Membuat Rapot Kurikulum 2013

Sekolah kami masih menganut kurikulum 2006 atau KTSP. Meteri pelajaran, administrasi hingga model pembelajaran masih memakai KTSP. Dulu, pernah kami merasakan kurikulum 2013 (kurtilas) tapi cuma satu semester. Hal ini disebabkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Pak Anis Baswedan belum memperkenankan sekolah yang belum siap memakai kurtilas. Perubahan itu pasti. Hanya belum saatnya bagi sekolah yang siap menggunakan kurtilas. Ada sarana, sikap dan kesiapan yang matang dan tidak boleh sembarangan.

Salah satu unsur dalam mempersiapkan diri menyambut kurtilas adalah penilaian. Kata teman-teman yang pernah mengalami kurtilas, teknisnya sangat ribet. Segi apapun dari anak didik dinilai. Sementara ada teman, yang mengatakan guru tak lebih dari seorang mata-mata. Penilaian tak hanya segi intelektual dan ketrampilan. Sikappun dinilai. Itulah yang membedakan dengan kurikulem sebelaumnya terutama dari unsur penilaian.

Pelatihan kali ini sebenarnya tidak sepening dari pelatihan penulisan rapot sebelumnya. Karena rekan sekerja sudah mengenal rapot kurtilas. Tim Teknologi Informasi sudah mengantisipasi cara pembuatan rapot lewat trik-trik tertentu. Beberapa formula yang dipakai di Microsoft Excel lebih sederhana. Tidak bisa dibayangkan bila pembuatan rapot ini masih memakai sistem manual. Namun begitu masih ada rekan yang cukup ketinggalan.

Pada dasarnya penulisan rapot dibagi menjadi dua bagian. Pertama yang bersifat umum, seperti penilaian sikap dan sosial. Ranah ini disepakati dibuat sama, meskipun ada beberapa bagian yang menjadi hak guru. Sehingga guru mata pelajaran boleh mengembangkan sikap dasar dari anak didik. Sebenarnya ini tidak boleh. Karena masing-masing guru mempunyai pengalaman yang berbeda. Tapi itulah kesepakatan bersama.

Bagian yang kedua menyangkut sisi intelektual dan ketrampilan. Ranah ini merupakan hak prerogratif seorang guru. Pendidik memiliki kriteria ketuntasan. Pendidik memiliki nilai pantas (intelektual dan ketrampilan) yang diujudkan dalam bentuk angka. Di bagian ini terjadi silang pendapat. Karena nilai nol koma sekian pun sangat berhak untuk diberikan kepada anak.

Yang tidak kalah pentingnya adalah nilai dalam bentuk diskripsi. Sebagus apapun redaksinya tidak mungkin akan merefleksikan seorang siswa. Diskripsi, bentuknya sangat subyektif dan spesifik. Tidak mungkin disamaratakan satu dengan lainnya. Apalagi gambaran sikap siswa dinilai dalam rentang satu semester, yang dideskrepsikan hanya dua atau tiga kalimat. Akhirnya sebuah sikap diambil bersama, bahwa nilai diskripsi disatukan, namun tidak menutup kemungkinan seorang guru untuk mengembangkan sesuai dengan pengalaman guru tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *