Akreditasi Sebuah Catatan Kecil

Keunikan hampir selalu ada dalam setiap kejadian. Unik adalah menyimpang dari garis yang telah ditetapkan. Kata orang, hidup itu tidak linier. Tak selamanya orang yang mampu merasakan bangku sekolah akan menjadi ambtenaar. Tak selamanya orang yang mendalami khasanah keilmuan di pondok pesantren menjadi seorang ulama. Ibarat sebuah grafik gelombang. Ada saat dipuncak ada kalanya di titik nadir terbawah.

Hari-hari akreditasi adalah suasana penilaian secara total. Seluruhnya dinilai oleh badan yang berwewenang. Kehidupan di sekolah tiba-tiba menjadi berubah. Semua harus terlihat indah. Semua harus tertata rapi dan tertib. Juga runtut. Bila semua terlihat elok dan ceria tak lain adalah tumbal dari energy yang ditumpahkan. Tak heran, di kalangan akademisi, akreditasi masih merupakan momok tersendiri. Karena didalamnya menuntut adanya tertib manajemen, administrasi, kewirausahaan, kemitraan dan lain-lain.

Meskipun semua telah dipersiapkan dengan matang nan rumit, tentu ada saja yang lolos dari interview dengan assessor. Masih saja ada luput dari indikator yang telah ditetapkan. Itu yang kami namakan keunikan. Ada beberapa pertanyaan yang melenceng dari masalah utama. Dan itu hak dari assessor, karena mereka ingin menggali informasi lain yang mungkin masih ada kaitannya dengan topic yang disepakati.

Beberapa keunikan terangkum dalam investigasi yang hendak kami laporkan pada pembaca. Dari 8 standar yang dipersiapkan, sekolah merasa yakin bahwa semua sudah diusahakan dengan sebaik-baiknya. Kami sadar ada beberapa lubang yang mestinya harus ditutupi. Namun pekerjaan lain yang lebih besar, menuntun kami untuk menyelesaikan tugas yang lebih besar. Penyusunan program tahunan dan semester relatif lancar sesuai dengan bimbingan pengawas. Tapi ada yang masih terselip. Model matriks harus disertakan. Inilah mungkin filter kami belum berfungsi.

Semangat literasi sedang digalakkan. Budaya membaca dan menulis disinyalir masih rendah. Tak salah bila pemerintah, dengan segala daya dan upaya meramaikan semangat literasi. Sektor pendidikan menjadi bidikan utama. Sekolah dan institusi lain yang bergerak dalam pendidikan tak segan menggelontorkan dana demi tercapainya gerakan literasi. Karena dengan motivasi yang tinggi perihal budaya baca tulis, kehidupan dan budaya bangsa menjadi terangkat. Tak tertinggal dengan Negara lain. Sekolah merasa tergopoh-gopoh bila berhadapan dengan urusan baca tulis. Belum ada 50 %, guru-guru menyempatkan diri untuk menulis. Bukan kondisi yang sacral bila guru membiasakan diri menulis.

Walaupun mengemban tugas yang berbeda, dengan tingkat juga berbeda, bahan olahan berbeda pula, tapi masih dalam sebuah koridor yang sama yaitu pendidikan. Acapkali perbedaan persepsi muncul. Perbedaan pendapat menjadi hal yang lumrah, karena masing-masing memiliki tingkat pengalaman yang berbeda. Masalah RPP misalnya. Sampai kapanpun tetap akan menjadi perdebatan kalau hanya masalah bentuk, urutan, satuan tingkat pendidikan. Bagaimana cara menyelesaikannya? Kembali pada aturan awal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *