Model Pembelajaran

Untuk kesekian kalinya saya mengikuti work shop tentang Lesson Studi. Sebuah model pembinaan profesi pendidik yang berbasis kolaborasi. Model kerja sama yang dibangun antar sesam pendidik. Karena memang (mungkin) hanya itu yang dapat dilakukan. Tanpa kehadiran dari profesia lain.

Berbeda dengan Lesson Study yang dikembangkan di negeri asal, yaitu Jepang. Di Jepang, ilmu ini lahir dan berkembang, Siswa belajar di kelas bukan lagi monolog. Bahkan bukan saja dialog. Siswa sebagai subyek benar-benar dioptimalkan dalam mendapatkan pengalaman belajar.

Lesson Study tidak hanya melibatkan guru dan siswa. Metode yang dikembangkan merambah hingga melibatkan orang tua siswa. Orang tua, guru dan mungkin juga pakar pendidikan terlibat langsung dalam pembelajaran.

Bekerja secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajaran secara sklis dan terus menerus sampai menunjukkan peningkatan, merupakan inti dari Lesson Studi.

Idenya sederhana. Bila seorang guru  ingin meningkatkan pembelajaran, salah satu cara yang paling jelas yaitu dengan melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan.

Secara sederhana proses Lesson study ada tiga tahapan.

Tahapan pertama : Plan (perencanaan)

Persiapan yang harus dilakukan sebelum melakukan pembelajaran adalah menyusun rencana kegiatan dalam kurun waktu tertentu. Tiga bulanan atau semester. Rencana program yang diujudkan dalam bentuk table waktu sangat penting. Karena orang lain akan mengikuti jadwal yang telah ditetapkan.

Susunan acara pembelajaran ditulis secara lengkap sesuai dengan materi sebagai fokus yang akan dilakukan dalam Lesson Study. Sehingga tim akan dengan mudah mengkuti atau paling tidak menyiapkan referensi lain.

Selipkan lembar observasi sebagai salah satu instrumen untuk melakukan evaluasi dan refleksi. Tim akan memberi tanda yang telah ditetapkan sesuai dengan indikator dari rencana pembelajaran. Supaya dibedakan hasil evaluasi tertutup dan terbuka. Tertutup, berarti tim hanya memberi tanda sesuai dengan kondisi pembelajaran. Tim tidak bisa mengembangkan evaluasi. Adapun terbuka, berarti observer bebas melakukan catatan apapun yang ditemui selama pembelajaran. Catatan ini sangat bermanfaat dalam melakukan evaluasi.

Tahapan kedua : Do (pelaksanaan)

Tim atau observer yang telah ditunjuk, melakukan penilain dengan pengamatan secara langsung. Lembar observasi jangan sampai tidak terisi. Karena butir pengamatan telah menjadi kesepakatan bersama-sama.

Pengamatan harus tertuju pada kegiatan belajar siswa. Bukan pada metode nara sumber mengajar.Dengan cara yang demikian itu, siswa akan tampak terlihat seberapa besar motivasi dalam pengalaman belajar.

Penting untuk diingat bahwa observer atau tim hanya melihat dan mencatat kejadian yang ditemui. Tidak diperkenankan untuk berinteraksi secara langsung dengan siswa.

Tahapan ketiga : See (refleksi)

Diskusi adalah kata kunci dari tahap yang ketiga. Setelah tim atau observer melakukan penilaian tertulis, anggota tim diberi kesempatan untuk menilai dan mengembangkan temuan dalam proses Lesson Study, setelah sebelumnya guru yang bersangkutan mengemukakan pengalaman menyampaikan materi.

Fokus diskusi hanya seputar proses belajar siswa. Bukan pada aktivitas guru atau nara sumber. Berbicara hanya pada data dan fakta yang ditemui di lapangan. Hindari saran yang bersifat bias.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *