Budaya Prestasi

“Setiap prestasi dibangun melalui usaha dan kerja keras, mustahil kita meraih prestasi dengan bermalas-malasan.” Demikian salah satu intisari dari pidato Mendiknas, Muhammad Nuh, pada acara Silaturahmi dan Penyerahan Penghargaan bagi Siswa, Guru, Dosen, dan Tenaga Kependidikan yang berprestasi.

Begitulah. Sebuah kalimat yang menyentuh. Patut untuk direnungkan. Budaya prestasi adalah merupakan bagian dari budaya keunggulan. Mereka mengejar keunggulan karena mereka sangat butuh. Orang yang membutuhkan sesuatu, pasti akan mengusahakan dengan sekuat tenaga. Tak beda jauh dengan prestasi. Mereka mengejar prestasi tak hanya kebutuhan, tapi ekspresi, pengakuan.

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari aktivitas yang telah dilakukan atau dikerjakan oleh seseorang atau komunitas. Marilah kita urai satu persatu, hal-hal yang dibangun dan dibudayakan dalam rangka memupuk mentalitas berkompetisi dan berprestasi.

Pertama, bangun dan budayakan semangat kerja keras baik bagi guru maupun siswa karena tidak mungkin muncul sebuah prestasi hanya dengan bermalas-malasan.  Kedua, bangun dan budayakan semangat berkompetisi yang dipadukan dengan semangat kooperasi.  Ketiga, bangun dan budayakan kebiasaan berpikiran positif atau positive mind set, sebab bagi mereka yang selalu berpikiran positif, jangankan peluang atau harapan, masalah pun bisa mendatangkan peluang kebaikan.  Keempat, bangun dan budayakan sikap sportif atau sportifitas.

David McClelland (1961) dalam bukunya Achieving Society, pernah mengadakan penelitian di India yang kesimpulannya adalah jika suatu masyarakat diberikan rangsangan dan pelatihan untuk berprestasi maka hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan kelompok masyarakat yang tidak ditumbuhkan budaya kompetisi dan prestasinya.

Sarlivanti (2010) menyebutkan, terdapat dua hal yang sangat berperan dalam upaya menciptakan iklim semangat berkompetisi dan prestasi pada siswa, yaitu, 1) Adanya sumber daya manusia yang berkualitas, terutama guru, karena guru memegang peranan kunci (sentral) dalam menguatkan (empowering) semangat kompetisi dan prestasi siswa-siswanya.  Guru berprestasi akan menjadi inspirasi bagi murid-muridnya untuk berprestasi pula. 2) Budaya sekolah, nilai-nilai, sikap dan perilaku positif yang dikembangkan di lingkungan sekolah akan mendorong siswa untuk berprestasi dan siap berkompetisi secara sehat.

Ada 4 pondasi dasar dalam mebangun budaya prestasi yang dapat dilakukan setiap saat. Pertama Olah piker, yaitu : cerdas, kritis, inovatif dan semacamnya. Kegiatan ini harus dirangsang oleh sekolah lewat berbagai aktifitas yang menunjang. Latihan berfikir, latihan menganalisa, latihan menemukan dan lain-lain.

Kedua, Olah hati dengan indikator : beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil dan yang selaras. Olah ini tidak membutuhkan fisik yang besar, tapi perlu latihan dengan hati. Perilaku keseharian harus dijaga secara terbimbing dan mandiri. Dukungan orang tua sangat besar pengaruhnya.

Ketiga, Olah raga. Didalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Ujaran ini sangat terkenal sejak dari dulu. Keseimbangan antara fisik, hati dan fikir harus berimbang. Faktor yang satu sangat tergantung dari faktor yang lain. Dan keempat, Olah Rasa/Karsa. Hidup bermasyarakat harus menghargai orang lain. Budaya toleransi, ajaran nenek moyang harus dipertahankan. Kebiasaan gotong royong tidak boleh hilang dari hidup bermasyarakat.

Dari keempat landasan ini, harus diolah dengan sebaik-baiknya. Baik individu maupun kelompok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *