karet. Tarik-ulur seperti permainan. Keluar dari zona lingkaran ibarat sebuah wisata. Selalu mencoba hal baru. Jalur nyaman tak lagi empuk untuk diduduki. Ia selalu mencari lahan baru agar tempat tinggal bisa leluasa. Berwisata ditempat baru selalu menjadi obsesinya. Ia mampu berfikir tidak linier. Kata Edwar De Bono mampu berfikir lateral. Membangun model baru. Mencoba sistem baru.
Orang yang demikian dalam deret matematika sering diibaratkan barisan tidak lazim. Misalnya deret yang memiliki beda bilangan pecahan. Meskipun bedanya selalu tetap tapi cukup rumit perhitungannya. Atau barisannya negatif. Misalnya : -25, -23, -19, -17, -13 ….. di barisan ini meskipun alurnya tetap tapi bedanya mengalami perubahan pada step tertentu.

Merasakan Kehadiran Organisasi Guru

Tanggal 25 November merupakan hari guru. Besok, kelahiran organisasi guru diperingati oleh segenap pimpinan dan anggotanya. Di Yogyakarta sendiri, dalam kalender pendidikan, tanggal 25 november diberi tanda, sebagai hari libur untuk semua jenjang sekolah. Untuk memperingati hari guru, ada baiknya saya mengenalkan organisasi guru menurut data yang saya ketahui.

Saat ini ada 4 buah organisasi guru, baik yang diakui oleh pemerintah maupun yang tidak diakui. Mereka diakui karena memiliki ijin pendirian. Keempat organisasi guru itu memiliki visi yang sama yaitu memperjuangkan nasib guru. Jadi, hingga kini, nasib guru diperhatikan oleh organisasi guru. Kalau Anda sebagai guru, merasa belum diperhatikan, berarti oraganisasi itu belum membumi, atau Anda sendiri yang memang belum bergabung. Mereka juga sepakat memperjuangkan peningkatan kualitas guru.

Organisasi adalah sebagai alat perjuangan untuk mencapai visi dan misi atau lebih tepatnya adalah mencapai cita-cita. Bila cita-citanya belum tercapai, maka berorganisasi itu masih perlu, bahkan harus lebih ditumbuh kembangkan lagi. Berorganisasi dilindungi oleh undang-undang.

Melalui beroraganisasi, guru akan terus mempertahankan eksistensinya. Bagi guru yang senang berorganisasi dan memiliki itikad baik untuk memperjuangkan visi dan misinya, tidak salah untuk memasuki salah satu organisasi guru dibawah ini :

  1. PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)

PGRI adalah organisasi tertua yang mewadahi profesi guru di Indonesia. Berdiri pada tanggal 25 November 1945. Organisasi ini telah merasakan saat berdirinya republik ini, turut serta dalam perjuangan mempertahankan Negara dari rongrongan Partai Komunis Indonesia (PKI), merasakan masa orde lama, sampai ikut membesarkan pemerintah orde baru. Sekarang, disebut-sebut juga sebagai pundi-pundi suara untuk memepertahankan pemerintahan hasil reformasi.

PGRI ini mengusung visi : ” Terwujudnya organisasi mandiri dan dinamis yang dicintai anggotanya, disegani mitra, dan diakui perannya oleh masyarakat”. Hanya saja sampai saat ini, PGRI masih belum bisa melepas dari genggaman pemerintah. Keduanya bersimbiose mutualisme. Saling menguntungkan. Namun  demikian, kegiatan yang disemarakkan oleh PGRI telah banyak dinikmati oleh kalangan guru.

  1. IGI (Ikatan Guru Indonesia )

Ikatan Guru Indonesia (IGI)  juga organisasi resmi. IGI adalah organisasi profesi guru yang diakui oleh pemerintah. Mempunyai  kelengkapan organisasi seperti : AD/ART, program kerja, pengurus dll. IGI memiliki visi “memperjuangkan mutu, profesionalisme, dan kesejahteraan guru Indonesia, serta turut secara aktif mencerdaskan kehidupan bangsa. Proses lahirnya IGI bukan untuk menandingi keberadaan PGRI.

Dibandingkan dengan PGRI, umur IGI masih sangat muda. Namun kehadirannya sudah tampak dirasakan oleh sebagian guru. Lewat beberapa seminar, loka karya, pelatihan, kursus dll. Banyaknya anggota masih kalah jauh dengan PGRI yang sudah malang melintang melintas zaman.

  1. FGII (Federasi Guru Independen Indonesia)

FGII adalah organisasi profesi guru dan/atau serikat pekerja profesi guru yang bersifat terbuka, independen, dan non Partai Politik. Data yang saya peroleh, oraganisasi ini dipimpin oleh Suparman. Tujuannya adalah terwujudnya guru profesional yang mampu mendorong sistem pendidikan demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa.

FGII ini sebenarnya gabungan dari beberapa organisasi guru. Pada tanggal 17 Januari 2002 FGII ini lahir, tepatnya di Tugu Proklamasi Jakarta.

  1. FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia)

FSGI lahir sebagai akibat dari persoalan pendidikan di Indonesia yang jalan di tempat. Ade Irawan dari Koalisi Pendidik Indonesia Corrption Watch (ICW) sebagai penggagas lahirnya organisasi ini. Lahir pada tanggal 23 Januari 2011 dan dipimpin oleh Retno Listyarti. Memang masih sangat muda. Kebijakan yang sangat keras menohok pemerintah adalah tentang ujian nasional dan BOS.

Menjual Budaya India

Setelah Briptu Noorman Kamaru tenar dengan goyangan chaiyya chaiyya, membuktikan bahwa budaya India dapat diterima bangsa ini. Masih belum lupa dari ingatan, beberapa tahun silam lagu India juga sempat menjadi buah bibir dan sempat pula menjadi nyanyian wajib  dari anak kecil dewasa, kuch kuch huta hae. Bahkan lagu itu diaransemen ulang versi campur sari dengan terjemah bebas.

Perkawinan budaya antara India dan Indonesia, belum ada angka yang pasti, tahun berapa itu terjadi. Bisa jadi dimulai pedagang dari Gujarat yang berlabuh di pulau jawa. Namun, hingga saat ini kebudayaan India telah meresap bahkan mungkin asal-usul lagu dangdut muncul dari kebudayaan India.

Bila kita menoleh lebih jauh lagi dalam dasa darsa warsa silam, budaya India seakan menjadi milik kita. Berikut peristiwa budaya yang saya ketahui. 1. Lagu Bagi yang sudah menikmati hidup di era tahun 60-an, tentu kenal dengan lagu “boneka dari india” yang dipopulerkan oleh Ellya Kadam (alm.). Saat itu lagu ini menjadi hits. Ellya Kadam juga menjadi idola. Lagu ini juga dirilis oleh Favourite Group versi dangdut dan sedikit kocak. Tak ketinggalan versi anak-anak juga sering diputar untuk mengiringi goyangan holahop.

India juga menjadi inspirasi untuk menciptakan lagu. “Khana” demikian judul lagu yang diciptakan oleh Masyur S. sekaligus mempopulerkan. Masih banyak hasil karya seni yang nerujuk pada budaya India. 2. Film Pecinta film india pasti ingat bintang tenar Hema Malini. Kemampuan acting yang prima dan pastinya cantik, membuat penonton dibuat penasaran. Sehingga bila muncul dengan film yang dibintanginya, dapat dipastikan bioskop kursinya terisi penuh. Istri dari Dharmendra ini seangkatan dengan Kapoor. Nama yang terakhir bahkan mampu membuat dinasti film, mulai dari pemain, sutradara bahkan produser.

Amitabh Bachchan adalah generasi berikutnya. Generasi 80-90 an pasti masih ingat film “Don”? Saya teringat betul saat film ini di putar. Kebetulan di kota saya ada 2 buah bioskop. Kebetulan saat itu memutar film yang sama yaitu “Don”. Dua-duanya penuh penonton.

Tahun 2000 ini Sahrukhan. Saat ini menjadi idola lewat film kuch kuch hota hae. Gerakan mengiringi lagi mudah untuk ditiru. 3. Martabak. Berbicara India belum sah bila tidak menyertakan martabak India. Jenis makanan yang banyak disuka, dan mudah untuk mendapatkannya. Tapi untuk urusan rasa hanya sedikit yang mampu memanjakan lidah. Semua bahan masakan mudah didapatkan. Namun ada satu yang khas yaitu “bawang bombay”. Tepung, telur, garam, dan bumbu penyedap boleh sama bumbu tanah air. Namun bawang Bombay lain.

Disamping wajan untuk menggoreng yang lebar seperti lapangan, yang lebih menarik adalah saat koki membuat kulit martabak terbuat dari tepung yang bisa dilebarkan seperti taplak. Anehnya tidak berlobang, walaupun bisa terlihat setipis kulit ari. 4. Pejinak Ular. Mungkin, Kuntowijoyo tidak akan menulis buku “Mantra Pejinak Ular”, bila tidak melihat orang india yang meniupkan seruling, lalu muncullah ular kobra menari-nari dalam sebuah kendi. Ada hubungan atau tidak, yang jelas orang India ahli berdialog dengan ular lewat media seruling.

Bukan sembarang seruling untuk dapat menggoyangkan ular menari-nari. Juga bukan sembarang nada untuk menghibur ular. Bukunya Kuntowijoyo, mengajak pembaca agar jangan memusuhi binatang (ular), tetapi orang India sudah sejak dulu untuk tidak memusuhi ular. Ular adalah sahabat. Bahkan bisa diajak kerjasama untuk memperoleh uang.

Membaca, Menulis dan Berhitung

Ketika Uni Sovyet (Rusia) berhasil meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik, Amerika Serikat meradang. Kecemasan yang menghantui Amerika. Mengapa bisa terjadi demikian? Karena setelah diteliti ditemukan bahwa proses transformasi ilmu di sekolah-sekolah mengalami kegagalan. Oleh karena itu mereka mulai kembali mereksonstruksi pendidkan dengan program bernama go back to basic. (prof. Suyanto dan Drs. Djihad Hisyam, M.Pd. dalam bukunya Refkeksi Dan Reformasi Pendidikan di Indonesia memasuki Milenium III).

Program dan doktrin pendidikan itu berisi muatan yang sederhana, yaitu reading, writing and arithmetik. Mengapa yang dikedepankan justru reading dan writing, bukan arithmetika sebagai ilmu dasar dalam pengembangan teknologi? Mereka menganggap bahwa kunci untuk menguasai iptek adalah kemampuan berkomunikasi. Dengan penguasaan komunikasi diharapkan kebijakan nasional langsung dapat diketahui oleh masyarakat.

Komunikasi ternyata memegang peranan yang sangat fundamental dalam membangun kerangka kebudayaan bangsa dan mewujudkan perkembangan teknologi. Dengan menguasai kemampuan berkomunikasi, maka dapat mengungkap rahasia-rahasia alam di sekitarnya. Tanpa kemampuan berkomunikasi dengan baik, jangankan mengungkap rahasia alam, memahamipun tidak pernah bisa. Sehingga setiap siswa harus memiliki kompetensi dalam berkomunikasi. Kemampuan menawarkan ide lewat komunikasi, dalam kurikulum 13 (kurtilas) menjadi salah satu tonggak keberhasilan proses belajar mengajar.

Seberapa besar kemampuan komunikasi dikalangan kita? Atau bisa juga diajukan pertanyaan benarkah kita sudah berkomunikasi dengan baik dan teratur?

Bahasa lisan misalnya. Banyak kita jumpai dalam bercakap-cakap kurang benar, sehingga harus mengulang dua atau tiga kali kalimat yang telah kita ucapkan. Hal ini menimbulkan banyak energy dan waktu terbuang. Terkadang, dalam berkomunikasi  kita juga harus memakai alat bantu dengan bahasa isyarat untuk meyakinkan ucapan. Itu baru bahasa percakapan.

Marilah kita tengok bahasa yang disampaikan dalam forum resmi. Didalam lingkungan terbatas, atau komunitas formal, hanya orang-orang yang sudah banyak membaca saja yang dapat menguasai komunikasi. Karena dengan membaca (apalagi menulis), ia memiliki banyak perbendaharaan kata dan referensi yang bisa diungkapkan.

Bagaimana kalau kemampuan menulis? Pembaca lebih mengetahui.

Dari keadaan yang demikian, usaha apa yang perlu kita gapai agar mendapatkan generasi yang mampu membaca, menulis dan trampil berhitung? Ada dua wacana yang mesti ditempuh.

Pertama : Negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa dengan cara mewajibkan semua warga negara untuk membaca. Untuk aset masa depan, sekolah mesti digarap dengan sungguh-sungguh. Perpustakaan difungsikan sebagaimana mestinya. Perpustakaan bukan gudang buku, perpustakaan juga bukan sebagai alat untuk memperoleh akreditasi yang baik.

Kepala Sekolah mewajibkan kepada guru untuk membaca dan merangkum. Hasil rangkuman dipresentasikan didepan guru lain dalam sebuah pertemuan rutin. Bila guru telah melaksanakan dengan baik dan sungguh-sungguh, siswa secara otomatis akan mengikuti, tanpa harus diperintah.

Kedua : Orang tua, wajib menyisihkan sekian persen uang belanja untuk pembelian buku  bacaan keluarga. Mengapa wisata bersama keluarga atau long weekend dapat terlaksana tanpa hambatan yang berarti, namun membeli buku tidak mampu? Mengapa sangup mengganti handphone yang jauh lebih bagus, sedangkan mengoleksi buku tidak mampu?

Membaca buku harus dilandasi dengan kemauan yang kuat. Koleksi buku adalah sebuah aset untuk masa depan. Menciptakan keluarga yang memiliki wawasan luas harus menjadi idaman. Dengan memiliki keluarga yang mempunyai nafsu untuk selalu membaca dan sekaligus bisa menulis, maka membangun budaya gemar membaca dan menulis semakin nampak di depan mata.

Virtual

Suatu kali, teman saya pernah cerita. Kakeknya adalah orang sakti, demikian pengakuannya. Suatu hari dia sedang duduk santai bersama kakeknya di sebuah kamar tua yang minim ventilasi, agak pengap. Sebagai pelengkap ada hidangan penganan dan minuman teh hangat secukupnya. Dalam keasyikan sang kakek bercerita, tiba-tiba muncul pisang rebus ditengah ketela rebus yang terhidang dalam piring. Aneh. Padahal tidak orang yang menyuguhkan, nenek sekalipun.

Terpaksa cerita dihentikan. Kakek membuka pisang, namun tidak dimakan. Hanya senyuman yang muncul disudut bibir. Kakekpun mengatakan kepada temanku, bahwa baru saja beliau mendapat pesan dari temannya di daerah Kediri. Tidak diberitahu apa isi pesan itu. Itulah komunikasi yang dibangun oleh kakek sahabat saya dengan karib yang jaraknya cukup berjauhan. Ilmu apakah yang digunakan untuk mengirim pesan tadi? Lewat media apa, sehingga pisang rebus bisa terkirim?

Sepanjang sepengetahuan saya, dulu manusia berkomukasi lewat jasa pos. sekarangpun ada orang yang masih setia menggunakan pos, sekalipun yang dahulu menjadi andalan kantor pos, sekarang sudah mulai ditinggalkan. Anak kos akan kegirangan manakala mendengar lonceng sepeda khas pak pos. Kantor pos akan selalu ramai, karena waktu itu menabungpun bisa dilayani. Anak sekolah, mahasiswa, orang umum, merasa bangga bila keluar-masuk kantor pos. Pegawai pos menjadi sahabat.

Jamanpun bergulir. Di era digital yang sekarang kita rasakan seperti ini, seakan menggerus kedigdayaan komunikasi konvensional. Internet menjadi dewa. Handphone dijadikan teman sejati. Foto digital yang pengoperasiannya lebih mudah, murah dalam pemanfaatan seakan sebagai kebutuhan wajib dalam keluarga. Televisi yang bisa membagi beberapa layar dengan stasiun yang berbeda harus bertengger di sudut ruang, sehingga kebutuhan anggota keluarga terpenuhi. Tidak lagi rebutan remote control yang hanya ingin tidak ketinggalan mata acara favoritnya.  Dunia menjadi tidak berjarak. Waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman pesan atau berita dalam hitungan detik.

Media yang digunakan dalam jaman internet adalah udara. Satelit mengirimkan data lewat udara. Stasiun penerima pesan juga lewat transmisi udara. Udara menjadi arena sirkulasi sinyal-sinyal penghubung antar radio. Ada pula kabel sebagai penghubung. Namun, ada semangat dari kalangan penggiat teknologi, bahwa teknologi itu harus nirkabel. Wi-fi disudut-sudut ruang public bermunculan.

Bila kita bisa melihat sinyal pertukaran data, seperti api berpijar-pijar. Sudah tidak ada tempat lengang lagi udara yang hanya berisi oksigen. Gelombang frekuensi menjadi rebutan antar pemilik jasa internet. Bila kita  lihat lebih dalam lagi, bagaimana sirkulasi udara dalam menampung sinyal yang mengirim dan menerima SMS (Short Massage Service), stasiun radio, televisi dan masih banyak lagi.

Dibutuhkan keahlian dan ketrampilan yang memadai bila berkomunikasi dalam era digital ini. Sebagaimana kakek teman saya berkomunikasi dengan rekan yang ada di Kediri, juga diperlukan ketrampilan. Saya tidak tahu persis ilmu yang digunakan. Diperlukan juga sarana yang cukup untuk bisa berkomunikasi. Saya tidak mungkin mengirim SMS kepada sahabat saya, bila teman saya tidak memiliki sarana dan ketrampilan yang sama dengan apa yang saya punyai. Demikian pula Anda tidak mungkin membuat postingan dalam sebuah blog, manakala orang lain tidak mempunyai sarana dan kepandaian dalam membaca tulisan Anda.

Sungguh berbahagia bagi orang yang bisa menyerap ilmu dan ketrampilan lewat media internet. Blog, sangat berperan aktif dalam membuka simpul-simpul otak yang masih terkekang. Sharing dengan rekan dalam sesama komunitas membuka cakrawala berpikir kita. Postingan seorang sahabat yang berada nun jauh disana dapat menyulam hati kita lebih bijaksana. Kirimilah aku ilmu, kirimilah aku pengalaman, kirimilah aku kebijakan yang banyak dan lebih banyak lagi.

1 2 3 7