Fluktuatif Ekonomi

Membaca status face booknya Prayitno Ramelan selalu menarik. Beliau adalah seorang pensiunan Angkatan Udara bergelar Marsda TNI Purna. Seorang pengamat politik, terutama masalah intelijen. Topik yang beliau angkat lebih banyak bidang politik ditinjau dari sisi intelijen. Saya kenal dengan beliau lewat sosial media terutama jalur literasi : kompasiana. lebih jauh tentang beliau, baca saja di http://ramalanintelijen.net/profile. Berikut ini salah satu tulisannya.

Tadi pagi Pray dan team mengundang Dr. Aviliani, seorang pakar Ekonomi untuk berdiskusi masalah kondisi perekonomian Indonesia yg akhir2 ini dikhawatirkan oleh beberapa pihak akan memburuk, dengan indikasi terjadinya gejolak nilai tukar rupiah terhadap US dolar.

Dr. Aviliani SE, MSi adalah profesional dan ekonom Indonesia yang menjabat sebagai Sekretaris Komite Ekonomi Nasional. Ia juga menjabat sebagai ekonom INDEF.

Dalam intelstrat, komponen ekonomi harus terus dimonitor, karena memburuknya perekonomian akan berpengaruh thd stabilitas polkam. Fakta mencatat, penyebab turunnya Pak Harto dan Gus Dur terutama disebabkan pengaruh negatif perekonomian Indonesia saat itu. Intelstrat terus melakukan pulbaket, juga dari penjelasan Menku di DPR RI.

Menku Dr. Sri Mulyani pada
hari Selasa 3 Juli 2018 menyampaikan pidato mengenai Pokok-pokok RUU Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2017 (P2 APBN TA 2017) pada Sidang Paripurna DPR RI di Jakarta.

Dikatakannya, Saya menyampaikan bahwa tahun 2017, merupakan tahun terbaik pengelolaan APBN, antara lain karena beberapa capaian sebagai berikut:

1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 70,81, terbaik dalam 4 tahun terakhir.

2. Tingkat pengangguran terbuka 5,13 persen terendah dalam 3 tahun terakhir

3. Jumlah penduduk miskin 26,58 juta jiwa terendah sejak 2014

4. Rasio gini 0,391 terendah sejak 2014.

5. Indonesia sebagai top 10 reformer (10 negara terbaik di dunia) dalam melakukan reformasi “Ease of Doing Business” selama 15 tahun terakhir.

6. Predikat “investment grade” dari lima lembaga rating dunia (S&P, Fitch, Moody’s, JCR, dan R&I)

7. Capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,07 persen dan Produk Domestik Bruto Rp13.588,8 triliun yg lebih baik dari tahun 2016.

8. Inflasi 3,61 persen, rata2 nilai tukar rupiah Rp13.384 per dolar AS, dan rata-ratq suku bunga SPN 3 bulan 5,0 persen yang lebih baik dari target APBN-P.

9. Realisasi penerimaan pajak tahun 2017 sebesar Rp1.343,5 triliun adalah yang terbaik dalam 3 tahun terakhir

10. Defisit APBN 2,51 persen yg lebih rendah dari target APBN-P 2,92 persen.

11.Defisit Laporan Operasional Rp112,9 triliun, terkecil dalam 3 tahun terakhir.

12. Hasil revaluasi aset pemerintah tahun 2017 sebesar Rp 1.874,3 triliun.

13. Jumlah Kementerian/Lembaga (K/L) yang mendapat Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) yaitu 79 KL yang merupakan terbaik sejak 2004.

14. Jumlah KL yg mendapat Opini Disclaimer hanya 2 KL, terbaik sejak tahun 2004.

Semua capaian tersebut, sebagai pertanggungjawaban APBN 2017 dalam Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2017, dinilai positif oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan kembali mendapat opini terbaik berupa Opini WTP.

Opini WTP pertama kali diraih dalam LKPP tahun 2016 pada tahun lalu. WTP tersebut merupakan yang pertama kalinya sejak tahun 2004.

Hal ini berarti, tahun 2017 merupakan tahun terbaik dalam sejarah pengelolaan keuangan negara, karena dengan sejumlah capaian di atas, Pemerintah kembali berhasil mempertahankan Opini WTP atas LKPP.”

Nah, setelah panjang lebar presentasi dan diskusi dgn Dr.Aviliani, disimpulkan bhw kondisi perekonomian Indonesia belum merupakan ancaman/bahaya terhadap kredibilitas pemerintah. Memang masalah diperlukan beberapa kebijakan untuk meningkatkan kondisi rakyat bawah yg tergolong miskin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *