Car Free Day

Car Free Day (CFD) di Klaten telah berumur sekitar 6 tahun. Sebagaimana kota lain, CFD dimaksudkan untuk kegiatan publik tanpa kebisingan kendaraan. Dimungkinkan untuk olah raga dan seni budaya. CFD di pusatkan di Jalan Pemuda yang merupakan jalan protokol. Pejalan kaki adalah yang mendominasi kerumunan, dan diikuti oleh penggemar sepeda. Sepeda motor dan mobil dilarang melintas di jalan satu arah yang membujur utara selatan.

Sebenarnya Klaten termasuk agak terlambat bila dibandingkan dengan kota Yogyakarta dan Surakarta. Mereka telah lama membuka akses jalan untuk kegiatan olah raga dan refreshing, pada jam tertentu. Tak ada kata terlambat, bagi orang yang ingin menggapai sesuatu. Sekarang warga Klaten bebas untuk menggunakan jalur utama sebagai ajang untuk unjuk diri.

Mulai dari Masjid Al-Aqsha sampai dengan pertigaan kantor kabupaten, ruas jalan memang disediakan untuk pejalan kaki atau kendaraan tidak bermesin. Cukup banyak komunitas yang bolehnya mengeluarkan kemampuan untuk diperlihatkan kepada orang lain.

1. Senam. Ada beberapa sanggar senam yang turut memeriahkan Car Free Day. Mereka unjuk kebolehan dalam menggerakkan anggota badan yang diiringi dengan hentakan music. Tua muda, besar kecil, serempak menukik, melompat dalam gerakan yang sama. Ajang ini cukup mendapat perhatian masyarakat. Ehm.. ehm.. .Ada pengunjung langsung bergabung, meskipun gerakannya agak bterlambat beberapa detik. Yang penting gerak. Yang penting heppy.

2. Olah Raga. Disamping jalan sehat, lari-lari kecil, bersepeda, ada juga komunitas yang turut andil bagian. Bela diri dan Tenis Meja. Ada 3 perguruan bela diri dan sebuah club tenis meja yang cukup menyita perhatian. Mereka memperagakan jurus-jurus kebanggaan. Dari arena tenis meja ada yang cukup bisa dibanggakan. Beradu ketangkasan memainkan bola, yang diikuti oleh kelompok anak-anak.

3. Fotografi. Tidak bisa dipungkiri, bahwa arena fotografi yang paling besar peminatnya. Mengapa? Karena disitu ada peragawati yang bolehnya melenggak-lenggok, meskipun diatas aspal. Bukan di karpet. Organisasi penggemar foto ini cukup banyak peminatnya. Dengan penuh percaya diri, mereka menggenggam foto digital dari produk-produk yang sudah terkenal. Berdiri, jongkok, duduk, atau bahkan tiduran. Mengikuti mood untuk memperoleh angel yang pas. Sengaja saya tidak meng-upload peragawatinya, agar kompasioner tetap dapat konsentrasi membaca.

4. Komunitas lain. Cukup banyak dan beragam, komunitas yang ada di kota klaten untuk turut serta men sukseskan program Car Free Day. Penggemar sepeda fixie, bahkan mengusung sebuah tulisan yang cukup folosofis. Kelompok pelukis juga turut memamerkan karyanya. Bagi mereka, media lukisan tidak harus berupa kertas atau kanvas. Benda-benda lain juga bisa dipakai untuk media. Bahkan hasilnya malah menambah nilai seni. Demikian pula penyuka papan luncur, yang lebih didominasi oleh anak muda. Bermain papan luncur membutuhkan konsentrasi yang tinggi dan keseimbangan tubuh yang luar biasa beratnya.

Akhirnya ruas jalan yang dipakai tak terhindarkan dari ajang promosi. Itu tidak salah. Memanfaatkan peluang. Disepanjang jalan, toko-toko yang semula buka jam 09.00, hari itu sudah buka jam 07.00. Beberapa sekolah juga memanfaatkan momentum. Musim penerimaan siswa baru segera tiba.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *