Alvin Toffler Bertanya tentang Islam

Penulis Amerika Alvin Toffler cukup populer di kalangan intelektual Indonesia pada dasawarsa 1970-an dan awal 1980-an. Karyanya, Future Shock begitu digemari pada waktu itu. Bahkan seorang teman mengawali nama anaknya yang baru lahir dengan Alvin, demi rasa kagumnya kepada pengarang yang kini sudah berusia 80-an itu. Berbeda dengan Noam Chomsky, guru besar linguistik dan filsafat MIT yang penanya masih tajam menggigit sampai hari ini, Toffler seiring dengan batang usianya yang menua, pikiran-pikirannya sudah jarang terdengar di forum-forum dunia.

Tetapi bulan Desember 2003 dalam sebuah pertemuan internasional di Bali, Toffler diberi forum untuk berbicara tentang masalah-masalah dunia kontemporer. Tampaknya di forum itu Toffler bukan lagi Toffler tahun 1970-an, tetapi seorang Toffler yang stamina intelektualnya telah semakin melemah dimakan usia lanjut. Dia tidak berani misalnya mengeritik politik luar negeri Bush yang agresif itu. Juga sewaktu berbicara dengan saya kemudian, dia mengelak berbicara tentang politik.

Dalam rangka kunjungan ke Indonesia inilah Bung Aristides Katoppo dan Bung Jeffrie Goevanie merancang sebuah pertemuan Toffler dengan saya. Agendanya adalah agar saya menjawab berbagai hal tentang Islam dan Indonesia yang ingin ditanyakan Toffler. Saya tidak tahu mengapa Toffler ingin tahu tentang Islam, khususnya Islam di Indonesia yang dinilai lebih moderat dibandingkan dengan Islam di wilayah lain. Saya juga tidak tahu apakah selama ini Toffler pernah tertarik kepada agama, apalagi Islam sebagai gejala kemanusiaan universal yang akhir-akhir ini dinilai pers Barat sebagai identik dengan terorisme, sebuah tuduhan keji yang teramat pahit, gara-gara perbuatan segelintir orang nekat yang putus asa.

Demikianlah pada tanggal 9 Desember 2003 di Hotel Sheraton, Cengkareng, dari pukul 11.15 s/d 13.00 pertemuan itu berlangsung secara santai sekalipun menyangkut persoalan-persoalan serius. Di antara pertanyaan sentral yang diajukan Toffler adalah mengenai sebab-sebab mengapa posisi Islam pada tataran global dinilai banyak pihak sebagai tertinggal jauh di buritan. Seperti biasa jawaban saya kontan dan jauh dari sikap basa-basi, dan mudah-mudahan juga jujur.

Pertama, saya katakan bahwa sebagian besar umat Islam tidak berorientasi ke depan, tetapi tenggelam dalam imajinasi kebesaran masa lampau yang bukan mereka sendiri sebagai penciptanya. Dalam kondisi yang semacam itu, saya jelaskan, akan sukarlah bagi mereka untuk berani mengeritik diri sendiri, karena pikirannya tidak lagi bersentuhan dengan realitas yang sebenarnya. Maka aksi terorisme yang melibatkan sekelompok amat kecil Muslim harus dibaca dari kacamata ketidakberdayaan atau keputusasaan dalam menghadapi realitas kekinian yang mereka rasakan sangat kejam dan menghimpit. Bagi saya perasaan seperti itu dapat dipahami, karena kenyataan memang getir, tetapi saya gagal memahami solusi yang ditawarkan, berupa cara kekerasan dan kekejaman yang tidak jarang dengan memakai jubah agama.

Kedua, kepada Toffler saya jelaskan bahwa jika Islam itu dipahami secara benar dan otentik dalam perspektif tradisi kantor spiritual Nabi Ibrahim yang bertujuan menebarkan rahmat bagi alam semesta, dan ini sangat Qurani, orang tidak akan dengan mudah mencap Islam sebagai agama anti-peradaban. Persoalannya adalah karena pers Barat sering mengidentikkan Islam dengan kasus-kasus kekerasan dan kejahatan yang terjadi, karena dendam sejarah masa lampau yang masih belum pupus dari benak sebagian besar orang Barat, di samping memang sebagian kecil perbuatan Muslim yang kalap dan nekat.

Toffler, seorang Yahudi tetapi sekarang katanya sudah tidak beragama, telah menjadi pendengar yang baik terhadap apa yang saya tuturkan dalam batas kemampuan saya. Sebelum berpisah, kami saling bertukar kartu nama, sebab siapa tahu pada suatu saat akan ada gunanya.

Selanjutnya saya tambahkan dalam Resonansi ini bahwa hanya sejumlah kecil saja penulis dan intelektual Barat yang bersedia membaca Islam dari sudut ajarannya yang otentik dan historikal. Karya-karya mutakhir dari Karen Armstrong dan Paul Findley (bekas anggota kongres Amerika dari Partai Republik, tetapi yang sangat kritikal terhadap langkah imperialistik Bush), adalah di antara karya yang patut dibaca Barat dan Muslim. Armstrong tentang Muhammad dan Islam adalah karya yang berusaha bersikap objektif dan berimbang tentang Islam dan umatnya. Kemudian, They Dare to Speak Out: People and Instituions Confront Israel’s Lobby adalah hasil pemikiran Findley yang sekarang sedang laku keras. Semoga karya-kara seperti ini akan semakin membuka mata dan hati pihak Barat tentang apa sebenarnya yang berlaku, khususnya yang bertalian dengan masalah konflik Israel-Palestina yang masih berdarah-darah, sementara Amerika tetap saja berpihak kepada Israel.

ditulis oleh : Ahmad Syafii Maarif  pada tanggal 3 Februari 2004 di Resonansi Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *