Supervisi Klinis

Sebuah kata yang sebagian guru tidak suka adalah supervisi. Aktivitas yang enggan untuk dilakukan. Tapi itu harus, manakala ingin meningkatkan mutu pendidikan. Bukan hanya meningkatkan tapi memang sebuah kewajiban. Tanpa supervisi, bisa jadi tujuan pendidikan akan melenceng dari itikad semula.

Berdamailah dengan supervisi. Supervisi itu ibarat obat. Kalau ada orang sakit maka harus diobati agar kesehatannya pulih kembali. Demikian juga dengan supervisi. Perilaku seseorang akan dibenarkan oleh seorang ahli sesuai dengan bidangnya. Karena supervisi sendiri adalah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif

Model supervisi pendidikan sesungguhnya ada empat macam, yaitu model konvensional yaitu mencari kesalahan dan menemukan kesalahan. Supervisor berlagak seperti pemimpin yang otoriter tanpa melihat kondisi nyata di lapangan. Kedua, model ilmiah adalah supervisi yang terencana, sistematis dengan menggunakan prosedur serta teknik tertentu, menggunakan instrument pengumpul data dan obyektif.

Ketiga, Supervisi klinis adalah bentuk supervisi yang difokuskan pada peningkatan mengajar dengan melalui siklus yang sistematik, dalam perencanaan, pengamatan serta analisis yang intensif dan cermat tentang penampilan mengajar yang nyata, serta bertujuan mengadakan perubahan dengan cara yang rasional. Keempat, supervisi yang artistik sangat mengutamakan sumbangan yang unik dari guru-guru dalam rangka mengembangkan pendidikan bagi generasi muda. Menuntut untuk memberi perhatian lebih banyak terhadap proses kehidupan kelas dan peristiwa-peristiwa yang signifikan.

Tulisan berikut menitik beratkan pada supervise klinis. “Klinis” bisa disamakan dengan ilmu kedokteran “klinik”, yaitu sebuah tempat orang sakit yang mengharapkan bantuan dari dokter agar sakitnya segera sembuh. Supervisi klinis, adalah pengharapan dari seorang guru yang berani mengemukakan kesulitan tentang kinerja yang dilakukan kepada pengawas.

Perbedaan yang paling esensial antara supervise klinis dengan supervisi yang biasa adalah adanya sikap proaktif dari pihak guru. Konsep ini dilandasi oleh sebuah teori, bahwa pembinaan yang tepat harus didasarkan pada kebutuhan sehingga apa yang diberikan tidak meleset dari sasaran.

Langkah apa yang dilakukan oleh seorang guru untuk mendapatkan supervise klinis. Pertama, guru yang mengalami kesulitan dating menjumpai pengawas dan menyampaikan kesulitan yang dialami. Kedua, pengawas menanggapi keluhan guru, mengajak diskusi dan sambil memancing pendapat guru untuk menemukan sendiri alternative yang akan dicoba untuk memecahkan kesulitan itu.

Ketiga, setelah menemukan alternative, guru menyusun rencana pelaksanaan pemecahan kesulitan, yang disetujui pengawas mengenai isi, bentuk kegiatan, langkah dan waktu pelaksanaan. Keempat, guru melaksanakan pemecahan kesulitan, sedangkan pengawas mencermati pelaksanaan alternative itu dari awal hingga akhir. Kelima, guru dan pengawas melakukan diskusi untuk membicarakan proses pelaksanaan alternative dan hasilnya. Dari diskusi itu guru mengemukakan pengalamannya.

 

Sumber bacaan :

  1. http://jahecks.blogspot.com/2013/10/empat-macam-model-supervisi.html
  2. Makalah “Supervisi Klinis” oleh Prof. Dr. Suharsimi Arikunto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *