Namanya Audrey

Namanya Audrey. Masih duduk di bangku SMP. Belum genap 17 tahun. Mestinya ia sekarang masih ceria. Sedang senang-senangnya menikmati masa remaja dengan berbagai macam kegiatan ala anak-anak. Audrey sedang tergolek di rumah sakit. Merasakan sakit akibat perlakuan pengeroyokan sekelompok siswa yang melukai dirinya. Hari demi hari ia lewati dengan penuh luka.
Di Pontianak, Kalimantan Barat, saat ini baru dinaungi mendung kedukaan.  Utamanya orang tua. Mereka cemas menghadapi peristiwa yang sangat menyayat hati. Pola asuh orangtua sudah melenceng jauh dari norma dan fitrah. Kekhawatiran semakin memuncak, bahwa perilaku berandal tak hanya didominasi oleh anak putra. Remaja putripun mempunyai sifat kebengalan, yang setara dilakukan seorang kriminal.

Berita yang sempat viral di media sosial dan mendapat perhatian serius lebih dari 3 juta orang. Dengan tagar #justiceforadrey menghentak bukan hanya di Indonesia. Trading topik di twitter sebagai indokatornya.
Berbagai kanal berita arus utama juga menjadi trading topik. Mulai dari informasi sampai kepada ulasannya. Pakar kriminolog, psikolog, sosiolog, agamawan ramai-ramai mengupas. Ahli hukum akan mahir memainkan Undang-undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Anak.
Upaya pencegahan dan mengembalikan jati diri seorang remaja sangat tepat untuk solusi dari peristiwa ini. Pertama, kerjasama antara sekolah dan orang tua dalam mengemban amanah sebagai pembimbing sangat diperlukan untuk memupuk karakter anak. Sekolah – orangtua – instansi terkait tidak boleh hanya sekedar hubungan administratif. Pola kerja samanya harus berlandaskan kasih sayang. Anak-anak perlu contoh nyata.
Kedua, mengeliminir atau memecah hubungan kerekatan grup di kelas. Dengan menggunting simpul-simpul persahabatan, kelompok menjadi lemah. Tak ada yang merasa superioritas.
Teman akrab dalam sebuah grup, kadang menjadi pemicu keributan di sekolah. Mereka merasa superioritas karena memilik teman yang bisa diandalkan untuk saling berbagi. Mereka merasa hebat karena berkelompok.  Jenis tali persahabatannya sangat kuat.
Ketiga, mengefektifkan kegiatan belajar di luar ruangan. Paling tidak, siswa berada di kelas 7 – 8 jam dengan selingan istirahat yang tidak begitu lama. Kebosanan pasti melanda mereka. Kejenuhan berada di ruang kelas akan menambah daftar siswa yang bosan, jenuh, sumpeg. Anak perlu bermain dan berlari-lari. Anak juga perlu ketrampilan selain otak.
Itulah tindakan preventif, membangun sinergi antara sekolah dengan orang tua dan masyarakat,  yang mudah dijangkau oleh satuan pendidikan. Sebagaimana ketua Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto. Beliau berharap agar kejadian ini tak terulang lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *