Musketeer

sumber gambar : critictoo.com

Musketeer, manurut asal usulnya adalah sekelompok prajurit yang bertanggungjawab pada keselamatan raja.Di era monarkhi, raja adalah tuhan. Detak jantung  seseorang akan selalu berdenyut atau mengakhiri hidup tergantung raja. Keberadaan seorang raja harus selalu tampil berwibawa, entah dia memiliki kharisma atau kewibawaan raja dibuat-buat, akan sangat tergantung sekelompok prajurit yang bernama musketeer.

Dalam perjalanan musketeer bisa berubah ujud dan nama, tapi esensi dan maknanya tidak akan berubah. Di era demokrasi seperti saat ini, musketeer dibutuhkan oleh kepala Negara. Musketeer tidak lagi punggawa yang selalu membawa senjata, namun menjelma menjadi sekelompok orang yang fungsinya memberi masukan yang utama bagi kepala Negara untuk mengambil keputusan.

Melihat posisi musketeer yang demikian sentral, maka tegak robohnya sebuah Negara berada dipundak musketeer. Keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh kepala Negara menjadi tanggungjawab musketeer.

Setali tiga uang. Negara dan sekolah pada dasarnya mirip. Pengelelolaan sekolah yang bagus, merupakan hasil dari pemikiran musketeer. Mereka adalah orang yang mampu menerjemahkan dan menafsirkan arah kebijakan sekolah.

Kepala sekolah boleh berganti, wakil kepala bisa mengalami rotasi. Namun musketeer tidak boleh kehilangan. Kelompok kecil yang memiliki wawasan yang jauh ke depan, ketrampilan yang mumpuni, serta memiliki daya juang yang tangguh. Dari mereka inilah sebenarnya budaya sekolah dapat terbentuk.

Membentuk budaya sekolah tidak bisa sekejap, dan dapat dilihat hasilnya. Budaya sekolah mengalami proses yang panjang, bahkan dapat pula melewati beberapa generasi. Terkadang kita silau terhadap kepemimpinan kepala sekolah dalam menahkodai laju sekolah. Sekolah tersebut merupakan favorit. Kita akan menilai seketika, bahwa sekolah itu hasil kerja kepala sekolah. Anggapan ini salah, menurut hemat penulis. Sekolah merupakan keluarga besar tempat berkumpulnya orang untuk berdialog, kompromi dan melakukan kesepakatan. Dari kompromi itulah sebenarnya menghasilkan keputusan yang sangat besar dalam kontribusinya terhadap kemajuan sekolah. Namun lambat, tidak seketika.

Akhirnya, tak bisa ditawar lagi bahwa sekelompok orang yang terlatih (musketeer) harus dibentuk.  Bukan alamiah, namun terencana, terprogram dan melibatkan orang-orang yang memiliki sumber daya manusia yang cakap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *