Memanfaatkan Blended Learning

Rindu, itulah ungkapan yang tepat untuk anak-anak yang merindukan bersua dengan teman sekelas. Tiga bulan lebih, anak-anak berkutat di rumahnya masing-masing. Bahkan, ritual yang paling didambakan terlewatkan begitu saja tanpa ada kesan yang mendalam, Ramadhan dan Iedul Fitri di tahun 1441 H. Terasa hambar.

Aktifitas anak, dan juga orang tua yang menerapkan Work From Home (WFH) dari satu tempat ke tempat yang lain dalam lingkaran rumah. Kamar tidur, dapur, kamar mandi. Itulah sirkulasi keseharian kita. Tak beranjak yang lain, karena keterbatasan gerak yang sedang diterapkan oleh pemerintah.

Belajar Jarak Jauh (BJJ) juga terasa membosankan tanpa ada kreatifitas dari guru maupun manajemen sekolah. Tugas dan tugas terus. Kalaupun ada materi pelajaran disajikan dalam bentuk tulisan, video yang lari dari situ ke situ juga. Hanya guru yang memiliki kreatifitaslah, yang mampu memberi perhatian pada anak-anak yang sedang belajar dari rumah.

Memang tidak mudah untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh tanpa persiapan yang matang. Menyiapkan materi, memanfaatkan aplikasi, kesiapan siswa, dukungan orang tua, fasilitas yang tersedia, regulasi yang mendukung keterlaksanaan BJJ. Faktor-faktor itu tak bisa diperoleh seketika. Andai fasilitas fisik tersedia, belum tentu dukungan sumber daya manusia siap untuk digunakan.

Untuk beralih dari model pembelajaran tatap muka atau bertemu secara langsung, lalu berubah menjadi daring (online) itu sangat membutuhkan effort dan biaya yang tidak sedikit. Namun ini bisa dimulai dengan model Blended Learning. Apa itu blanded learning? Model Blended Learning pada dasarnya merupakan gabungan keunggulan pembelajaran yang dilakukan secara tatap-muka dan secara virtual.

Blended learning menurut Semler (2005) adalah sebuah kemudahan pembelajaran yang menggabungkan berbagai cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran. Atau bisa dikatakan kombinasi antara mengajar secara langsung (tatap muka) dan daring.

Keuntungan yang bisa diperoleh antara lain : Adanya interaksi antara pengajar dan siswa. Mereka bisa saja menggunakan salah satu antara tatap muka dengan daring. Pilihan ini tergantung kesepakatan antar mereka.

Manfaat lain yang bisa dipetik dengan model seperti ini, fleksibel dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Akibatnya siswa dalam belajar menjadi mandiri. Pembelajar bebas menentukan, waktu, tempat bahkan tugas yang akan diselesaikan. Andai saja pembelajar belum memahami pada bagian tertentu, dapat mengulang lagi, atau dapat menghubungi nara sumber.

Ada tiga elemen yang harus tereduksi dalam blended learning. Sosial, kognitif dan nara sumber. Faktor sosial menjamin bahwa siswa dalam komunitas tersebut merasa bebas untuk mengekspresikan diri secara terbuka dengan cara yang mereka suka. Mereka harus dapat mengembangkan hubungan pribadi agar mempunyai komitmen dan dapat mengejar tujuannya.

Elemen kognitif adalah dasar dalam proses pembelajaran. Pemberian materi tertentu harus disertai dengan integritas yang tinggi. Konsep-konsep yang diberikan kepada siswa, sesuai dengan porsi potensi yang dimiliki siswa. Sedangkan pengajar harus memiliki daya kreatifitas yang tinggi, agar siswa tidak merasa jenuh.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.