Dunia Anak-anak adalah Dunia Permainan

Ramadhan tahun 1441 H hari keduapuluh tiga

Rasulullah saw, mempercepat dua rakan terakhir dari shalat zhuhurnya. Melihat kejadian ini, para sahabat terheran-heran dan setelah selesai shalat, salah seorang bertanya :

“Apa yang terjadi dengan shalat kita, wahai Rasul?”

“Memangnya ada apa?” tanya Nabi

“Singkat sekali dua rakaat terakhir”

“Apakah kalkian tidak mendengar tangisan anak-anak?”

Di lain waktu, beliau memperpanjang sujudnya. Salah seorang bertanya :

“Kali ini sujud Anda Panjang, tidak seperti biasanya, apakah Anda menerima wahyu?”

“Tidak, hanya saja putraku menunggangi pundakku. Aku enggak bangun (dari sujud) sebelum ia puas”

Demikianlah dua dari sekian banyak peristiwa sekaligus merupakan pengajaran Nabi Muhammad saw. menyangkut cinta dan perhatiannya terhadap anak-anak.

Tidak jarang seorang anak memiliki kedua orangtua, kaya dan mampu, tetapi, ia tetap membutuhkan perlindungan dari ayah-bundanya. Ada orangtua, yang atas nama cinta, mengerahkan anaknya untuk menjadi seperti dirinya, membebaninya dengan beban yang tidak terjangkau oleh dunia anak-anak, bahkan bertentangan dengan bakat dan kecenderungannya.

Bahkan ada orangtua yang memperlakukan anaknya yang dewasa sekalipun seperti itu, mereka memaksa pilihannya : sekolah, jodoh. Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-manar menulis : “Yang demikian tidak direstui agama dan bukan bagian dari kewajiban menaati dan berbuat baik kepada kedua orangtua.”

Anak bukanlah kelanjutan sifat, profesi datau kepribadian ibu-bapaknya. Mencintainya adalah menumbuhkembangkan bakat dan kepribadiannya karena cinta adalah hubungan mesra antara dua pribadi dan dua “aku” yang berbeda. Dunia anak adalah dunia permainan. Dengan bermain, ayah, ibu atau siapa pun dapat mendidiknya. Karena itulah Rasulullah saw. menekankan pentingnya bermain bersama anak. 

Disarikan dalam buku Lentera Al Qur’an karya Prof. DR. M. Quraish Shihab

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.