Seragam

seragam

Saya pernah punya dosen, orangnya nyentrik. Seorang dosen fisika, pintar dan cerdas. Menurut pengakuannya, dia hanya mau memakai seragam korpri tiap tanggal 17 saja. Itupun cuma untuk upacara. Selepas itu, seragam dilepas. Dikenakannya baju yang lain.

Ia tak pernah mengendarai mobil pribadi, karena memang tidak punya. Setiap pergi ke kampus mengendari mobil angkutan sambil membawa penumpang. Sesampai di kampus mobil sudah beralih ke kernet yang merangkap sopir.

Buya Syafi’i Ma’arif, menurut pengakuannya juga tak pernah memakai seragam yang telah disediakan oleh kampus. Dalihnya cukup sederhana. “Dengan berpakaian seragam akan membawa pikiran yang seragam”.

» Read more

Menggaet Pajak

sumber gambar : lahiya.com

sumber gambar : lahiya.com

Akhir bulan November sampai awal bulan Desember tahun ini, Pemerintah Kabupaten Klaten memberi peluang dan keringanan bagi warganya yang memiliki kendaraan plat non Klaten dan punya itikad akan berpindah ke Klaten akan diberi kebebasan tidak membayar mahar perpindahan. Kebijakan ini diputuskan bulan asal latah ilit kebijakan Pemerintah pusat. Bukan kebijakan turunan, dimana Presiden Jokowi gencar memasyarakatkan agar pajak harus dibayar oleh setiap warga negara yang memiliki kewajiban pajak.

Mengapa kebijakan keringan transfer kendaraan digulirkan agar masyarakat bisa menikmati program ini? Dasar pemikirannya sebenarnya sederhana. Ada berapa puluh pemilik kendaraan roda 4 atau lebih tapi berplat non Klaten? Ada berapa ratus kendaraan roda 2 yang bernomor non Klaten? Padahal mereka hidup di wilayah Klaten. Mereka minikmati fasilitas infrastruktur yang dibangun oleh Pemerintah Klaten. Tetapi tidak membayar pajak di Klaten. Secara material Pemerintah dan warga Klaten merasa rugi. Sehingga kebijakan ini diambil oleh pemerintah setempat.

» Read more

Memberi, tidak Membuat Kita Rugi

Ulurkan tanganmu untuk meringankan teman. Tebarkan senyummu untuk menghibur kawan karena tangan maupun bibirmu tidak akan lepas dan berkurang dari dirimu hanya karena membantu yang lain. Semoga jiwamu kian mencerahkan.

Apakah memberi itu rugi? Apakah ketika akan memberi sesuatu kepada orang lain, lalu sesuatu yang ada pada diri kita ini ikut berkurang? kalau kita mengukurnya dengan materi dan hitungan matematis, mungkin saja kita akan mengatakan bila kita memberi pada orang lain, maka apa yang kita miliki jadi berkurang.

Apa yang akan terjadi ketika kita memberi senyum tulus kepada orang lain? Apakah senyum yang kita tunjukkan dengan bermodalkan bibir ini apakah akan membuat bibir kita terbuang dan berpindah orang lain? Tentu saja tidak. Tetapi dalam kaitan memberi dengan senyuman, sesungguhnya tidak sekedar swnyuman saja yang kita kerahkan. Satu hal yang lebih utama dalam melemparkan senyuman adalah kejujuran, ketulusan, dan rasa kasih.

Kalau tidak ada ketulusan, hal ini hanya menjadi lips belaka. Bibir kita mungkin akan tersenyum manis, semanis senyuman pramugari atau model, tetapi hati kita dipenuhi dendam dan kedengkian. Bukan senyum semacam ini yang dikatagorikan sunah oleh Rasulullah. Pada hakikatnya, senyum adalah menghamparkan dan mengamini kebenaran (shidq). Dan kebenaran adalah akar dari kata sedekah (shadaqah).

Komaruddin Hidayat dalam 250 Wisdoms.

Keseimbangan Berbicara dan Mendengarkan

sumber gambar : hikmatpembaharuan.wordpress.com

sumber gambar : hikmatpembaharuan.wordpress.com

Tulisan berikut adalah buah hikmah saat saya berbicara dengan seorang teman yang menjadi khotib – sebut saja ustadz Joko. Seperti biasa, setiap bulan September-oktober tiap tahun, saya mencari khotib tahun berikut untuk masjid yang kami kelola dengan rekan-rekan. Ada khotib yang langganan ada yang baru. Masjid kami sudah lama memasang khotib paling banyak dua kali dalam setahun. Artinya saya mencari khotib minimal 26 orang dalam satu tahun.

Saat saya hubungan ustadz Joko untuk menjadi salah satu khotib, dan hari jum’at yang telah saya beri tanda untuk beliau, saya mendapat jawaban : “mas, untuk tahun depan jadwal saya sudah penuh. Saya membatasi menjadi khotib dua kali dalam sebulan. Saya akan menjadi makmum, dan mendengarkan uraian khotbah orang lain, sebanyak dua kali juga dalam sebulan”. Mendapat jawaban seperti itu saya cukup tergagap, dan saya sempat menggoda “ apa bener nih…  ustadz”. Setelah basa-basi agak lama, sayapun menerima alasan beliau.

» Read more

Dinamisasi Organisasi

Beberapa hari yang lalu saya sempat membesuk tante saya, yang opname di rumah sakit Sardjito setelah sebelumnya selama satu minggu mondok di rumah sakit umum wonosobo. Sebagimana biasanya, orang terprovokasi oleh omongan orang lain, bahwa rumah sakit Sardjito adalah salah satu rumah sakit rujukan. Selama hampir satu minggu tidak ada perkembangan yang berarti, om saya terprovokasi juga oleh kabar dari orang lain, dibawalah pasien (tante) ke Yogyakarta dengan tujuan rumah sakit Sardjito.

Tiga malam berturut-turut, saya menyempatkan diri membesuk. Saya juga bisa bertemu dengan saudara sesama trah dari mbah saya. Sudah barang tentu kesenangan yang muncul dari hati saya, karena lebaran kemarin tak sempat bersua dengan mereka.

» Read more