Peluang

BANYAK ORANG MENGANGGAP PELUANG SEBAGAI SESUATU YANG TIDAK NYATA. TETAPI ADA JUGA ORANG, SEPERTI PAK SADI DARI LAMONGAN, SURABAYA, MELIHAT PELUANG SEBAGAI SESUATU YANG NYATA. PELUANG MENJANJIKAN KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN.

                  oleh : Bondan Winarno

if you run, you might lose

if you don’t run

you are guaranteed to lose

(Jesse Jackson)

JESSE Jackson adalah seorang Amerika berkulit hitam. Banyak orang menyemangati pendeta ini agar ikut berkampanye memperebutkan kursi empuk di Oval Office. Dan ia memang lantas dipilih sebagai wakil Partai Demokrat. Huh? Seorang berkulit hitam legam bakal menjadi presiden Amerika Serikat? Seorang berkulit putih saja diragukan keberhasilannya hanya karena ia bernama Lee Iacocca – nama yang berbau spaghetti.

Lalu, adakah peluang buat Jesse? Peluangnya memang kecil. Tetapi peluang kecil bukan berarti tidak ada peluang. Sejarah telah membuktikan banyak.

To make the impossible possible memang tidak hanya diajarkan dalam kuliah manajemen. Dalam bukunya Scouting for Boys, Baden Powell mengajarkan sikap dasar ini bagi para pandu. Pesan itu dipertegasnya dengan gambar Si Rowan yang sedang menyepak kata tak dari rangkaian kata tak mungkin.

Di atas kaca toilet, disebuah restoran kecil dekat Melbourne, terpancang tulisan: What can happen will happen. Itu berarti bahwa segala yang bisa terjadi memang sangat mungkin akan terjadi. Dan karena itu, setiap kemungkinan dan peluang perlu dicoba secara sungguh-sungguh.

Dalam sistem manajemen Louis Allen diajarkan teori tentang probability dan seriousness dalam mempertimbangkan sebuah peluang. Kalau probability-nya besar sedangkan seriousness-nya kecil, maka orang tidak perlu ragu menjalankan rencananya. Misalnya: kita akan berkendaraan ke Bandung. Salah satu probability adalah bahwa kita akan mengalami kekempisan ban.

Tetapi ban kempis adalah soal yang tidak serius kalau memang sudah kita antisipasi. Karenanya, kekhawatiran akan ban kempis tidak perlu menghambat keberangkatan kita ke Bandung.

Lain halnya dengan instalasi nuklir, misalnya. Probability kegagalannya memang kecil. Tetapi derajat seriousness-nya tentu sudah lebih dipahami oleh mereka yang sudah menonton film The Day After.

Tetapi peluang memang tidak dapat dilihat oleh setiap orang. Banyak orang menganggap bahwa peluang adalah sesuatu yang tidak nyata – intangible. Padahal, Edward de Bono bilang bahwa an opportunity is as real an ingredient in business as raw material, labour or finance – but it only exists when you can see it.

Sebelum menjadi eksisten, setiap bisnis yang kita lihat sekarang ini dulunya hanyalah sebuah peluang yang tampak oleh seseorang. Bekaert adalah sebuah perusahaan Belgia yang merupakan produsen terbesar kawat di dunia. Selama puluhan tahun, keuntungan pabrik ini merupakan kontribusi dari penjualan kawat berduri yang “resep”-nya ditemukan oleh seorang mandor di sebuah bengkel kecil.

Kawat berduri biasanya terdiri dari dua utas kawat yang dipilin dan disisipi “duri” pada pilihannya. Tetapi dengan cara itu, kawat berduri yang dihasilkan akan cenderung memiIin (mlungker) dan sulit dipasang. Mandor itu melihat peluang baru. Kedua utas kawat dipiIin ke kanan, disisipi “duri”, lalu dipilin ke kiri. Begitu, bolak-balik, sehingga kawat berduri yang dihasilkan tidak akan cenderung mlungker.

Xerox adalah perusahaan fotokopi terbesar di Amerika. Ketika sahamnya ditawarkan kepada IBM, IBM menolaknya. Tetapi perusahaan Rank di Inggris, yang bergerak di bidang film dan hiburan (dan didirikan oleh seorang pengilang gandum!), melihat peluang itu. Hak-hak Xerox di luar Amerika Serikat dibeli oleh Rank. Dan kini keuntungan dari Xerox-lah yang mendukung kegiatan seluruh perusahaan Rank ketika usaha film dilanda kelesuan.

Pak Sadi dari Lamongan pernah memikul rombong keluar masuk kampung menjual tahu tek-tek. Ia melihat sebuah peluang dan menjual soto ayam di salah satu sudut Jalan Ambengan di Surabaya. Usahanya kini jadi besar. Ia terus mencari peluang baru. Ia sudah berganti mobil 18 kali – yang terakhir adalah Mercedes. Hobby-nya yang lain adalah berganti istri. Dalam

usianya yang belum lagi 40 tahun, Pak Sadi sudah melihat peluang sebagai suatu hal yang nyata.

Orang mungkin berpikir bahwa peluang sama dengan angan-angan (wishful thinking). Bedanya hanya satu: peluang menjanjikan kemungkinan, angan-angan tidak.

Ditulis pada tanggal : 21 Januari 1984

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *