Idul Fitri Nan Ceria

sumber gambar : antvklik.com

Tradisi Idul Fitri yang telah menasional dapat dipastikan (hanya) milik Indonesia. Di Negara lain, memang ada kebiasaan mudik, seperti di China bila Gong Xi Fat Choi. Mudik adalah milik rakyat. Namun tidak semeriah seperti di Indonesia. Siapapun ikut pulang kampong meskipun mereka tidak beragama Islam. Bahkan ritualnya ikut kecipratan juga. Seperti libur, dagangan laris. Penyelenggara Negara, mulai dari Lurah hingga Presiden harus turun tangan langsung menangani mudik lebaran.

Kebiasaan yang patut disyukuri sebagai forum kekerabatan masal, meski bukan perintah agama, namun tradisi ini telah menyatu dengan ritual agama. Aktifitas masyarakat menjadi semarak. Forum ukhuwah kian meningkat. Membumikan perintah agama kian merata.

Silaturahmi bukan lagi manggung di forum pengajian. Kopi darat, istilahnya sekarang menjadi tujuan utama. Pulang kampung yang penting bertemu dengan keluarga dan handai taulan. Namun disisi lain pulang kampung malah dilupakan. Reuninya diutamakan. Tak heran bila orang tua jaman sekarang cukup kesepian. Karena tidak ada reriungan dengan anak-cucu.

Bila kita ditelusuri lebih lanjut, muncul kegiatan masyarakat yang secara tidak langsung turut serta mendidik masyarakat akan pentingnya berkumpul dan bergotong royong, antara lain :

Perputaran Uang.

Tidak ada perputaran uang yang beredar di masyarakat melebihi suasana menjelang lebaran. Kalau hanya mendekati mungkin saat menjelang tahun pelajaran baru siswa masuk sekolah.

Dua minggu sebelum lebaran, sering saya melihat fenomena masyarakat yang antri di depan ATM yang mengular. Semua Bank. Mereka dipastikan mengambil uang.

Untuk apalagi kalau bukan untuk belanja Idul Fitri. Aktifitas semacam ini memang akibat dari kebijakan dari Bank, bahwa pengambilan uang tunai yang kurang dari jumlah tertentu diharuskan lewat ATM. Uang tunai secara kasat mata mungkin bisa saja berkurang. Namun peredaran uang lewat on line menunjukkan grafik peningkatan.

Mengumpulkan Tulang. Dalam tradisi jawa ada istilah “ngumpulke balung”, artinya pada waktu lebaran, hampir semua anggota keluarga pulang kampung. Momen ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai sarana untuk berkumpul dalam satu keturunan (trah). Di lingkungan keluarga saya, sudah hampir puluhan tahun melaksanakan tradisi ini. Meskipun jumlah jiwa belum mencapai 150, tapi kami memiliki tekad agar setiap hari kedua malam hari, semua wajib berkumpul rumah bekas tempat tinggal kakek-nenek.

Simpati dengan Rekan sekolah. Mudik atau pulang kampung, setelah sekian tahun merantau dari tanah leluhur, pastilah membawa cerita yang menarik. Ada yang sukses, ada yang belum berhasil.

Dalam kesempatan tertentu dapat dipastikan kita akan bertemu dengan teman saat di Sekolah Dasar. Saling tukar kabar, tentang keberadaan si fulan menjadi cerita yang tak kunjung habis karena keberhasilannnya. Sebaliknya, si fulanah yang belum juga mengangkat derajad keluarga. Dari obrolan ringan sebagai obat kangen muncul rasa empati terhadap kawan lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *