Revolusi Berpikir

Betapa seringnya kita jadi sial, hanya karena terlalu sederhana dalam berpikir. Tidak mampu lagi memilah mana masalah yang perlu serius diselesaikan dengan segera, dengan hal-hal sepele namun dipandang seperti rumit. Mememntingkat prioritas berpikir sangat penting dalam rangka menata kehidupan pribadi dan bermasyarakat.

Bila kita menatap dapa Negara kita, nampak kelihatan wajah dan geliat aksinya, karena dahulu ada pemikir besar. Sebelum Indonesia diwisuda menjadi negara yang merdeka, sudah bercokol kerajaan Majapahit dan Sriwijaya dengan karakter dan ragam yang tidak sama.

Koneksi dengan bangsa lain sudah  menunjukkan kiprah yang tak hening. Dinasti kedua kerajaan itu tidak pernah kering mengucurkan orang-orang yang mampu berpikir besar. Kontribusinya terhadap Negara saat ini begitu terasa, hanya karena mereka menelurkan pemikir hebat.

Proses seleksi untuk memperoleh pengakuan masyarakat demikian amat ketat. Kompetensi dihidup suburkan, pengakuan terhadap sebuah karya dihargai. Mereka sadar, tanpa pemikiran yang besar, banyak hal yang tidak menjadi eksis lagi. Itu membawa implikasi bahwa tak ada tempat bagi pemikiran yang kecil dan sederhana. Bahwa semua yang sulit, njlimet itu sebenarnya bisa dibuat sederhana dan mudah, tanpa diiringi dengan memudahkan masalah.

Ketokohan mereka akan selalu diingat karena korelasinya yang nyata terhadap alam pemikiran dan tingkah laku manusia yang lain. Tolak ukurnya bukanlah baik atau buruk karakter orang itu, bukan pula besar kekuasaan yang diembannya, namun yang menjadi standarnya adalah dampaknya terhadap kemanusiaan.

Sebagian akan dikenang manusia karena cita-cita pemikirannya yang jauh melebihi persepsi manusia pada masanya. Menumpulnya pikiran lebih banyak diakibatkan karena bukan pada saat komputer mulai berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti komputer

Luis Echeverria pernah mengungkapkan, “Kita hidup dalam masa krisis. Oleh karena itu kata-kata mesti diisi dengan makna nyata. Sebuah kata harus dapat menemukan tenaga kreatif dan kemampuannya untuk menyatukan dan membebaskan manusia. Boleh jadi pendapat Echeverria itu bukan sekadar sebuah karya sastra. Tapi menguak makna sesungguhnya yang tidak terbantah lagi. Sebab kita pun sadar, nilai-nilai hidup dan kehidupan semakin menusuk pada permasalahan “super jlimet”. Tak mudah dijamah atau diatasi oleh kemampuan nalar, indrawi, ragawi, bahkan materi.

Tunggu apalagi? Bukankah berfikir besar telah kita benamkan sejak kecil? Manakala orang lain menanyakan cita-citamu. Dengan lihanya kamu akan menjawab : pengen jadi dokter, pilot, tentara dll. Bila itu yang jadi realita, bukankah sekarang tinggal mewujudkan aja? Stephen Cohen berujar : “Kalau Anda menginginkan perubahan yang kecil dalam hidup, garaplah perilaku Anda. Namun kalau Anda menginginkan perubahan-perubahan yang besar dan mendasar, garaplah paradigma Anda”

Sydney Harris : ancaman nyata sebenarnya bukan pada saat komputer mulai berpikir seperti manusia, tetapi ketika manusia mulai berpikir seperti komputer

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *