Berliterasi di Bandara

Siang ini saya membaca berita di detik.com yang bertema “Menuju Realisasi Konsep Airport City di Indonesia”. Kegiatan yang digagas oleh Angkasa Pura, hendak membidik bahwa air port tak sekedar hanya sebagai wahana transportasi. Namun lebih bisa dikembangkan lagi dalam aspek pariwisata dan ekonomi. Kegiatan ini baru di lakukan di Indonesia, sementara Negara-negara lain telah aktif melaksanakan bahkan terus melakukan pengembangan.

Indonesia memiliki 236 bandara komersial. 25 diantaranya dikelola oleh Angkasa Pura. Indonesia yang terdiri dari kepulauan, sangat potensial bila pengembangan transportasi diarahkan ke transportasi udara. Memang tidak perlu pesawat berbadan besar, kalau hanya untuk tujuan domestic. Yang perlu dibenahi justru kenyamanan. Baik ketepatan waktu maupun saat penumpang menunggu di bandara.

Karena saya seorang pengajar, maka sebenarnya pengembangan bandara tidak hanya dilakukan hanya sebatas wisata dan ekonomi, tapi aspek pendidikan harus diperhatikan. Mengapa sector pendidikan sangat penting untuk mendapat perhatian khusus? Karena bandara saya pandang sebagai salah satu aspek pembelajaran.

Kalau diperhatikan, berapa jam penumpang menunggu pesawat yang akan dinaiki? Waktu paling sedikit adalah 60 menit. Beberapa jasa penerbangan mematok 90 atau bahkan mungkin 120 menit. Waktu yang demikian longgar itu, akan sia-sia bila hanya dibiarkan saja. Caranya bagaimana?

Saya melihat toko yang tersebar di dalam ruang tunggu hampir dipenuhi oleh untuk kebutuhan makan dan belanja oleh-oleh. Masih sangat sedikit toko yang menyediakan buku khususnya bacaan. Itupun masih mahal. Nalar ini saya terima, karena pemilikpun sewa tempat tidak murah. Tapi apakah pihak pengelola bandara tidak punya itikad untuk menyediakan perpustakaan. Meskipun kecil, saya yakin ada penumpang yang ingin membaca sambil menunggu pesawat.

Dinding yang ada di bandara, hampir dipenuhi oleh iklan. Tak ada sedikit ruang di dinding untuk menempel karya lukisan, atau tokoh (selain presiden dan wakilnya yang berkuasa saat ini). Mestinya ada beberapa meter persegi yang disediakan untuk pembelajaran. Dibawah lukisan atau apalah namanya, ditulisi sebagai media informasi pembelajaran.

Teknologi Informasi yang sudah pesat seperti yang kita rasakan ini, mestinya ditangkap oleh pihak bandara, untuk menyediakan layar untuk pembelajaran di beberapa sudut yang bisa dijangkau penumpang. Pengelola bisa meng up date informasi tentang sejarah dan perkembangan bandara, sejarah, model dan perkembangan pesawat.

Itulah sekedar coretan yang lahir dari pengamatan sekilas saat duduk menunggu pesawat.

Adi Sutjipto, 11 Juni 2012

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *