Rindu Karya Sastra

Sudah hampir sebulan ini saya langganan https://kompas.id. Ada beberapa rubrik favorityang selalu saya tengok, antara lain opini dan kolom. Info grafis juga jadi kegemaranku, saat membutuhkan, atau sekedar menyimpan dalam bentuk dokumen. Barang kali suatu ketika akan digunakan sebagai data.

Kalau berita atau reportase, saya lebih banyak menggunakan sebagai bahan rujukan atau pembanding dari informasi lain yang memiliki berita yang mirip. Demikian juga dengan rubrik lain yang hanya sesekali menengok. Bagi saya, informasi adalah sebuah kabar yang sesuai dengan kebutuhan.

Suatu Ketika saya klik karya sastra. Lebih tepatnya cerpen. Saya baca sebait dua bait. Ternyata bagus juga. Penulis tak hanya pandai menyusun kata menjadi sebuah kalimat saja. Namun, Ia mampu membangkitkan energi untuk selalu membaca kalimat berikutnya.

Penulis juga telah membangun kalimat demi kalimat menjadi paragraph yang menggugah. Andai berjalan di lorong yang gelap, cerpen itu ibarat suluh yang menerangi jalan, sehingga kita tidak terpelanting. Karya sastra yang mampu memantik imajinasi. Atau sebaliknya, karya sastra yang mampu membongkar kenyamanan dalam beraktifitas. Otak dan hati seakan dibawa berkelana menuju dunia berdimensi tak berhingga.

Setelah usai membaca dua cerpen itu, saya jadi teringat beberapa waktu yang lalu, ketika mendokumentasi buku kumpulan cerpen pilihan terbitan Kompas hingga hanya 5 buku. Karena, bagi saya, membaca karya sastra seperti cerpen tidak mudah. Bahkan ada cerpen yang saya beca berulang kali tetap belum mengetahui apa maksud tulisan itu.

Saya masih mengingat karya: Maesa Ayu, Indra Tranggono, Pamusuk Eneste, Ratih Kumala, Nukila Akmal, serta cerpenis lain yang tidak bisa saya sebutkan. Sudah tentu ada juga senior mereka yang telah mewarnai karya sastra Nusantara. Mereka memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada yang berangkat dari realitas sosial. Ada yang kental dengan filsafat, pun juga ada pula yang remeh-temeh tapi penting.

Saya juga senang membaca novel jenis apapun. Novel sastra, sejarah, kebudayaan. Novel yang masih saya ingat, tapi belum tahu isinya, karya Koentowijoyo. Khotbah di atas Bukit dan Mantra Pejinak Ular. Bagi saya novel ini memiliki konstruksi keilmuan. Artinya, bahwa membaca novel karya itu, membutuhkan landasan ilmu.

Selain Koentowijoyo, Umar kayam, Hamka, Remisilado, ada juga novel karya kekinian seperti tere Liye, Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy, Ahmad Fuadi, Andrea Hirata dan lain-lain. Karya mereka mampu menjadi inspirasiku. Mereka menulis tidak sembarang menulis, tapi diilhami dari pengalaman, riset yang kuat, serta mampu membangkitkan semangat.

Membaca cerpen bukan sekedar mengenal tokoh, karakter seseorang atau cerminan hidup. Cerpen, bagi saya mampu membangkitkan imajinasi. Karya sastra mampu membawa pembaca untuk mengelola rasa. Daya khayalnya menjadi hidup. Daya khayal inilah yang menjadi pemicu seseorang untuk berfikir tidak linier.

Karya sastra, jangkauannya sangat luas. Cerpen, novel tak hanya berbicara di lingkungan sempit. Mereka berkarya mampu menembus batas pikiran manusia. Tidak hanya bahasan fisik, tapi juga non fisik. Karenanya karya sastra menjadi pembeda, yang tadinya tidak tahu, sekarang jadi mengerti.

Situasi saat ini memang serba instan. Banyak kalangan yang sudah gemar berliterasi dengan membaca. Namun kebanyak mereka ingin serba cepat. Ingin mencapai tujuan seketika. Mengabaikan narasi yang mestinya harus dibaca. Membaca narasi artinya membangun sebuah pengetahuan yang disertai dengan alasan yang bisa dipertanggungjawabkan. Baik fiktif maupun faktual.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.