Deep Purple dan Pola Hidup Penggemar

sumber gambar : uncut.co.uk

Saya mengenal grup music cadas Deep Purple seputar tahun 80-an. Waktu itu masih seumuran SMP. Musik yang saya tahu, saat itu, dan hafal sedikit syairnya adalah Koes Plus, The Mercy’s dan H. Rhoma Irama. Maklum hidup jauh dari kota sebagaisumber informasi.

Penyanyi atau grup music yang berasal dari barat sama sekali belum saya kenal. Saya mengetahui Deep Purple, karena dikenalkan oleh teman saya yang kebetulan pindah dari Solo. Dia kemudian satu kelas sampai lulus SMP.

Mulanya terasa asing mendengarkan music yang tidak beraturan. Tapi saya paksakan di telinga, sebagai salah indikasi orang yang gaul dan mengikuti perkembangan jaman. Yang penting ramai dan keras. Saat lagu diputar lewat tape, saat itu masih berbentuk cassette, ada orang bertanya, “lagunya siapa musiknya bagus?” saya jawab “casettenya teman saya, nih… baca sendiri judulnya.”

Itulah awal saya mengenal lagu-lagunya Deep Purple. Tidak tahu judul, tidak mengetahui jenis aliran music, apalagi nama personalnya. Yang penting ramai dan keras.   

Barulah saya mulai menyukai lagu-lagunya Deep Purple, saat mendengarkan lagu “Child In Time”. Karena instrumennya hamper sama dengan salah satu lagu dari Soneta Grup.

Sejak itu, sedikit demi sedikit saya mulai memperhatikan ritme, nada-nada yang dimainkan Deep Purple. Karena penasaran, saya memberanikan diri untuk membeli casettenya. Karena saya tidak berani minta uang dari orang tua untuk membeli cassette, maka dengan sedikit menahan lapar untuk tidak jajan di sekolah selama 2 minggu, uang jajan tadi saya kumpulkan untuk membeli sekeping cassette Deep Purple.
Karena cassette Deep Purple tersedia tidak hanya satu macam, sayapun bingung mau pilih yang mana. Akhirnya saya minta bantuan sama penjual untuk memilihkan cassette yang terbaik. Saya masih ingat betul lagu pertama Smoke On The Water, lagu kedua Soldier Of Fortune dan lagu ketiga Child In Time, lagu favoritku.

Dengan memiliki Casette sendiri, sayapun lebih leluasa untuk mendengarkan. Karena hanya tiga lagu yang saya sukai saat itu, maka untuk memutar ulang cassette harus digulung dengan bantuan pulpen atau alat lain. Maklum, belum ada listrik. Adanya hanya accu, yang setiap kali habis energinya harus diisi ulang. Chargenya harus dibawa ke kota dan menginap satu hari.

Kumunitasku semakin mengerucut. Karena tidak banyak penggemar lagu-lagu barat, terutama music yang beraliran rock. Entah kenapa, saat berkumpul untuk mendengarkan atau sekedar diskusi tentang lagu Rock ada semacam kebanggaan. Atau karena latah saja. Terbukti, pakian yang kami kenakan juga meniru sang idola. Tidak risih mengenakan kalung, meskipun dari tembaga berbentuk bintang. Baju bagian atas dibuat terbuka, biar kelihatan itu kalung. Ada pula teman-teman yang berani membuat tattoo di lengan tangan. Celana jean yang masih utuh dibuat sobek pada bagian lutut. Tak pelak adu argument dengan orangtua pun pecah.

Mengenal budaya orang lain, bisa lewat music, adat istiadat, film, bagi saya adalah keharusan. Adapun nilai-nilai yang terkandung menjadi panutan itu adalah pilihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *