Shalat di Masjid Siti Aisyah Solo

Sesaat setelah saya mengambil hasil belajar siswa (rapot) anak, kebetulan punya waktu agak longgar. Saya manfaatkan untuk jalan-jalan di seputar stadion Manahan Solo. Stadion yang sekarang masih dalam tahap pemugaran. Di stadion ini pula beberapa pertandingan berskala nasional sering digelar. Karena bertepatan dengan hari Jum’at, saya keliling stadion sambal mencari Masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at.

Secara kebetulan, di sekitar stadion ada sebuah masjid yang arsitekturnya agak unik. Bentuknya kotak. Tidak lazim untuk model masjid di Kota Surakarta. Arsitek masjid di Kota keris ini rata-rata sudah gabungan antara Budaya Arab dan Budaya Jawa. Masjid dengan desain modifikasi ini dibangun secara turun terumun sejak Islam masuk di Jawa. Peninggalan nenek moyang yang cukup monumental. Letaknya disebelah selatan stadion dan bersebelahan dengan kantor PLN.

Khotbah yang saya dengar di masjid itu, terus terang adem. Bukan karena isi khotbahnya. Karena isi khotbah sudah bisa ditebak dan terjadi dimanapun. Yaitu tentang silaturahmi dan budaya yang terjadi di masyarakat kita pada saat lebaran. Mengapa agak lain, terus terang bacaan al Qur’annya yang membuat dada ini mak nyes. Suaranya sangat sinkronis dengan tajwid.

Setelah sholat jum’at usai, saya menyempatkan diri untuk mengamati secara langsung isi di dalam Masjid. Selain kaligrafi yang menempel di dinding dan beberapa pintu dan jendela, tentu saya harus masuk toilet. Kata orang, toilet sebagai standar kebersihan sebuah rumah atau Gedung. Toiletnya bagus dan bersih. Saya memperkirakan setelah dipakai untuk wudlu sholat fardlu, tempat itu langsung dibersihkan. Disediakan pula toilet khusus Difabel.

Kedua, masjid ini ternyata memiliki lift untuk mengantar pengunjung naik dan turun ruangan. Tak banyak, sebuah masjid memiliki lift, sekalipun di kota besar. Di Masjid Siti Asyiah telah tersedia media angkut untuk mempermudah pengunjung menuju ruang tertentu. Lantai Basement untuk perkantoran. Lantai ground untuk sholat Ikhwan, Lantai 1 untuk Taman Pendidikan Al Qur’an, Meeting Room dan lantai 2 untuk tempat Sholat Akhwat.

Dindingnya full keramik dan diberi kaligrafi yang bagus serta tata cahaya yang serasi. Kaligrafinya juga diberi keterangan di surat dan dan ayat tertentu, agar pengunjung dapat memahami. Karpetnya pilihan berwarna merah menyala. Kalau harus mendaftar kekurannya, mungkin masalah parkir kendaraan. Tapi parkir sudah difasilitasi oleh stadion Manahan. Sehingga pengunjung tetap nyaman untuk pergi ke Masjid Siti Aisyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *