Said bin Amir al-Jamhi

Ramadhan tahun 1441 H hari kesembilan

Umar bin Khattab, sang khalifah, kendatipun tetap percaya pada Said bin Amir al-Jamhi, salah seorang pejabat di kala itu, toh tetap mengintrogasinya langsung dihadapan para pengadu, rakyat kecil yang merasa tidak dilayani mestinya oleh si pejabat.

Ada tiga perkara yang oleh rakyat dirasa perlu untuk dikedepankan kepada Umar. Perkara pertama,”ia baru melayani masyarakat setelah hari ketiga siang”. Perkara kedua,”ia tidak mau menerima tamu di malam hari”, dan perkara ketiga, “setiap bulan, sehari suntuk ia tidak melayani masyarakat.”

Sain bin Amir al-Jamhi, sang pejabat, tanpa sedikitpun merasa tersinggung karena ‘dilancangi’ rakyatnya.  Di hadapan Khalifah, ia memberi penjelasan yang memuaskan Umar.

Jawaban atas tuduhan itu adalah. Pertama :

Sungguh, wahai Amirul Mukminin, aku malu kalau hal semacam itu dituduhkan, seandainya aku memiliki seorang pembantu rumah tangga. Aku bersama keluarga harus mengaduk adonan roti dan menanti sampai roti itu matang serta siap dimakan. Setelah itu barulah aku mengambil air wudlu dan keluar melayani masyarakat

Untuk tuduhan yang kedua, pejabat yang bersahaja itu menjawab :

Demi Allah, untuk tuduhan yang kedua ini aku tidak malu mengungkapkan apa penyebabnya. Siang hari waktuku sepenuhnya aku sediakan untuk mereka, dan semalam suntuk aku khususkan untuk Yang Maha Kuasa”

Ketika Umar menyuruhnya untuk menjawab tuduhan ketiga, dengan haru ia berucap:

Aku tak memiliki pembantu rumah tangga yang dapat mencuci pakianku. Oleh karena itu, seharian itu aku gunakan gunakan untuk mencuci pakian, dan kunanti sampai kering hingga sore hari. Barulah setelah itu aku bisa keluar melayani masyarakat”.

Tiba-tiba saja banyak hal tercuat dari proses interaksi yang aneh untuk ukuran akhir abad XX itu. Ya… persamaan manusia, ya… mekanisme kontrol yang nyaris sempurna, ya… format kepemimpinan yang tidak meletakkan pejabat sebagai penguasa, tetapi sebagai khadam (pembantu, penjaga atau pengawal yang selalu mengikuti) masyarakat.

Kita dapat saja mengajukan argumentasi penyanggah. Struktur masyarakat yang masih sederhana memungkinkan proses interaksi seperti itu berlangsung. Tetapi substansinya toh tidak berbeda. Seorang pejabat paling bawah, dalam fenomena penghujung abad XX ini, rasanya teramat sulit untuk dikontrol, apalagi secara langsung. Padahal kita berada dalam kurun di mana demokrasi nampaknya sedang menjadi ukuran beradab – tidaknya sebuah bangsa. Mana ada bangsa di dunia saat ini yang berani terang-terangan menolak demokrasi?

Persoalannya adalah, di saat hampir semua bangsa sedang mengidentifikasi dirinya sebagai bangsa beradab dan karena itu penganut paham demokrasi, atau, paling tidak, merasa menganut paham demokrasi, rasanya sulit juga bagi kita untuk menyaksikan proses interaksi sebagaimana yang dipraktekkan Umar bin Khattab. Bagaimana mungkin dapat dibandingkan dengan Umar, jika kritik kadang-kadang masih dipandang sebagai suatu “kejahatan”. Karena itu muncul pertanyaan yang menggoda, lebih demokratiskah Umar sebagai sikap, ya!

Said Tuhuleley dalam Jurnal Inovasi No. 9 TH V-1991/1412

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.