Culture Shock (2)

Istilah culture shock marak terjadi sekitar tahun 90-an. Ditandai dengan booming teknologi komputer dan disusul teknologi informasi. Penemuan internet menambah terperangahnya manusia yang gagal paham komputer. Orang dibuat tercengang.

Culture shock, atau gegar budaya merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan terkejut, gelisah, keliru  yang dirasakan apabila seseorang bersentuhan dengan kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing. Perasaan ini timbul akibat adanya perbedaan dan kesukaran dalam beradaptasi dengan budaya baru.

Harus disadari bahwa betapa mudahnya suatu pekerjaan pekerjaan bila dibantu oleh sistem komputerisasi. Dirasakan sangat ringan bila pekerjaan dibantu dengan menggunkan teknologi informasi. Sistim manual ├Żang butuh tenaga manusia menjadi lebih tak berarti dengan kehadiran komputer. Efisien waktu, jelas kita dapatkan. Kemampuannya berlipat ganda. Jangan heran bila banyak orang yang mengalami keterasingan.
Orang yang tidak mau tahu perihal teknologi komunikasi bukan saja dia telah mengasingkan diri dari budaya, tetapi berani bunuh diri dari keterasingan sosial. Karena teknologi adalah anugerah. Sesuatu yang wajib disyukuri, dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Dalam bahasa agama sering disebut barakah. Orang yang tidak menerima barakah, padahal sudah tampak nyata didepan mata diberi predikat kufur.

Culture shock atau gagap budaya akan terus ditemui, karena perkembangan teknologi adalah fitrah. Mereka yang mengembangkan adalah orang yang optimis. Meraka tak puas untuk hasil hari ini. Makanya mereka selalu mencipta pada hal-hal yang baru. Memudahkan manusia dari kehidupan sehari-hari.

Tak jauh berbeda dengan  suasana saat ini. Seorang pengajar harus dipaksa mengenal dengan pembelajaran model daring. Kondisi yang dihadapi secara tiba-tiba. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, dengan modal kurang paham terhadap teknologi informasi, tiba-tiba harus mempergunakan dalam pembelajaran.  
Masih ingat tatkala demo sopir taksi konvensional yang tidak menerima kehadiran taksi online? Atau ojek yang biasa menunggu penumpang di mulut gang, tiba-tiba hadir di depan mata ojek online. Itu semua karena berawal dari kegagalan menerima modernitas informasi. Teknologi ini akan terus berkembang seiring dengan laju perkembangan jaman.

Ada tig acara, yang mau tidak mau, suka atau tidak suka bahwa kita harus bersahabat dengan kecanggihan teknologi.

Pertama, pelajari suasana baru. Perubahan itu fitrah. Pasti ada. Bersahabatlah dengan perubahan. Manakala Anda tidak masuk dalam gerbong perubahan, maka akan tertinggal dengan budaya baru sebagai manifestasi kehidupan baru. Cermatilah iklim yang baru. Dengan mempelajari suasana kekinian, niscaya Anda akan menjadi bagian dari perubahan, atau bahkan kelak akan menjadi leader dari perubahan itu sendiri.

Kedua, milikilah pikiran yang terbuka. Pikiran yang gelap, atau jumud harus ditinggalkan. Mengembangkan pikiran adalah karunia. Karena kepandian adalah anugerah, maka harus di syukuri dan dirawat. Caranya dengan memanfaatkan dan mengeksplorasi pikiran, sesuai dengan keahlian masing-masing.

Ketiga, pelajari cara-cara baru. Setelah pikiran terbuka, pelajarilah teknis pengoperasian secara detail. Cara yang baru memang membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan. Membutuhkan semangat untuk mempelajari teknis yang baru.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.