Mencintai Pekerjaan

Bekerja untuk hidup atau hidup untuk bekerja? Dua pernyataan yang cuma dibalik. Seperti halnya lebih dulu mana, antara telur dan itik. Lupakan saja pernyataan itu. Andai dibahas, kajiannya cuma berputar saja. Mari kita bahas yang sesungguhnya: bekerja.

Bekerja sesungguhnya adalah mengoptimalkan segala potensi untuk meraih kesuksesan. Orang yang tidak bekerja, akan menepi secara otomatis. Karena bekerja itu untuk menghasilkan produk. Ada suasana persaingan. Satu jenis pekerjaan, diperebutkan oleh sekian banyak orang. Akibatnya, hanya orang tertentu saja yang mendapatkannya. Lainnya akan tersingkir.

Dari kejadian seperti itu, maka muncullah istilah professional. Bekerja tak cukup hanya melakukan aktifitas rutin dan hanya dilakukan secara berulang-ulang. Bekerja itu membutuhkan rasa cinta dan kesanggupan untuk meraih sikap professional. Melakukan aktifitas rutin tak sekedar mengulang pekerjaan. Setiap bagian dari pekerjaan pasti ada yang harus diinovasi, diperbaharuai, sehingga akan ditemukan perilaku yang efektif dan efisien.

Seorang profesional (bekerja dengan sungguh-sungguh) harus memiliki keahlian yang didapatkan melalui proses pendidikan dan ketrampilan. Ia harus bertindak obyektif yang berarti bebas dari rasa sentimen, benci, malu maupun rasa malas.

Pekerja yang ulet memiliki skill yang bisa dipertanggungjawabkan. Artinya bahwa orang tersebut bekerja sesuai dengan ahlinya. Disamping ahli, Ia juga memiliki pengetahuan yang terkait langsung dengan bidangnya. Membuka wawasan dan menerima perubahan adalah sifatnya.

Pekerja yang baik, tak sekedar mengandalkan pengetahuan dan ketrampilannya. Sebagai manusia, ia juga memiliki etika dalam komunitas kerjanya. Tak segan membantu saat rekan menemui kesulitan. Selalu berbagi bila dibutuhkan oleh orang lain.

Dari karakter-karakter tersebut, maka muncullah istilah etos kerja. Ada tiga unsur agar etos kerja bisa bekerja dengan optimal. Pertama, mencetak prestasi. Bekerja tak sekedar berbuat rutinitas. Ada satu hal yang harus dikejar, yaitu prestasi. Untuk meraih prestasi diperlukan motivasi yang tinggi.

Kedua, bekerja harus sesuai dengan kekinian dan merancang untuk masa depan. Perlu diketahui bahwa di luar sedang dan akan terjadi persaingan yang makin kompetitif. Andai seseorang bekerja tidak sesuai dengan jalur yang telah digariskan sesuai visi, jangan harapkan akan memperoleh hasil yang memuaskan. Bekerja bukan untuk diri sendiri. Bekerja juga untuk orang lain.

Ketiga, etos yang tinggi akan melahirkan inovasi yang kreatif. Sekarang ini hanya yang kreatif yang mampu bertahan. Daging ayam boleh saja dari satu daging, tapi setelah diolah menjadi makanan akan lahir puluhan nama. Semuanya memiliki citra rasa yang berbeda. Semuanya menjadi makanan idaman. Hasil tangan-tangan kreatif.

Andai ketiga etos itu diterapkan dalam bekerja, maka kita sebagai insan manusia yang selalu mengabdi kepada Tuhan akan menempatkan diri bahwa bekerja adalah rahmat. Hidup memang harus dimaknai sebagai rahmat dari-Nya. Rahmat adalah kebaikan yang diterima seseorang karena kasih sayang-Nya. Rahmat merupakan tanda cinta-Nya. Apapun jenis pekerjaannya, dia harus mensyukuri. Tak semua orang bisa melakukan pekerjaannya.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.