Pembelajaran Matematika di Era 4.0

Ikan tuna tak pernah berdiam diri apalagi hanyut tertelan aliran air sungai. Tuna selalu menantang arus. Bahkan sesekali berloncatan. Tak heran orang selalu berburu ikan tuna. Selain gerakannya lincah dan gesit, daging tuna enak dirasa.

Begitulah ibarat profesi seorang guru. Gerakannya tidak stagnan. Berdiam diri menunggu perintah. Guru harus berburu. Menunaikan tugasnya sesuai dengan ikrar saat di wisuda sebagai seorang pengajar. Mengabdi itu harus mencari seuatu yang baru, yang mutakhir, sesuai dengan isyu-isyu kekinian. Energi tak terbuang percuma. Energi itu ibarat minyak yang memasok ke hulu api agar menyala sepanjang masa.

Sebagai ungkapan ucapan terima kasih, seorang guru harus sudah familier dengan Teknologi Informasi (TI). Perkembangan TI yang sejalan dengan deret geometri harus dikejar meskipun berjalan tertatih menapaki deret arimatika. Pelan tapi pasti bergerak, akan lebih baik bila dibandingkan dengan berlari tapi setapak demi setapak. Kontinuitas itulah yang diutamakan.

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika SMP Kota Yogyakarta, kembali menggelar workshop yang bertajuk Pembelajaran di Era Industri 4.0. Kegiatan ini akan berlangsung secara bertahap, mengingat bahwa saat ini masih berlangsung Proses Belajar Mengajar di sekolah masing-masing. Sehingga tugas utama tertunaikan. Pelatihan untuk peningkatan profesi juga harus diraih. Dua tugas yang ekuivalen.

Materi yang telah disiapkan antara lain : Penyusunan RPP abad 21. Rasanya belum lama, guru mendapatkan pelatihan RPP kurikulum 2013. Sekarang sudah muncul model kurikulum abad 21. Begitulah era sekarang. Mau tak mau harus mengikuti rumus modern. Apa itu modern? Saat ini dikatakan modern, semenit kemudian tak lagi modern. Lebih memilukan lagi bila dikatakan kuno.

Materi yang lain, guru akan dibawa menjelajah internet. Memanfaatkan piranti google. Sebuah aplikasi yang sangat besar. Serba tahu. Di google, terdapat fitur-fitur yang bisa dimanfaatkan untuk media pembelajaran, seperti google doc, gmail, drive, classroom dan lain-lain. Demikian pula aplikasi flyer sebagai pesaing power point, yang kalau tidak diberdayakan terasa purbakala.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) masih menjadi favorit, karena dengan PTK karier seorang guru bisa seperti naik tangga atau meroket. Bagai dua himpunan yang saling asing. Modal utama PTK adalah membaca. Baik membaca literasi atau referensi dan membaca situasi. Saat guru tidak puas terhadap hasil belajar siswa, disitulah guru mencari penyebab penyakit dan sekaligus menciptakan obat. Terakhir, guru akan diperlihatkan hasil Ujian Nasional dan sekaligus menganalisanya. Dengan melihat hasil secara nyata, guru dapat membuat skala prioritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *