Jadilah Driver

Ramadhan tahun 1441 H hari ketigapuluh

Menurut saya, bangsa yang hebat adalah a driver nation. “Driver Nation” sendiri hanya bisa dihasilkan oleh pribadi-pribadi yang disebut “driver”, yang menyadari bahwa ia adalah mandataris kehidupan, dan pemimpin-pemimpinnya sadar bahwa ia mendapatkan mandataris dari rakyat untuk melakukan perubahan.

Ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu bagaiamana men-drive diri sendiri (drive your self), men-drive orang lain (drive your people), dan men-drive bangsa (drive your nation). Kalau seseorang tak bisa men-drive dirinya sendir, bagaimana is bisa men-drive orang lain? Itu berarti tak ada kepemimpinan, tak ada yang men-drive bangsa ini. Jadi, “driver” itu apa? Bukankah di Indonesia ada jutaan orang yang berprofesi sebagai sopir? Kalau demikian, bisakah Indonesia disebut sebagai a drive nation?

Tentu bukan itu yang dimaksud. Driver adalah sebuah sikap hidup yang membedakan dirinya dengan “passanger”. Anda tinggal memilih, ingin duduk manis menjadi penumpang di belakang, atau mengambil resiko sebagai driver di depan? Di belakang, Anda boleh duduk sambal ngobrol, makan-makan, bercanda, bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tak harus tahu jalan, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas, dan tak perlu merawat kendaraan. Enak, bukan?

Sebaliknya, seorang driver bisa hidup di mana pun mereka berada, dan selalu menumbuhkan harapan. Bila seseorang “passanger” menjadi kerdil karena terbelenggu oleh settingan otak yang tetap, maka seorang driver akan selalu tumbuh. Mereka mengajak orang-orangnya untuk berkembang dan keluar dari tradisi lama menuju tanah harapan. Mereka melakukan pembaharuan-pembaharuan dan menantang keterkungkungan dengan penuh keberanian.

Mereka berinisiatif memulai perubahan tanpa ada yang memerintahkan, namun tetap rendah hati dan kaya empati. Seperti kata CEO Garuda yang dengan teguh memimpin transformasi : Kalau seseorang terlalu kuat logic, kasian pegawainya. Kalau hatinya terlalu dominan kasian perusahaannya. Dengan kata lain, seorang driver harus seimbang antara logic (rasional, hitung-hitungan, Analisa, target) dengan hatinya (empati, kepedulian, tata nilai)

Disarikan dari Self Driving karya Rhenald Kasali.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.