Mencoba Sistem Baru

Bila cara yang lama masih dapat dipakai
dan efektif, mengapa harus dengan cara yang baru?

Belum lama ini saya ketemu kawan yang sudah saya anggap sebagai teman sendiri. Dia memiliki latar belakang keilmuan psikologi yang handal. Wajar bila saya konsultasi dengan dia yang terkait dengan psikologi terutama psikologi perkembangan anak. Saya sangat membutuhkan advis dari dia.

Obrolan ini saya buka dengan hasil pencapaian siswa yang telah memenuhi target. Di awal semester/tahun pelajaran, saya telah mencanangkan target rata-rata nilai siswa. Nilai ini saya bandingkan dengan kelas parallel yang lain. Arahnya harus lebih baik dari tahun kemarin. Peringkat kelas minimal naik satu strip.

Tahun ini, saya diberi tugas oleh kepala sekolah untuk menjadi salah satu wali kelas dari 4 kelas paralel. Pembagian siswa dibuat berdasarkan rangkin yang diperoleh dari nilai mid semester dan nilai semester. Ada kelas tertentu terdiri dari siswa pilihan, sedangkan 3 kelas lainnya merupakan sisanya. Pemilihan model kelas yang demikian sudah lama, karena terbukti dapat meningkatkan prestasi anak.

Saya pernah menulis di lapak ini tentang kondisi kelas yang saya maksud. Intinya, saya bersama siswa dan orangtua berhasil meningkatkan prestasi belajar dengan model yang lama. Sedikitpun saya tidak memakai ilmu maupun cara modern.

Dimasa depan, setelah merengkuh keberhasilan dengan memakai cara tradisional, saya berkeinganan agar siswa lebih dipacu lagi prestasinya, dengan memakai sistem yang modern, yang sesuai dengan temuan-temuan saat ini. Harapan saya tidaklah berlebihan mengingat semakin hari kompetisinya semakin tajam.

Saat impian saya lontarkan kepada rekan saya, dengan harapan saya bisa diskusi dengan orang yang lebih ahli, tapi justru jawabannya agar saya tetap mempertahankan dengan memakai cara lama. Menurutnya, model lama sudah terbukti berhasil, selanjutnya tinggal meningkatkan frekuensinya, mengapa dengan cara baru yang belum tentu terbukti? Malah justru yang nantinya akan dihadapi adalah berapa kemungkinan teorinya error, berapa biaya yang terbuang, berapa waktu yang dibutuhkan dengan kemungkinan tidak berhasil.

Dia menambahkan, perlu juga penelitian yang melibatkan hanya beberapa anak saja. Sehingga bila terjadi kesalahan tidak terlalu banyak makan korban.

Dari obrolan kecil yang ditemani dengan ritual minum teh di angkringan, telah membuka wawasanku, bahwa tidak semua yang modern bisa menjamin keberhasilan meningkatkan prestasi belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *