Pengaruh Cita-cita pada Anak

Cita-cita memiliki pengaruh yang kuat pada kepribadian anak. Dengan mengidolakan seseorang dalam kehidupannya, maka anak akan mendapatkan model dalam hidupnya. Ingat, anak usia dini belajar dengan cara meniru. Ia mudah sekali dipengaruhi dan dibentuk oleh contoh yang dekat dengan dirinya.

Jika seorang anak memiliki suatu contoh di lingkungannya, dan dirinya ingin menjadi seperti orang itu, maka semua perilakunya akan cenderung meniru model tersebut. Jika model yang jadi panutan anak adalah tokoh yang baik, maka akan berpengaruh positif bagi anak. Namun, ketika modelnya bukanlah tokoh yang baik maka berdampak negatif pada anak. Anak menjadi tidak dapat menunjukkan gambaran yang positif. Dampaknya, anak dikhawatirkan akan berperilaku kurang terpuji.

Idola anak-anak masa sekarang seperti : Superman, Batman, Spiderman, hingga Elsa dalam film animasi “Frozen”. Terkadang saking terobsesinya dengan tokoh-tokoh tersebut, anak selalu minta dibelikan segala hal yang berhubungan dengan tokoh idolanya atau kerap membicarakannya di sepanjang hari. Tak jarang, kita pun merasa “gemas” karena polah Si Kecil tersebut. Tapi ternyata, kita bisa mengajarkan karakter-karakter positif anak lewat tokoh idolanya tersebut.
Psikolog anak Ratih Zulhaqqi, M.Psi., mengatakan bahwa kita sebagai orangtua sebaiknya tidak perlu mengomel jika anak mulai terobsesi dengan satu tokoh. “Anak-anak memiliki fase kognitif yang berkembang. Karena itu, anak-anak akan lebih mudah mengingat dan mencontoh berbagai hal menarik yang dilakukan oleh karakter favorit mereka,” ujarnya.
Pada tahap pengembangan fase kognitif, peran orangtua menjadi sangat signifikan untuk mengarahkan dan membantu Si Kecil fokus pada hal-hal positif yang ditunjukkan oleh tokoh dan karakter favoritnya. “Anak perlu diajak untuk memaknai setiap sifat positif karakter favorit mereka secara lebih nyata atau konkret sehingga ia juga dengan senang hati mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Ratih.

Setiap anak berhak memiliki cita-cita. Biarkan mereka memiliki mimpi, sekalipun mimpi itu aneh dan seolah-olah hanya imajinasinya saja. Perlahan imajinasi itu akan berkembang sesuai dengan usianya. Jangan sampai kita berkesan tidak mendukung cita-cita dan harapannya sehingga membuat mereka tidak lagi berani untuk bermimpi dan memiliki cita-cita. Kita harus menghargai perasaan anak.

Pada umumnya anak mendambakan tokoh-tokoh yang nyata dan mudah ditemukan dalam lingkungan sehariharinya. Tokoh yang paling dekat dengan diri anak adalah ibu dan ayah. Tidak heran ketika ditanya cita-citanya, ada anak yang menjawab, ingin menjadi ibu atau ayah.

Mari kita bantu anak-anak kita agar mencapai cita-citanya. Kehidupan mereka akan sangat berbeda dengan kehidupan kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *