Commuter Line

koleksi pribadi

koleksi pribadi

Beginilah nasib jadi orang yang seneng berkendaraan sendiri. Bermotor atau nyetir sendiri. Sehingga kalau moda transportasinya harus diganti maka akan ditemui kegagapan. Cuma mau naik commuter line saja sampai harus tanya 4 kali lebih. Karena memang diluar kebiasaan. Ceritanya begini.
Kebetulan banget saya diberi tugas ke Jakarta untuk menemani anak-anak mengikuti lomba OLYQ. Pas mau pulang ke Jogja, sekali lagi saya juga naik kereta api yang lebih dari 15 tahun tak pernah menikmati spoor. Betangkat dari Cijantung saya menuju Pasar Senin dengan bis kota P52. Setelah turun, saya tanya stasiun untuk commuter lain yang menuju Gambir. Padahal tempatnya ada di depan mata. Dasar tak pernah bepergian dengan angkutan umum. Itu pertanyaan pertamaku.

» Read more

Naik Kereta Api Lagi

koleksi pribadi

koleksi pribadi

Awal kereta api Fajar Utama diluncurkan, saya tidak berhasil menikmati dalam golongan awal penikmat naik sepur. Idaman datang tatkala jelang pertengahan tahun 90 an. Naik kereta api Fajar Utama atau Senja Utama ibarat seseorang yang mendapay kehormatan. Orang jawa bilang setengah bejo setengah gelo. Bejo karena bisa naik kereta yang masuk katagori eksekutif. Gelo katena harus merogoh dompet lebih dalam.
Dengan uang seratus ribu rupiah sudah bisa  menikmati kereta super cepat. Dari Jogja pukul 07.00 sampai di Jakarta pukul 16.00. Kala itu dianggap paling cepat. Kereta berjalan baru beberapa metet sudah dihidangkan sepiring nasi goreng. Siang dapat jatah snack. Gerbongnya ber AC. Disediakan bantal. Sambutan kru-nya bak pramugari. Intinya mewah dan di uwongke (dimanusiakan).

» Read more

Melukis itu Mencerdaskan

Saat saya masih kecil, yang namanya orang cerdas itu pinter dalam pengetahuan. Kalau rujukan di sekolah, anak yang cerdas adalah mereka yang mendapatkan nilai yang baik setiap ulangan. Minimal 8, lebih sering dapat 10. Hanya segelintir anak yang menikmati golongan kelas cerdas. Selebihnya hanya penggembira. Pura-pura ikut kompetisi. Namun sejatinya sudah dalam kondisi menyerah dan hanya membuat senang orang tua. Ada juga kelompok pecundang, yang hampir selalu membuat ulah dalam kelas. Itu ukuran kecerdasan waktu itu.

Lambat laun ternyata profesi seseorang diluar kecerdasan diatas diakui oleh orang lain. Orang yang trampil memainkan instrument dalam bermusik semakin mendapat perhatian orang lain. Bahkan dengan bermusik ternyata seseorang mampu menghidupi keluarga. Anak yang pandai bergaul dengan temannya, sehingga mampu mengerahkan dalam setiap aktifitas dianggap cerdas dalam bermasyarakat. Dikemudian hari, anak ini bahkan menduduki di sebuah lembaga Negara, dan mampu mengelola masyarakat dengan baik. Tidak jarang kita temui seorang anak yang mampu memperagakan kuas untuk melukis diatas kanvas. Anak ini juga mampu memvisualkan keanekaragaman yang terjadi dalam masyarakat. Orang akan mampu membaca kehidupan masyarakat hanya dengan melihat lukisan.

» Read more

Struktur Al-Qur’an

koleksi pribadi

Al-Qur’an sebagai kitab suci kaum muslimin tentu menjadi pegangan dalam segala aktifitas. Semua yang dilakukan oleh orang Islam harus merujuk kepadaNya. Maka, mestinya kitab ini mudah dipahami. Gampang untuk melaksanakan semua yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarang. Oleh karenanya ulama-ulama telah membimbing cara memahami Al-Qur’an dengan membuat struktur atau sistem. Struktur ini terdiri dari :
A. Surah
Al-Qur’an terdiri dari 114 surah. Masing-masing memiliki sebuah nama yang mencetminkan isi atau kandungannya. Namun ada juga surah-surah yang memiliki lebih dari satau nama, yaitu :
1. Al-Fatihah dinamakan juga ummul Qura’an san as-Sab’ul Matsani.
2. at-Taubah atau Bara’ah
3. al-Isra’ dinamakan juga Bani Israil
4. Fatir disebut juga al-Mala’ikah
5. Gafir atau al-Mu’min
6. Fussilat disebut juga Ha Mim Sajdah
7. al-Ihaan atau ad-Dahr
8. al-Muthaffifin dinamakan juga at-Thaif
9. al-Lahab atau al-Masad.

» Read more

Media Sebagai Kontrol Akrobat Politik

Minggu pagi yang cerah, sambil bersendawa di pinggir sawah, saya tak sengaja meng-klik mata najwa di youtube. Secara acak kupilih salah satu segmen “Pemimpin Koboi”. 3 panelisnya : Dahlan Iskan, Mahfudz MD dan Ahok. Dihadiri ratusan mahasiswa Malang dan sekitarnya.

Salah satu pernyataan Mahfudz yang membuat saya tergelitik tentang adanya media sebagai salah satu alat kontrol kehidupan. Karena menurut pandangan beliau, setelah eksekutif dan legislatif yang sudah tidak mampu memberi kenyamanan masyarakat, siapa lagi kalau bukan media? Ini terbukti dengan peristiwa cicak-buaya jilid 2 dan kehebohan rencana pembangunan DPR.

Beruntung saya punya Buku Pintar Kompas 2011. Salah satu isinya, membahas secara kronologis peristiwa rencana pembangunan gedung DPR. Gedung itu sedia kalanya dianggar Rp. 1,3 T (tahun 2008). Dalam perjalanan direvisi menjadi Rp. 777 M, setelah sebelumnya naik dari Rp. 1,3 T ke Rp. 1,8 T (revisi tahun 2010).

» Read more

Marwah

“Sehingga nantinya MUI (Majelis Ulama Indonesia) punya marwah, wibawa, kehormatan, dan harga diri”, demikian kalimat yang dilontarkan wakil ketua KPK Bushro Muqoddas menanggapi peristiwa sertifikat halal yang dikeluarkan oleh MUI. Adalah Amidhan Shaberah sebagai wakil ketua MUI yang menangami masalah sertifikat halal.

Tulisan berikut bukan mengakaji label halal-haram. Tapi ada satu kata yang menarik perhatian saya yaitu kata “marwah”. Kata marwah dalam al-Qur’an disebutkan sekali yaitu dalam surat Al-Baqarah : 153. Marwah tidak berdiri sendiri, tapi digandeng dengan kata sebelumnya, yakni shafa. Shafa marwah adalah salah satu ritual dari ibadah Haji, yang disebut sa’i.

Syaikh Muhammad Abduh berpendapat bahwa sa’i memiliki kandungan agar orang untuk berbuat sabar guna menerima segala penyempurnaan nikmat Allah, dan supaya tahan menderita dari berbagai macam cobaan.  Disamping itu, sa’i juga memiliki pengharapan, bahwa akan datang masanya berkeliling diantara bukit Shafa dan Marwah.

» Read more

Tidak Sekedar Mengajar

Pendidikan yang hebat bukan sekedar menjadikan anak pintar, tetapi juga mampu menjadikan anak yang mandiri, bergaul dengan sejajar, dan bersikap bijak dalam menghadapi masalah.

Pintar saja tidak cukup. Bila yang dicari secara intelektual saja, anak-anak kita di masa yang akan datang bisa jadi akan kecewa dengan banyak persoalan. Dalam kehidupan, persoalan yang sering kali dihadapi bukan hanya pada soal matematis mekanistik, tetapi juga harus ada nilai emosi dan estetik.

Begitu banyak persoalan hidup yang akadang harus dihadapi bukan dengan kecerdasan intelektual. Orang boleh saja memiliki nilai 9 di rapornya, tetapi tidak selamanya cerdas menghadapi persoalan dalam hidupnya.

Oleh karena itu, bila tujuan pendidikan hanya mencetak sosok manusia pintar, tujuan pendidikan terlalu dangkal dan sempit. Mencari formula pendidikan adalah upaya serius yang harus terus terus dilakukan dan tidak boleh berhenti. Mencari format pendidikan selalu menjadi kreativitas yang harus dikembangkan dengan baik. Upaya terus-menerus untuk belajar dalam mencari cara terbaik dalam proses belajar adalah pembelajaran itu sendiri.

ditulis oleh : Prof. DR. Komarudin Hidayat dalam 250 Wisdoms membuka mata, menangkap makna

1 2 3 4