Siswa Belajar Birokrasi

sumber gambar : dokumen pribadi

Saya cukup terusik dengan kegiatan Technical Meeting (TM) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta terkait dengan pelaksanaan Olimpiade Literasi Siswa Nasional (OLSN) yang sedang digalakkan oleh pemerintah. Olimpiade Literasi ini termasuk baru jika dibandingkan dengan olympiade matematika atau IPA, misalnya. Yang cukup menarik adalah kegiatan TM dihadiri oleh siswa. Bukan hanya guru. Padahal sebelumnya, setiap kegiatan yang melibatkan siswa hanya guru yang terlibat mulai dari administrasi hingga teknis pelaksanaan lomba.

Di masa yang akan datang alangkah indahnya bila siswa dilibatkan dalam setiap tahap birokrasi pelaksanaan lomba. Mulai dari pendaftaran, technical meeting sampai pada pelaksanaan lomba. Meskipun sebenarnya anak tetep harus didampingi oleh guru. Dengan dilibatkannya anak ke dalam kancah birokrasi, ada beberapa pembelajaran yang akan diperoleh anak, antara lain : siswa akan mengetahui dengan mata kepalanya sendiri, bahwa dalam dunia pendidikan bukan hanya guru, siswa, dan karyawan. Masih ada orang lain yang terlibat dalam dunia pendidikan. Merekalah yang mengelola antar sekolah menjadi lebih tertata. Selama ini tahunya anak cuma di lingkungan sekolah saja.

Masa pendaftaran

Siswa mulai dikenalkan tahap demi tahap bila ingin menjadi peserta lomba. Sebelum mendaftar secara resmi, siswa harus membuat surat untuk mengikuti lomba. Paling tidak surat tugas yang dikeluarkan oleh OSIS dan diketahui oleh Kepala Sekolah. Selama ini yang mengeluarkan dari sekolah.

Setelah surat jadi, surat harus dikirim ke alamat penyelenggara lomba (misalnya Dinas Pendidikan). Disini, siswa belajar berdiplomasi. Karena mereka akan berdialog dengan orang lain. Sisi baiknya adalah berani berbicara didepan orang lain.

Tahap Technical Meeting

Siswa dikenalkan tata cara bermain aturan. Bahwa setiap kompetisi haruslah ada aturan mainnya. Aturan ini harus disepakati bersama. Oleh karenanya, setiap calon peserta harus mengetahui dengan benar aturan main.

Secara tidak langsung, siswa melakukan metode belajar dengan “learning by doing” karena setiap butir demi butir aturan dibahas secara bersama-sama. Siswa akan mengetahui di posisi mana mereka berada. Mereka akan menyusun strategi untuk memenangkan kompetisi, di bawah aturan yang disepakati bersama.

Medan laga

Pada saat bertanding, ada hikmah yang bisa dipetik oleh setiap peserta. Bahwa untuk memenangkan kompetisi, harus lebih unggul dibandingkan dengan yang lain. Perlu persiapan yang matang untuk menaklukkan medan laga. Siswa akan terbiasa dengan persaingan yang sehat.  Bila ini dilakukan secara terus menerus, maka di masa yang akan dating, peserta lomba tidak akan kaget dengan dunia persiangan di masyarakat. Bukan hanya saat bertanding saja, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Ungkapan di atas langit ada langit memang benar adanya. Kompetisi tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tapi juga kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bisa saja seorang petarung unggul di daerah tertentu. Namun setelah diadu dengan petarung lain, ternyata tidak mampu untuk mengimbangi.

Untuk memenangkan sebuah kompetisi diperlukan segalanya. Mental, fisik, strategi, dan ilmu. Persiapan yang matang tidak hanya dari bimbingan dari pelatih, tapi motivasi diri yang kuat sangat berpengaruh. Tidak ada salahnya kalau siswa sudah mulai dikenalkan dengan birokrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *