Lembar Kerja adalah Pekerjaan Guru

Hari kedua PKP diwarnai dengan aktifitas kerja. Hanya sedikit informasi yang hanya disampaikan sekilas. Selanjutnya, dari menit pertama hingga usai pertemuan pekerjaannya hanya membuat tugas berupa Lembar Kerja dari satu sampai empat. Sebenarnya pekerjaan bersifat individu. Tapi, mumpung ketemu, dilaksanakan kerja bareng tiap kelompok. Dengan pembagian tugas yang jelas dan berimbang.

Dari dialog singkat dengan pembimbing, sebenarnya arah dari pelatihan ini tidak hanya membuat soal HOTS, namun pembelajarannya juga harus HOTS. Oleh karenanya, saat mengerjakan tugas (terutama pada pembelajaran) ada sedikit perbedaan dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang selama ini kita buat. Aktifitas siswa lebih banyak diarahkan ke ruang analisis. Tak lagi mengulang permasalahan yang sama. Merujuk buku karya Edward De Bono, siswa harus berfikir “Lateral”. Tidak lagi konvensional. Ibaratnya berfikir meloncat dari permasalahan satu ke permasalahan yang lain, yang mungkin tak ada hubungan sedikitpun.

Pada pekerjaan Lembar ke-2 tentang : Analisis Unit Pembelajaran, ada perbedaan yang cukup mencolok khususnya di Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK). Sistim yang lama, IPK hanya ditulis di silabus. Sistim yang baru, IPK disematkan pada Kegiatan Pembelajaran serta mengalami fisi menjadi dua yaitu : IPK pendukung dan IPK kunci. Masing-masing memiliki peran saling merekatkan.

Perbedaan yang kedua, yaitu pada Kegiatan Pembelajaran. Pada ranah HOTS, kegiatan pembelajaran terbagi menjadi 3 bagian yaitu : Transfer Knowledge, Critical Thinking atau Creativity, dan Problem Solving. Ketiga tahapan ini harus saling berkesinambungan. Kegiatan awal yaitu Transfer Knowledge, guru sudah harus menyediakan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), yang didalamnya harus memuat unsur HOTS.

Sebagai sebuah proses transfer pengetahuan, proses pembelajaran pada kenyataannya tidak hanya tergantung pada penguasaan materi oleh guru. Proses ini hanyalah sebagai salah satu aspek yang harus dipenuhi oleh guru agar dapat mengajar dengan lancardan tidak menjadikan anak didik kebingungan atau kesulitan.

Dalam pelaksanaan pembelajaran akan berlangsung dialogis antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, bahkan siswa dengan sumber belajar. Andai kegiatan dialogis telah berjalan, maka sesungguhnya pembelajaran sudah masuk ke ruang Critical Thinking.

Siswa telah melakukan aktifitas penemuan hingga sampai pada tahap menyimpulkan. Ketiga, yaitu problem solving. Tahap ini guru benar-benar harus mampu membawa suasana pembelajaran yang berwarna. Boleh jadi, temuan siswa belum tentu ditemukan oleh guru. Artinya, solusi yang dikemukakan oleh siswa benar-banar baru. Cara mendapatkan kesimpulan tidak boleh tunggal.

Metode ini adalah dengan cara melatih siswa menghadapi berbagai masalah untuk diselesaiakan secara mandiri atau kelompok. Problem solving ini memang membutuhkan wawasan yang luas dan sumber belajar yang beragam. Guru, selayaknya memfasilitasi kegiatan pembelajaran model seperti ini.

Guru On Fire

Faktanya, setelah dilakukan penelitian, hasilnya saya cantumkan beberapa :

  1. Terdapat kesenjangan yang tinggi antara kemampuan Siswa Peserta UN dengan Standar Soal UN.
  2. Dari tahun 2000 sampai tahun 2015, skor siswa Indonesia berkisar antara 370-400, sementara skor rata-rata PISA 500. PISA adalah : Programme for International Student Assessment (PISA).
  3. Kemampuan guru dalam implementasi Kurikulum 2013 (analisis SKL-KI-KD dan perumusan IPK) masih rendah.
  4. Pelaksanaan PKB saat ini lebih cenderung membuat guru pintar daripada membuat murid pintar.

Dari ketiga indikator yang bisa divisualkan lewat gambar di atas, menandakan bahwa pelajaran Matematika khususnya, masih harus ditingkatkan lagi kinerjanya. Agar bisa bersaing dengan negara lain, terutama untuk memperoleh skor minimal yaitu 500. Baik guru maupun siswa.

» Read more

Menyelesaikan masalah linier satu variabel

Banyak sekali permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat diselesaikan dengan menggunakan persamaan linear satu variabel. Permasalahan-permasalahan tersebut biasanya disajikan dalam bentuk soal cerita. Untuk menyelesaikannya, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membuat model matematika berdasarkan soal cerita tersebut. Kemudian selesaian dengan menggunakan penyelesaian persamaan linear satu variabel dengan cara persamaan ekuivalen. Nah untuk lebih jelasnya, silahkan pelajari contoh berikut.

Contoh Soal 1

Jordy memiliki kolam ikan di depan rumahnya berbentuk persegi panjang. Lebar kolam ikan tersebut 10 cm lebih pendek daripada panjangnya. Jika keliling kolam ikan 3,8 m, tentukan luas kolam ikan tersebut.

Penyelesaian:

Misalkan panjang kolam ikan = x maka lebar kolam ikan = x – 10.

Model matematika dari contoh soal 1 adalah p = x dan l = x – 10, sehingga:

K = 2(p + l)

380 = 2(x + x – 10)

Penyelesaian model matematika di atas sebagai berikut.

K = 2(p + l)

380 = 2(x + x – 10)

380 = 2(2x – 10)

380 = 4x – 20

380 + 20 = 4x – 20 + 20

400 = 4x

x = 400/4

x = 100

 

Luas = p . l

Luas = x(x – 10)

Luas = 100(100 – 10)

Luas = 100 . 90

Luas = 9000 cm2 = 0,9 m2

Jadi, luas kolam ikan Jordy adalah 9.000 cm2 atau 0,9 m2.

 

Contoh Soal 2

Diketahui harga 1 kg buah anggur tiga kali harga 1 kg buah salak. Jika ibu membeli 2 kg buah anggur dan 5 kg buah salak maka ibu harus membayar Rp38.500,00. a) Buatlah kalimat matematika dari keterangan di atas, kemudian selesaikanlah. b). Berapakah harga 1 kg buah anggur dan 1 kg buah salak? c). Jika seseorang membeli 3 kg buah anggur dan 4 kg buah salak, berapakah ia harus membayar?

Penyelesaian:

a). Misalkan harga 1 kg anggur = x dan harga 1 kg salak = y, maka model matematika berdasarkan keterangan di atas adalah x = 3y dan 2x + 5y = 38.500. Dari model matematika diketahui x = 3y dan 2x + 5y = 38.500. Digunakan motode substitusi, sehingga diperoleh:

2x + 5y = 38.500

2x + 5y = 38.500

2(3y) + 5y = 38.500

6y + 5y = 38.500

11y = 38.500

y = 38.500/11

y = 3500

Karena x = 3y dan y = 3500, maka

x = 3 . 3500

x = 10.500

b) karena harga 1 kg buah anggur = x dan harga 1 kg buah salak = y, maka harga 1 kg buah anggur adalah Rp 10.500,00 dan 1 kg buah salak adalah Rp 3.500,00.

c) Jika seseorang membeli 3 kg buah anggur dan 4 kg buah salak dapat

ditulis sebagai 3x + 4y, sehingga:

3x + 4y = (3 . 10500) + (4 . 3500)

3x + 4y = 31500 + 14000

3x + 4y = 45500

Jadi, ia harus membayar untuk membeli 3 kg buah anggur dan 4 kg buah salak adalah Rp 45.500,00

Lebih jelasnya buka tautan berikut

Latihan dapat di klik disini

Menyelesaikan persamaan dengan penjumlahan dan pengurangan

Yang merupakan suatu persamaan linear satu variabel (PLSV). Untuk menyelesaikan suatu persamaan, kita harus menentukan nilai dari x sedemikian sehingga persamaan tersebut menjadi benar, yang berarti, nilai dari ruas kiri sama dengan ruas kanan. Perhatikan tabel berikut.

Berdasarkan tabel di atas, kita dapat menemukan bahwa persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 akan bernilai benar ketika kita mengganti x dengan bilangan 2, dan akan salah jika kita mengganti x dengan bilangan selain 2. Bilangan pengganti yang dapat menyebabkan suatu persamaan bernilai benar disebut akar.

Menyelesaikan persamaan dengan menggunakan tabel akan memakan waktu yang cukup lama. Untuk itu, kita dapat menuliskan suatu persamaan yang diberikan ke dalam persamaan ekuivalen yang lebih sederhana, sampai kita mendapatkan solusi yang diminta. Persamaan-persamaan yang ekuivalen adalah persamaan-persamaan yang memiliki himpunan selesaian sama, dan diperoleh dari penyederhanaan kedua ruas persamaan dengan menggunakan sifat-sifat penjumlahan, perkalian, dan distributif dari suatu persamaan, sampai diperoleh suatu persamaan dalam bentuk x = konstanta.

Sifat Penjumlahan dan Perkalian Suatu Persamaan
Jika A, B, dan C merupakan bentuk-bentuk aljabar dan A = B, maka A + C = B + C, AC = BC, dan A/C = B/C (C ≠ 0).

Dengan kata lain, berdasarkan sifat penjumlahan suatu persamaan, kita dapat menambahkan suatu bilangan atau bentuk aljabar lain ke dalam ruas kanan dan kiri persamaan tersebut. Pernyataan yang serupa dapat dibuat untuk menyatakan sifat perkalian suatu persamaan. Sifat-sifat dari persamaan ini dapat dikombinasikan untuk dijadikan panduan dalam menyelesaikan suatu persamaan linear. Sebagai catatan, tidak semua langkah dalam panduan ini diperlukan dalam menyelesaikan setiap persamaan.

  1. Berikut ini merupakan panduan/langkah-langkah dalam menyelesaikan persamaan linear satu variabel.
  2. Hilangkan tanda kurung dengan menggunakan sifat distributif, kemudian operasikan suku-suku yang serupa.
  3. Gunakan sifat penjumlahan suatu persamaan untuk menulis persamaan tersebut sehingga semua variabel berada di satu ruas, sedangkan semua konstanta berada di ruas lainnya. Sederhanakan masing-masing ruas
  4. Gunakan sifat perkalian suatu persamaan untuk menghasilkan persamaan yang berbentuk x = konstanta

Untuk soal penerapan, jawablah ke dalam kalimat sempurna dan gunakan satuan yang sesuai dengan perintah. Sebagai contoh pertama, kita akan mencoba menyelesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 yang merupakan masalah di awal pembahasan ini.

Pembahasan :

Seperti selesaian dengan menggunakan tabel, kita juga memperoleh bahwa selesaian dari persamaan tersebut adalah x = 2.

Untuk menguji selesaian yang kita peroleh, kita dapat mensubstitusikan selesaian ini ke dalam persamaan semula (proses ini sering disebut substitusi-balik), dan pastikan bahwa nilai pada ruas kiri sama dengan ruas kanan. Dari contoh 1 kita mendapatkan:

Jika ada koefisien-koefisien dalam suatu persamaan berbentuk pecahan, kalikan kedua ruas dengan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) dari penyebut-penyebutnya, untuk menghilangkan pecahan tersebut. Karena setiap bilangan desimal dapat ditulis ke dalam bentuk pecahan, maka dalam menyelesaikan persamaan yang memuat koefisien desimal, kita dapat mengubah bentuk desimal tersebut ke dalam bentuk pecahan terlebih dahulu.

Tentukan selesaian dari persamaan: 1/4(n + 8) – 2 = 1/2(n – 6).

Pembahasan

Dengan menguji persamaan asli dengan x = 12, kita mendapatkan 3 = 3.

Lebih jelasnya klik tautan berikut

Latihan bisa dibuka di geschool

Sumber tulisan : https://yos3prens.wordpress.com/2013/11/15/menyelesaikan-persamaan-linear-satu-variabel-plsv/

 

Mendidik adalah Pilihan

sumber gambar : sahabatyatim.com

Ny Yayah Komariah selalu setia mendampingi kelima bila mereka belajar. Topik yang dibicarakan adalah suka-suka, tergantung keinginan mereka. Namun yang paling seru dan sering dibicarakan adalah pada mata pelajaran Matematika. Hasan yang baru berumur 7 tahun, mempunyai cita-cita menjadi astronot dan suatu saat ingin ke Planet Mars. Vida, sang kakak ingin menjadi guru. Sungguh mulia harapan mereka. Ruangan depan yang berukuran 3 x 3 menjadi arena untuk memacu diri, agar tidak kalah dengan teman-teman yang sempat mengenyam di bangku sekolah. Itulah kisah yang saya nukilkan pada buku Home Schooling terbitan kompas, 2007.

» Read more

Si Tukang Omong Di Kelas Sepuluh

Dengan wajah tertunduk, saya mengakui bahwa saya punya banyak kesalahan dan sering menghadapi kegagalan selama berprofesi sebagai guru. Dan kalau guru salah, ada sekian ratus siswa yang mungkin merasakan akibatnya. Salah satu keslahan terbanyak yang pernah saya lakukan adalah : kegagalan menahan diri dari menilai siswa lewat kesan pertama, memberi stereotip tertentu dengan melihat sesuatu yang hanya ada di permukaan, dengan sempitnya ilmu dan dangkalnya pemahaman.

Saya tak bisa ingat lagi semua siswa yang telah saya perlakukan tak adil seperti di atas, namun ada satu nama yang masih melekat : Arlan Soebarna.

Di tempat saya mengajar, sekolah mengadakan evaluasi keseluruhan setiap tiga bulan, yang membahas semua komponensekolah, termasuk kedisiplinan siswa. Tahun lalu, nama Arlan Soebrata dari kelas sepuluh selalu masuk pembahasan. Hampir semua guru mengeluhkan kelakuannya yang membuat suasana belajar jadi tidak “kondusif” (saya letakkan kondusif dalam petik karena maknanya berbeda bagi tiap orang).

» Read more

1 2