Tradisi Instan

Ramadhan tahun 1441 H hari keduapuluh lima

“Kebanyakan manusia itu suka tergesa-gesa,” (Al-Isra’ : 11)

“Dunia ini semakin maju dan mudah,” kata Lukman. Karena dimanjakan dengan kemudahan teknologi.

“Semakin malas” kata Kasno.

Teknologi kadang membuat manusia menjadi semakin malas bergerak, banyak hal dilakukan oleh mesin, yang kadang juga membawa sifat individualis.

Masakan dan minuman pun tak luput dari pengaruh serba instan ini. Masakan fast food dengan mudah bisa kita temui, dari yang harus merogoh kocek dengan tebal hingga yang lesehan. Bumbu masakan bukan lagi persoalan bagi ibu-ibu rumah tangga yang enggan jarinya menguning lantaran mengucek kunyit dan jahe. Sebab, kini sudah tersedia bumbu masakan instan.

Perilaku Sebagian orang yang suka mencari jalan pintas dalam mencari kekayaan, pangkat, dan kedudukan, akhir-akhir ini sudah menjadi hal yang biasa. Mereka tak lagi mengindahkan norma-norma dan aturan kesusilaan yang ada dan menghalalkan segala cara. Semua yang mereka kehendaki bisa diatur lewat kolusi, konspirasi, atau korupsi.

Begitulah, semua yang mereka lakukan hanyalah didasari oleh pertimbangan bisnis belaka, yang hanya menghitung untung dan rugi, tanpa memperhitungkan norma-norma agama.

Banyak kita temui dalam kehidupan kita sehari-hari, bagaimana runtuhnya orang-orang memilih jlan yang instan, sebagaimana terpuruknya mereka yang lupa diri, lebih mementingkan dunia dan melupakan Allah. Secara bertahap, hantaman demi hantaman menerpa perekonomian mereka. Mereka semula hidup dalam kemewahan, perlahan-lahan bergerak ke bawah. Satu persatu asetnya dijual untuk memenuhi kebutuhan mereka. Hutang kepada pihak ketiga semakin menumpuk, akibat konsumerisme dan gaya hidup yang tidak bisa dihindarkan.

Atau bisa jadi tidak ada masalah dengan perekonomian mereka, tetapi ada hal-hal lain yang menimpa kehidupan mereka, seperti penyakit jasmani, stroke, jantung, kencing manis dan lain sebagainya. Penyakit-penyakit tersebut pada akhirnya membuat mereka tidak bisa merasakan kenikmatan dunia yang ada dalam genggamannya. Oleh sang pencipta, kemampuan panca indera untuk merasakan kenikmatan dicabut dari mereka.

Kesuksesan akibat jalan pintas, kezaliman dan kemaksiatan, tidak akan abadi dan tidak akan langgeng. Kesuksesan itu hanyalah fatamorgana yang semu. Belum lagi ajal tiba, akibat buruk sudah ada yang diperlihatkan kepada mereka. Biasanya, mereka baru sadar setelah merasakan akibat perbuatannya, kemudian berteriak-teriak mencari Allah, Tuhannya yang selama ini mereka durhakai.

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka”. Al-Mu’minun : 95

Disarikan dari buku Mencari Tuhan yang Hilang karya Ust. Yusuf Mansur.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.