Melawan Mitos

sumber gambar : kompasiana.com

Benarkah mitos di bawah ini selalu membayangi kita?

  • Semakin tinggi pendidikan semakin tidak kreatif
  • Orang yang tidak bersekolah tinggi semakin kreatif
  • Orang yang kritis akan sinis terhadap orang lain
  • Manusia kritis berbeda dengan manusia kreatif, keduanya tak bisa disatukan
  • Karena dia pandai maka dia tak bisa bergaul dengan baik

Mitos, tak simetris dengan ilmu pengetahuan. Mitos berjalan sesuai angan-angan. Ilmu pengetahuan bergerak karena ditemukan fakta. Mitos mengandalkan kepercayaan, ilmu pengetahuan mengandalkan pikiran.

Realita dalam dunia pendidikan, masih ditemukan adanya mitos yang tak terkait langsung dengan dasar-dasar ilmu. Banyak kita jumpai mitos masih menjadi dasar dalam melangkah dan merengkuh pendidikan. Suasana pembelajaran menjadi terlalu sempit. Harusnya mitos ditempatkan pada posisinya, seperti yang terdapat dalam dongeng-dongeng karya sastra.

Guru pun masih tak lepas dari mitos dalam menyampaikan pembelajaran. Materi-materi pelajaran yang seharusnya menjadi landasan untuk memberi motivasi, ditelikung hanya sekedar teori belaka. Pembelajaran menjadi semacam harapan kosong dan bersifat monoton. Sperti layaknya genetika. Turun temurun.

Sementara itu, yang lain telah melangkah ke suasana maju dan agresif, menantang masa depan, tetapi berdasarkan khayalan atau asumsi-asumsi yang tidak benar. Tidak berdasarkan temuan nyata. Sehingga banyak warga dalam dunia pendidikan masuk dalam perangkap kepercayaan yang tidak masuk akal dan mendiamkannya.

Untuk masuk dalam gerbang kompetisi yang semakin meruncing, tak sekedar dibutuhkan pengetahuan saja. Berpikir kreatif dan kritis. Cara berfikir seperti ini bukan bawaan gen. kreatif dan kritis dapat dibuat. Dapat dikelola dengan baik. Ini adalah sebuah ketrampilan yang harus dilatih terus-menerus, dijalankan dengan tekun, membuka diri, keluar dari zona nyaman, dan abaikan segala atribut yang dimiliki.

Otak yang kita miliki ada dua. Kanan dan kiri. Menurut takdir, otak kiri lebih banyak digunakan untuk menemukan fakta, melakukan analisis, bermain logika, mengolah angka, kata-kata dll. Sedangkan otak kanan bekerja untuk dilatih seni dan budaya, rasa dan imajinasi. Di daerah ini, otak dan hati bermuara di hati. Ukuran ketercapaiannya sangat subyektif.

Untuk bisa memainkan kedua kubu itu memang harus selalu mencoba. Memanfaatkan otak tak harus dilakukan satu sisi saja. Meskipun peminatan hanya ada di satu sisi. Keduanya harus akur, seimbang agar kelak, satu sisi tak kering. Makanya muncul sebuah teori trial and error. Mencoba dan gagal. Selalu dilatih adalah salah satu cara melakukan kreatif dan kritis. Banyak latihan membawa pada satu titik keberhasilan, selama hukum alam masih berlaku. Resep yang sangat manjur tentu saja 5W + 1H. Kaidah ini berlaku untuk umum. Artinya, siapapun dengan latar belakang profesi apapun dapat menggunakan formula itu.

Berlatih mengendalikan otak kiri dan kanan memang tak ada habisnya, sama seperti fungsi otak. Selalu dipakai untuk berfikir. Dengan berfikir, simpul-simpul yang ada di otak dipaksa untuk bekerja. Organ yang selalu bekerja akan menimbulkan kontraksi, sehingga antar organ menjadi bergerak. Dan bergerak adalah resep untuk berfikir dan kreatif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *