Cinta dan Benci

Ramadhan tahun 1441 H hari keduapuluh delapan

Cintailah kekasihmu secara wajar saja, siapa tahu suatu ia menjadi seterumu. Bencilah seterumu secara wajar juga, siapa tahu suatu Ketika ia menjadi kekasihmu.

Cinta dan benci adalah naluri manusia. Tidak heran jika agama memberikan petunjuk menyangkut hal tersebut sebagaimana petunjuknya menyangkut potensi-potensi manusia lain.

Nasihat di atas ditujukan kepada manusia, demikian juga kekasih dan seteru yang dimaksud. Manusia memiliki kalbu, yang dalam Bahasa aslinya berarti “bolak-balik”. Hati manusia dinamai kalbu karena ia sering berubah-ubah, sekali ke kiri dan sekali ke kanan. Apalagi bila ia tidak memiliki pegangan hidup dan tolok ukur yang pasti.

Cinta dan benci mengisi suatu waktu, sedangkan waktu itu terus berlalu. Karenannya, cinta dan benci pun dapat berlalu. Sebelum bercinta, seseorang merasa dirinya adalah salah satu yang “ada”. Tetapi, Ketika bercinta, ia dapat merasa memiliki segala yang “ada” atau tidak menghiraukan yang “ada”.

Cinta yang berlebihan membuat manusia menjadi irasional, kurang memperhitungkan. Cinta itu tak memberdayakan tetapi malah merugikan. Begitu pula benci. kebencian ekstrem bisa menimbulkan penyakit, mulai dari diare hingga ginjal dan penyakit degeneratif seperti parkinson.

Cinta dan benci merupakan dua hal yang saling berlawanan. Cinta menggambarkan penerimaan, kesepakatan, kerinduan, rasa ingin menyatu, memiliki, mengikuti dan bahkan berkorban bagi seseorang terhadap sesuatu yang dia cintai. Sedangkan benci kebalikannya, menggambarkan penolakan, ketidaksukaan yang sangat, dan rasa jijik serta ingin menjauhi terhadap sesuatu yang dia benci.
Demikian cinta mempermainkan manusia. Cinta dan persahabatan anak muda, didorong oleh usaha memperoleh kelezatan. Karenanya, ia serba cepat, yaitu cepat terjalin dan cepat pula putus. Sedangkan cinta dan persahabatan orang dewasa adalah demi memperoleh manfaat, dan ini pun beragam sehingga ia pun bersifat sementara. Abu Hayyam at-Tauhidy menulis “Perjalanan yang paling panjang adalah perjalanan mencari sahabat”

Dia adalah Anda sendiri. Dan ingat, Anda memiliki kalbu yang seringkali berubah-ubah. Karenanya, tidak ada persahabatan yang kekal, apalagi dalam dunia kelezatan dan kepentingan.

Di sini pula kita menyadari betapa luhur petunjuk al-Qur’an yang mengingatkan kita :”Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk tidak berlaku adil! Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa” (al Maidah 5 : 8).

Disarikan dalam buku Lentera Al Qur’an karya Prof. DR. M. Quraish Shihab

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.