Cinta dan Fakir

Jum’at Berkah

Dr. Damardjati Supadjar bernah berujar bahwa kata kunci dari tasawuf adalah cinta dan fakir. Cinta, menurut Farid Al-Din Al ‘Aththar dalam karyanya Manthiq Al-Thayr, seperti Layla Majnun. Dalam kisahnya, Layla tidak canggung menggembala domba. Keseharian Layla adalah menggembala di padang rumput. Ia tidak tahu bahwa ada orang yang kagum kepada dirinya. Majnun Namanya.

Majnun sangat mengagumi Layla yang lahir dari keluarga berada. Manakala Layla tiba di padang rumput, Majnun berlagak sok punya domba, dan dating ke tempat penggembalaan domba-domba Layla. Bahkan, sambil mengusap-usap domba Layla, dia pun membayangkan Layla juga. Majnun sudah memendam perasaan pada Layla, meski baru sepihak, lantaran Layla belum cukup umur untuk sampai pada hal seperti itu.

Suatu hari bapaknya Layla melarang untuk menggembala. Tahu  bahwa Layla tidak bersama dombanya, Majnun merasa tersiksa. Peristiwa ini tak hanya sekali, dua kali, tetapi beberapa kali. Manjun lebih tersiksa. Akhirnya, sampai suatu saat, ia tak bisa menahan diri dan mengubah bajunya dengan bulu domba yang sama persis dengan domba-domba Layla. Harapannya agar Majnun bisa masuk ke rumah Layla bersama dombanya. Ketika bisa masuk, Majnun bisa melihat wajah Layla.

Menurut Farid Al-Din Al-‘Athtahr, Layla ini dapat dikatakan keindahan dari Allah dan Majnun adalah orang yang mendambakan pertemuan dengan wajah Allah.

Fakir artinya orang yang sangat kekurangan, orang yang terlalu miskin. Fakir berasal dari Bahasa Arab, fuqara, yafquru, faqran yang artinya miskin. Menurut sufi artinya menjauhi perselisihan, bersikap tenang dalam menghadapi cobaan yang menyesakkan hati, dan menampakkan rasa kecukupan Ketika ditimpa kesusahan.

Rasulullah bersabda bahwa, orang-orang fakir yang ikhlas dan tak berkeluh kesah menghadapi keadaannya adalah manusia yang paling utama. Ia tenang dan qanaah dari apa yang diterimanya atas karunia Allah

Dalam al-Qur’an Fakir disebutkan 6 kali dalam berbagai bentuk seperti: faqira, faqirun, faqiran, faqiratun. Keenam kata tersebut memiliki arti yang berbeda sesuai dengan konteksnya.

Dalam hal syahadat, mengucapkan La Ilaha illah Allah itulah yang dinamakan fakir sejati, yakni tidak punya apa-apa, termasuk rasa memiliki. Kalau belum sampai tahap itu, berarti syahadat kita belum baik. Belum sampai pada La Ilaha. Adapun tahap illah Allah, adalah tahap berikutnya setelah tahap pertama sudah benar.

Pada waktu kita masih berada di SD, kehilangan permainan sepertinya dunia ini sudah lenyap. Anak SMP akan mengatakan, bahwa kehilangan alat permainan itu masalah kecil. Dia akan merasa berat kalau kehilangan teman. Anak SMA tentu lain lagi. Ia merasa tersiksa manakala kesulitan menyelesaikan soal. Namun bagi mahasiswa, itu masalah mudah. Demikian seterusnya, selalu ada yang lebih tinggi.

Lalu, siapa sebenarnya siapa yang bisa mengatur dunia. Sudah barang tentu, yang bisa mengatur dunia adalah orang yang sudah meninggalkan dunia. Jadi, sukses sejatinya diperuntukkan bagi mereka yang kualitas dirinya sudah mencapai muthma’inah. Hamka pernah mengatakan bahwa orang yang paling kaya adalah orang yang sudah tidak membutuhkan apa-apa.

Bahan bacaan : Bulletin Al Tanwir

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.