Manajemen Partisipatif

Rapat kerja, Musyawarah Daerah (Musyda) atau rapat-rapat lain yang semakna, tentu memiliki tujuan yang mulia nan baik. Itikadnya adalah mengevaluasi kinerja yang telah dilakukan dan merancang kegiatan berikutnya. Sasarannya agar sekelompok orang yang menjadi obyek garapan menjadi lebih baik.

Dalam musyawarah, tidak hanya keputusan yang menjadi perhatian utama, namun bagaimana sebuah keputusan dapat direalisasikan sesuai dengan harapan. Oleh karenanya pembagian tugas menjadi sangat penting untuk mengurai hasil keputusan.

Pengorganisasian ataupun pembagian tugas, lebih menekankan kepada “keprofesionalan”. Masih banyak kita jumpai bahwa tugas dibebankan pada “kekerabatan”. Profesional disini, memiliki arti secara teknis orang yang bersangkutan lebih mumpuni untuk mengerjakan tugas tertentu. Sistim manajemen partisipatif sebagai salah satu jembatan untuk mengurai kelambanan dalam membagi tugas.

Partisipasi merupakan terlibatnya seseorang orang secara mental dan emosional di dalam satu kelompok yang merangsang mereka untuk berkontribusi kepada tujuan kelompok dan berbagi tanggung jawab untuk apa yang dihasilkan (Manuaba, 1994).

Pertama adalah keberadaan manusia itu sendiri. Dalam literatur jawa disebutkan “diuwongke”. Artinya betapapun rendahnya jabatan seseorang, mereka harus kita manusiakan. Dihormati pendapatnya, Diakui jabatannya, Dilibatkan dalam pengambilan keputusan.

Kedua adalah Mental dan Emosional, memiliki arti bahwa kerja tidak hanya otot belaka. Teknik dan strategi haruslah menjadi bahasan utama. Saat ini jaringan menjadi sangat penting. Apabila ada satu orang memiliki tiga jaringan, maka kalau dalam sebuah kelompok kerja ada lima orang, maka ada lima belas jaringan. Apabila jaringan ini dioptimalkan, maka efektif dan efisien akan didapat.

Ketiga adalah Kelompok. Secara naluriah, hidup manusia harus berkelompok. Seseorang hanya memiliki keahlian terbatas. Is perlu bantuan orang lain. Apabila dari masing-masing orang memiliki keahlian yang berbeda, maka akan terjadi kekuatan yang sinergis. Hasil yang diperolehpun merupakan kerja bareng. Monumen yang dihasilkanpun juga milik bersama. Tak ada lagi mililk perseorangan.

Itulah manajemen partisipatif yang intinya adalah bagaimana sebuah proyek atau pekerjaan melibatkan semua unsur yang ada dalam kelompok. Pada akhirnya memang bagaiamana seseorang dapat melebur dalam kelompok. Tidak semua orang bisa seperti ini. Perlu latihan terus-menerus, bahkan sampai menjelang ajal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *